Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 15


Alesha kembali mengidam dan kali ini ia sangat ingin es campur buatan nya sendiri.


Alesha mengambil uang di dompet nya untuk membeli bahan bahan es campur. Namun setelah di hitung, uang nya ternyata tidak cukup. Dan bulan ini Alesha memang belum di berikan uang belanja oleh Bima.


"Ada apa, Sayang?" tanya Bima yg melihat Alesha berdecak kesal sendirian.


"Ngidam es campur, Mas. Pengen nya yg buat sendiri..." ujar Alesha.


"Mau belanja bahan bahan nya?" tanya Bima dan Alesha mengangguk tanpa bersuara.


Bima pun mengambil tiga lembar uang berwarna merah dari dalam dompet nya dan memberikan nya pada Alesha.


"Itu cukup kan?" tanya Bima dan Alesha mengangguk sembari tersenyum tipis, ia merasa senang setidak nya apa yg di idamkan janin nya akan terpenuhi.


"Kita belanja sekarang? Aku antar..." ajak Bima, hari ini memang hari minggu dan tentu Bima sedang libur. Sedangkan tadi malam Bima tidur di kamar Alesha dan memeluk Alesha semalaman. Apakah Alesha bahagia?


Tentu saja, hati perempuan mana yg tak bahagia di peluk semalaman oleh suami nya.


Tapi, mengingat fakta bahwa ada wanita lain yg juga bisa ada dalam pelukan suami nya semalaman, senantiasa menjadi ratu di hati suami nya, juga terasa begitu sakit dan perih.


"Boleh, ayo..." ajak Alesha sambil tersenyum.


Bima pun menggandeng Alesha turun dari kamar nya, dan ada Vera yg sedang menonton Tv di ruang keluarga.


"Mau kemana?" tanya Vera pada Bima yg merangkul Alesha dengan posesif.


"Mau belanja, Ver. Alesha ingin membuat es campur..." jawab Bima dan seketika Vera langsung beranjak berdiri dan menghampiri Bima.


"Belanja sama aku saja, Mas..." ujar Vera dengan santai nya yg membuat Alesha kesal.


"Tidak usah..." ketus Alesha.


"Aku bosan di rumah, sesekali aku juga ingin keluar bareng Mas Bima, aku juga istri nya, Alesha" seru Vera seolah Alesha melarang nya keluar bersama Bima.


"Memang nya kapan aku melarang kamu keluar sama suami kamu, huh?" desis Alesha yg membuat Vera tampak kesal dengan jawaban Alesha yg kasar


"Sudah sudah..." sela Bima agar tak terjadi adu mulut antar istri nya, ia melepaskan tangan nya dari pinggang Alesha "Biar aku sama Vera saja yg belanja, kamu istirahat saja di rumah ya, Al..." pinta Bima yg lagi lagi memaksa Alesha mengalah. Alesha langsung menatap tajam Bima dengan rahang yg mengeras.


"Terus saja, Mas... Terus saja bela istri tercinta kamu itu..." seru Alesha dan ia bergegas kembali ke kamar nya.


Yg Alesha harapkan hanya satu, pembelaan Bima pada nya jika Bima memang tidak bisa mencintai nya. Tapi Bima sungguh tidak adil dalam rumah tangga nya, ia telah sangat berat sebelah.


Sementara Vera malah tersenyum senang karena lagi lagi ia berhasil mengacaukan kebahagiaan Alesha. Merebut apa yg seharusnya menjadi hak Alesha.


.........


Saat hari sudah siang, Alesha menunggu Bima dan Vera dengan sangat tidak sabar, ia sungguh ingin segera makan es campur nya. Namun entah belanja ke planet mana dua manusia itu, fikir nya.


"Belum datang juga, Al?" tanya ayah mertua nya karena Alesha bahkan sampai menunggu di depan pintu.


"Belum, Yah. Mereka itu belanja apa liburan sih..." gerutu Alesha.


"Telepon saja, Al. Kalau belum pulang juga, suruh tidak usah pulang sekalian..." seru ayah mertua nya yg justru membuat Alesha terkekeh, sedangkan ayah mertua nya itu tampak benar benar kesal.


"Ayah itu sangat benci wanita seperti Vera, wanita itu pilih pilih, ingin laki laki yg sempurna, dan karena kebanyakan milih, akhir nya dia tidak laku kan? Dan akhirnya apa? Kembali pada Bima yg selama ini ngemis ngemis cinta dia dan dia abaikan, jika ayah jadi Bima, ayah tidak sudi menerima wanita itu..."


Alesha tersenyum kecut mendengar apa yg di katakan ayah mertua nya itu, karena apa yg di katakan ayah mertua nya itu benar ada nya. Vera adalah adik sepupu Alesha dan keluarga mereka sangat dekat, Alesha mengenal baik seperti apa Vera. Kecantikan nya memang menarik perhatian banyak lelaki, namun Vera menolak mereka semua karena Vera mencari yg sempurna, yg bisa menjamin kebahagiaan hidup nya. Itu bukan kata Alesha, tapi Vera sendiri yg mengatakan nya pada Rianti dan Alesha tak sengaja mendengar hal itu.


Bima dan Vera datang juga pada akhir nya, Alesha langsung tersenyum senang dan berlari menghampiri Bima yg membawa kresek belanjaan nya.


