
"Narik uang buat apa?" tanya Miley.
Ia baru saja pulang dari kampus nya, dan Miley melihat Kakak nya yang sedang menghitung lembaran uang merah di pangkuan nya.
"Buat model Alesha..." jawab Adam dengan santai nya yang berhasil membuat Miley langsung melotot sempurna.
"Kak, dia masih istri orang. Sudah mau di nafkahi saja. Nanti, kalau sudah ketuk palu..." racau Miley yang membuat Adam mendelik pada nya.
"Kakak cuma mau minjemin modal, Mil" tukas Adam.
"Memang nya dia mau minjam?" tanya Miley.
"Ya belum, tapi siapa tahu nanti dia butuh. Aku bisa langsung kasih kan..."
"Ada bunga nya, tidak?"
"Ya tidak ada lah..."
"Pasti tidak mau di bayar juga kan?"
"Ya..." Adam langsung terdiam, ia memicingkan mata nya pada Miley, sementara adik nya itu terkekeh.
"Tidak apa apa, Kak. Miley ikhlas kok, kasih saja dana sebanyak apapun yang Kak Alesha mau, toh nanti dia akan jadi Ibu rumah tangga di rumah ini" goda Miley yang membuat Kakak nya itu mendengus.
"Jaga omongan mu itu lho, Dek. Mana mungkin Alesha mau sama duda seperti Kakak, apa lagi dulu Kakak sama bodoh nya seperti Bima. Pasti trauma lah dia..."
"Hem, benar juga sih..." gumam Rianti mangut mangut, membuat Adam kembali mendelik.
"Kok benar sih, Mil? Kakak kan sudah berubah, Mil..." seru nya kesal, membuat Miley terkikik.
"Lah, kan tadi Kak Adam sendiri yang bilang kalau Kak Adam itu sama bodoh nya sama si Bima" tukas Miley masih terkikik.
Adam hanya menatap dingin Miley yang benar benar tidak pernah sopan itu pada nya, Adam membawa semua uang nya dan bergegas pergi ke kamar nya. Dari pada di luar, akan selalu di ganggu oleh adik tercinta nya itu.
..........
Alesha sudah mendapatkan ukuran baju Adam, dan ia benar benar antusias membuat baju rajut untuk Adam. Namun sayang nya, modal yang ia punya tak cukup. Apa lagi kalau masih harus membuat sulaman nama, Alesha tentu tak bisa melakukan nya dengan tangan dan butuh mesin supaya hasil nya bagus dan sempurna.
"Jual gorengan aja dulu kali ya..." gumam Alesha.
Uang yang di berikan Bima tentu masih ada, masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nya sehari hari. Namun Alesha juga harus memikirkan masa depan nya juga, apa lagi nanti kalau anak nya sudah lahir. Dia akan butuh biaya yang banyak, meskipun mungkin Bima akan menafkahi anak nya nanti, tapi Alesha juga harus mandiri secara finansial.
Ting...
Notifikasi sebuah pesan masuk berbunyi, Alesha mengambil ponsel nya dan ia mendapatkan pesan dari nomor baru. Alesha membuka nya dan saat membaca pesan itu, Alesha itu dari siapa.
^^^"Sudah mulai me rajut baju nya, Al?"^^^
Me
"Belum, Mas. Oh ya, Mas Adam suka warna apa?"
Alesha mengirim pesan itu kemudian menyimpan kontak Adam.
^^^Adam ^^^
^^^"Kok kamu tahu aku Adam?"^^^
Alesha tertawa membaca pesan Adam itu.
Me
"Ya tahu dong, Mas. Yang pesan baju rajut kan cuma kamu"
^^^Adam^^^
^^^"Benar juga sih"^^^
^^^"Menurut kamu, warna yang cocok buat aku warna apa?" ^^^
Me
" Seperti nya biru langit cocok"
^^^Adam ^^^
^^^"Padahal menurut aku warna hitam cocok sama aku"^^^
Me
"Hitam juga bagus, tapi biru lebih cerah, pasti cocok buat kamu, Mas"
^^^Adam^^^
^^^"Al, kamu butuh modal buat beli barang barang untuk bisnis kamu ini?"^^^
Alesha langsung mengerutkan kening nya membaca pesan Adam itu.
Me
"Butuh sih, Mas. Tapi nanti saja, aku mau jualan gorengan dulu"
^^^Adam^^^
^^^"Kamu mulai jualan kapan? "^^^
Me
"Belum tahu, Mas. Belum izin suami ku.."
^^^Adam^^^
^^^"Hem begitu, okey. Nanti kalau misal nya di izinin. Sama suami kamu, kamu bilang butuh bantuan apapun"^^^
Alesha kembali mengerutkan kening nya membaca pesan Adam. Ia merasa aneh dengan Adam yang sangat baik pada nya.
"Iya, terima kasih"
...
