Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 49


Alesha dan Dion kini sudah berada di rumah Alesha, dan Dion belum cerita tadi karena masih ada di luar. Sementara Alesha saat ini sedang menyalin bakso nya ke mangkuk, kemudian ia membawa nya ke depan.


"Jadi gimana tentang Rianti, Di?" tanya Alesan sembari meletakkan satu mangkuk bakso di depan Dion.


"Ternyata benar dugaan mu, Kak. Antonio pacar Rianti itu sudah punya istri" ujar Dion yang tentu saja membuat Alesha begitu terkejut "Bahkan dia juga punya anak perempuan yang usia nya 3 tahun"


"Astagfirullah..." Alesha langsung memegang dada nya yang tiba tiba terasa sakit membayangkan bagaimana rasa nya menjadi istri Antonio jika ia tahu suami nya telah membagi cinta dengan wanita lain.


"Memang tidak banyak yang tahu kalau Pak Antonio itu sudah punya istri, Kak. Dan mungkin Rianti juga tidak tahu"


"Bagaiamana bisa seorang Dosen tidak di ketahui identitas lengkap nya termasuk bahwa sudah menikah, itu tidak masuk akal, Di" ujar Alesha tak habis fikir "Kakak justru takut, jangan jangan..."


"Jangan jangan apa, Kak?"


"Jangan jangan Rianti tahu kalau pacar nya itu sudah berumah tangga, tapi karena mereka merasa saling mencintai, mereka tetap selingkuh" lirih Alesha. Sungguh ia tak bisa membiarkan ini terjadi "Apa lagi selama ini Rianti tidak pernah mau memberi tahu kita siapa pacar nya, mungkin dia takut perselingkuhan mereka terkuak" ujar Alesha lagi. Dion pun memikirkan hal yang sama, Dion tidak bisa terima jika saudara perempuan nya di sakiti dan ia juga tak mau menerima jika saudara perempuan nya menyakiti perempuan lain. Karena melihat Kakak nya yang begitu terluka, Dion begitu tidak tega.


"Sebaiknya kita harus membicarakan ini dengan Rianti, Kak. Supaya masalah ini jelas, kasihan istri dan anak nya Pak Antonio" ujar Dion.


"Kalau begitu Kakak ke rumah sekarang, Di. Biar nanti kita bisa langsung bicara sama Rianti, kita tidak boleh menunda waktu lagi" tukas Alesha dan Dion mengangguk setuju.


"Emm sebenarnya ada satu masalah lagi, Di" kata Alesha lirih.


"Apa, Kak? Bilang saja sama aku, nanti kita cari solusi nya bersama" ujar Dion. Ia sangat mengenal Kakak nya ini, masalah apapun selalu ia simpan dan selesaikan sendiri. Jadi ketika Kakak nya mau berbagi masalah, tentu Dion akan merentangkan kedua tangan nya lebar lebar dan memberi bantuan sebisa mungkin untuk sang Kakak.


"Kakak mau mengajukan surat cerai secepatnya" kata Alesha yang membuat Dion sedikit terkejut, namun di detik selanjut nya ia malah tampak senang mendengar keputusan Kakak nya itu.


"Gitu dong, Kak" seru Dion yang benar benar tampak senang "Dari dulu kek ceraikan pria bejat itu..." lanjut nya.


"Jangan kasar begitu lah, Di. Dia itu memang salah, tapi bukan berarti bejat" kata Alesha.


"Iya sih, bejat sih engga, tapi bodoh, egois" kata Dion penuh dendam "Cuma demi kebahagiaan nya sendiri, dia mengorbankan kebahagiaan istri sah nya, orang tua nya. Heran aku, apa yang ada dalam otak dia itu, cinta? Itu mah nafsu"


"Sudah lah, jangan bahas itu. Lebih baik makan bakso nya, nanti keburu dingin" kata Alesha. Namun hati kecil nya membenarkan apa yang di katakan Dion.


Itu memang nafsu, apapun yang mengalahkan akal sehat adalah nafsu.


Apapun yang sampai mengorbankan perasaan orang orang yang begitu tulus, adalah nafsu. Lupakan soal perasaan tulus istri, lalu bagaimana dengan perasaan tulus orang tua? Keluarga?


