Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 77


Jatuh cinta adalah sebuah perasaan yang dirasakan oleh dua insan manusia.


SELAMAT MEMBACA....


Zean mengantar Fitri, sesuai dengan permintaan gadis kecil itu. Sepanjang perjalanan Fitri tidak berhenti mengoceh selalu saja ada yang gadis itu bicara.


"Hahhah, kau ini ada saja". Tawa Zean pecah mendengar cerita lucu Fitri.


"Kau tidak tahu Kak, bagaimana wajah kesalnya itu?? Rasanya aku ingin sekali meneriakinya, hahaha". Celetuk Fitri.


Willy memperhatikan kedua orang yang duduk dibelakang nya, diam -diam mengintip "Apa benar ini Tuan Zean? Seumur hidup aku tidak pernah melihat Tuan tertaw! Tapi kali ini sepertinya gunung es ini mulai mencair, apa Tuan Zean menyukai Nona ini? Selama ini Tuan Zean tidak peduli pada seorang wanita?". Batin Willy.


"Kak, selain ketua Mafia, apa dirimu juga seorang CEO? Seperti yang di novel-novel?". Tanya Fitri sambil menaikan alisnya naik turun.


"Hmmm, coba tebak! Jika benar aku akan memberikanmu hadiah?". Tawar Zean.


Fitri memperhatikan wajah Zean "Hmmm, sepertinya Kakak bekerja sebagai tabib". Ledek Fitri sambil terkekeh.


"Astaga kau ini!!". Zean mengacak rambut Fitri dengan gemesnya "Kau pikir zaman sekarang masih ada yang begituan?". Ledek Zean.


"Kak Zean, berantakan kan jadinya rambut aku tuhhhh". Fitri memukul pelan lengan Zean, sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakkan.


"Hehhe, maaf!! Sini aku bantuin rapiin nya". Tawar Zean membantu Fitri memperbaiki rambutnya.


"Gadis ini sangat menggemaskan, tadi nya sedih dan menangis histeris. Sekarang tertawa lepas seakan tak ada beban! Lucu sekali, apa aku bisa memiliki gadis selucu ini? Ahhh jika aku bisa memiliki nya bukankah akan menjadi keberuntungan untukku! Tapi tunggu, kenapa aku merasa sangat nyaman saat berada didekat, merasa sangat hangat dan damai?". Batin Zean.


Mobil Zean pun sampai ke Mansion mewah keluarga Wilmar. Mata Zean membulat sempurna saat Fitri mengatakan itu alamat rumahnya. Tentu saja Zean tahu dan mengenal keluarga Wilmar.


"Apa kau tinggal disini?". Tanya Zean pada Fitri.


"Lebih tepatnya menginap Kak". Sahut Fitri sambil membuka pintu mobil.


"Apa Kakak mau mampir?". Tawar Fitri.


Zean tersenyum "Lain kali saja". Balas Zean


"Kak Zean, siapa nama Kakak asisten mu aku belum berkenalan?". Tanya Fitri "Hai Kak perkenalkan aku Fitri". Senyum Fitri mengulurkan tangannya kearah Willy.


"Willy, Nona". Sambut Willy dengan senyum


"Ahhh Kak Willy jangan memanggilku Nona, panggil saja aku Fitri". Protes Fitri.


Willy tersenyum "Nona adalah teman Tuan Zean, jadi sudah sepatut nya saya memanggil dengan panggilan Nona". Ucap Willy Keukeh dan tak mau kalah.


"Terserah sajalah". Kesal Fitri dengan wajah cemberut


"Kak Zean aku masuk dulu ya. Semoga bisa ketemu lagi". Fitri meraih tangan Zean.


Cupppp


Fitri mengecup tangan Zean. Kebiasaannya melekat saat masih di Indonesia.


Zean dan Willy terpaku ditempat duduknya, Zean bahkan tak mampu mengucapkan kata-kata saat tangannya dikecup pertama kali oleh seseorang


"Terima kasih Kak Zean". Fitri keluar dari mobil dan masuk kedalam tanpa menunggu respon Zean dan Willy yang masih mematung ditempatnya.


Didalam mobil Zean masih terdiam


"Tuannnn".


"Tuannnn". Panggil Willy.


Barulah Zean tersadar "Ahhh Wil, kau memgangetkan ku saja". Kesal Zean.


"Maaf Tuan". Ucap Willy saat melihat tatapan horor dari Zean


"Wil, cari semua informasi tentang gadis itu. Jangan ada yang terlewatkan". Tintah Zean


"Baik Tuan". Sahut Willy.


"Jalan Will". Mereka pun meninggalkan Mansion mewah itu.


Drt drt drt drt.


"Hallo Dad".


"Zean, cepatlah pulang ke New York Daddy punya suatu pertunjukkan untukmu". Ucap suara diseberang sana.


