Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 17


Bima pulang kerumah kontrakan Alesha, namun sesampai nya di sana. Rumah itu kosong, Bima mencoba menghubungi Alesha namun Alesha tidak menjawab nya karena saat ini Alesha sedang sibuk melayani para pelanggan di Cafe, ini hari pertama Alesha bekerja dan ia bekerja full time.


Jam 9 malam, Alesha pulang dan ia mendapati rumah nya yg tidak terkunci. Alesha mengingat hari dan ia baru teringat kalau minggu ini Bima akan tinggal bersama nya.


Alesha masuk ke rumah itu dan mendapati Bima yg sedang memasak di dapur.


"Kamu dari mana, Al? Aku telfon kamu sejak tadi" kata Bima.


"Kerja" jawab Alesha kemudian ia mengambil gelas, mengisi nya dengan air dari despencer dan meneguk nya. Alesha terlihat sangat haus setelah seharian bekerja, air yg satu gelas penuh itu langsung habis di teguk nya.


"Kerja? Maksud nya? Kerja apa? Dimana?" tanya Bima terkejut sekaligus bingung


"Kerja jadi pelayan di café..." jawab Alesha datar.


Ia membuka kulkas dan mengambil buah jeruk yg hanya sisa satu biji, perut Alesha lapar sekali sebenar nya.


"Kenapa kamu kerja, Al? Kamu kan lagi hamil..." ujar Bima yg tampak tak suka dengan keputusan Alesha apa lagi ia tidak memberi tahu nya.


"Terus aku makan dapat uang dari mana, Mas? Uang yg kamu kasih cuma cukup buat bayar kontrakan. Aku juga butuh makan, aku butuh beli susu hamil, aku butuh uang untuk check up kehamilan ku"


Deg


Hati Bima langsung terkesiap, ia tahu apa yg di katakan Alesha benar tapi Bima tak menyangka Alesha akan mengungkapkan nya penuh emosional seperti ini. Dari nada bicara nya dan tatapan nya, Bima tahu Alesha menahan amarah dan sakit hati.


"Al, bukan maksud aku tidak memberi mu nafkah, hanya saja uang yg sekarang aku punya cuma segitu. Nanti aku akan kasih kamu lagi, ya.. " ujar Bima yg membuat Alesha tersenyum masam.


"Kapan?" tanya Alesha "Selama ini gaji kamu cuma pas pasan buat aku, ayah sama ibu. Maaf, Mas. Bukan nya aku lancang mau ngungkita gaji kamu, aku cuma tidak mau janin ku kekurangan gizi karena uang ayah nya habis buat istri yg lain. Yg butuh keadilan bukan cuma aku, tapi anak kamu juga" ujar Alesha yg lagi lagi membuat Bima tak mampu lagi berkata apa apa.


Bima terdiam begitu juga dengan Alesha, kedua nya sibuk dengan fikiran masing masing.


Sementara Alesha, ada sedikit penyesalan karena ia merasa telah lancang jika mengungkit gaji Bima. Tapi Alesha sudah tidak tahan dengan Bima, jika Alesha yg kekurangan, tentu Alesha tidak masalah. Tapi masalah nya Alesha sedang hamil, ia harus selalu punya pegangan uang untuk jaga jaga.


"Mandi lah, aku akan siapkan makan malam" ujar Bima kemudian, ia mengusap kepala Alesha dengan lembut.


Jauh dalam hati nya, Bima merasa begitu bersalah pada Alesha, merasa kasihan.


.........


Sementara itu, ayah nya Bima pergi ke dapur karena ini sudah jam 9 malam dan ia merasa lapar. Namun di dapur ia tak mendapati makanan apapun di meja makan. Istri nya sedang demam dan mengeluh pusing, karena itu lah istri nya tidak masak karena mereka fikir ada Vera


"Vera..." panggil nya.


Vera yg berada di kamar nya pun segera keluar setelah mendengar panggilan ayah mertua nya itu.


"Kenapa, Yah?" tanya nya.


"Kamu tidak siapkan makan malam?" tanya nya dan Vera menggeleng.


"Aku tidak sempat, Yah" jawab nya.


"Tidak sempat? Memang nya kamu kerja apa sampai tidak sempat?" tanya nya dengan marah.


"Ibu ku sakit, Yah. Seharian ini aku menjaga nya" jawab Vera "Kalau Ayah lapar, biar aku pesankan makanan" ujar Vera kemudian.


Ibu nya memang juga sedang sakit, dan sejak pagi Vera memang pulang kerumah nya untuk menjaga ibu nya itu.


.........


Bima terbangun saat hari masih gelap, ia menatap Alesha yg tertidur di samping nya. Nafas nya teratur dengan lembut, terlihat kerutan samar di kening istri pertama nya itu, yg menandakan Alesha memiliki beban fikiran yg cukup berat.


Bima mengusap lembut pipi sang istri, memijat kening nya lembut hingga perlahan kerutan nya hilang.


Apa yg kurang dari Alesha?


Tidak ada, dia anak yg berbakti, kakak yg penyayang, menantu yg sangat menghormati mertua nya dan yg pasti istri yg sangat menghargai suami nya.


Bima beranjak dari ranjang nya, ia melaksanakan sholat subuh sendirian karena merasa tidak tega jika harus membangunkan Alesha yg tampak nya sangat kelelahan.


