
Seminggu telah berlalu, dan Bima tak pernah lagi pulang ke rumah Alesha. Ada sedikit harapan di dalam hati nya, mengharapkan Bima pulang dan menjenguk nya. Namun hati nya juga merasa lega jika Bima tak menemui nya, dengan begitu Alesha akan semakin terbiasa tanpa Bima.
Sementara Vera, tentu ia sangat senang karena akhir nya Bima selalu berada di sisi nya. Ia juga tak memperdulikan omongan tetangga nya yang terus menggosipkan nya karena sudah merusak rumah tangga Alesha dan Bima. Toh, Bima bahagia bersama nya. Itu lah yang selalu Vera fikirkan dan banggakan.
"Mas, hari ini aku ada interview kerja..." kata Vera yang saat ini sedang sarapan bersama Bima dan mertua nya.
"Bagus dong, semoga kamu di terima ya, Sayang" kata Bima sembari melempar senyum senang.
"Iya, asal kamu doain aku ya, Mas" kata Vera.
"Eh, Bu.." seru sang Ayah pada Ibu Bima "Nanti kita ke rumah Alesha ya, Ayah kangen sama menantu Ayah" ujar ayah Bima yang membuat Vera mendelik, namun ia sudah kebal dengan sindiran sindiran itu.
"Iya, tapi nanti Ibu masak dulu. Alesha pasti senang" jawab Ibu nya.
Setelah sarapan, Bima berangkat kerja. Namun sebelum itu, ia mampir dulu ke rumah Alesha karena.
Bima merasa kasihan sebenarnya dengan Alesha dan hati kecil nya merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada Alesha, namun Bima masih membenarkan tindakan nya itu atas nama cinta pada Vera.
"Al..." seru Bima sembari melangkah masuk di rumah kecil itu.
Sementara itu, Alesha yang saat ini sedang menulis di blog pribadi nya terperanjat mendengar suara Bima.
Ia segera keluar dari kamar nya dan mendapati Bima yang sedang duduk di sofa ia membungkuk dan sedikit mengikat tali sepatu nya,
"Mas Bima, ada apa?" tanya Alesha heran. Ia tak terlihat senang melihat Bima, namun juga tak terlihat kebencian pada suami nya itu.
"Cuma mampir..." Kata Bima yang langsung mendongak, seminggu lebih tidak melihat Alesha dan Bima merasa ada perubahan pada bentuk tubuh Alesha yang terlihat kian berisi.
"Bagaiamana keadaan mu, Al?" tanya Bima kemudian.
"Aku baik baik saja, Mas. Ibu sama Ayah bagaimana?" tanya Alesha kemudian duduk di samping Bima.
"Mereka baik, kata nya hari ini mereka mau kesini..." ujar Bima dan Alesha hanya mengangguk anggukan kepala nya.
"Kapan kamu mau check up, Al?" tanya Bima kemudian.
"Sudah kemarin, Mas" jawab Alesha santai namun pernyataan Alesha itu membuat Bima sedikit terkejut.
"Kenapa kamu tidak bilang sama aku? Aku bisa mengantar mu..." kata Bima.
"Tidak apa apa, Mas. Aku bisa sendiri, toh aku memang harus terbiasa sendiri kan?" kata Alesha yang membuat Bima merasa tersindir, padahal sebenarnya Alesha hanya mengatakan apa yang ia fikirkan dan rasakan tanpa sedikit pun berniat menyindir Bima.
Sudah cukup Alesha melampiaskan kemarahan dan kebencian nya pada Bima di pagi itu, di mana itu menjadi terkahir kali nya mereka bertemu. Dan setelah itu, Alesha mencoba menata hati nya kembali, melapangkan dada nya dalam mengukir cerita hidup nya yang tak mudah.
"Al, kamu jangan terus terusan membahas perceraian dong, Al..." kata Bima tiba tiba yang membuat kening Alesha langsung berkerut.
"Maksudnya?" tanya Alesha bingung.
"Aku tahu, kamu mungkin benci sama aku karena kamu pasti berfikir aku mengkhianati kamu..." tukas Bima namun Alesha justru tersenyum kecut.
