
SELAMAT MEMBACA....
“Sayang, siapa yang menembak mereka?”. Tanya Zehemia menyelidik kearah adiknya yang melanjutkan mengobati Myra.
“Kau bertanya pada Zeva Kak?”.
“Iya”.
“Sudah Kak, jangan bertanya terus. Sebaiknya obati Sherlly”. Zevanya memberikan kotak P3K pada adiknya. Entah kemana gadis itu menemukan obat luka yang lengkap.
“Suruh Luke saja”. Luke langsung mengambil obat itu dari tangan Zevanya.
“Ehem”. Shawn berdehem, ketika melihat Luke yang begitu antusias mengobati luka adiknya.
“Aku hanya mengobati adikmu. Tidak ada maksud lagi”. Seru Luke tanpa terpengaruh dengan tatapan mereka padanya.
“Gebe, obati Myra”. Zevanya berdiri dan memberikan obat luka itu pada Grabielle.
“Kak, aku bukan dokter”. Protes Grabielle “Kenapa harus aku?”. Dia mengambil obat itu dari tangan Zevanya.
“Aku tidak mengatakan kau dokter”. Cetus Zevanya. Zehemia dan Zehekiel hanya bisa menggeleng dengan kekehan.
“Ckkkkkk”. Gerutu Grabielle.
“Nenes, kau perbaiki perban Shawn. Aku takut darahnya keluar, nanti dia kehabisan darah”. Celoteh Zevanya. Shawn bergidik ngeri, yang benar saja hanya karena luka kecil itu dia akan kehabisan darah.
Sementara Johannes bergendus kesal “Apa aku harus lahir lagi supaya kau tidak sesukanya mengubah namaku?”. Singgung Johannes tetap mendekat kearah Shawn. Zevanya terkekeh mendengar kekesalan sepupunya.
“Kak Ron, Kak Hem, Kak Iel. Ikut aku”.
Mereka mengikuti Zevanya. Sedangkan Grabielle, Johannes dan Luke mengobati luka Myra, Sherlly dan Shawn.
“Ada apa sayang?”. Tanya Zehemia ketika mereka sedikit menjauh dari yang lainnya.
Myron, Zehemia dan Zehekiel menutup hidung mencium bau darah yang berserakkan. Sedangkan mereka hanya tergeletak tapi belum mati dan hanya sekarat.
“Triple L”.
Ketiga Mutan itu langsung mendekat.
“Iya Nona, ada yang bisa kami bantu”.
Myron, Zehemia dan Zehekiel mengangga dengan mulut terbuka lebar. Sejak kapan Mutan buatan Mommy nya ada disana. Bukankah Mutan itu di museumkan ke wilayah timur dan dijaga dengan ketat oleh Arthur.
“Apa kalian sudah menemukan siapa pemilik Markas ini?”. Tanya Zevanya serius. Lagi-lagi mereka tercenggang tak percaya saat melihat raut wajah Zevanya yang terlihat serius.
“Sudah Nona. Didalam flashdisk ini semua datanya sudah kami rangkup”.
“Baik terima kasih”. Zevanya menyambut “Bereskan semuanya. Ledakkan markas ini, jangan biarkan tersisa satu pun. Ingat retas rekaman CCTV disini. Sepertinya mereka memasang jebakkan. Kalian mengerti”.
“Baik Nona”. Sahut ketiganya lalu berlalu dari hadapan Zevanya.
“Sayang”. Lidah Zehemia terasa kelu. Dia baru melihat Zevanya yang seperti ini.
“Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini Kak”. Seru Zevanya “Kak Ron, sebaiknya kakak mengutus pengawal untuk menjaga Myra dan Sherlly. Mereka dalam bahaya. Perketat penjagaan Kak. Munsuh sudah mendekat”. Jelas Zevanya.
Myron malah terkesiap mendengar ucapan gadis dihadapannya ini
“Baik”. Sahut Myron
Mereka meninggalkan gedung tua itu. Jika Myra dan Sherlly penuh dengan perban dibagian sudut bibir dan dekat mata mereka. Maka Zevanya bergelut manja di lengan Zehemia. Dia kembali normal seperti anak kecil.
Sedangkan di Mansion mewah keluarga Ranlet Flint, Elizabeth dan Merry sudah menangis sedari tadi. Kedua Ibu itu cemas bukan main saat mendapat informasi bahwa anak-anak mereka diculik.
“Tenanglah sayang mereka pasti baik-baik saja”. Ucap Zaen menenangkan istrinya. Dia juga panic tapi berusaha tenang.
