Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 77


Setelah makan siang yang bukan nya membuat perut Bima kenyang justru membuat hati Bima justru kepanasan. Ia terus teringat bagaimana Adam memperlakukan Alesha dan Dameer, apa lagi kata kata terkahir Adam yang begitu menohok hati nya.


Begitu juga dengan Vera yang ada dalam keadaan yang sama.


Saat Bima pulang ke rumah, Vera menyambut nya dengan senyum seperti biasa namun Bima menunjukkan sikap yang tak biasa. Ia mengacuhkan Vera dan bahkan enggan menatap nya, membuat hati Vera seperti teriris.


"Mas..." Vera mengekori Bima yang masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan nya "Mas, kamu kenapa sih?" tanya Vera kesal.


"Kamu tanya aku kenapa?" desis Bima "Apa maksud kamu ngajak aku makan siang sama Adam dan Alesha, huh?" amarah terlihat begitu jelas di mata Bima dan itu membuat nyali Vera menciut, karena sebelum nya Bima tak pernah terlihat sangat marah seperti sekarang.


"Aku terpaksa, Mas. Pak Tubagus yang..."


"Tidak usah banyak alasan, Vera!!!" bentak Bima yang membuat Vera terkesiap "Kamu mempermalukan aku di sana, kamu sengaja, huh?" teriak nya lagi yang tentu saja membuat Vera tercengang, karena ia sendiri juga malu tadi.


"Mas, bukan begitu maksud aku..." kata Vera kemudian berusaha menjelaskan pada Bima.


"Terus maksud kamu itu apa? Mempertemukan aku dengan mantan istri ku dan juga calon suami nya? Kamu sengaja, huh?" teriak Bima lagi dengan emosi yang sudah berada di ubun ubun.


"Memang apa salah nya sih, Mas. Kalau kamu ketemu sama mantan istri kamu dan calon suami nya? Kamu kan sudah tidak punya hubungan apa apa lagi sama dia..." seru Vera akhir nya yang sudah tidak tahan karena terus di desak oleh Bima.


"Salah nya mereka mempermalukan kita, Vera!!!" bentak Bima lagi yang kembali membuat Vera terkesiap "Kamu tidak dengar Adam membahas masa lalu kita, huh?" mata Vera sudah berkaca kaca karena malam ini Bima terus saja membentak nya dan bahkan menyalahkan nya atas apa yang terjadi tadi siang.


"Kamu itu seharusnya bisa jadi istri yang baik, menjaga kehormatan suami. Bukan nya seperti tadi, menempatkan aku di posisi yang sangat memalukan" desis Bima dan air mata Vera tak bisa lagi di bendung nya.


"Aku juga malu, Mas!!!" bentak Vera kemudian "Kamu fikir kamu saja yang malu? Aku juga, Mas" seru nya berderai air mata "Lagi pula memang nya apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun, bos ku meminta ku mengajak makan siang, itu saja" kata Vera kemudian sambil menatap Bima dengan nanar. Nafas Vera memburu dengan emosi yang memuncak, namun ia berusaha meredam nya.


"Aku..." Vera menyentuh tangan Bima dengan lembut "Aku minta maaf, Mas. Aku tidak bermaksud membuat mu malu, lagi pula semua nya sudah terjadi. Sekarang kita suami istri, sah secara agama dan negara. Alesha juga sudah mendapatkan pengganti mu, kenapa tidak kita lupakan saja masa lalu?" lirih Vera penuh harap.


Bima hanya memandang Vera tajam dan kemudian ia menepis tangan Vera yang menyentuh tangan nya, membuat hati Vera terasa teriris. Apa lagi ketika Bima melangkah keluar dari kamar nya masih dengan raut wajah yang tampak marah.


"Mas, mau kemana? Ini sudah malam..." kata Vera berusaha menghentikan Bima namun Bima tak mengindahkan nya dan mempercepat langkah nya.


Ibu nya Vera yang mendengar pertengkaran putri dan menantu nya hanya bisa diam dengan air mata yang mengalir di pipi nya.


"Seandainya saja aku bisa menghentikan Vera merebut suami Alesha..." gumam nya, Ibu nya Vera menyesali tindakan Vera dan menyesali ia yang tak bisa mencegah tindakan putri nya itu. Dia yang dulu dekat dengan kakak nya dan keponakan keponakan nya, kini aku harus jauh dari mereka. Dan sekarang, hubungan Vera dan Bima justru menjadi bumerang untuk mereka sendiri. Mereka bahkan malu mengakui kisah pernikahan mereka yang padahal kata nya karena cinta.


Sementara itu, Bima melajukan mobil nya tanpa tujuan. Bayang bayang akan kebersamaan nya dengan Alesha dulu kembali berputar dalam benak nya, Alesha memang wanita yang baik dan istri baik.


"Semua nya sudah terlambat, aku sudah melepaskan nya demi menggenggam Vera..." gumam Bima pasrah.


