Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 84


Mendapatkan kabar bahwa mantan menantu tersayang nya akan menikah lagi membuat kedua orang tua Bima uring uringan antara bahagia dan tidak.


Mereka tulus sayang pada Alesha sebagai seorang anak, dan jika memang Alesha menemukan kebahagiaan yang baru maka tentu mereka sangat senang. Namun di lain sisi, itu arti nya mereka takkan bisa terlalu dekat lagi dengan Alesha dan mereka juga takut Alesha membawa cucu mereka jauh dari mereka. Apa lagi Bima juga bercerita bahwa calon suami Alesha itu orang kaya bahkan investor di perusahaan bos Vera.


Saat ini, kedua orang tua Bima sedang ada di kamar mereka dan kedua nya terlibat obrolan ringan tentang kehidupan mereka dan anak mereka.


"Ibu takut kita tidak bisa dekat lagi dengan Dameer, Yah" lirih wanita paruh baya itu.


"Semoga saja itu tidak, Bu. Alesha itu perempuan yang sangat baik. Dia tidak mungkin menjauhkan Dameer dari kakek nenek nya"


"Iya sih, dia benar benar wanita yang baik. Sayang nya kita tidak beruntung untuk memiliki dia sebagai anggota keluarga kita ya, Yah. Coba saja kalau Bima bisa melupakan Vera, mungkin sekarang kita sudah bahagia dan cucu kita pasti tinggal di rumah ini, sama kita"


"Sudah jalan takdir mungkin ini, Bu. Kita berdoa saja semoga cucu kita menjadi orang yang baik seperti Ibu nya, dan yang pasti tidak makan cinta buta seperti bapak nya apa lagi cucu kita itu laki laki. Sampai semua orang di sakiti dengan alasan cinta buta meraka itu, bahkan kita yang sudah membesarkan nya, mencarikan istri yang baik juga sama sekali tidak di hargai"


Tanpa mereka sadari, Bima mendengarkan obrolan mereka dan itu membuat Bima merasa bersalah pada mereka. Tadi nya Bima memang mau menemui orang tua nya dan meminta maaf pada mereka karena Bima telah mengecewakan mereka. Namun setelah mendengar obrolan kedua orang tua nya itu, Bima justru merasa tak sanggup bahkan hanya untuk meminta maaf.


Bima kembali ke kamar nya dengan langkah gontai, kamar dimana menjadi saksi bisu pernikahan nya dengan Alesha dan juga dengan Vera.


Bima memutar kembali kenangan masa lalu nya, dimana ia merasa sangat mencintai Vera dan bahkan rela menunggu Vera selama 3 tahun. Tak hanya sampai di sana perjuangan Bima untuk mendapatkan Vera, Bima bahkan mengorbankan Alesha dan putra mereka.


"Dimana perasaan cinta yang dulu? Kenapa justru sekarang terlihat bodoh?"


.........


"Bagaiamana tadi jalan jalan nya?" tanya Miley pada Vitha yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Senang dong" jawab Vitha.


"Pergi sama Dion juga ya?" tanya Miley lagi dan Vitha hanya mengangguk dengan senyum samar.


"Jangan naksir lho ya, aku sudah naksir duluan sama dia" kata Miley untuk yang ke sekian kali nya dan tentu saja hal itu membuat Vitha salah tingkah dan hanya bisa tersenyum.


Sementara di kamar Adam, ia sedang sibuk bertukar pesan dengan calon istri nya sambil senyum senyum sendiri remaja yang kasmaran.


Me


"Kamu harus banyak istirahat ya, Al. Aku tidak mau kamu sakit..."


^^^^^^Alesha^^^^^^


^^^"Iya, Mas. Terima kasih ya sudah mengingatkan"^^^


Me


"Sama sama, nanti kalau sudah nikah, kita gantian jaga Dameer ya"


^^^...Alesha...^^^


^^^"insya Allah"^^^


.........


Sementara di rumah Alesha, Alesha sedang menepuk nepuk paha Dameer dengan tangan kiri nya sementara tangan kanan nya sedang sibuk di luar ponsel nya.