“Iya El, Shawn dan Sherlly pasti baik-baik saja”. Timpal Luna juga ikut menenangkan adik iparnya.
Mars membenamkan wajah istrinya didada bidang miliknya. Dia juga cemas dan takut jika terjadi sesuatu pada putri bungsunya. Namun dia juga yakin jika Myron takkan membiarkan hal buruk terjadi pada adiknya.
Fillipo, Sean dan Zean juga tak kalah panic. Jika saja tidak dilarang oleh Myron pasti mereka sudah menyerang Markas itu dan mencari keberadaan Myra, Shawn dan juga Sherlly.
“Po, hubungi Zehemia apakah mereka sudah menemukan Myra, Shawn dan Sherlly?”. Tintah Mars masih memeluk Merry.
“Baik”. Fillipo segera menghubungi putra sulungnya.
“Hallo Son, bagaimana? Baik, segera kembali ke Mansion”. Fillipo menutup sambungan telponnya.
“Bagaimana?”. Sambung Zaen yang tak sabar bertemu kedua anaknya.
“Mereka sudah kembali. Tenanglah anak kalian baik-baik saja”. Ujar Fillipo.
Beberapa mobil mewah masuk kedalam Mansion keluarga Ranlet Flint. Merry dan Elizabeth berjalan keluar dengan tergesa-gesa tanpa memperdulikan teriakkan para suami mereka.
“Myra”. Teriak Merry melihat anaknya keluar dari mobil.
“Daddy, Mommy”. Myra berlari memeluk Merry. Dia masih merasakan takut luar biasa.
“Mommy, hiksssss”. Isak Myra dipelukkan Merry. Merry juga menangis, sebagai seorang Ibu tentu takut jika terjadi sesuatu pada putrinya.
“Apa kau baik-baik saja sayang?”. Merry semakin sedih melihat wajah Myra yang luka-luka “Nak”. Merry kembali memeluk Myra, hatinya sakit saat melihat wajah Myra yang lebam dan biru.
“Nak”.
“Daddy”. Myra juga memeluk Mars. Tangan Mars terkepal saat melihat kondisi putrinya.
“Dimana yang sakit?”. Tanya Mars lembut melepaskan pelukkan putrinya. Dia meringgis saat melihat wajah Myra yang lebam dan biru, bekas jari terlihat diwajah gadis itu.
Myra menggeleng “Kak Zeva, sudah merawatku Dad”. Ucap Myra dengan segugukkan.
Elizabeth memeluk Shawn dan Sherlly secara bergantian. Hatinya cemas dan juga khawatir jika kedua anaknya tidak ditemukan.
“Nak, kenapa dengan tanganmu?”. Tanya Elizabeth melihat tangan Shawn yang diperban.
“Ini hanya salah tembak Mom. Harusnya mengenai hatiku, malah terkena tangan”. Celetuk Shawn.
Takkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Satu centilan mendarat dikening Shawn, bukan hanya menjawab serius dia malah bercanda.
“Dad”.
“Kau ini….”. Zaen memeluk putranya “Cihhh, kau bagaimana sihhh, bisa tertangkap. Harusnya kau itu bawa senjata Daddy”. Celetuk Zaen memeluk putranya dengan berkaca-kaca tapi masih sempat saja bercanda.
Shawn melepaskan pelukkan Zaen dan berdecih “Ckkk, senjatamu tidak ada apa-apanya Dad”. Cibir Shawn “Aku akan belajar menembak dari Zeva”.
Semua melihat Zevanya yang memutar bola mata malas. Namun dia menyembuyikan dengan memeluk lengan sang Daddy
“Ze”. Semua menatap Zevanya termasuk Myron.
“Ckkk, jangan melihatku seperti itu”. Protes Zevanya “Jangan percaya pada Sasan, mana mungkin Zeva bisa menembak”. Sergah Zevanya. Dia menyesal juga tidak menutup mata Shawn yang ember itu.
“Benar kok”. Sambung Myra dan Sherlly bersamaan. Mereka langsung mendapat tatapan tajam dari Zevanya. Myra dan Sherlly bergidik ngeri.
“Ya sudah ya, karena sudah bertemu. Jadi lebih baik kita bersiap-siap untuk makan malam”. Celoteh Zevanya mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah, sayang kamu mandi dang anti baju. Ingat jangan mandi dengan air dingin”. Pesan Fillipo pada putrinya.
Zevanya mengangguk paham sambil menampilkan deretan gigi susulannya. Membuatnya terlihat imut dan menggemaskan.
Bersambung.....
LoveUsomuch ❤️