
SELAMAT MEMBACA.......
Dave memarkir mobilnya di halaman villa. Pria itu bergegas turun sambil membanting pintu mobilnya. Dia berlari masuk kedalam dengan pikiran panik, khawatir menjadi satu padu.
"Selamat siang Tuan".
Namun Dave tak menjawab. Dia masih terus berlari menaiki tangga lift agar bisa segera kekamar gadis itu.
Nafas Dave memburu. Keringat bahkan bercucuran didahinya. Baru kali ini dia merasakan panik dan ketakutan luar biasa. Sebelumnya dia tidak pernah merasa setakut itu dalam hidupnya.
Brakkkkkkkkkkk
Dave membuka pintu. Tangannya terulur menempel dinding pintu untuk mengatur nafas nya.
"Kak, kenapa?". Tanya Deva heran.
"Kau kenapa Dave?". Elena ikut bertanya.
Dave masih mengatur nafasnya. Dia menatap Zevanya yang sudah duduk dikursi roda dengan senyuman manis.
Dave maju dengan nafas yang masih belum normal. Nafasnya memburu. Dia berjalan kearah Zevanya.
"Kenapa Tuan?". Kening Zevanya berkerut dan heran melihat Dave.
Gleppppppppppppppppppp
Dave memeluk Zevanya dengan rasa khawatir dan panik luar biasa. Bagaimana tidak? Dia mendapat telpon bahwa Zevanya mengalami kritis lagi
"Tuannnnnn". Tangan Zevanya terulur mengelus punggung Dave.
"Biarkan sebentar. Kau tidak tahu betapa paniknya aku". Peluk erat Dave.
Elena dan Deva saling melihat ketika mendengar ucapan Dave. Sementara Zevanya cekikian.
"Heheh, maaf Tuan. Aku membuatmu panik ya?". Zevanya melepaskan pelukannya. Dia tidak nyaman dipeluk begitu.
Dave mengangguk "Apa kau baik-baik saja? Deva mengatakan bahwa kau drop lagi?". Cecar Dave memeriksa bagian tubuh Zevanya.
Zevanya menggeleng "Aku yang menelponmu Tuan. Maaf ya". Seru Zevanya menampilkan rentetan gigi putihnya.
"Ck, kau ini.........". Dave mengacak rambut Zevanya dengan gemes.
Dave terdiam ketika banyak rambut Zevanya yang tersangkut di sela-sela jari. Sumpah demi apapun, ketakutan Dave semakin bertambah.
"Heheh maaf Tuan. Aku hanya bosan di villa jelekmu ini. Bisakah kau membawaku berkeliling sebentar?". Pinta Zevanya.
Dave malah terdiam. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dia masih berjongkok didepan gadis itu menatap wajah Zevanya.
"Tuan, kau baik-baik saja?". Zevanya melambaikan tangannya kearah mata Zevanya.
Dave tersadar. Pria itu langsung berdiri. Dalam hati sudah mengumpat kasar, sekaligus malu. Dia pikir Zevanya drop lagi dan sakit lagi. Ternyata gadis ini malah sehat-sehat sambil duduk dikursi roda.
"Tuan". Zevanya menyentuh tangan Dave.
"Apa?". Ketus Dave.
"Ajak aku jalan-jalan. Aku bosan". Renggek Zevanya.
Dave mendelik. Namun dia tidak tega mendengar permintaan gadis itu apalagi melihat wajah menggemaskan Zevanya membuat hatinya tersentuh.
"Baik". Ketus Dave dia memegang kursi roda Zevanya.
"Bi, Deva. Kalian istirahat lah". Suruh Dave.
"Iya Kak".
"Iya Dave". Sahut Elena.
"Sebaiknya kau digendong saja. Aku malas mendorong kursi rodamu itu". Ucap Dave.
"Apa kau kuat mengendongku Tuan? Aku tahu tulangmu patah". Celetuk Dave.
"Sudah jangan banyak bicara". Ketus Dave.
Dia langsung menyelipkan tangannya disela kaki Zevanya dan mengendong gadis itu ala bridal style.
"Berpegang lah".
"Baik Tuan".
Zevanya melingkarkan tangannya dileher Dave. Diam-diam Dave tersenyum. Aroma wangi tubuh Zevanya menyeruak di Indra penciuman nya.
Mereka berjalan memasuki lift. Tubuh kecil Zevanya sama sekali tak membuat tangan Dave pegal.
Sampai di taman, Dave langsung mendudukkan Zevanya dikursi taman. Taman indah.
