Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 7


"Hey, pengantin baru sudah masuk kerja saja..." goda Farel, salah satu teman kerja Bima yg cukup dekat dengan Bima.


"Tau neh, memang nya punya tenaga untuk bekerja?" goda teman nya yg lain, namun Bima menanggapi semua itu hanya dengan mengedikan bahu dan senyum simpul. Bima memang tidak mengambil cuti, tentu karena ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini.


Bima melakukan pekerjaan nya yg sebagai karyawan Bank itu. Bima adalah orang yg giat dalam bekerja, ia selalu menikmati setiap detik pekerjaan nya itu. Bima juga bukan tipe orang yg suka nongkrong di luaran.


Dan saat jam kerja sudah selesai, Bima pun bergegas pulang kerja.


Sesampainya di rumah, Alesha langsung menyambut hangat suami nya itu, ia membawa kan ransel Bima, kedua nya masih tak berbicara kecuali hal yg penting.


Saat Bima masuk ke kamar nya, ia sudah menyiapkan baju kaos oblong dan celana boxer untuk suami nya itu. Bima bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dengan tenang sembari memikirkan Alesha.


Alesha begitu perhatian pada Bima, selalu tersenyum pada Bima, dan menatap Bima dengan tatapan yg begitu lembut. Alesha memang tidak pernah berbicara lebih dulu sebelum Bima yg memulai, kecuali jika Alesha ingin bertanya sesuatu.


"Huf, kenapa malah memikirkan dia..." gumam nya kemudian ia pun membilas tubuh nya yg penuh dengan busa sabun itu.


Setelah selesai mandi, Bima keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Kemudian ia memakai boxer nya dan kaos nya, kemudian melempar handuk nya sembarang ke ranjang.


Alesha masuk dengan membawa segelas es teh, Bima memang suka minum es teh. Seperti biasa, tanpa berbicara apapun, Alesha meletakkan gelas yg berisi teh itu di atas meja nakas. Kemudian masih tanpa berbicara, ia memungut handuk Bima dan membawa nya ke kamar mandi. Menjemur nya di jemuran handuk.


....... ...


Saat makan malam, seperti biasa Alesha menyiapkan makan malam, Ibu mertua nya membantu Alesha, tak perduli Alesha yg melarang nya. Apa lagi ibu nya itu mengeluh sakit lutut.


"Seharusnya ibu itu istirahat saja, biar aku yg melakukan pekerjaan dapur, aku juga tidak punya pekerjaan lain. Kan kasian ibu sakit lutut" ujar Alesha.


"Nama nya juga tulang tua, Al. Kalau ibu tidak melakukan apa apa, ibu bosan" jawab sang ibu mertua. Alesha menatap ibu mertua nya itu dan seketika ia teringat dengan ibu kandung nya.


Ibu nya bukan nya bukan ibu yg baik, hanya saja Alesha kurang dekat dengan ibu nya, karena ibu nya selalu sibuk mengurus kedua adik Alesha, dan saat Alesha dewasa, ia malah harus merantau demi membantu keluarga. Hal itu membuat nya tidak terlalu dekat dengan ibu maupun ayah nya.


"Suami mu mana, Al?" tanya ayah mertua nya yg baru saja bergabung ke meja makan.


"Di kamar, Yah. Ini mau aku panggil dulu..." ucap Alesha.


"Lagian si Bima itu aneh, setiap kali mau makan masak harus di panggil terus" gerutu ayah nya namun Alesha hanya menanggapi nya dengan senyum simpul.


Ia berlari lari kecil naik ke kamar nya, dan saat membuka pintu kamar, ia melihat suami nya yg sedang membersihkan jari nya yg terluka. Ada kemeja nya di tepi ranjang dan seperti nya Bima sedang menjahit.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Alesha sembari melangkah lebih cepat menghampiri Bima.


