
Tak lama kemudian sekretaris Pak Tubagus masuk ke ruang kerja Pak Tubagus untuk menyajikan minuman dan saat sang sekretaris menyajikan minuman , ia sangat terkejut saat melihat Alesha bahkan sampai tak sengaja ia menumpahkan minuman ke celana Pak Hermawan yang tentu saja langsung mendapatkan bentakan dari Pak Tubagus
"Vera, hati hati..." Vera yang terkejut karena melihat Alesha bersama boss nya di buat semakin terkejut karena bentakan sang boss.
Sementara Alesha terkejut namun itu hanya sekilas, kemudian ia memperlihatkan wajah tenang nya.
"Tidak apa apa, Pak" kata Om Hermawan dan Alesha memberikan tissue pada calon mertua nya itu.
"Ini, Om..." kata Alesha.
"Terima kasih, Nak" kata Om Hermawan sementara Vera masih termangu di tempat nya.
"Tolong maafkan Vera, dia sekretaris ku dan biasa nya dia selalu bekerja dengan baik"
"Mungkin dia terkejut akan sesuatu..." kata Adam yang sebenarnya juga sedikit terkejut melihat Vera di kantor relasi nya ini, dan semakin terkejut saat mengetahui Vera lah sekretaris yang terkadang menghubungi nya untuk urusan pekerjaan nya dengan Pak Tubagus.
"Maa. Maaf..." kata Vera akhirnya dan ia melirik sekilas Kakak sepupu sekaligus mantan madu nya itu yang justru terlihat sangat tenang.
"Oh ya, Ver. Ini Pak Hermawan dan juga keponakan nya Adam, dan ini calon istri Adam. Mereka yang akan menanamkan saham di perusahaan kita. Jadi tolong jaga sikap mu di depan mereka lain kali" tegas Pak Tubagus yang tentu saja membuat Vera hanya bisa menelan ludah nya dengan susah payah dan mengangguk.
"Tidak perlu terlalu galak, Pak. Vera ini sepupu nya calon istri ku" kata Adam yang membuat Vera semakin terkejut, namun beda hal nya dengan Alesha yang biasa saja karena Adam hanya mengatakan yang sebenarnya.
"Oh, begitu kah? Aku tidak pernah tahu Vera punya sepupu, padahal dia sudah bekerja dengan ku selama satu tahun" kata Pak Tubagus lagi sambil menatap Vera dan Vera hanya menyunggingkan senyum kaku nya "Tapi kenapa aku tidak melihat Alesha di pernikahan Vera dan Bima beberapa bulan lalu?" tanya Pak Tubagus lagi.
"Aku sedang sakit saat itu...." kata Alesha sambil tersenyum penuh makna pada Vera.
"Oh, dunia benar benar sempit..." komentar Pak Tubagus, Adam dan Om Hermawan hanya terkekeh begitu juga dengan Alesha.
"Oh ya, bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama? Mumpung Pak Hermawan ada di sini" kata Pak Tubagus kemudian.
"Ide bagus, sebenarnya aku juga tidak akan kesini kalau saja bukan untuk pernikahan Alesha dan Adam"
"Jangan lupa undangan nya, Dam, Al" kata Pak Tubagus.
"Pasti, Pak" kata Adam semangat.
"Oh ya, Ver. Tolong carikan restaurant yang bagus untuk siang ini, nanti kamu juga ikut makan siang bersama kami" kata Pak Tubagus dan tentu saja itu bukan kabar baik untuk Vera.
"Maafkan saya, Pak. Tapi saya ada janji makan siang dengan suami saya" kata Vera berbohong, karena ia dan Bima belum ada janji apapun.
"Kalau begitu ajak saja sekalian suami mu, Ver..." kata Pak Tubagus.
"Tapi, Pak..."
"Sekarang kamu boleh pergi, jangan lupa booking ruang VIP, okey? Mereka ini teman teman ku sekaligus investor di perusahaan kita"
Vera tentu tak berkutik dengan perintah boss nya ini, sementara Adam langsung melirik Alesha. Ia takut Alesha tidak nyaman dengan pertemuan ini namun Alesha terlihat tenang dan biasa saja.
Setelah Vera pergi, mereka pun membicarakan bisnis mereka dan tentu Alesha hanya bisa mendengarkan dan sesekali meladeni putra nya yang mau bermain.
.........
Sekarang Alesha dan Adam sudah dalam mobil, mereka menuju restaurant tempat makan siang mereka. Sementara Pak Tubagus berangkat bersama Pak Hermawan dan juga Vera, Vera juga sudah meminta Bima datang ke restaurant itu namun Vera tak berani memberi tahu tentang Adam dan Alesha.
"Kenapa, Mas?" tanya Alesha dan ia benar benar terlihat tenang sampai sekarang.
"Kamu tidak apa apa kita ketemu Bima dan Vera di sana?" tanya Adam yang membuat Alesha terkekeh.
"Ya tidak apa apa, Mas. Aku sudah terbiasa melihat mereka bersama bahkan semenjak aku dan Mas Bima belum bercerai, mereka tidak pernah sungkan memperlihatkan ke romantisan mereka di depan ku. Jadi karena sekarang dia hanya mantan suami ku, aku sih sudah bodoh amat" kata Alesha yang tentu saja membuat Adam langsung bernafas lega.
