Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 61


Alesha merasakan kram yang tiada tara di perut nya bahkan itu membuat nya sampai terbangun dari tidur nya, Alesha menyalakan lampu kamar nya. Alesha melirik jam yang sudah menjukan pukul 3 pagi.


Saat rasa sakit di perut nya semakin menjadi, Alesha pun segera keluar dari kamar nya karena ia merasa akan segera melahirkan.


"Ibu..." teriak Alesha dengan begitu lemah, rasa sakit yang di rasakan nya sunggung luar biasa membuat Alesha seolah akan kehilangan kesadaran nya.


"Ayah..."


"Ibu..." Aleshe menggedor pintu kamar orang tua nya yang memang ada di samping kamar nya, tak lama kemudian orang tua nya keluar.


"Ya Allah, Nak. Ada apa, Al?" tanya Ayah nya panik.


"Sakit perut ku, Yah..." lirih Alesha.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang..." ujar Ibu Alesha panik, ia yakin putri nya akan segera melahirkan. Ia pun segera membangunkan adik adik Alesha.


Rianti dan Dion tentu sangat panik dan mereka segera memanggil taksi, sementara sambil menunggu taksi, Ibu nya Alesha menyiapkan barang barang yang sekira nya nanti di butuhkan Alesha di rumah sakit.


Alesha merebahkan diri nya di sofa dan Rianti memangku nya, sementara Dion menunggu taksi di luar.


"Astagfirullah, ya Allah..." beberapa kali Alesha mengucapkan istighfar saat perut nya itu terasa seperti melilit. Rianti yang melihat itu merasa tidak tega namun ia tidak tahu harus melakukan apa selain menyemangati kakak sulung nya itu.


Dan tak lama kemudian Dion kembali masuk dan memberi tahu kalau taksi nya sudah datang. Dion dan Rianti memapah Alesha yang sudah sangat lemah dan terus merintih kesakitan.


Mereka semua masuk ke dalam taksi dan Dion meminta taksi itu membawa nya kerumah sakit secepat mungkin


Sesampainya di rumah sakit, Alesha langsung di bawa ke ruang bersalin sementara keluarga nya menunggu di luar.


Di dalam, Alesha berjuang mempertaruhkan nyawa nya untuk melahirkan anak nya. Semua tenaga dan kekuatan ia keraguan untuk melahirkan sang buah hati.


Sementara di luar, Rianti menghubungi Bima untuk memberi tahu kalau Alesha di rumah sakit.


"Di jawab, Ri?" tanya Dion namun Rianti menggeleng sedih. Ia sedih melihat Kakak nya yang menjalani masa kehamilan nya penuh air mata dan sekarang harus melahirkan tanpa di dampingi suami nya. Dion menyambar ponsel Rianti dan memblokir kontak Bima juga Vera.


"Mulai sekarang jangan pernah ada lagi yang menghubungi mereka" tegas Dion


Dan hari ini memang sidang keputusan perceraian Bima dan Alesha, hari hari yang di tunggu Alesha dan keluarga nya bertepatan dengan kelahiran anak Alesha. Sungguh mereka tak menyangka ini bisa terjadi di hari yang sama, perceraian dan kelahiran sang buah hati.


Rianti menyenderkan kepala nya di pundak Ibu nya dan ia merenungi hidup nya dan hidup keluarga nya yang terasa begitu sulit dalam segala hal.


"Sulit sekali menjadi perempuan ya, Bu" lirih Rianti "Semua rasa sakit seolah di tanggung kita"


"Karena kita yang mampu menjalani nya, Nak" kata Ibu nya "Doakan Kakak mu, semoga dia melahirkan dengan selamat"


Sementara Dion, ia hanya bisa terdiam dan harap harap cemas dengan proses kelahiran Alesha. Sebagai pria, Dion mengutuk sikap Bima dan keegoisan nya. Ia tidak menyalahkan Bima yang mencintai Vera tapi Dion tak habis fikir cinta itu sampai mengalahkan akal sehat Bima dan hati nurani nya. Dion tak menyalahkan cinta mereka, tapi Dion mengutuk keegoisan mereka yang mengatasnamakan cinta.


...


Matahari telah terbit dan bersinar terang dari ufuk timur, semua orang bersiap melakukan aktifitas mereka seperti hari yang kemarin. Begitu juga dengan Bima dan Vera, walaupun ada yang berbeda dengan hari yang akan di jalani Bima hari ini.


Bima merasa begitu gugup, resah dan tidak tenang membayangkan pengadilan akan memutuskan perceraian mereka setelah Alesha menolak mediasi mentah mentah.


"Hari ini persidangan keputusan kan?" tanya Ibu Bima saat mereka sedang berkumpul di meja makan.


"Hmm" Jawab Bima tak bersemangat.


"Puas kamu, Ver?" hardik Ibu nya Bima tiba tiba pada Vera yang justru menikmati sarapan nya dengan tenang.


"Memang apa yang aku lakukan, Bu?" Vera justru bertanya seolah tak sedikitpun merasa bersalah.


"Kamu sudah merebut Bima dari Alesha, kamu sudah menghancurkan rumah tangga mereka" desis sang Ibu mertua.


"Bu, sudahlah" kata Bima tak ingin lagi mendengar amarah sang Ibu pada istri nya.


"Memang nya aku yang meminta Alesha menceraikan Mas Bima?" sanggah Vera membela diri "Dia sendiri yang mau menceraikan Mas Bima dan Aku tidak pernah meminta Mas Bima menceraikan Alesha, ini sudah keputusan dia, Bu..." Jawab Vera kemudian yang membuat Ibu mertua nya menggeram kesal dan tak habis fikir dengan perempuan seperti Vera, apa lagi melihat Bima yang hanya diam saja seperti laki laki pengecut.


" Ibu kecewa sama kalian berdua... "