"Ya Allah, Mas. Hati hati dong, sini aku lihat..." Alesha menarik tangan Bima, kemudian membersihkan darah yg masih sedikit keluar dari luka nya yg sangat kecil, Alesha mengusap nya dengan jari nya.


"Memang nya Mas Bima jahit apa?" tanya Alesha kemudian.


"Kancing baju nya lepas, besok aku ingin memakai kemeja itu. Besok malam ada acara reunian sama teman teman kuliah dulu" jawab Bima yg membuat Alesha mengulum senyum, bukan karena apa, tapi karena semenjak menikah, ini pertama kali ny Bima mengucapkan kata kata yg sedikit lebih banyak dari kata kata pokok seperti biasa nya.


"Hem, begitu..." ujar Alesha kemudian mengambil kemeja nya dan kembali menggantung nya.


"Nanti aku akan jahit, Mas. Sebaik nya sekarang kita makan malam dulu, ayah sama ibu sudah menunggu kita" tukas Alesha.


Bima mengangguk dan ia turun dengan beringin bersama Alesha, makan malam berjalan sepertinya biasa. Hanya Alesha dan kedua mertua nya yg akan banyak bicara, sementara Bima lebih memilih mendengarkan dalam diam. Saat ayah nya mengatakan sesuatu yg lucu, Alesha akan tertawa. Dan saat tanpa sadar Bima melihat tawa itu, Bima baru menyadari kalau ternayata Alesha cantik juga saat tertawa apa lagi tersenyum. Tatapan Alesha juga begitu lembut, dan entah kenapa hati Bima seperti menghangat karena hal itu. Sudut bibir nya tertarik dan membentuk sebuah senyum simpul. Bima juga merasa nyaman sebenarnya setiap kali ada Alesha di dekat nya. Perhatian Alesha, kepedulian Alesha, kelembutan Alesha, membuat Bima betah di rumah.


....... ...


Keesokan malam nya, Bima menghadiri acara reunian nya. Tak lupa ia membawa Alesha. Alesha berpenampilan sederhana, di samping ia memang tipe wanita yg sederhana, Alesha juga tidak tahu cara berpakaian yg fashionable.


Bima sedikit kurang percaya diri sebenarnya saat ia membawa Alesha ke acara tersebut, ia bahkan berniat tak membawa Alesha namun semua teman teman nya membawa pasangan mereka dan mereka semua tahu Bima sudah menikah. Jadi terpaksa Bima membawa Alesha.


Di acara tersebut, Alesha tidak tahu harus melakukan apa. Namun ketika ada yg menyapa dan berkenalan dengan nya, Alesha menyambut nya dengan hangat.


Saat ada yg bertanya seperti apa Bima sebagai suami, jawaban Alesha membuat Bima terenyuh.


"Mas Bima adalah suami yg sangat baik, dewasa, bertanggung jawab. Itu sudah lebih cukup untuk menjadikan nya suami yg sempurna" jawab nya sembari tersenyum sumringah, bahkan tatapan mata nya seolah mengatakan hal yg demikian. Lagi lagi Bima di buat nyaman oleh nya.


Sepulang nya dari acara tersebut, Alesha langsung mandi dan berganti pakaian dengan piyama. Alesha dan Bima sudah tidur satu ranjang namun mereka saling memunggungi.


"Al..." seru Bima saat Alesha mengeringkan rambut panjang nya yg sebahu. Alesha duduk di tepi ranjang, sedangkan Bima baru saja masuk ke kamar.


"Ya, Mas?" tanya Alesha mendongak.


Tiba tiba Bima berlutut di depan nya, membuat Alesha terkejut dan seketika tubuh nya terasa kaku. Apa lagi saat Bima menatap lurus kedua iris hitam Alesha.


"Al, bersediakah kamu menjadi istri ku seutuh nya?" tanya Bima lirih, yg membuat Alesha mengernyit bingung tak mengerti.


"Maksud nya?" tanya Alesha heran.


"Izinkan aku menyentuh mu, Al. Izinkan aku memberi mu nafkah batin..."