"Kak..." Alesha mendongak saat mendengar suara bisikan Rianti, dan Alesha melihat kepala adiknya itu nongol di pintu.


"Ada apa, Ri?" tanya Alesha setengah berbisik karena tak ingin mengganggu Dameer yang sudah hendak tidur. Rianti pun perlahan membuka pintu kamar Kakak nya itu dan ia pun masuk ke dalam.


"Tanya apa? Serius banget?"


"Kak Alesha cinta ya sama Mas Adam?"


"Huh?"


"Semenjak di pinang, wajah nya berseri seri terus"


..........


Sementara di sisi lain, Vera yang masih setia menunggu Bima sampai tertidur di meja makan dengan semua menu makan yang sudah ia siapkan sejak sore hari.


Ibu nya Vera pun membangunkan Vera "Ver, pindah ke kamar. Nanti leher mu sakit..." perlahan Vera membukanya dan ia memijit lehernya yang memang terasa pegal.


"Jam berapa sekarang, Ma? Mas Bima belum pulang?"


"Jam 10 lewat, Bima mungkin tidak akan pulang" Vera langsung menghela nafas panjang mendengar penuturan sang Ibu.


"Ya sudah, Ma. Tidak apa apa, biar dia tidak usah pulang sekalian..." ketus Vera dan ia pun beranjak ke kamar nya tanpa memperdulikan makanan yang memenuhi meja makan.


..........


Keesokan hari nya, Bima pamit untuk berangkat kerja pada orang tua nya dan ia juga akan pulang ke rumah nya.


"Bim, si Vera belum hamil juga?" tanya sang Ibu kemudian sebelum Bima masuk ke dalam mobil nya.


"Belum, Bu. Kenapa?" tanya Bima.


"Ya tidak apa apa, cuma Ibu sama Ayah ingin cucu lagi. Apa lagi kalau misal nya nanti Alesha menikah, kami pasti jarang bisa ketemu sama Dameer"


"Calon suami nya Alesha itu orang sini juga, Bu. Kata Vera alamat rumah nya tidak jauh dari rumah kontrakan Alesha dulu"


"Kok si Vera bisa tahu? Jangan jangan dia mau menggoda suami Alesha lagi, Bim" tukas sang Ibu sambil bergidik ngeri, membuat Bima mengelus dada nya dan menghela nafas panjang.


"Astagfirullah, Bu. Tidak mungkin lah Vera begitu" tukas Bima tak terima.


"Lah buktinya dulu dia godain kamu..."


"Bu, Vera itu bukan nya godain aku. Kami tahu kami salah dan kami juga tidak tahu kenapa kami jadi begini sekarang, dulu kami fikir kami saling mencintai" tukas Bima pasrah.


"Aduh, Bim. Jangan bodoh deh, wanita itu mau jadi istri pria yang sudah beristri itu bukan karena cinta. Tapi karena materi, coba kalau kamu tidak terlihat mapan. Apa mau si Vera jadi istri kedua kamu saat itu?"


"Bu, sudah lah, jangan bahas masa lalu lagi. Nasi sudah jadi bubur, aku juga tidak bisa memutar waktu lagi kan?"


"Ibu itu bukan nya mau bahas masa lalu, Bim. Masalah nya, karena cinta buta mu itu, masa depan mu juga tidak akan tenang"


"Bu, ini sudah siang. Sebaik nya aku berangkat ya..." ujar Bima kemudian untuk menghindari topik yang tak pernah berujung ini.


"Bim, Ibu mau ke Dokter. Kepala Ibu masih benar benar sakit..." rengek Ibu nya kemudian sembari memijat kepala nya.


Bima pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet nya dan memberikan nya pada sang Ibu "Pergi nya naik taksi ya, Bu. Ajak ayah, maaf aku tidak bisa mengantar Ibu"


"Tidak apa apa. Sejak tidak ada Alesha, Ibu sudah terbiasa merawat diri sendiri"