Setelah itu, Bima pergi ke dapur. Hanya ada beberapa potong ayam di kulkas, beras juga sudah mau habis. Bima memeriksa susu Alesha dan rupa nya susu nya juga mau habis.


Seketika Bima merasa lemas, ia duduk di kursi dan menyugar rambut nya dengan kasar. Bima sungguh telah menelantarkan Alesha selama ini.


Bima memasak apa yg ada, dia bertekad selama seminggu bersama Alesha, ia akan menjadi suami yg baik untuk nya.


Jam 8.30, Alesha sudah siap berangkat kerja.


"Sarapan dulu, Al. Aku sudah masak..." kata Bima.


Di meja makan bulat yg kecil itu sudah tersedia ayam kecap, tumis buncis dan nasi.


Alesha pun duduk di kursi nya, begitu juga dengan Bima. Kedua nya sarapan dalam diam, Bima tak banyak bicara karena ia masih memikirkan apa yg sebenar nya terjadi dalam hidup nya? Kenapa hidup nya terasa begitu sulit dan suram?


Sementara Alesha sibuk memikirkan masa depan nya dan anak nya, karena Alesha tidak yakin ia bisa memiliki masa depan yg jelas bersama Bima. Alesha juga tidak mau hidup seperti ini terus.


.........


Selama seminggu bersama Alesha, Bima benar benar melakukan apa yg di ingin kan nya, setiap pagi ia membantu Alesha membuat sarapan, membantu Alesha membersihkan rumah dan berbelanja keperluan Alesha. Bima merasa kasihan sebenar nya dengan Alesha, dia tinggal sendirian dan masih harus bekerja.


Setelah ia menghabiskan waktu nya bersama Alesha, Bima pulang ke rumah nya dan dia di sambut dengan senyum lebar oleh Vera.


"Bagaiamana keadaan Ibu, Ver?" tanya Bima.


"Baik, Mas" jawab Vera sembari bergelanyut manja di lengan Bima.


"Em Mas, aku minta uang ya, mau belanja" ujar Vera kemudian yg membuat Bima mengernyit bingung, karena sebelum Bima pergi ke rumah Alesha, Bima sudah memberikan uang untuk Vera.


"Belanja apa lagi? Bukan nya minggu lalu aku sudah kasih kamu uang?" tanya Bima heran. Gaji Bima bulan ini sudah habis dan ia tidak menabung sedikitpun, sedangkan dulu Bima selalu menyisihkan uang nya untuk di tabung.


"Minggu Lalu Mama sakit, Mas. Aku bawa dia ke Dokter" jawab Vera sembari mengekori Bima yg kini masuk ke kamar mereka. Kamar yg ada di lantai dua, dimana itu dulu kamar Bima dan Alesha kini sudah menjadi kamar Bima dan Vera. Tentu Vera yg sangat ingin menempati kamar itu


"Tapi masak sudah habis, Ver?" tanya Bima lagi sembari membuka pakaian nya setelah mengeluarkan dompet dari kantong celana nya dan meletakkan nya di atas meja nakas.


"Aku mau beli make up, Mas. Pondation aku sudah mau habis, blush on juga sudah mau habis" ujar Vera yg membuat Bima menghela nafas lesu.


Bima masih punya uang di dompet nya dan itu pun ia mengambil dari tabungan nya, namun niat nya uang itu untuk membeli susu Alesha dan untuk ia berikan sebagai pegangan buat Alesha . Sementara Vera kini malah mengambil dompet Bima dan mengambil sebagian uang nya.


"Ver, itu..."


"Mas, aku belanja buat mempercantik diri, kalau aku cantik, kamu juga yg senang" ucap Vera sembari mengedipkan sebelah mata nya. Bima tak menanggapi, dulu ia mungkin akan tersenyum saat Vera bersikap manja pada nya tapi sekarang tidak lagi.


"Buatkan aku es teh, Ver. Aku haus sekali" pinta Bima.


"Mas, sore sore masak minum es teh sih? aku ambilin air putih saja" ujar Vera, bukan karena apa, tapi Karena ia memang malas membuatkan es teh Bima. Ini bukan pertama kali nya Vera menolak membuatkan es teh untuk Bima, hal itu membuat Bima teringat dengan Alesha. Setiap sore, Alesha selalu menyiapkan es teh untuk nya bahkan tanpa Bima minta sekali pun.


"Ya sudah tidak apa apa" Jawab Bima yg memang tidak pernah bisa menegur Vera.


Bima pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah mandi, Bima mengambil handuk yg tergantung dan ia mencium nya, sudah seminggu lebih Vera tidak mengganti handuk nya di kamar mandi, sementara Alesha biasa nya seminggu sekali akan mengganti handuk Bima.


"Vera..." seru Bima sembari membuka sedikit pintu kamar mandi "Ambilkan handuk, Ver. Yg ini sudah kotor..." seru Bima.


Sementara Vera yg saat ini sedang sibuk dengan majalah di tangan nya berdecak kesal karena Bima mengganggu nya. Dengan malas Vera mengambil handuk baru yg ada di lemari.


"lain kali sedia handuk sebelum mandi, Mas." gerutu Vera yg lagi lagi membuat Bima teringat dengan Alesha.


Alesha yg selalu melayani Bima dengan baik, Alesha yg selalu mengatur keuangan rumah tangga nya dan tidak pernah sekalipun meminta uang tambahan pada Bima. Alesha bahkan bisa menabung dari sisa sisa uang bulanan nya.


Perbedaan yg sangat signifikan, bukan...?