Malam ini, Bima bermesraan dengan Vera di kamar nya. Kamar yang menjadi saksi bisu cinta Alesha dan pelayanan Alesha sebagai istri yang sangat baik untuk Bima namun sayang nya tak cukup membuat Bima setia pada Alesha.
"Mas, nanti kalau aku sudah kerja, kita pindah rumah ya, Mas" kata Vera sembari memainkan tangan Bima yang di genggam nya.
"Insya Allah, Sayang." jawab Bima.
"Aku sudah tidak tahan sama Ibu dan Ayah kamu, Mas. Soal nya mereka nyindir aku terus, ya aku tahu sih, aku memang salah" kata Vera lirih "Salah karena sudah mencintai kamu, Mas" ujar nya kemudian yang membuat Bima langsung terkekeh. Ia mengecup tangan Vera yang di genggam nya.
"Tidak ada yang salah dengan cinta, Sayang. Aku yakin, suatu hari nanti orang tua ku pasti akan menerima kamu" ujar Bima meyakinkan.
"Aku rasa mereka tidak akan menerima aku selama masih ada Alesha, Mas" lirih Vera lagi "Padahal aku tulus mencintai kamu, Mas"
"Aku tahu, Sayang" kata Bima sembari merapikan rambut Vera di sisi wajah nya "Kamu sabar dulu ya, setelah Alesha melahirkan, kita akan bercerai kok"
"Hmmm" Vera menggumam sembari mengeratkan pelukan nya pada suami nya itu. Bima pun mendekap Vera dan mencium kening nya, ia juga tidak tega dengan Vera yang setiap hari selalu di sindir dengan kata kata pedas oleh Ibu dan ayah nya. Karena itulah, Bima memang memutuskan akan membawa Vera keluar dari rumah orang tua nya secepat nya. Demi kebahagiaan kehidupan rumah tangga mereka berdua.
...
Keesokan hari nya, Bima kembali mampir ke rumah Alesha dan kali ini karena Alesha yang meminta nya datang.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Mas" ujar Alesha sembari meletakkan segelas air putih di depan Bima dan sepiring gorengan, ada tahu isi, tempe mendoan dan bakwan sayur.
"Soal perceraian lagi?" tanya Bima dan Alesha menggeleng sambil tersenyum masam.
"Bukan, ini soal aku" kata Alesha yang membuat Bima langsung menyipitkan mata nya menatap Alesha.
"Kenapa? Apa uang mu sudah habis?" tanya Bima lagi.
"Bukan, Mas " jawab Alesha masih tersenyum "Ya memang tentang uang, soal nya aku pengen jualan" kata Alesha kemudian yang membuat Bima sedikit terkejut.
"Jualan apa?" tanya Bima.
"Jualan gorengan kayak itu..." Alesha menunjukan sepiring gorengan yang ada di depan Bima. Bima semakin terkejut mendengar ucapan istri nya itu dan terlihat sekali dari wajah nya ia tak suka dengan apa yang Alesha katakan.
"Al, suami kamu ini sudah menjadi manager Bank" tukas Bima "Masak kamu mau jual gorengan? Yang benar saja..."
Alesha menghela nafas berat, senyum yang tadi tercetak di bibir nya kini sudah hilang. Raut wajah nya pun kian serius menatap suami nya itu.
"Mas..." Alesha sedikit mencondongkan tubuh nya ke depan "Aku ingin mandiri, aku juga bosan di rumah seharian tidak melakukan apapun. Apa lagi nanti..."
"Apa? bercerai?" sanggah Bima yang tak membiarkan Alesha berbicara "Al, aku masih belum menceraikan kamu. Dan saat ini, aku sangat mampu memenuhi semua kebutuhan kamu. Jadi, sebagai suami sah kamu, aku melarang mu bekerja apa lagi berjualan"
"Tapi, mas..."
"Ini keputusan ku, Al. Aku lakukan juga demi kebaikan anak kita, kalau kamu lelah, nanti terjadi sesuatu sama anak kita. Aku tidak mau" tukas Bima kemudian ia beranjak dari kursi nya.
"Aku pergi bekerja dulu...." ujar nya kemudian ia dia masih mencium pelipis Alesha tanpa permisi layak nya suami sayang istri.
Senang?
Tidak sama sekali, Alesha justru merasa sangat muak. Namun Bagaiamana pun ia masih istri Bima dan meskipun tak berpendidikan tinggi, namun Alesha tahu sebagai istri ia punya kewajiban untuk memenuhi perintah suami nya selama itu bukan hal yang melanggar hukum Tuhan dan Bima memang masih menafkahi nya dengan baik.
"Padahal yang membuat anak kita tidak sehat itu hubungan kita, Mas" Alesha menatap lirih kepergian Bima yang kini sudah pergi menggunakan mobil yang seperti nya di sediakan oleh Bank tempat nya bekerja.
"Seandainya kamu tidak merusak hubungan kita dengan membawa Vera, anak kita akan tumbuh sehat di tengah keluarga yang sempurna"