"Baik Dad, besok Zean akan pulang ke New York". Sahut Zean "Bagaimana masalah gadis jenius itu apa dia mau diajak bekerja sama dengan Daddy?". Tanya Zean.


"Itu lah alasan Daddy menyuruhmu pulang kesini, Daddy ingin kita membuat sebua rencana supaya gadis itu menerima kerja dengan kita". Jelas pria paruh baya dibalik telpon.


"Baik Dad!!". Zean langsung menutup ponselnya sepihak.


"Willy persiapkan keberangkan kita besok". Printah Zean.


"Baik Tuan". Sahut Willy.


Zean menatap keluar jendela. Bayangannya masih tertuju pada gadis yang beberapa jam terpisah darinya. Gadis unik yang berhasil membuatnya tertarik. Gadis polos yang sangat menggemaskan. Seketika Zean teringat dengan apa yang dikatakan Evan, Dokter itu mengatakan bahwa gadis itu menderita kanker otak stadiun lanjut.


"Willy, Carikan Dokter spesialis kanker terbaik di Amerika dan pastikan dia bisa menyembuhkan gadis itu". Tintah Zean lagi


"Baik Tuan". Hanya itu yang keluar dari mulut Willy.


"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang Nona Fitri". Jelas Willy.


"Bacakan Will". Suruh Zean.


"Namanya, Fitriani Yuri Kwon usia 21 tahun pendidikan terakhir S2 disalah satu Universitas ternama di Amerika dan saat ini dia tinggal di Amerika". Jelas Willy.


"Apa hanya itu informasi yang kau dapat Will?". Tanya Zean tak puas dengan informasi yang diberikan oleh Willy.


"Hanya itu saja Tuan, karena sepertinya identitas Nona Fitri sengaja disembunyikan". Jelas Willy.


"Lalu apa kau tahu, ada hubungan apa Fitri dengan keluarga Wilmar?". Tanya Zean lagi.


"Menurut informasi yang saya dapat dari anak buah kita, Nona Fitri pernah menjadi sekretaris Tuan Fillipo, beberapa bulan yang lalu, Tuan". Jelas Willy lagi.


"Apa hanya itu?". Tanya Zean masih tak puas


"Iya Tuan". Sahut Willy.


Zean mengembuskan nafasnya kasar. Kenapa gadis itu seperti misterius? Baru kali ini Zean kesulitan mencari informasi tentang seorang gadis kecil.


Sedangkan ditempat lain, seorang pria tengah mengumpat dengan kasar dalam telponnya. Ingin sekali ia memaki orang yang menelpon dan menganggu kesenangan nya.


"Ada apa Daddy menyuruhku pulang ke New York?". Tanyanya ketus.


"Daddy, tidak menyeluruh kau bertanya. Sebaiknya turuti perintah Daddy, karena Kakak mu juga akan kembali besok". Geram suara dibalik telpon.


"Baiklah, baiklah Daddy yang berkuasa maka aku akan menuruti saja tintah sang raja". Kesalnya.


"Berhenti memuji Dadddy Son". Suara telpon itu terkekeh mendengar suara kesal putranya.


"Ck". Kesalnya


"Bagaimana apa kau sudah bisa menemukan identitas gadis jenius yang Daddy perintahkan itu?". Tanya suara dibalik telpon itu.


"Aku sudah mencarinya, tapi tidak menemukannya". Pria itu menghela nafas kasar "Sebenarnya apa kelebihan gadis itu sehingga Daddy begitu Keukeh bekerja sama dengannya?". Tanya nya penasaran.


"Hah!! Kau tidak tahu saja jika dia bisa membuat robot". Celetuk suara dibalik telpon itu "Kau tahu, siapa yang membebaskan keluarga Wilmar saat disekap oleh anggota Winner King?". Ucap pria dibalik telpon itu.


"Siapa memang?". Tanya pria itu penasaran.


"Ya gadis jenius itu, bahkan dia bisa menciptakan snipper yang sekali bidikkan mampu melumpuhkan lawan. Maka dari itu Daddy sangat ingin bekerja sama dengannya, bukankah itu sebuah keuntungan bagi kita jika bisa bekerja sama dengan gadis itu?". Sumringah suara ditelpon


"Baiklah, akan kucoba lagi mencarinya". Serahnya "Aku akan menutup telponku, Daddy menganggu kesenanganku saja". Pria itu mematikan telpon sepihak tanpa mendengar ucapan kesal pria paruh baya diseberang sana.


" Edward, siapkan keberangkatan kita besok ke New York". Tintahnya pada sang asisten.


"Baik Tuan". Segera assiten itu melaksanakan perintah Tuan nya.


"Siapa gadis itu? Sejenius apa dia? Apa benar dia bisa merakit senjata apa? Rasanya kurang bisa dipercaya? Hmmm apa kehebatannya sama dengan Tuan Sam??". Gumam pria itu sambil menyenderkan punggungnya.


Bersambung..........