Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 74


Alesha tak bisa menjawab iya namun ia juga tak bisa menjawab tidak atas pinangan Adam. Karena Alesha sungguh bingung dengan perasaan nya saat ini, di satu sisi ia merasa nyaman bersama Adam yang begitu dewasa namun di sisi lain, Alesha masih terbayang dengan pernikahan nya yang penuh air mata.


Saat ini, Alesha sedang memandangi putra nya yang sedang tertidur lelap. Dameer adalah dunia Alesha, segala nya bagi nya dan Alesha fikir ia akan selama nya hidup berdua dengan Dameer. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Alesha akan ada pria yang meminang nya dan mau menerima anak nya.


"Berikan aku petunjuk Mu, ya Allah" gumam Alesha "Mas Adam pria yang sangat baik, dewasa dan juga sayang pada Dameer. Tapi aku masih takut, bagaimana jika apa yang terjadi pada ku dulu terjadi lagi?" air mata Alesha menetes begitu saja dan jatuh di pipi sang buah hati, dengan cepat Alesha menghapus air mata itu dan kemudian ia pun berbaring di sisi Dameer, saat ia hendak memejamkan mata. Ponsel nya bergetar dan Alesha pun mengambil nya, sebuah pesan masuk dari Adam ia dapat yang bertanya apakah Alesha dan Dameer sudah tidur. Alesha tersenyum dan membalas pesan Adam, memberi tahu nya ia belum tidur. Setelah pesan terbaca, Adam justru menelpon Alesha dan tentu saja Alesha menjawab nya dengan cepat sebelum Dameer terganggu dengan dering ponsel nya.


"Assalamualaikum, Mas" Alesha setengah berbisik.


"Waalaikum salam, Al. Aku ganggu?" tanya Adam dari seberang telfon.


"Tidak, ada apa, Mas?"


"Tidak ada apa apa, aku hanya ingin menelpon mu, Al" Alesha terdiam setelah mendengar ucapan Adam dan begitu pun Adam, hanya terdengar suara helaan nafas yang ringan.


"Mas..." kata Alesha kemudian.


"Ya" jawab Adam.


"Kamu... Kenapa kamu memilih ku, Mas?" tanya Alesha lirih.


"Hati ku yang memilih mu, Al" Alesha tersenyum samar mendengar jawaban Adam.


"Kamu tahu aku tidak cantik..."


"Aku ingin menjadikan mu istri ku, Al. Bukan menjadikan mu boneka pameran" lagi lagi Alesha tersenyum mendengar jawaban Adam.


"Tapi aku juga berasal dari keluarga biasa dan aku tidak berpendidikan tinggi, Mas" kata Alesha lagi.


"Aku ingin menikahi karena aku mencintai mu, Al. Bukan untuk menjadikan mu karyawan dengan standar pendidikan tertentu" kata Adam dan hal itu berhasil membuat Alesha tertawa geli.


"Ada pertanyaan lagi, Al?" tanya Adam kemudian.


"Tidak ada..."jawab Alesha lirih.


"Aku tidak akan memaksa mu, Al. Kita jalani saja hubungan kita ini, yang penting aku sudah meminang mu pada orang tua mu dan aku janji aku membuktikan bahwa aku pantas untuk mu" kata kata Adam itu membuat hati Alesha tersentuh, Adam membuat Alesha merasa begitu di inginkan dan di hargai dan hal itu tak pernah Alesha rasakan sebelum nya.


"Aku yang harus memantaskan diri untuk mu, Mas" kata Alesha.


"Kamu sangat pantas untuk ku, Al" kata Adam lagi dan yang membuat Alesha tersipu.


Kedua nya terus berbicara di telfon bahkan tanpa sadar kini jam sudah menunjukan pukul setengah 12 malam. Alesha bahkan sampai tertidur dengan ponsel masih menempel di pipi nya.


...


"Al...." panggil Adam karena ia sudah tak mendengar suara sang pujaan dari seberang telfon, hanya terdengar dengkuran halus dan itu sudah cukup membuat Adam tahu kalau Alesha sudah tertidur. Adam pun membiarkan nya saja dan ia tidak mematikan ponsel nya.


...


