
***Mengangumi mu adalah hobbyku
Jatuh cinta padamu adalah takdirku
Mencintaimu adalah tugas yang harus aku lakukan....
SELAMAT MEMBACA***...
Didalam ruang ICU VVIP, ruang termewah dan termahal dirumah sakit tersebut. Seorang gadis terbaring dengan selang-selang mengalir dibeberapa bagian tubuhnya. Disampingnya seorang pria tampan, tengah mengenggam tangannya. Sesekali pria itu mengecup punggung tangan gadis yang ia cintai, sudah lebih dari dua Minggu gadis itu tertidur tapi sampai kini tidak menunjukkan reaksi sama sekali.
"Ini bukan pertama kalinya kau seperti ini! Ayolah cepat bangun, apa kau tidak bosan berbaring terus?". Celetuk pria itu, mengelus pipi sang gadis dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku tidak salah jatuh cinta padamu! Ahhh rasanya aku sangat bahagia bisa menjagamu disini, tapi jujur sih aku bosan, aku rindu dengan senjata apiku!". Ia terkekeh sambil memencet-mencet hidung gadis itu "Aku ingin sekali melihat senyummu, berbagi cerita denganmu dan memakan masakkanmu". Sambungnya "Apa kau ingat saat pertama kau memaksaku memakan sayuran, waktu itu aku sempat kesal dan ingin rasanya marah. Tapi saat melihat wajah imut dan menggemaskan itu aku malah terkekeh dan memasukkan makanan itu dengan paksa, aku sempat terkejut saat makanan itu menyentuh lidahku, enak sekali. Mulai saat itu aku benar-benat menyukai sayuran, dan saat memakan sayuran aku selalu teringat padamu. Ahhh rindunya". Ia berbicara ambil terkekeh, anehnya air mata malah berjatuhan dipipinya. Ingin sekali ia melihat gadis itu tersenyum ramah padanya, memeluknya seperti saat itu berbisik menggunakan bahasa korea. Ia sempat tertegun bagaimana gadis itu bisa berbicara bahasa Korea dengan fasih, ia lupa jika ditubuh gadis itu mengalir darah Korea.
Sedangkan ditempat lain, Sam, Sean, Zean dan Zaen sedang menatap Pedrosa meminta pada pria paruh baya itu untuk menjelaskan semuanya. Entah apa yang perlu dijelaskan? Yang pasti mereka ingin Pedrosa menjelaskan, jati diri mereka.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memisahkan kalian". Ucap Pedrosa menyesal. Ia sampai menunduk menghindari tatapan kedua putranya.
"Kenapa Ped?". Tanya Sam kecewa "Aku tahu kau membenciku sejak dulu, tapi bukankah kau yang meninggalkan Rachel dan memilih wanita yang dijodohkan orangtuamu? Lalu kenapa kau justru merusak kebahagiaan Rachel?". Tanya Sam dengan nada amarah, bahkan terlihat dari wajahnya.
"Maafkan aku Sam. Aku sangat menyesal. Orangtuaku hanya memberi dua pilihan, memilih perjodohan itu atau mencelakai Rachel dan bahkan mereka ingin membunuhnya. Aku tidak mau dia terluka". Jawab Pedrosa sambil menunduk.
"Lalu kenapa kau pisahkan aku dengan kedua putraku, dengan membuat akta kelahiran palsu?". Bentak Sam yang sudah tak mampu menahan emosinya.
"Aku iri padamu Sam, karena kau bisa membahagiakan Rachel sementara aku memilih meninggalkannya". Jawab Pedrosa "Aku patah hati saat melihat kalian bisa hidup bahagia, sementara aku wanita itu tega meninggalkan ku dan memilih laki-laki lain". Tanpa terasa air mata jatuh dipelupuk mata Pedrosa "Aku menyelidiki kehidupan kalian berdua, dan saat Rachel melahirkan anak kembar tiga aku meminta dokter untuk memberikan kedua anak itu kepadaku, dengan mengancam dokter bahwa aku akan menyakiti keluarga mereka. Akhirnya dengan segala ancaman mereka menerima permintaanku dengan memberikan Zean dan Zaen kepadaku". Lanjut Pedrosa. Tangan Sam terkepal, tapi ia membiarkan Pedrosa melanjutkan kata-kata.