" Kamu lama banget sih, Mas. Sudah mau ileran aku pengen es campur nya..." gerutu Alesha yg membuat Bima terkekeh, ia mengusap kepala istri pertama nya itu.


"Maaf ya..." dan hanya kata itu yg terucap dari bibir nya. Alesha memang tidak mengharapkan yg lain kok.


Alesha dan Bima bekerja sama membuat es campur, sesekali kedua nya bercanda gurau dan tertawa riang, sejenak beban dan sakit hati Alesha seperti hilang di saat saat seperti ini.


Sementara Vera yg saat ini di kamar nya sedang mencoba sepatu baru yg tadi ia beli, langsung mengernyit karena mendengar suara tawa Alesha dan Bima yg tampak nya sangat bahagia. Vera keluar dan pergi ke dapur, tentu saja untuk kembali mengacaukan kebahagiaan Alesha.


"Mas, kamu bantuin Alesha? 'Vera bertanya sambil tersenyum manis.


" Iya, kamu mau bantuin juga?" tanya Bima yg membuat wajah Alesha langsung kembali mendung. Ia tahu ini bukan pertanda baik


"Iya..." jawab Vera dan ia pun berdiri di antara Alesha dan Bima.


"Aku tidak butuh bantuan kamu" desis Alesha pada Vera yg membuat Vera kesal.


"Niat aku baik, Alesha. Kenapa kamu selalu ketus sih sama aku? huh?" seru Vera dengan emosi.


"Aku tidak butuh niat baik kamu" ujar Alesha lagi dan Vera malah membanting mangkuk yg berisi susu hingga susu nya tumpah semua nya.


"Vera..." geram Alesha, ia menatap tajam Vera dan Bima bergantian, namun seperti biasa, Bima takkan menegur Vera.


"Sekarang susu nya sudah habis, bagaimana aku mau bikin es campur?" seru Alesha marah.


"Al, sudah lah, jangan marah, biar aku beli lagi ya... ' ujar Bima yg membuat Alesha langsung tertawa sinis.


"Kamu sangat tidak adil, Mas...' geram nya sambil menatap dalam kedua manik mata suami nya itu "Adil itu syarat poligami, dan kamu tidak pernah adil sekalipun sama aku" desis nya dengan dada yg bergumuruh.


"Alesha, Sayang. Ini kan cuma masalah susu..." Bima mencoba menenangkan Alesha yg tampak nya sangat marah.


Sementara kedua orang tua Bima yg mendengar keributan di dapur langsung bergegas ke dapur.


"Ini bukan hanya masalah susu, Mas. Ini masalah keadilan kamu yg tidak pernah adil sama istri istri kamu, kamu terus saja membela Vera, memaksa aku buat mengalah dalam segala hal. Bahkan dalam hal mengidam pun aku juga harus mengalah dengan istri tercinta kamu ini?" seru Alesha sambil menunjuk Vera yg juga tampak nya sedang emosi karena Alesha marah marah dan sampai menunjuk nunjuk diri nya. Sementara kedua mata Alesha sudah terasa panas dan pandangan nya sudah rabun karena air mata yg menggenang di pelupuk mata nya.


" Ini juga anak kamu, Mas Bima... " seru Alesha smebar menunjuk perut nya dan tangan yg lain mengucek mata nya yg sudah berair.


"Alesha..." lirih ibu mertua nya hendak merangkul Alesha namun Alesha menepis tangan ibu nya itu dengan kasar. Hati nya sungguh sakit sekarang.


"Aku benci sama kamu, Mas Bima. Lebih baik aku keluar dari rumah ini, aku muak tinggal bersama kalian berdua..." desis nya yg tentu saja membuat Bima dan kedua orang tua nya terkejut dan menganga lebar.


"Tapi, Al..." Bima hendak menenangkan Alesha lagi namun Alesha memilih berlari ke kamar nya.


"Mas..." Vera menarik kerah baju Bima dan membuat Bima menghadap nya "Kamu janji akan membelikan rumah buat aku, lebih baik aku yg pergi dari sini, aku sudah lelah tinggal satu atap dengan istri pertama kamu itu yg terus saja bersikap kasar sama aku" seru nya.


Sementara kedua orang tua Bima menatap Bima dengan senyum masam, dan mereka meninggalkan Bima dan Vera di dapur. Vera kemudian juga meninggal kan dapur dan pergi ke kamar nya sendiri.


Sementara Bima, ia duduk merenung sendirian. Ia bingung siapa yg harus ia bawa keluar dari rumah itu, setelah merenung cukup lama, akhir nya Bima memutuskan akan mengeluarkan Alesha dari rumah nya.


Bima pergi ke kamar Alesha untuk membicarakan masalah itu, ia mendapati Alesha yg menangis tersedu sedu di tepi ranjang.


"Al... ' Bima duduk di samping Alesha" kalau kamu memang mau keluar,, baiklah. Nanti aku akan carikan rumah kontrakan buat kamu ya"


Alesha tentu tidak terkejut mendengar keputusan suami nya itu, tapi walaupun begitu, tetap saja hati nya sakit, ia tersenyum kecut, menghapus air mata nya dan menarik nafas dalam dalam.


"Pilihan yg tepat, Mas" ucap Alesha dingin