
Bima membawa Vera ke kamar tamu yg ada di lantai satu, di lantai ada dua kamar, yaitu kamar Bima dan Alesha dan juga kamar kedua orang tua Bima.
Ukuran kamar itu memang terbilang paling kecik di antara kamar yg lain, dan seperti nya itu membuat Vera tidak suka.
Mengenyahkan semua rasa bersalah pada Alesha pada orang tua nya, Bima berusaha tetap tegar pada pendirian. Bagaimana pun juga ia telah menikahi Vera dan hal itu sudah tidak bisa di ubah lagi.
Bima menatap Vera yg saat ini melepaskan pashmina yg menutupi sebagian kepala nya, Vera sebenarnya merasa bersalah dengan pernikahan ini, bukan pada Alesha, melainkan pada ibu nya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak ingin kehilangan Bima lagi, fikir nya n
Bima hendak memeluk Vera, namun Vera malah menghindar.
"Kenapa, Sayang? Kan sudah jadi suami isyt..." ujar Bima menggoda, yg seolah lupa dengan air mata Alesha dan dengan kekecewaan juga kemarahan orang tua nya.
"Mas, kamu kok tega sih ngasih kamar kecil ini buat aku. Kamar yg di atas pasti lebih besar kan..." Bima terperangah mendengar kata kata yg di ucapkan Oleh Vera, ia sangat tidak menyangka dimana di malam pertama nya ini Vera malah mengeluhkan soal kamar.
"Tapi kan yg di atas kamar Ibu sama kamar Alesha, Ver..." jawab nya.
"Aku juga istri mu, Mas. Kamu harus bisa adil sama aku dan Alesha. Jadi kamar yg kami tempat juga harus sama..." gerutu Vera lagi. Bima merasa kesal sebenarnya mendengar apa yg di katakan oleh Vera di malam pertama yg seharusnya mereka jalani dengan bahagia.
"Tapi hanya ada tiga kamar di sini, Ver. Tidak mungkin kan aku meminta Vera keluar dari kamar nya" tegas Bima lagi berharap Vera mengerti, namun nyata nya Vera masih memberengut dan menggerutu.
"Kamu harus adil sama kedua istri mu, Mas. Itu sudah kewajiban kamu sebagai suami, jangan berat sebelah" rengek nya. Bima menghela nafas berat, ia memeluk Vera dari bilang.
"Iya, nanti aku akan belikan rumah buat kamu, nanti kamar kamu yg paling besar di sana" bujuk Bima kemudian yg membuat wajah Vera kembali berseri seri dan ia tersenyum senang.
"Beneran, Mas?" tanya Vera dengan raut wajah yg girang.
"Iya, Insya Allah. Nanti aku usahain, untuk sementara, kita tinggal di sini dulu ya. Aku janji akan secepatnya mencarikan rumah buat kamu" tukas Bima yg membuat Vera semakin melambung tinggi.
Malam pertama mereka pun mereka lalui tanpa beban sedikit pun, tanpa berfikir ada hati yg sedang terluka hancur, tanpa berfikir akan ada tiga keluarga yg kecewa dan marah.
Mungkinkah itu itu sungguh cinta?
.........
Alesha terbangun saat adzan subuh berkumandang seperti biasa, hati nya kembali terasa perih mengingat kini ia telah di madu oleh suami nya. Mengingat suami nya dengan begitu tega membagi cinta nya.
Kenapa harus dengan cara ini? Alesha tak mengerti, kenapa Bima sungguh tak menghargai nya sebagai istri nya. Jika pun Bima memang masih mencintai Vera dan tak bisa mencintai Alesha, Alesha akan mundur dan meminta cerai. Bukan begini cara nya.
Alesha memaksakan diri bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, kemudian ia melaksanakan sholat sunnah sebelum subuh yg di lanjutkan dengan sholat subuh.
Setelah sholat, Alesha berdizkir walaupun dengan bibir yg bergetar dan air mata yg terus mengalir deras di pipi nya. Sungguh hati Alesha terasa begitu sesak. Alesha mengangkat tangan nya ke langit, tangis nya semakin pecah.
"Ya Allah, hamba tahu Engkau menghalalkan poligami, tapi hamba tahu Engkau takkan mengizinkan pernikahan di permainankan dengan begitu mudah seperti ini. Ya Allah, hati ku sakit sekali, rasa sesak membuat ku seolah tak bisa bernafas. Kuat kan ya Allah, demi janin yg Engkau anugerahkan pada ku. Kuatkan hati ini, ya Allah. Hati perempuan yg telah mencintai nya dengan sepenuh hati, namun ia hancurkan dengan begitu mudah nya"
Alesha merasakan seperti ada sedikit ruang dalam hati nya setelah berdoa, walaupun rasa sakit dan rasa perih nya masih sama.
Saat matahari telah terbit, biasa nya Alesha akan turun ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk mertua nya, dan melakukan aktifitas lain nya. Namun hari ini ia tidak mau, ia tidak siap untuk keluar dari kamar nya. Alesha takkan sanggup menghadapi kenyataan, di rumah ini, di rumah yg sama, ada istri suami nya yg lain. Yg lebih cantik dari nya, yg lebih pintar dari nya dan yg pasti yg lebih Bima cintai dari nya.
Alesha mengunci diri di kamar nya seharian, sedangkan Bima?
Ia cuti hari ini, karena ingin menghabiskan waktu bersama Vera, istri baru nya.
Sementara kedua orang tua Bima begitu mengkhawatirkan Alesha yg tak keluar sama sekali sejak semalam. Mereka membujuk Alesha agar mau keluar dari kamar nya namun Alesha tak menanggapi nya sedikit pun. Alesha hanya menangis dan menangis dalam kamar nya.
Hingga akhir nya Bima yg datang dan membujuk Alesha supaya keluar dari kamar.
"Al, ayo keluar, Sayang. Kamu belum makan seharian, nanti kamu sakit"
Alesha hanya menutup telinga nya dan tangis nya semakin menjadi, ia tidak menyangka nasib nya akan sesedih ini.