
"Gila, dia bicara begitu?" pekik Adam saat Miley menceritakan apa yang Alesha katakan tentang pernikahan nya dan suami nya. Adam berdecak sambil geleng geleng kepala.
"Menurut Kak Adam bagaimana?" tanya Miley.
"Bagaiamana apa nya?" tanya Adam setengah ketus, membuat Miley langsung mencebikan bibir nya.
"Ya gimana wanita seperti itu?" tanya Miley.
"Ya wanita yang keras menurut Kakak, Mil..."
"Keras apa tegas?" tanya Miley ingin memastikan.
"Em..." Adam memutar bola mata nya ke kanan dan ke kiri "Tegas sih, dewasa. Benar benar dewasa dan berani" ujar Adam.
"Kira kira Miley bisa tidak ya, Kak. Jadi wanita seperti Kak Alesha itu? Dia tidak takut pergi dan tidak takut di tinggalkan, padahal pernikahan nya baru berjalan satu tahun lebih, baru hamil muda, terus yang arti nya dia akan cerai dari suami nya pas lagi cinta cinta nya. Kalau Miley yang ada di posisi dia, seperti nya Miley akan hancur dan gila" tutur Miley.
"Wanita itu memang beda beda sih, Mil. Ada yang tergantung pada orang lain entah itu pada keluarga atau pasangan, ada juga yang yang mandiri"
"Tapi nih ya..." seru Miley kemudian "Miley tidak menyangka sama sekali kalau Rianti itu punya saudara seperti Kak Alesha, Rianti pernah cerita kalau yang membantu membiayai sekolah dia dan Kak Dion itu Kakak sulung mereka..." tukas Miley sambil tersenyum.
"Jadi maksud mu Alesha?" tanya Adam dan Miley mengangguk anggukan kepala nya dengan memasang wajah yang serius.
"Oh begitu..." gumam Adam.
"Emm, Kak Adam..." rengek Miley kemudian, Adam hanya melirik adik nya itu sekilas karena saat ini fikiran nya terbayang pada Alesha. Sungguh ia tak menyangka ternyata cerita hidup Alesha cukup menyedihkan dan penuh perjuangan. Dari berjuang demi keluarga, dan sekarang berjuang melepaskan yang membuat hati nya terluka.
"Kalau Miley pacaran sama Kak Dion, boleh?" tanya Miley dengan suara rendah, tak lupa bibir nya itu mesem mesem.
"Tunggu, Dion? Dion yang kamu bilang adik nya Alesha dan Kakak nya Rianti?" tanya Adam ingin memastikan dan Miley mengangguk dengan pipi yang sudah merona indah.
Adam terdiam sejenak sembari menatap adik nya itu yang tampak nya memang sedang kasmaran.
"Dia baik, Kak Adam. Orang nya gantle, tidak pernah pacaran, pintar" puji Miley sembari membayangkan sosok yang ia taksir diam diam "Dan yang pasti, tampan..." lanjut nya sembari memegang kedua pipi nya yang terasa panas.
"Ajak dia temui Kakak dulu..." ujar Adam.
"Bagaiamana cara nya?" tanya Miley memberengut.
"Ya terserah kamu, telfon kek, chat kek..." ujar Adam lagi.
"Hehe, malu..." jawab Miley kemudian menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, membuat Adam melongo dan kemudian terkekeh.
"Astagfirullah, Mil. Sejak kapan kamu bisa merona begitu" tukas Adam yang masih terkekeh "Eh, tapi kalau Dion yang kamu maksud itu Dion adik nya Alesha, ya kami pernah bertemu, sudah kenalan juga" tutur Adam yang membuat mata Miley langsung berbinar.
"Ah, masak?" pekik nya girang.
"Ya sudah, ayo ajak ketemuan..." rengek nya sembari mengguncang guncang pundak Adam, membuat Adam terkekeh.
"Lama lama aku tuntut cerai juga..." desis Vera kesal karena Bima yang tak kunjung pulang.
Saat ini ia sedang duduk di sofa dan tatapan nya lurus menatap layar televisi yang menyala dan menampilkan siaran gosip.
