Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 97. S2.


SELAMAT MEMBACA........


Deva, Elena dan Ricardo berjalan dengan sumringah menuju kamar Zevanya.


"Kemana para pengawal?". Tanya Deva bingung.


"Ayo kita lihat".


Mereka bertiga setengah berlari menuju kamar rawat Zevanya.


"Dikunci".


"Ada apa?". Tian datang.


"Kak Tian. Kamar Kak Zeva di kunci". Ujar Deva setengah panik.


Tian maju dan hendak mendobrak namun tidak bisa.


"Tuan. Tolong kami".


Terdengar suara para pengawal yang berada didalam ruangan rawat Zevanya


"Dokter Ricardo cepat minta kunci serap nya".


"Baik Tuan


Tidak lama kemudian Ricardo datang membawa kunci cadangan. Lalu Tian membuka pintu itu dengan tak sabar. Takut jika terjadi sesuatu pada Zevanya. Bisa dikuliti hidup-hidup dia oleh Dave.


Brakkkkkkkkkkk


"Kenapa kalian bisa ada didalam?". Tanya Tian mengerutkan keningnya heran.


"Maaf Tuan, kami dijebak oleh Nona Zevanya". Sahut salah satunya.


"Zevanya?". Beo mereka.


"Bagaimana bisa. Dia kan koma?". Tanya Ricardo sedikit tak percaya.


Lalu para pengawal itu menceritakan kronologis Zevanya membohongi mereka. Tian menggeleng tak percaya. Begitu juga dengan Ricardo, Elena dan Deva.


"Kak, apa yang harus kita lakukan Kak Dave bisa marah besar jika tahu Kak Zeva kabur". Ucap Deva panik.


"Tenang ya Deva. Kakak akan cari Zevanya". Ucap Tian memenangkan Deva yang sudah dia anggap adiknya sendiri.


"Awwwwwwww". Tiba-tiba Deva merasakan perutnya sakit.


"Deva".


"Nak".


"Nona".


"Seperti nya Nona Deva akan melahirkan Tuan". Ujar Richardo.


"Siapkan semuanya Richardo". Tintah Tian.


"Baik Tuan".


Mereka membawa Deva ke ruang persalinan. air ketuban Deva sudah pecah dan mengalir melalui kaki bawahnya.


"Bi, sakit". Rintih Deva.


"Sabar ya sayang". Ucap Elena memberi kekuatan.


"Kak Tian sakit". Teriak Deva.


Tian kebingungan sendiri. Dia belum pernah melihat wanita melahirkan. Cara penanganan nya pun Tian tidak tahu.


.


.


.


"Dad, sebaiknya Daddy dan Paman pulang duluan saja. Zeva masih memiliki banyak urusan disini". Ucap Zevanya merapikan wig nya.


"Tapi..........".


"Dad, ada Kak Hem, Kak Iel dan yang lainnya menjaga Zeva. Daddy tidak perlu khawatir". Zevanya memeluk Fillipo.


Fillipo menghela nafas berat "Baiklah". Sahut Fillipo membalas pelukkan hangat putrinya.


Zevanya, Myron, Zehemia, Zehekiel, Shawn dan Zoalva masuk kedalam jet pribadi milik Myron. Sedangkan yang lainnya sudah pulang duluan. Meski sempat protes dan mengerutu namun mereka tetap mengikuti perintah Zevanya untuk mengamankan Markas karena setelah ini Zevanya yakin jika akan ada lagi serangan balik untuk mereka.


"Ze". Zehemia merasa sakit melihat kondisi adiknya.


"Iya Kak". Zevanya menurut.


Jet pribadi milik Myron memiliki kapasitas yang lengkap. Semua alat-alat medis Kenzie dan Dean dipersiapkan oleh Myron.


"Sedikit berdarah Ze. Kakak akan cuci dengan alkohol".


"Iya Kak".


Zevanya sedikit meringgis kesakitan saat Kenzie menyapu luka bekas operasinya. Tangan kanannya digenggam oleh Myron sedangkan tangan kirinya di genggam oleh Zehemia.


