
Saat hari menjelang siang, Adam pulang ke rumah nya dimana ternyata rumah nya ada di belakang bengkel itu, ia hanya cukup jalan kaki dan ia pun sampai di rumah yg terbilang besar.
"Tumben pulang cepat, Kak?" tanya Adik Adam yg bernama Miley, saat ini ia sedang sibuk dengan laptop nya dalam mengerjakan tugas sekolah nya.
"Tidak mood kerja" jawab Adam malas.
"Kalau cari istri baru, mood tidak?" goda Miley yg membuat Adam mendengus dan ia bergegas masuk ke rumah nya.
Adam memasuki kamar nya dan pandangan nya langsung tertuju pada foto seorang wanita yg sangat cantik menurut nya, senyum nya yg lebar dan mata nya yg berbinar. Membuat Adam selalu merasakan perasaan hangat dan nyaman setiap kali sedang bersama nya.
"Hari ini aku bertemu dengan seorang wanita, Sayang. Dia sama seperti kamu, wanita yg sederhana, baik, ramah, sopan" kata Adam seolah mengadu pada wanita itu.
Wanita itu adalah mendiang istri nya yg meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan, karena itulah Adam phobia terhadap darah sejak saat itu.
Adam kembali terngiang akan pertemuan nya dengan Alesha, bahkan cara Alesha menatap Adam, sama seperti mendiang istri nya menatap Adam, begitu lembut, cara bicara nya juga sama, sopan, ramah, penampilan nya pun sama, begitu sederhana.
"Jika dia tidak menikah, seperti nya aku yg akan menikahi nya" gumam Adam kemudian ia tertawa karena pemikiran liar nya sendiri.
"Entah pria beruntung yg mana yg berhasil memikat hati mu, Alesha"
...
Sementara itu, Vera seperti nya tidak puas meskipun ia berhasil menyingkirkan Alesha dari rumah Suami nya. Apa lagi ketika mertua nya terus menyinggung Vera dan membandingkan nya dengan Alesha.
Saat ini, ibu mertua nya sedang menyapu halaman rumah nya dan tetangga nya yg lewat di depan rumah nya pun mampir sebentar.
"Nyapu sendiri, Jeng? menantu mu dimana?" tanya ibu ibu itu.
"Alesha kan sudah pindah rumah" jawab ibu nya Bima.
"Maksud ku, istri kedua nya Bima, memang nya dia tidak nyapu? perasaan jarang sekali melihat dia menyapu, kalau dulu aku setiap lewat sini, pasti melihat Alesha yg sedang membersihkan halaman rumah"
"Yah, begitulah anak zaman sekarang, Jeng..." ibu nya Bima menghela nafas berat "Jangan kan nyapu, Jeng. Bikinin kopi ayah mertua nya saja nunggu di suruh" keluh nya.
"Beda ya sama Alesha, padahal suami mu sering cerita sama suami ku, Jeng. Kata nya setiap pagi Alesha sudah membuatkan kopi yg sangat enak, bahkan kata nya kamu di larang masak, jeng"
Vera dan Bima mendengar apa yg di bicarakan ibu nya dan tetangga nya itu, tentu Vera sangat tersinggung, sementara Bima merenungi apa yg di katakan ibu nya itu. Kembali ia teringat bagaimana dulu keluarga nya sebelum ada Vera dan hanya ada Alesha sebagai menantu.
'Aku berangkat... " ujar Bima kemudian ia melangkah keluar tanpa mencium pipi Vera seperti biasa nya. Tentu hal itu membuat Vera semakin kesal.
Padahal orang nya sudah tidak ada di sini, masih saja menganggu" geram nya.
Vera berlari naik ke kamar nya, ia mengambil kantong plastik, kemudian memasukan beberapa barang Alesha yg memang sengaja Alesha tinggal di sana.
Setelah itu, Vera memanggil taksi untuk pergi ke rumah Alesha.
...... ...
Hari ini Alesha mendapatkan shif siang dan ia sudah tidak perlu lagi bekerja full time, Alesha harus memastikan kondisi tubuh nya apa lagi ia sedang hamil. Gaji yg di dapat memang separuh bekerja full time, namun Alesha tak mungkin memaksakan diri atau itu bisa berbahaya bagi janin nya.
Dan mumpung libur, hari ini Alesha membuat pisang goreng untuk ia jadikan cemilan, karena uang nya tidak cukup jika harus berbelanja yg lain.
Saat asyik menikmati pisang goreng nya sembari memainkan ponsel nya dan membaca beberapa orang yg berkomentar di blog pribadi nya, Alesha tersentak karena mendengar suara ketukan pintu yg cukup keras.
Alesha bergegas ke luar masih dengan satu pisang goreng di tangan nya, dan ia mendapati Vera yg menyunggingkan senyum pada nya.
"Ada apa?" tanya Alesha datar, karena ini pertama kali nya Vera datang ke rumah nya.
"Aku cuma mau mengantar ini..." Alesha memberikan kantong plastik itu pada Alesha, Alesha menerima nya dengan ragu dan saat memeriksa isi nya, Alesha tersenyum kecut saat melihat barang barang nya.
"Maaf ya, Alesha. Aku terpaksa mengeluarkan barang barang kamu dari kamar, karena sekarang kamar itu menjadi kamar ku dan Mas Bima" ucap Vera sambil tersenyum pada Alesha.
Alesha justru membalas senyuman itu, bukan nya karena ia tak sakit hati, tentu saja Alesha sangat sakit hati dengan apa yg di katakan Vera. Tapi dia bisa apa?
"Terima kasih, Ver" jawab Alesha masih dengan senyum.
"Siapa yg sangka, wanita muda yg secantik kamu, berpendidikan seperti kamu, dapat suami bekas aku dan bahkan menempati kamar bekas kamar ku" Alesha berkata dengan sangat tenang dan masih dengan senyum di Bibir nya.
Sementara Vera, ia merasa tertampar dengan begitu keras mendengar apa yg di katakan Alesha tentang diri nya, ia mengepalkan tangan nya menahan kesal, sementara Alesha, ia menutup pintu rumah nya sambil menggigit pisang goreng nya dengan santai, membuat Vera semakin kesal.