
Alesha menangis sendirian di kamar nya, menangisi cinta nya yg bertepuk sebelah tangan, cinta pada suami nya. Entah kenapa takdir begitu sangat tidak adil pada nya, entah mengapa takdir begitu suka mempermainkan hidup nya. Entah mengapa, takdir begitu tidak adil pada janin nya.
Alesha adalah wanita yg mandiri, sejak sebelum menikah ia sudah tahu rasa nya bekerja, mencari uang sendiri bahkan menghidupi keluarga nya. Tentu, jika hanya tentang materi, Alesha tak khawatir. Ia sudah punya cukup pengalaman untuk hidup tanpa suami dan menghidupi anak nya. Tapi apakah hati nya benar benar kehilangan sosok suami?
"Tapi suami yg seperti apa? Aku selalu memimpikan sosok suami yg baik, yg menjadi pasangan yg baik dan ayah yg baik untuk anak anakku. Sedangkan Mas Bima? Dia di butakan oleh cinta nya pada Vera, dia tidak akan bisa menjadi pasangan yg tepat buat aku dan aku takut dia tidak bisa jadi ayah yg baik buat anak ku" monolog nya panjang lebar.
Alesha di kejutkan dengan suara ketukan di pintu, Alesha pun mencuci wajah nya yg sembab sebelum bergegas membukakan pintu.
"Mas Adam..." pekik nya yg melihat Adam tersenyum lebar sembari mengangkat tiga paperbag kecil "Apa itu..."
"Spaghetti, aku membeli nya kebanyakan" kata Adam. Alasan yg tepat memang.
"Kok bisa membeli nya kebanyakan?" tanya Alesha dengan polos nya yg membuat Adam cengengesan sambil garuk garuk kepala.
"Eh, itu... Em tadi aku fikir mau aku bawa pulang, eh di rumah sudah ada banyak makanan kata Miley" kebohongan yg sempurna.
"Oh, begitu. Seharusnya Mas Adam tanya dulu sama istri kamu, Mas. Sudah masak atau belum" tukas Alesha yg membuat Adam mengernyit.
"Istri?" tanya Adam heran "Miley bukan istri ku, tapi adik ku" imbuh nya yg membuat pupil mata Alesha sedikit melebar dan kemudian ia ber oh ria.
"Jadi?" tanya Alesha, dan ia tidak berani mempersilahkan Adam masuk, karena tidak ada siapapun di dalam. Tapi Alesha juga tidak nyaman jika berbicara di depan pintu begini, di suruh pulang? Alesha menggeleng sendiri dengan pemikiran nya itu.
"Jadi ini buat kamu saja..." Bima menyerahkan satu paperbag itu, Alesha pun menerima nya.
Namun sesaat setelah itu, Bima datang dengan motor nya dan ia tampak marah melihat Adam.
"Alesha..." seru nya marah sembari turun dari motor nya.
Adam langsung menoleh dan seketika tatapan nya bertemu dengan tatapan Bima yg tampak nya sangat marah, sementara Alesha bersikap tenang saja.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Alesha dengan datar nya.
"Siapa laki laki ini?" tanya Bima tajam.
"Mas Adam" jawab Alesha masih bersikap tenang.
"Halo, aku teman nya Alesha..." Adam mengulurkan tangan nya namun Bima menepis nya dengan kasar.
"Aku tidak mengizinkan Alesha bertema dengan lelaki mana pun..." geram Bima yg membuat Alesha kesal, sementara Adam tampak merasa tak nyaman.
"Sebaik nya pergi dari sini..." desis Bima.
"Mas..." tegur Alesha yg tak terima Bima mengusir Adam seperti itu.
"Apa? Kamu membela dia?" seru Bima sembari menunjuk Adam dengan amarah yg meluap.
"Bukan begitu, Mas..." Alesha memlembutakan nada bicara nya, berusaha menenangkan Bima yg tampak nya benar benar marah. Alesha bahkan tak pernah melihat Bima marah seperti ini.
"Tidak apa apa, Al. Aku pergi dulu, maaf mengganggu" ucap Adam dan ia segera pergi dari rumah Alesha.
Adam tahu, diri nya yg salah karena sudah menghampiri istri orang saat suami nya tidak ada di rumah. Suami yg waras tentu akan sangat cemburu.
Sementara itu, Bima masih tampak marah, nafas nya memburu dan sorot mata nya menyiratkan kemarahan yg sangat besar.
"Aku tidak mengizinkan kamu berteman dengan laki laki mana pun, Alesha" tegas nya.
"Tidak usah membuat peraturan seperti itu, Mas. Sebentar lagi kita juga akan bercerai" kata Alesha tanpa ekspresi.
"Cerai, cerai, cerai... Kenapa kamu selalu membicarakan perceraian, Alesha?" teriak Bima yg membuat Alesha terkesiap, bahkan membuat jantung nya deg degan karena teriakan Bima itu. Alesha tepaku di tempat nya dengan tatapan nanar pada Bima.
Setelah itu, Bima pergi dari sana dengan emosi yg semakin meluap, meninggalkan Alesha yg masih terpaku di tempat nya karena bentakan Bima.
Alesha menatap nanar punggung Adam yg sudah merayap pergi dari halaman rumah nya.
..........
Vera pulang kerumah nya, menemui ibu nya dan menceritakan rumah tangga nya yg tak berjalan dengan ekspektasi nya.
"Kamu tidak bahagia bersama Bima?" tanya Ibu nya.
" Aku bahagia, Bu. Aku mencintai Mas Bima, hanya saja aku tidak bisa bahagia sepenuhnya karena ada Alesha di antara aku dan Mas Bima" tutur Vera "Aku ingin pernikahan ku bahagia seperti yg aku impikan, tapi Mas Bima harus membagi segala nya dengan Alesha. Itu membuat aku sakit hati, Bu. Tapi sekarang Alesha meminta cerai, aku harap Mas Bima segera menceraikan Alesha. Aku sudah capek hidup di madu" ucap nya yg membuat ibu nya menghela nafas berat.
Ibu nya tahu, Vera lah yg salah, Vera lah yg masuk kedalam rumah tangga Alesha dan Bima, Vera lah yg memutuskan untuk menjadi madu Alesha, namun percuma Ibu nya menyalahkan Vera.
"Semoga saja mereka benar benar bercerai, Vera" ucap ibu nya kemudian.