
Keesokan harinya, Alesha menjalani hari hari nya seperti biasa. Ia membersihkan rumah, memasak dan bersiap pergi bekerja. Sementara Bima masih ada di rumah nya dan memperhatikan semua hal yg di lakukan Alesha, sama seperti Alesha yg dulu juga memperhatikan semua hal yg di lakukan Bima saat awal pernikahan mereka.
"Aku berangkat dulu, Mas..." ujar Alesha saat jam menunjukkan pukul 8.
Bima merapikan rambut Alesha, ia membelai kepala istri nya itu dan ia hendak mengecup kening nya namun Alesha langsung melangkah mundur dengan nafas yg tertahan. Ia menatap nanar Bima dengan mata yg kembali berkaca kaca, Alesha menggeleng pelan, menolak perlakuan manis Bima.
"Jangan seperti ini, Mas. Jangan perlakukan aku seolah kamu mencintai ku..." lirih nya dan kemudian ia bergegas pergi dari rumah sebelum air mata nya kembali tumpah.
Bima hanya terdiam mematung di tempat nya, Alesha menolak kecupan nya dan itu membuat hati nya seperti tercubit. Bima pun segera mandi dan karena hari ini ia masih dalam masa cuti nya, Bima memilih tetap di rumah.
Setelah mandi, Bima mengecek ponsel nya dan ia baru menyadari ternyata ponsel nya mati karena kehabisan daya. Bima mengecas nya dan menyalakan nya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Vera dan beberapa pesan masuk yg menanyakan keberadaan Bima.
Bima membalas nya dan mengatakan ia ada di rumah Alesha, setelah itu, Bima meletakkan kembali ponsel nya tanpa menunggu balasan dari Vera.
Bima melihat keranjang baju kotor dan ada pakaian kotor Alesha di sana, Bima mengambil nya dan mencuci nya bahkan termasuk pakaian dallam istri nya itu.
Setelah mencuci, Bima menjemur nya. Setelah itu ia menyetrika baju yg belum di setrika, sepanjang melakukan pekerjaan itu, Bima terus memikirkan Alesha.
.........
Alesha juga memikirkan Bima, sekarang Bima setuju untuk bercerai dan itu membuat Alesha merasa begitu terluka. Tapi Alesha tahu, lebih baik terluka sekarang tapi nanti akan sembuh dari pada luka setiap hari dan tak ada harapan luka itu akan sembuh dan hanya akan membuat nya menunggu kapan akan terbiasa dengan luka. Tentu Alesha memilih opsi yg pertama.
Adam kembali datang ke Café dan seperti biasa Alesha menyambut nya dengan ramah.
"Apa suami mu masih marah? Aku minta maaf..." Adam berbicara setengah berbisik saat Alesha mengantarkan kopi untuk nya.
"Tidak apa apa, Mas Adam. Itu bukan salah mu" ujar Alesha dengan senyum manis nya, Adam memperhatikan Alesha dan ia bisa melihat dengan jelas mata Alesha yg bengkak.
"Kamu bohong, kamu menangis. Apa suami mu memarahi mu?" tanya Adam cemas, Alesha melirik ke sekitar nya karena saat ia masih dalam jam kerja.
Alesha pun melanjutkan pekerjaan nya, namun karena terlalu banyak yg menjadi beban fikiran nya membuat nya tidak bisa fokus dan bahkan beberapa kali ia sempat salah mengantar pesanan pelanggan nya. Adam memperhatikan hal itu dari jauh dan ia sungguh mengkhawatirkan keadaan Alesha. Adam merasa bersalah karena ia merasa diri nya pasti sudah menyebabkan pertengkaran antara Alesha dan suami nya.
Alesha tiba tiba merasa pusing, pandangan nya bahkan berkunang dan langkah nya mulai limbung hingga tanpa sengaja Alesha menjatuhkan minuman pada salah satu pelanggan, membuat Alesha terkejut dan ia langsung meminta maaf.
"Kerja yg benar, Mbak. Tidak punya mata..." bentak nya yg membuat Alesha sedih sekaligus menyesal.
"Maaf, Bu. Saya benar benar tidak sengaja..." kata Alesha dan dengan tangan yg gemetar, Alesha mengambil tissue hendak membersihkan baju wanita itu namun di tepi nya tangan Alesha dengan kasar.
Adam yg melihat itu langsung menghampiri Alesha dan membela Alesha.
"Maaf, Bu. Dia sedang sakit..." ucap Adam dan ia merangkul pundak Alesha, bukan karena apa tapi ia karena ia bisa melihat tubuh Alesha yg seperti nya sangat lemah.
"Kalau sakit ya tidak usah bekerja, kalau pekerjaan nya tidak becus begini kan merugikan orang lain..." seru wanita itu marah.
Adam mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan meletakkan nya di meja. Membuat wanita itu terkejut begitu juga dengan Alesha.
"Itu ganti rugi atas kesalahan Alesha, masih kurang?" tanya nya tajam yg membuat wanita itu tentu langsung bungkam. Bahkan kini teman teman kerja Alesha memperhatikan Alesha dan Adam.
"Ayo, Alesha..." Adam memapah Alesha pergi dari sana.
"Mas, nanti aku ganti uang nya ya..." ucap nya lemah.
"Tidak us... ALESHA..." pekik Adam saat tiba tiba tubuh Alesha terkulai lemas dan ia tak sadarkan diri, beruntung Adam dengan sigap menangkap tubuh Alesha.
"Pak, bawa ke rumah sakit saja..." seru Tini "Dari tadi Alesha memang sakit, biar saya yg bicara sama maneger nanti..."
Adam mengangguk dan ia segera menggendong Alesha, Adam menghentikan taksi dan menyuruh nya segera ke rumah sakit terdekat.