Villa itu adalah milik Dave. Dave memang memiliki villa disetiap negara. Mengingat dirinya yang sebagai pembunuh bayaran tentu akan banyak munsuh yang mudah menemukan persembunyian nya.
Dave ikut duduk disamping Zevanya. Dia juga menatap kedepan. Menikmati indahnya bunga yang beterbangan. Saat ini tidak sedang musim gugur, jadi tidak ada salju yang mendinginkan tubuh mereka.
"Mommy". Zevanya berteriak memanggil nama Ibunya.
Tatapan Dave teralih pada gadis disampingnya. Gadis itu berteriak sambil tersenyum tanpa beban.
"Kau merindukannya?". Tanya Dave. Dia ingin tahu apakah gadis ini pernah bersedih.
"Sangat". Zevanya mengalihkan tatapannya ke depan "Aku selalu berharap bisa bertemu dia, walau hanya dalam mimpi". Ujar Zevanya. Tatapan Dave semakin lekat "Tapi dia tidak pernah menemui ku. Walau hanya bertanya kabar". Zevanya menghela nafas dalam.
"Apa kau ingat wajahnya?". Tanya Dave. Dia teringat pada dirinya sendiri yang hampir tidak ingat wajah Ayah dan Ibu nya.
"Ingat. Aku selalu menatap foto nya sebelum tidur. Tapi sejak aku diculik olehmu, aku tidak pernah lagi menatapnya. Ponselku juga entah kemana". Celoteh Zevanya.
"Maaf". Dave merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf Tuan? Bukankah kau bilang ingin membalaskan dendam mu pada Sasan?". Ujar Zevanya "Aku tidak masalah menjadi pelampiasan kemarahan mu. Asal Sasan bisa lepas dari dendammu".
Dave terdiam mendengar ucapan Zevanya. Pria itu secepatnya memalingkan wajah kedepan. Apa sebesar itu cinta Zevanya pada keluarga nya hingga rela mengorbankan diri demi sepupunya sendiri?
"Ayo masuk". Dave berdiri "Persiapkan dirimu. Karena kita akan melakukan kemoterapi". Ujar Dave.
Zevanya baru ingat jika dia harus kemoterapi. Dia sampai lupa, karena sejak diculik badannya sering drop jadi tidak ada waktu untuk mengingat hal-hal seperti itu.
"Gendong".
Dave menggeleng gemes. Namun tetap mengendong Zevanya masuk. Mereka menjadi pusat perhatian para pelayan. Ini adalah pertama kalinya, Tuan mereka mengendong seorang gadis. Tentu ini merupakan permandangan langka yang harus dilestarikan.
Dave meletakkan tubuh Zevanya dengan pelan dan telaten. Takut jika sampai gadis itu terluka.
"Istirahat lah". Dave menaikkan selimut Zevanya.
"Tuan, izinkan Moy tidur bersamaku ya?". Pinta Zevanya.
"Tidak". Jawab Dave cepat.
"Tuan.......".
"Tidak. Istirahat lah".
Dave segera keluar dari kamar Zevanya dan tidak mau mengikuti permintaan aneh gadis itu. Bisa-bisa dia gila karena permintaan aneh Zevanya.
Dave duduk diruang kerjanya. Dia menghela nafas panjang sambil bersandar. Kenapa sekarang pikirannya bimbang?
"Tuan.......".
"Ada apa?". Tanya Dave ketus.
"Mereka sudah merencanakan untuk menyerang kita Tuan". Ucap Tian.
"Bagaimana dengan anggota Yakuza?".
"Kami sudah mengatur tim dan mengatur tempat agar mereka tidak bisa menemukan Nona Zevanya". Ujar Tian lagi.
"Bagus". Dave tersenyum smirk.
"Bagaimana dengan rumah sakit yang sudah kalian sewa?".
"Sudah Tuan. Saya sudah membeli 50% saham mereka. Sehingga mereka tidak berani macam-macam dan memperketat penjagaan.
"Bagus". Sahut Dave "Perintahkan anggota untuk berjaga disekitar villa dan rumah sakit. Jangan biarkan satu orang asing pun masuk tanpa sepengetahuan ku". Tintah Dave.
"Baik Tuan". Sahut Tian.
"Tian".
"Iya Tuan?".
"Persiapkan gaun-gaun mahal untuk gadis itu. Pastikan dengan bahan berkualitas. Aku tidak suka baju jeleknya.
"Baik Tuan. Saya permisi".
Meski sedikit terkejut dengan perintah Dave. Namun Tian tetap melakukan nya.
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️