"Aku memutuskan untuk tidak menikah dan merawat kedua putramu dengan penuh kasih sayang, bahkan aku tak memakai jasa babysister karena aku tidak mau mereka tumbuh tanpa sentuhan tanganku. Aku berjanji akan menyanyangi mereka dengan tulus karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahanku pada Rachel". Jelas Pedrosa "Hatiku tertutup terhadap wanita, bahkan aku sangat membenci, selain merasa bersalah aku juga merasa jijik karena dikhianati". Pedrosa menghela nafas panjang "Hingga akhirnya aku bertemu gadis kecil yang merubah segalanya. Gadis berusia 16 tahun yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya, gadis yang hidup sebatang kara tanpa topangan dari siapapun. Ia mengajariku arti hidup, ia mengajariku arti cinta, hingga aku memintanya untuk memanggil Ayah, dia terlihat bahagia sekali sampai memelukku dengan menangis, pelukkannya mengingatkanku pada Rachel. Dia tidak takut saat aku mengatakan bahwa aku adalah ketua Mafia, hidupku menyedihkan dan aku selalu dalam bahagia. Anehnya dia malah bilang "Ayah pasti bisa berubah". Aku terkekeh mendengar ucapannya". Cerita Pedrosa panjang kali lebar kali tinggi. Sam terdiam mendengar cerita itu, ada rasa sakit saat Pedrosa menceritakan kehidupan Fitri yang sebatang kara tanpa siapapun.
"Hingga aku harus meninggalkannya. Ingin sekali aku membawanya bersamaku, tapi aku tidak ingin dia dalam bahaya dan menjadi target munsuhku untuk mencari kelemahan ku. Aku berusaha menyembunyikan nya agar tidak seorang pun yang tahu dan itu berhasil". Lanjut Pedrosa.
"Awalnya, aku berniat untuk tidak akan pernah mempertemukan kalian dan aku juga tidak akan menceritakan siapa orangtua Zean dan Zaen tapi kedua anak bandel itu sudah tahu jika aku bukan Ayah kandungnya". Pedrosa terkekeh dengan air mata mengalir dipipi tuanya "Tapi saat aku tahu bahwa gadis kecil itu putrimu, aku menjadi tidak tega entah perasaan darimana yang membuatku membiarkan kalian bertemu, ada rasa takut sendiri didalam benakku jika Zean dan Zaen meninggalkanku". Lirih Pedrosa menundukkan kepalanya
"Aku minta maaf padamu Sam. Kau boleh menghukumku bila perlu jika kau mau membunuhku pun aku siap, karena aku bersalah". Ucap Pedrosa pasrah.
Sam memejamkan matanya. Tangannya yang tadi terkepal perlahan terbuka. Hatinya berdesir, ada rasa marah yang membesar dihatinya. Tapi saat melihat wajah penyesalan Pedrosa membuat hatinya kian luluh dan ia berusaha berdamai dengan hatinya.
"Lupakan lah Pedrosa". Ucap Sam "Aku ingin kita bersama-sama merawat putra kita". Ajak Sam.
Ucapan Sam membuat Pedrosa mendongrakkan kepalanya "Kau s-serius Sam?". Tanya Pedrosa terbata-bata.
Sam mengangguk dan tersenyum "Terima kasih Sam". Pedrosa memeluk Sam dengan Isak tangis. Kedua pria paruh baya yang sempat bermunsuhan selama puluhan tahun itu kini saling memaafkan dan memeluk erat.
Pedrosa memeluk Zean dan Zaen "Maafkan Daddy Boy". Peluk Pedrosa "Daddy, berharap kalian tidak membenci Daddy". Isak Pedrosa memeluk kedua putranya itu.
"Kami tidak membencimu Dad, justru kami berterima kasih karena Daddy sudah mau merawat kami seperti anak kandung Daddy sendiri". Balas Zean juga memeluk Pedrosa.
"Sudahlah Dad jangan menangis, wajah jelekmu semakin jelek nanti". Celetuk Zaen melepaskan pelukkan Pedrosa.
Plakkkkkk
Pedrosa memukul bahu putranya "Awwww Dad sakit". Pekik Zaen mengelus bahunya "KDRT". Sambung Zaen lagi sambil terkekeh.
"Kau ini selalu membuat Daddy kesal". Kesal Pedrosa.
Sam menatap Zean dan Zaen "Apa kalian tidak ingin memeluk Daddy?". Sindir Sam dengan wajah memelasnya
Zean dan Zaen terkekeh lalu memeluk Sam dengan erat "Terima kasih Dad, telah mau menerima kami kembali". Ucap Zean.
"Ternyata Daddyku sangat tampan dari pria tua itu". Celetuk Zaen membuat Pedrosa semakin kesal.
"Kau.....". Dengan cepat Zaen menghindar dari serangan Pedrosa sambil tertawa lepas tanpa beban padahal hanya menutupi kesedihannya. Sean dan Sam ikut tersenyum, sedangkan Zean hanya menggeleng kan kepala, sudah tidak aneh lagi melihat tingkah laku Pedrosa dan Zaen. Sungguh tidak mencerminkan pribadi ketua Mafia.