"Tapi mereka berdua sama saja, Kak" ujar Dion lagi "Apa coba yang ada dalam otak Vera dan Bima? Saling mencintai? Ingin bahagia dengan cinta mereka? Mereka engga mikir apa perasaan orang lain yang mereka cabik cabik karena cinta mereka itu? Aku doain ya, semoga perasaan mereka, kebahagiaan mereka akan tercabik cabik nanti nya seperti singa yang mencabik cabik badan rusa" tutur Dion penuh penekanan yang membuat Kakak nya terkekeh namun juga bergidik ngeri karena doa adik nya yang sadis itu.


"Kok kamu begitu sih, Di? Kakak saja tidak pernah doain mereka yang jelek jelek, biar itu jadi urusan mereka sama Allah. Karena kakak sudah menyerahkan semua nya sama Allah, kakak sudah mengadu sama Allah betapa mereka mencabik cabik hati kakak. Tapi apakah Allah akan membalas nya atau tidak, itu Kakak serahkan sama Allah. Yang pasti, Kakak tahu, roda kehidupan itu berputar dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah air mata pasti ada tawa" ujar Alesha dengan lembut. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang untuk membuat hati nya membaik, lebih kuat dan lebih sabar. Tentu nya itu jalan untuk nya belajar ikhlas.


.........


Antonio tampak sangat bahagia saat melihat Rianti.


"Kangen deh sama kamu..." ujar Antonio manja yang membuat Rianti langsung tersipu.


"Kan sudah ketemu tadi, Mas. Masak masih kangen terus"


"Entah lah, Sayang. Hati nya kangen terus, gimana dong?" ia pura pura cemberut, membuat Rianti terkekeh.


Sementara di dapur, istri nya sibuk memasak dengan di temani putri nya yang terus menganggu nya dengan tingkah tingkah jahil nya yang menggemaskan.


"Cha, awas hati hati, Nak..." ujar Tyas yang melihat Icha lari larian sendirian.


"Mama... Aku ingin telbang..." Icha merentangkan kedua nya dan berlari lebih cepat mengitari meja makan, namun tiba tiba ia terjatuh dan menangis.


Tyas yang melihat itu segera meninggalkan pekerjaan nya dan berlari menghampiri Icha.


"Mas...." teriak Tyas sembari menggendong Icha yang masih menangis.


"Mas Anton..." ia terus meneriaki suami nya itu sembari berjalan menuju kamar.


Sementara itu, Anton yang mendengar teriakan istri nya itu jadi panik.


"Siapa itu, Mas?" tanya Rianti yang seperti nya juga mendengar suara Tyas.


"Mama, Sayang" kata Antonio panik "Nanti aku telfon lagi" dan Antonio segera memutuskan sambungan telfon nya, bersamaan dengan itu pintu kamar nya terbuka. Menampilkan istri nya yang tampak marah dan putri nya sedang menangis.


"Icha kenapa, Sayang?" tanya Antonio lembut. Ia segera turun dari ranjang dan mengambil Icha.


"Aku lagi masak, Mas. Bisa kamu bantu jaga Icha sebentar saja, Mas..." ujar Tyas kesal.


"Kok kamu seperti menyalahkan aku begitu?" tanya Antonio "Kenapa kamu tidak anterin Icha ke sini tadi..." kata nya yang membuat Tyas semakin kesal.


"Kamu kan tahu Icha selalu suka ngerecokin aku di dapur, ya kamu ke dapur, Mas. Jagain dia, awasi dia, bukan malah sibuk sama dunia kamu sendiri" tukas Tyas penuh amarah yang membuat suami nya itu menghela nafas berat.


"Tidak usah di besar besarkan masalah ini, Tyas. Memang nya Icha terluka, engga kan?"


"Fisik nya engga, tapi batin kami yang terluka karena kamu itu selingkuh" tukas Tyas yang membuat Antonio terkejut, namun ia berusaha tetap tidak terpancing.


"Kamu bicara apa sih, Tyas? Kalau kamu capek, ya kamu istirahat. Jangan hanya karena lelah dengan pekerjaan rumah, kamu jadi melampiaskan nya sama aku dan menuduh ku hal tidak masuk akal seperti itu" tegas nya dan ia membawa Icha keluar dari kamar, menjauhi Tyas yang seperti nya mulai mencium perselingkuhan nya.