
Bima dilema dengan masalah yang di hadapi nya sekarang, masalah yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidup nya. Menghamili anak orang hanya dengan sekali tembakan?
"Rasa nya tidak mungkin, Vera saja sampai sekarang tidak hamil. Alesha juga baru hamil setelah satu pernikahan kami, lalu bagaimana bisa Raya hamil hanya dengan sekali tembakan? Dia pasti bohong, itu pasti anak pacarnya yang toxic itu..." monolog nya.
Saat ini Bima sedang dalam perjalanan pulang, masalah Raya benar benar membuat nya shock dan ia tak bisa fokus pada pekerjaan nya. Apa lagi bagaimana jika sampai orang tua nya tahu? Mereka pasti akan sangat kecewa, dan bagaimana jika Vera juga tahu?
"Tidak, tidak boleh ada yang tahu. Ini pasti cuma fitnah..." gumam Bima dan ia berbelok arah. Bima melajukan mobil nya menuju rumah Raya.
Sesampainya Bima di rumah Raya, ia langsung turun dari mobil nya dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Raya.
"Kamu Bima kan?" tanya Ibu nya Raya dan Bima hanya mengangguk.
"Bukan nya kamu seharusnya datang malam ini bersama orang tua mu?" tanya nya lagi.
"Aku rasa ini ada kesalahan di sini, lebih baik kita bicarakan lagi baik baik" kata Bima.
Sementara Pak Agus yang memang sudah di rumah langsung keluar setelah mendengar suara Bima, begitu juga dengan Raya.
"Oh, kamu datang lebih cepat dari yang aku mau" kata Pak Agus dengan sinis "Dimana orang tua mu?" tanya nya lagi.
"Mas, kita bicara di dalam saja, malu kalau sampai ada yang dengar" ujar istri Pak Agus.
Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, Pak Agus menatap Bima dengan begitu tajam dan Bima merasa terintimidasi namun ia berusaha bersikap tetap tenang. Sementara Raya duduk di samping Ibu nya dan ia menundukkan kepala nya.
"Jadi, dimana orang tua mu? Kamu sudah memberi tahu mereka?" tanya Pak Agus lagi dengan ketus nya.
"Kamu fikir anak ku pelacur yang bisa mengandung benih dari pria asing, huh?" teriak nya marah membuat Bima terkesiap. Perawakan Pak Agus yang sangar dengan tubuh tinggi besar apalagi dengan nada bicara nya yang selalu seperti membentak benar benar membuat nyali Bima tersentil
"Bu... Bukan itu maksud saya, Pak" kata Bima "Tapi kan Raya punya pacar, mungkin saja itu janin pacar nya" kata Bima memberanikan diri.
"Aku berani bertaruh ini bukan janin nya mantan pacar ku" jawab Raya dengan cepat "Sudah sebulan lebih aku tidak berhubungan dengan dia karena dia itu kasar, karena itu lah malam itu dia menurunkan aku di pinggir jalan karena aku menolak di ajak berhubungan" tegas Raya
"Tapi kita cuma melakukan nya sekali, Raya" geram Bima.
"Karena waktu itu aku di masa subur dan kamu tidak pakai pengamanan" jawab Raya lagi yang membuat Bima terbelalak.
"Masih mau mengelak kamu, huh?" teriak Pak Agus lagi "Kamu harus tanggung jawab, Bima. Atau aku bisa menuntut mu, menghancurkan karir mu" gertak nya yang membuat Bima langsung pucat.
"Tapi aku sudah menikah" lirih Bima memelas.
"Seharus nya kamu menyadari itu sebelum melakukan hal seperti itu pada wanita lain" sambung istri Pak Agus yang sejak tadi hanya diam "Masa depan anak ku bisa hancur, kamu harus tanggung jawab"
"Apa tidak ada cara lain selain menikahi Raya?" tanya Bima ragu ragu "Kita... Kita bisa gugurkan kandungan nya" cicit Bima yang membuat Pak Agus langsung menggebrak meja, membuat Bima dan yang lain nya langsung terkesiap.
"Jangan jadi pengecut, berani berbuat berani bertanggung jawab!!!" teriak nya dengan emosi yang menggebu "Kamu mau menggugurkan janin itu? Mau melakukan dosa besar dua kali kamu, huh?"
"Aku tidak mau tahu, Bima. Kamu harus menikahi Raya"