"Mau cerai dari Bima, Ver?" Vera tersentak saat mendengar suara Ibu mertua nya yang tiba tiba muncul dari belakang nya itu "Sok atuh, tidak sabar Ibu menunggu hari itu..." lanjut Ibu mertua nya yang membuat Vera mendengus.
Ia pun mematikan TV nya dan bergegas naik ke kamar nya.
Sementara itu, Bima pulang ke rumah orang tau nya dan ia datang sesaat setelah Vera masuk ke kamar nya.
"Bagaiamana keadaan Alesha, Bim?" tanya Ibu mertua nya.
"Lebih baik, Bu" kata Bima sambil tersenyum.
"Apa Alesha masih membicarakan perceraian?" tanya Ibu nya dengan tatapan sendu.
"Masih, Bu..." jawab Bima lesu "Seperti nya Alesha memang sudah menutup hati nya untuk ku, aku rasa aku tidak bisa apa apa pagi" ujar nya pasrah.
"Jadi kamu tidak mau memperjuangkan istri mu lagi?" tanya sang Ibu yang terlihat sangat kecewa.
"Aku sudah berusaha berjuang, Bu. Tapi Alesha memang tidak mau lagi menerima ku, aku tidak bisa memaksa dia kan?" sanggah Bima.
"Kalau begitu kamu ceraikan saja si Vera, dengan begitu Alesha tidak akan meminta cerai..." seru sang Ibu.
"Ya tidak mungkin aku menceraikan Vera, Bu..." lirih Bima yang membuat Ibu nya langsung memasang wajah kesal.
"Bu, jangan sedih begitu..." bujuk Bima "Sekarang aku sudah naik jabatan di kantor, aku akan manager" tukas Bima yang mengabarkan hal itu dengan senang hati dan Ibu nya pun tentu langsung terlihat senang juga.
"Beneran, Bim?" tanya nya.
"Iya, Bu. Ini berkat doa Ibu dan Ayah" jawab Bima "Sebenarnya aku juga berharap aku bisa mempertahankan Alesha dengan jabatan yang aku miliki sekarang..."
"Ibu itu sayang sekali sama Alesha, Bim. Selama dia tinggal di sini, dia merawat Ibu dan Ayah seperti merawat orang tua kandung nya sendiri. Selama ini dia juga dengan sabar menemani kamu, setia sama kamu, meskipun gaji kamu tidak seberapa dan cuma pas pasan untuk kita. Dia tetap menghormati kamu, tidak pernah menuntut apapun dari kamu. Dia istri yang sangat baik..." Bima hanya bisa menanggapi ucapan Ibu nya itu dengan senyum samar.
Ia sendiri tahu betapa sempurna nya Alesha menjadi seorang istri, Bima bahkan merasa ia juga mencintai Alesha. Tapi hati Bima juga tak ingin melepaskan Vera, cinta pertama nya yang ia tunggu sejak 4 tahun yang lalu.
.........
"Sayang..." Alesha mengusap perut nya yang sudah sedikit tampak itu, bibir nya tersenyum dan mata nya memancarkan kebahagiaan setiap kali membayangkan ia akan segera memiliki anak. Meskipun saat anak nya lahir kelak, ia mungkin akan kehilangan suami, tapi Alesha sudah mempersiapkan hati nya untuk itu.
"Nanti, kalau misal nya kita hidup berdua saja, kamu jangan sedih ya, Nak. Mama akan berusaha menjadi Mama yang terbaik buat kamu, yang mencintai kamu, memenuhi semua kebutuhan kamu. Mama cuma mau satu hal dari kamu, yaitu bahagia selalu" lirih Alesha.
"Maafin Mama kalau Mama tidak bisa tetap bersama Papa, Mama juga melakukan nya demi kamu. Mama tidak mau kamu terkena dampak dari luka hati Mama nanti, tapi Mama janji, kamu masih akan punya Papa, masih bisa di gendong Papa"
"Kamu harus tumbuh yang kuat ya, Nak. Karena kamu adalah semangat Mama, kekuatan Mama, pelipur lara Mama..."