"Mas, sudah sarapan? Mau aku ambilkan sarapan?" tanya Alesha kemudian setelah ia melihat Bima hanya terdiam. Bima menggeleng pelan.
"Aku sudah sarapan di rumah..." tukas Bima "Dan aku tidak mengkhianati kamu, Al. Aku hanya menikahi wanita yang ku cintai, aku tidak menjalani hubungan yang salah" tukas Bima yang membuat senyum sinis tercetak jelas di bibir Alesha.
"Iya, aku faham..." kata Alesha dengan santai walaupun ia harus menekan perasaan nya yang sakit dengan kuat, agar rasa sakit itu tidak tampak keluar "Poligami itu memang tidak salah, Mas. Jika kamu memang sangat ingin membenarkan apa yang kamu lakukan, maka tidak ada yang salah dalam hukum poligami nya" kata Alesha.
"Tapi sebelum berbicara hukum, mari berbicara adab dulu, Mas. Apakah di benarkan seorang suami menikah lagi diam diam? Apa lagi membawa istri nya kerumah dimana istri pertama nya tinggal? Apakah di benarkan seorang suami menyakiti istri nya hanya demi kebahagiaan nya sendiri?" tanya Alesha dan ia menatap tepat di manik mata sang suami. Sementara suami nya itu kembali terdiam, ia menghindari tatapan Alesha yang terasa begitu menusuk di hati nya.
"Mas, apapun yang di halalkan oleh agama itu artinya ada kebaikan di dalam nya. Tapi jika kebaikan itu menimbulkan keburukan, maka ada yang salah dengan orang yang menjalani nya, atau ada yang salah dengan cara menjalani nya" tukas Alesha lagi dan kembali Bima hanya bisa diam.
Alesha menarik nafas dalam dalam, kemudian ia menghembuskan nya perlahan. Alesha bangkit dari duduk nya dan tak lupa ia sunggingkan senyum manis nya di bibir nya.
"Mau air putih, Mas?" tawar nya.
..........
Rianti saat ini sedang berada di lorong kampus sendirian, ia melirik arloji yang melingkar di tangan nya. Sesekali tatapan nya mencari cari sesuatu ke ujung lorong sana, hingga terlihat seorang pria yang muncul dan melambaikan tangan pada Rianti, Rianti membalas lambaian tangan itu dan tersenyum pada nya.
"Lama menunggu nya, Sayang?" tanya pria itu.
"Cukup lama, Pak Dosen..." kata Rianti sembari menggerling nakal, membuat pria itu tertawa dan mencium pipi Rianti dengan gemas.
"Kamu semakin hari semakin cantik saja..." kata pria bernama Antonio itu.
"Mas Anton juga makin hari makin lancar saja gombal nya" kata Rianti.
"Bukan gombal, hanya berbicara apa ada nya" kata Anton.
Kemudian ia membawa Rianti ke sebuah gudang yang ada di pojok kampus, Antonio adalah pacar Rianti yang juga seorang Dosen di kampus Rianti. Mereka telah menjalin kasih selama satu setengah tahun. Rianti suka dengan sikap Anton yang begitu dewasa, membuat Rianti selalu merasa nyaman berada di dekat nya.
"Mas..." kata Rianti yang saat ini bersender di dada bidang Anton. Mereka duduk di sebuah kursi yang ada di dekat jendela, dan memang ini tempat rahasia mereka jika berada di kampus. Tak ada yang mereka lakukan selain berbincang mesra dan berciuman.
"Hmmm" gumam Anton yang menghirup aroma rambut Rianti.
"Sebentar lagi kuliah ku kan selesai, kapan kamu mau menemui orang tua ku, Mas?"
"Nanti, kalau aku sudah lebih sukses" jawab Anton dengan tenang nya.
"Kamu jawab itu terus, memang nya sekarang kamu kurang sukses?" tanya Rianti merajuk.
"Kurang lah, Sayang. Biaya pernikahan itu tidak sedikit, jadi aku harus kumpulin uang dulu" kata Anton yang membuat Rianti mendengus, namun ia tetap tersenyum kemudian.
"Asal kamu setia saja sama aku, Mas" ucap nya.
"Ya pasti lah aku setia, aku kan cinta mati sama kamu" rayu nya yang membuat Rianti tentu langsung merasa terbang ke awan.