Mobil Adam berhenti di depan sebuah restaurant dan kedua nya pun turun dan memberi tahu resepsionis bahwa mereka datang bersama Pak Tubagus. Resepsionis pun segera memanggil pelayan dan meminta nya mengantarkan mereka ke ruang VIP.
Sementara di ruang VIP, Bima sudah datang lebih dan ia di sambut oleh Pak Tubagus dan juga Pak Hermawan. Mereka berbincang sebentar dengan tenang, beda hal nya dengan Vera yang merasa gugup.
"Lama sekali Adam, padahal tadi kita berangkat barengan" kata Om Hermawan.
"Mungkin dia nyetir nya pelan pelan karena bawa anak nya, kalau aku sih begitu, Pak. Kalau bawa anak selalu hati hati" jawab Pak Tubagus
"Iya sih, apa lagi Adam terlihat sekali sangat mencintai anak nya dan calon istri nya itu"
"Nah itu mereka..." seru Pak Tubagus, Vera dan Bima pun menoleh bersamaan.
Bima langsung tercengang melihat Alesha yang datang bersama Adam, apa lagi melihat putra nya ada di gendongan pria lain.
"Hey, sampai juga kalian..." seru Pak Tubagus.
"Maaf ya, kami terlambat. Maklum, bawa anak jadi nyetir nya harus hati hati" kata Adam dan ia pun menarikan kursi untuk Alesha yang tepat berada di depan Vera, sementara Adam duduk tepat di depan Bima. Setelah mendengar jawaban Alesha di mobil tadi, Adam jauh lebih tenang dan bisa bersikap biasa saja di depan Bima dan Vera. Beda hal nya dengan Bima yang tampak bingung, Bima langsung melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Vera namun Vera hanya bisa membisu.
"Oh ya, Vera sudah pesan kan menu terbaik di restaurant ini, sebentar lagi akan datang " kata Pak Tubagus semangat.
"Aku mau tambah menu, Pak. Anak ku suka sekali sup" kata Adam.
"Tentu saja boleh, disini sup udang nya yang enak"
"Anak ku suka nya sup ayam" kata Adam lagi dan itu benar benar membuat Bima semakin bingung sekaligus cemburu, karena ada pria lain yang mengasuh putra nya dan sepertinya sangat mengenal putra nya dan pria itu terus saja mengatakan 'anak ku, anak ku'.
"Ya, bayi memang lebih baik makan ayam. Biar tidak alergi" kata Pak Tubagus lagi.
Dan tak lama kemudian dua orang pelayan datang menyajikan makanan untuk mereka, tak lupa Adam juga memesan sup ayam untuk Dameer.
"Sini, Mas. Biar Dameer nya sama aku, kamu saja makan duluan" kata Alesha hendak mengambil Dameer dari pangkuan Adam namun Adam tak memberikan nya.
"Kamu yang makan duluan, Al. Sudah, jangan khawatirin Dameer, ya kan, Nak? Dameer sama Papa saja ya..." kata Adam kemudian dan ia benar benar melakukan nya begitu saja, tanpa sedikitpun anak niat memanas manasi Bima atau pun Vera namun fakta nya, Bima dan Vera tentu merasa kepanasan.
"Oh ya, kalian tahu tidak sih. Pertemuan Adam dan Dameer itu lucu sekali..." kata Pak Tubagus pada Bima dan Vera yang sejak tadi hanya diam dengan raut wajah kaku.
"Bayi itu merangkak di bawah kursi, seperti nya itu memang takdir Tuhan untuk mempertemukan Mama nya dengan belahan jiwa nya" kata Pak Tubagus sambil terkekeh saat mengingat bagaimana Adam menemukan Dameer di bawah kursi.
"Iya, bagaimana kisah cinta kalian?" tanya Adam dan kali ini ia senagaj memanas manasi Bima dan Vera "Apakah kalian pernah pacaran? Atau mungkin Bima pernah nembak Vera sambil berlutut dengan memegang setangkai bunga dan wajah Vera pasti tersipu malu saat itu" lanjut nya dan Alesha pun langsung menatap Adam sambil geleng geleng kepala.
Sementara Vera dan Bima tak bisa menjawab, meskipun mereka merasa benar dengan cinta meraka, namun akan sangat memalukan jika menceritakan kisah cinta mereka yang memakan banyak korban.
"Kalau pertemuan ku dan Alesha lucu, dulu lutut ku terluka dan aku phobia terhadap darah semenjak kematian mendiang istri pertama ku. Tapi Alesha membantu ku tanpa ragu padahal saat itu kita tidak saling mengenal, saat itu aku sudah terpukau pada nya. Dan saat aku punya kesempatan untuk memiliki nya, aku langsung datang ke rumah nya dan meminang nya" kata Adam yang justru membuat Alesha tersipu malu.
Bima hanya bisa membisu dengan tangan yang mengepal kuat, sementara Vera hanya bisa menundukkan kepala nya.