Hubungan Alesha dan Adam semakin hari semakin baik, Adam begitu gigih memperjuangkan Alesha dan tak pernah menyerah untuk merebut hati nya. Cara terbaik merebut hati seorang perempuan yang sudah memiliki anak adalah dengan mendekati anak nya. Dan itu yang sedang Adam lakukan, ia sering mengirimkan berbagai hadiah untuk Dameer dan itu membuat Alesha tersentuh tentu nya.


Dan saat ini, tepat di hari minggu Adam mengajak Alesha pergi ke taman tentu untuk membuat Dameer bersenang senang.


"Jadi ingat pertemuan pertama ku sama Dameer" kata Adam saat ia sampai di taman "Aku lagi ngobrol sama Pak Tubagus, eh di gangguin dengan sesuatu yang menggemaskan dari bawah kursi. Dan pas di cek, eh ternyata bayi mungil..." kata Adam sembari mencium dada Dameer membuat Dameer cekikikan karena geli.


"Haha, iya sih. Entah kenapa Dameer bisa merangkak sampai ke bawah kursi, untung saja tidak ada penculik anak" kata Alesha.


"Mungkin jalan cerita nya memang seperti itu, Al. Selalu di pertemukan dalam berbagai alasan" kata Adam penuh makna dan Alesha yang mengerti maksud Adam itu hanya bisa menanggapi nya dengan senyum.


"Kita duduk di kursi atau duduk di bawah?" tanya adam kemudian


"Di bawah saja, Mas. Biar Dameer jalan jalan..." jawab Alesha dan Adam pun duduk di bawah sebuah pohon. Alesha menurunkan Dameer dan benar saja, bayi itu langsung cekikikan dan langsung melangkah walaupun masih tertatih tatih. Adam yang melihat Dameer juga ikut tertawa, bahkan pandangan nya tak sedikit pun lepas dari anak itu.


"Mas..." ujar Alesha lirih.


"Hmm..." jawab Adam masih dengan tatapan yang tertuju pada Dameer.


"Hemm kalau aku menerima pinangan mu dengan satu syarat, apa boleh?" tanya Alesha lirih namun Adam yang mendengar itu langsung menoleh dan menatap Alesan dengan mata yang terbuka lebar.


"Maksud kamu, kamu mau menerima pinangan ku?" tanya Adam dan Alesha tersenyum samar sambil mengangguk lemah.


"Tapi aku minta satu syarat, jika boleh" kata Alesha lagi.


"Satu atau bahkan seratus syarat, kata kan saja, Al" kata Adam antusias dan jawaban itu tentu membuat hati Alesha berdebar.


"Aku hanya perempuan biasa, Mas. Dan kamu sudah tahu banyak tentang ku, bagaimana perjalanan hidup ku. Dan perempuan biasa ini punya hati yang lembut dan cinta yang tulus selama pasangan ku tidak berbagi Cinta" kata Alesha dan ia menatap kedua mata Adam yang juga menatap nya.


"Aku tidak tahu banyak tentang ilmu agama, yang aku tahu, poligami itu memang boleh tapi aku tidak bisa menjadi bagian yang menjalankan nya" kata Alesha dengan suara yang tercekat di tenggorokan nya sementara Adam masih setia mendengarkan dengan seksama.


"Aku tidak mau berbagi suami dengan wanita mana pun, Mas..." kata Alesha lagi "Dan jika memang suatu hari nanti, di tengah perjalanan pernikahan kita, kamu menemukan wanita lain maka kamu bicara sama aku, kasih tahu aku dan kita bisa berpisah baik baik. Aku akan ikhlas, setidak nya dengan begitu aku tidak merasa di khianati"


"Aku menyanggupi syarat mu, Al..." tegas Adam begitu meyakinkan yang membuat Alesha tercengang.


"Mas, a....."


"Huaa... Aa... Ma... Ma..." ucapan Alesha terpotong saat mendengar suara tangis Dameer dan ternyata Dameer terjatuh.


"Ya Allah, Nak..." pekik Adam dan ia segera menghampiri Dameer dan menggendong nya.


"Maaf ya, Nak. Kami lalai..." kata Adam penuh penyesalan dan ia mengecup pucuk kepala Dameer berkali kali sambil terus mengucapkan kata maaf, pemandangan yang membuat hati Alesha terenyuh.