
Bima menghentikan motor nya di sebuah jembatan yg sepi, Bima sengaja pergi dari rumah Alesha karena ia sangat marah pada Alesha yg tiba tiba memiliki teman laki laki, apa lagi pria itu bahkan datang ke rumah nya, membawa kan sesuatu yg entah apa itu.
Bima kesal, dada nya sesak seperti ia terhimpit di suatu tempat yg menyesakkan. Emosi nya memuncak hingga ke ubun ubun, Bima ingin marah, ingin melampiaskan sesuatu yg terbakar di jiwa nya.
"Hey, Bima..." Bima menoleh, dan ia melihat Toni, sahabat nya yg sedang memarkirkan motor nya di dekat motor Bima.
"Kata nya sakit, kenapa nongkrong di sini?" tanya nya.
"Entahlah, Ton. Stres aku..." ujar Bima menyugar rambut nya frustasi.
"Stress kenapa?" tanya Toni, ia juga berdiri di samping Bima, menyangga tubuh nya pada besi di pinggir sungai menggunakan kedua tangan nya.
"Alesha minta cerai..." lirih Bima, dan Toni tidak terlihat terkejut sedikit pun, ia justru tersenyum miring.
"Kenapa kamu malah tersenyum?" ketus Bima.
"Jika aku jadi Alesha, aku juga akan melakukan hal yg sama. Aku akan meminta cerai..." jawab Toni sambil mengedikan bahu nya.
"Coba kamu fikir, perempuan mana yg mau berbagi suami? Apa lagi kamu sama sekali tidak mencintai Alesha, kamu hanya mencantai Vera dan Alesha tahu itu. Jadi siapa pun yg ada di posisi Alesha, pasti akan meminta cerai" tutur nya yg membuat Bima kembali termenung "Dan lagi pula, kamu tidak mencintai Alesha, kenapa kamu frustasi hanya karena dia minta cerai?"
"Masalah nya dia hamil, Ton. Aku tidak mau kehilangan anak ku dan aku tidak mau anak ku lahir tanpa ayah"
"Anak yg lahir tanpa Ayah itu Kalau ayah nya mati, kamu kan masih hidup, ya anak kamu masih punya Ayah lah. Dan aku yakin, hanya karena kamu dan Alesha bercerai, tidak akan membuat Alesha menjauhkan anak nya dari mu"
Bima kembali menghela nafas frustasi, ia kembali menyugar rambut nya.
"Jujur sama diri kamu sendiri, Bim. Kamu tidak mau menceraikan Alesha demi janin itu atau karena kamu memang tidak mau berpisah dengan Alesha?" tanya Toni lagi yg membuat Bima kembali bungkam. Ia sendiri tidak tahu apa alasan yg sebenarnya kenapa dia tidak mau menceraikan Alesan.
"Kamu kan sudah punya Vera, kamu cinta sama dia, jadi ya sudah, kamu tidak butuh Alesha" imbuh nya.
Bima masih terdiam, kembali mengingat kebersamaan nya selama bersama Alesha dan juga mengingatkan kebersamaan nya dengan Vera.
Bima memang sangat mencintai Vera, tapi kenapa begitu sulit bagi nya untuk melepaskan Alesha?
Alesha berada di atas sejadah nya, menadahkan tangan dengan derai air mata yg tiada henti. Isak tangis terus terdengar dari bibir yg sedang melirihkan doa nya. Mukena putih cerah itu bahkan sudah basah karena air mata nya.
"Oh Tuhan..." dada nya begitu sesak ketika ia ingin mengadukan nasib nya yg begitu penuh luka, penuh air air mata.
"Rasa nya sakit sekali mengalami semua ini..." dengan terbata bata ia mengungkapkan isi hati nya "Apa yg harus aku lakukan? Kenapa Engkau menakdirkan kisah cinta pilu ini pada Hamba yg memiliki hati rapuh?" tangan nya bergetar seiring dengan getaran di bibir nya karena Isak tangis yg coba ia tahan.
"Aku tahu, seandainya aku ikhlas dengan takdir ini, maka mungkin Engkau akan memberikan pahala yg begitu besar dan memberikan tempat terindah di Surga nanti. Tapi..." Alesha menarik nafas kala merasakan hati nya yg semakin sesak "Tapi aku tahu, sebagai seorang perempuan biasa, aku tidak akan pernah ikhlas berbagi cinta. Dari pada aku bertahan dengan sejuta luka, dengan segunung amarah karena tidak di cintai, lebih baik aku mundur..."
....
Bima kembali pulang ke rumah Alesha, ia ingin tidur di sana malam ini. Karena jika boleh jujur, meskipun Bima merasa ia memiliki masalah dengan Alesha, namun Bima merasakan perasaan hangat dan tenang setiap kali berada di dekat Alesha.
Bima masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia bergegas ke kamar nya dan seketika langkah nya terhenti saat ia mendengar doa yg di panjatkan Alesha dengan begitu lirih.
"Tapi aku tahu, sebagai seorang perempuan biasa, aku tidak akan pernah ikhlas berbagi cinta. Dari pada aku bertahan dengan sejuta luka, dengan segunung amarah karena tidak di cintai, lebih baik aku mundur..."
Hati Bima terenyuh, ia tercengang dengan nafas yg tercekat di tenggorokan nya. Dan seperti di kendalikan oleh orang lain, kaki Bima melangkah pelan menghampiri sang istri. Bima berlutut di belakang istri nya yg masih menadahkan tangan nya ke langit dan Bima langsung memeluk Alesha, membuat Alesha terkesiap dan seketika tubuh nya seperti kaku.
"Maafkan aku, maafkan aku..." bisik Bima masih memeluk Alesha. Alesha bungkam, namun tiba tiba tangis nya pecah. Alesha meremas lengan Bima yg masih memeluk nya.
"Kenapa kamu lakukan ini, Mas?" tanya nya di tengah isak tangis nya
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintai mu, Mas"
"Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak bisa mencintai ku sedikit saja?"
Bima ikutan menangis tanpa sadar, ia masih memeluk Alesha dengan begitu erat. Bibir nya yg terkatup juga bergetar.
"Tinggal kan aku, Mas. Aku mohon..." Alesha memelas pada nya "Aku tidak sanggup lagi, Mas. Bersuamikan pria yg mencintai wanita lain...hiks... Hiks... Rasa nya sakit sekali"