Ia pun terus melakukan mobil nya hingga tatapan nya menangkap sosok wanita yang tak asing bagi nya, Bima mempertajam tatapan nya dan benar saja, wanita itu salah satu pegawai Bank tempat Bima bekerja dan Bima mengenal baik Wanita itu. Bima pun menepikan mobil nya di depan wanita itu.


"Raya..." seru Bima dan wanita yang di panggil Raya pun langsung mendongak, Bima mengernyit karena ia melihat Raya seperti nya menangis.


"Pak Bima..." lirih Raya sembari mengusap pipi nya yang basah karena air mata.


"Kamu kenapa? Sama siapa?" tanya Bima.


"Masuk, Ray. Ini sudah malam lho" kata Bima. Raya yang memang sudah mengenal Bima sebagai manager Bank itu pun langsung masuk begitu saja.


"Jadi kamu kenapa?" tanya Bima yang kini sudah melajukan mobil nya.


"Biasa lah, Pak. Bertengkar sama pacar, dia malah nurunin aku di tengah jalan" kata Raya dan Bima hanya mengangguk anggukan kepala nya.


"Pak Bima sendiri kenapa malam malam begini ada di jalan?" tanya Raya kemudian.


"Biasa lah, bertengkar sama istri" jawab Bima sambil terkekeh "Oh ya, rumah kamu dimana? Biar aku antar"


"Memang nya tidak merepotkan, Pak?" tanya Raya


"Haha, nanggung juga, Ray. Kamu sudah ada dalam mobil, masak iya aku turunkan kamu di pinggir jalan lagi" kata Bima.


"Di belokan depan itu belok kiri, Pak. Rumah kedua cat biru..." kata Raya dan Bima mengangguk mengerti.


Kini mereka sudah sampai di rumah Raya yang terlihat sepi "Kamu tinggal sama siapa, Ray?"


"Sama orang tua ku, tapi sekarang mereka lagi ke luar kota" kata Raya "Mampir dulu sebentar, Pak. Saya bikinin teh, anggap saja sebagai ucapan terima kasih" kata Raya dan Bima yang memang enggan pulang pun menerima tawaran Raya.


Raya mempersilahkan Bima duduk di sofa sementara Raya bergegas ke dapur untuk segera membuatkan teh, kemudian ia menyajikan nya untuk Bima bersama sepiring biskuit.


"Maaf ya, Pak. Seadanya..." kata Raya dan Bima hanya menanggapi nya dengan senyum.


"Oh ya, memang nya kenapa kamu berkelahi dengan pacar kamu, Ray? Sampai di turunkan di tengah jalan malam malam begini..."


"Dia itu.... Orang nya toxic, Pak. Saya sudah tidak tahan dan ingin putus, tapi dia tidak mau" lirih Raya dan kembali ia meneteskan air mata nya saat mengingat perlakuan pacar nya yang toxic itu.


Sementara Bima yang melihat Raya menangis pun langsung berpindah duduk ke samping Raya dan memeluk nya dan ternyata Raya menyambut pelukan Bima. Tangis nya bahkan semakin menjadi di pelukan manager nya itu.


"Kamu bisa melaporkan nya ke polisi, Ray" lirih Bima.


"Saya di ancam, Pak" kata Raya dengan suara serak. Bima pun tak bisa lagi berkata apa apa dan kedua nya sama sama diam dalam pelukan itu.


Hingga saat tangisan Raya mereda, Raya mendongak dan bersamaan dengan itu Bima menunduk sehingga tatapan kedua nya bertemu.


Entah siapa yang memulai, namun bibir kedua nya kini sudah menyatu bahkan Bima terlihat bersemangat mengeksplorasi bibir wanita muda di pelukan nya ini. Bima tidak tahu kenapa ia melakukan ini, namun yang ia ingat saat ini hanya lah kekesalan nya pada Vera yang membuat nya bertemu dengan Adam.


Tak hanya bibir, kini tangan Bima pun bekerja dengan melucuti pakaian Raya dan Raya yang sudah tertekan karena hubungan toxic nya dengan sang pacar, menerima perlakuan Bima sebagai bentuk pelampiasan. Raya bahkan membalas cumbuan Bima dengan begitu semangat nya untuk melupakan sakit hati nya pada pacar nya.


...... ...


Sementara di sisi lain, Vera terus mengintip ke luar jendela dan berharap suami nya segera pulang. Vera mondar mandir dengan perasaan yang tak menentu, dada nya bergemuruh tidak jelas bahkan terasa begitu sesak.


Beda hal nya dengan Alesha yang sedang mengobrol santai dengan Adam di telfon bahkan lagi lagi ia sampai jatuh tertidur dengan panggilan yang masih tersambung, dan Adam tidak akan memutuskan panggilan itu bahkan sampai ponsel nya kehabisan daya.