"Sean". Panggil Pedrosa pada putra kembar Sam, ya Sean putra ketiga Sam. Putra yang lahir terakhir dan berbeda menit dengan kedua Kakaknya.
"Paman". Balas Sean dan memeluk Pedrosa.
"Jangan panggil aku Paman, panggil saja aku Ayah". Pinta Pedrosa.
"Baik Ayah". Sean melepaskan pelukkan Pedrosa.
"Kalau begitu kami juga harus memanggil Daddy dengan panggilan Ayah sama seperti Sean". Protes Zaen.
"Ahhh terserah kalian lah". Ucap Pedrosa mengalah.
"Sean".
"Zean, Zaen".
Mereka bertiga saling berpelukkan dengan erat. Tak ada yang menyangka jika mereka adalah kembar identik. Kembar tiga yang terpisah selama 32 tahun itu, membuat mereka menampung banyak rindu.
"Sean, kau harus memanggilku Kakak, karena aku lebih tua darimu". Perintah Zaen. Zaen memang memiliki kepribadian cerewet dan berisik. Cassanova yang satu ini memang berjiwa playboy sehingga karena banyaknya merayu wanita menjadikan dirinya pribadi yang berisik.
"Cih, bahkan kau tidak memanggilku dengan panggilan Kakak, bukankah aku lebih tua darimu?". Cibir Zean, jenggah dengan sikap adiknya itu.
"Kita lahir sama, hanya beda beberapa menit saja jadi untuk apa aku memanggilmu Kakak". Protes Zaen.
"Berarti Sean juga tidak bisa memanggilmu Kakak karena kau tidak memanggilku Kakak". Ucap Zean tak mau kalah.
"Sudah jangan berdebat, kenapa kalian berdua ini selalu saja berdebat!! Tidak malu apa pada saudara kembar kalian". Tegur Pedrosa kesal melihat kedua putranya itu.
"Ayah jomblo, diamlah". Pekik Zaen.
"Kau....".
"Aku panggil Zean dan Zaen saja ya, biar adil. Karena kita hanya beda beberapa menit saja". Final Sean. Sean heran melihat kedua saudara kembarnya ini, kenapa suka sekali berdebat? Anehnya justru terlihat lucu.
Zean dan Sean hampir memiliki kepribadian yang sama, sama-sama dingin. Bedanya Sean bukan seorang Cassanova bahkan dirinya tak pernah berhubungan dengan seorang wanita. Berbeda dengan Zean yang memang seorang Cassanova akut, tentunya hal itu tidak diketahui oleh Pedrosa. Jika sampai Ayah nya itu tahu bisa-bisa dipotong burungnya.
Pedrosa dan Sam tersenyum menatap ketiga pria kembar itu, rasa bahagia menyelimuti hati mereka. Namun seketika wajah mereka berubah saat mengingat seorang gadis kecil yang saat ini masih terbaring lemah.
"Bagaimana keadaannya?". Tanya Pedrosa memecahkan keheningan. Sean, Zean dan Zaen berhenti dari perdebatan mereka.
"Belum ada perubahan". Sahut Sam.
"Apa yang David katakan tentang kondisi Fitri?". Tanya Pedrosa lagi.
"Tidak ada!! David sedang berusaha meracik obat untuk nya!!". Jawab Sam dengan wajah sendunya.
"Ayah, Dad, sepertinya aku harus pergi ke pelabuhan sekarang untuk mengambil senjata yang baru saja kupesan". Pamit Zean
"Hati-hati Boy". Ucap Pedrosa.
"Jika Fitri sudah bangun, bisakah kau berhenti dari pemasaran senjata gelap itu?". Pinta Sam.
Zean terdiam mendengar permintaan Sam "Aku tidak bisa meninggalkan nya Dad, anggota ku sangat membutuhkan itu". Sahut Zean.
"Daddy, akan membantumu". Sam menepuk bahu putranya.
"Terima kasih Dad". Senyum Zean.
"Aku akan menemanimu". Ucap Zaen.
"Baiklah". Sahut Zean.
"Sean, jagalah Daddy dan Ayah". Perintah Zean "Pastikan juga kondisi Fitri dengan Paman David. Aku dan Zaen akan berusaha mencari Dokter terbaik untuk kesembuhannya". Ucap Zean.
"Baik Zean!! Kalian berhati-hatilah". Pesan Sean.
Zean dan Zaen pun pergi ke pelabuhan untuk mengambil senjata mereka serta melakukan transaksi pembayaran tunai.
***Bersambung.......
Zean, Zaen dan Sean ternyata saudara kembar tiga...
Bagaimana reaksi Fitri saat tahu dia memiliki tiga Kakak sekaligus???
Yuk ikuti terus kisah mereka.
Jangan lupa, like, komen dan Vote*** nya..
GBU......
LoveUall**.....