"Apakah sakit?". Tanya Kenzie.


"Tidak Kak. Rasanya seperti di gigit semut". Celetuk Zevanya. Membuat mereka semua terkekeh.


Shawn, Zehekiel dan Zoalva merasa kasihan melihat wajah pucat Zevanya yang terlihat menahan rasa sakit.


"Va, sakit ya?". Tanya Zoalva lembut.


Zevanya menggeleng "Ada yang lebih sakit dari ini Al?".


"Apa?". Sontak para pria itu panik.


"Dimana sayang yang sakit?? Katakan pada Kakak?". Cecar Zehemia.


Zevanya mengendus kesal "Aissshh, Kak tidak ada yang sakit. Aku hanya bercanda". Ucap Zevanya cenggegesan.


"Kau ini........".


Shawn memutar bola matanya malas. Yang lain terkekeh gemes. Sekarang mereka sudah bisa lagi melihat senyum gadis itu. Gadis berisik dengan ribuan cara membuat suasana hidup kembali.


"Bagaimana keadaan Gebe Kak. Apa dia sudah sadar?". Tanya Zevanya. Sementara Kenzie masih membersihkan luka diperut Zevanya.


Myron menghela nafas pelan. Lalu tangannya terulur mengelus kepala gadis kesayangan nya ini.


"Dia baik-baik saja". Sahut Myron. Dia tidak mau membuat Zevanya berpikir saat tahu kondisi Grabielle.


"Benarkah? Aku tidak sabar bertemu dan berdebat dengannya pasti dia juga merindukanku Kak". Ujar Zevanya sumringah.


Shawn memutar bola matanya malas "Ck, kau ini Ze.. Berdebat terus yang ada dipikiran mu". Cibir Shawn.


"Jangan begitu Shawn. Aku ini saudara mu yang paling cantik". Ujar Zevanya dengan kepercayaan diri tingkat provinsi.


Jet pribadi milik Myron mendarat di Bandara Internasional Jepang. Meski mereka tidak tahu apa tujuan Zevanya membawa mereka pergi kesana. Namun mereka tetap mengikuti perintah gadis itu


"Kemana Nona?".


"Rumah sakit".


"Sasan?". Panggil Zevanya. Saat ini mereka sedang berada didalam mobil. Zevanya dihimpit oleh Myron dan Zehemia yang tidak mau jauh dari dia sejak mereka bertemu.


"Sini tanganmu". Pinta Zevanya.


"Untuk apa? Apa kau akan mencungkil kuku-kuku". Tuduh Shawn.


"Buang pikiran jelekmu itu Sasan". Celetuk Zevanya.


"Ck, Namaku Shawn bukan Sasan". Ralat Shawn.


"Alah sama saja". Zevanya tak mau kalah.


Yang lain hanya menggeleng gemes. Belum lagi nanti zevanya bertemu Grabielle. Teman debat paling spektakuler nya. Dia selalu berhasil membuat adik sepupu nya itu naik darah.


Zevanya mengenggam tangan Shawn "Apa kau mau menjadi Ayah?".


Bukan hanya Shawn yang terkejut tapi mereka semua. Mereka menatap kearah Zevanya dan tidak mengerti maksud gadis itu.


"Maksudmu?". Tanya Shawn tak mengerti.


"Jawab dulu pertanyaan ku. Apa kau siap menjadi Ayah?". Seru Zevanya kesal.


"Bagaimana bisa aku menjadi Ayah menikah saja belum?". Ujar Shawn bingung.


Zevanya mencibir "Belum menikah, tapi sudah kawin berkali-kali". Sindir Zevanya melepaskan tangan Shawn.


"Heheh. Kau bicara terlalu suka jujur Ze". Shawn cenggesan saat tatapan yang lain mengarah padanya.


**Bersambung....


LoveUsomuch ❤️


Yuk yang penasaran endingnya. Ikuti terus ya**.