Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 64. S2


SELAMAT MEMBACA...


Disebuah ruangan tampak lima orang berbeda jenis kelamin tengah melakukan sebuah uji coba. Jika seorang gadis cantik tengah sibuk melakukan penelitian nya, maka berbeda dengan keempat orang yang hanya diam sambil menonton. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Dari tadi mereka disuruh diam tanpa melakukan apapun.


"Nya". Panggil Dean jenggah. Sudah hampir dua jam dia hanya menjadi penonton Zevanya.


"Kenapa Dean?". Tanya Zevanya polos seakan tanpa dosa.


Dean mendesah kesal "Kau menyuruh kami menunggu tanpa melakukan apapun. Sebenarnya mau mu apa?". Gerutu Dean mencebik kesal.


Zevanya hanya melemparkan senyum manisnya, sambil mengedipkan matanya kearah Dean. Membuat dokter tampan itu semakin kesal bukan main.


Sementara Lucy juga mulai lelah, Lucy duduk karena sudah hampir dua jam mereka duduk tanpa melakukan apapun, hanya menyaksikan Zevanya melarutkan benda cair berwarna merah dan hijau itu.


Myron juga menghela nafas panjang. Dia pikir Dean benar-benar akan membuat obat di villa Daddy nya. Ternyata semua hanya akalan Zevanya saja, yang melakukan penelitian entah apa namanya Myron juga tidak tahu. Dia hanya menonton saja, tidak bisa berkomentar apapun.


Sama dengan yang dilakukan oleh Luke. Pria yang selalu sabar itu juga mulai kehabisan kesabaran nya. Dia rela mengikuti kegilaan Zevanya dan meninggalkan pekerjaan nya demi menemani sepupunya itu melakukan penelitian.


Zevanya membuat senyawa dan larutan elektrolit serta kimia. Gadis itu terlihat seperti ilmuan yang tengah menguji coba penemuannya.


Zevanya manggut-manggut ketika larutan yang dia buat tercampur dengan sempurna.


"Kalian mendekat lah". Zevanya melambaikan tangan kearah empat orang yang menatapnya dengan malas. Kecuali Myron, pria dingin itu malah terkekeh gemes.


Mereka mendekat kearah Zevanya "Lihat ini". Zevanya menunjuk hasil larutannya. Mereka mengangguk "Ini nanti akan aku gunakan untuk melarutkan pistol yang akan digunakan oleh Kak Ron dan Kak Hem, mempertahankan wilayah timur". Jelas Zevanya.


Mereka semua tercenggang "A-apa yang kau katakan benar Nya?". Tanya Dean tak percaya.


"Ck, aku saja tidak tahu". Ketus Zevanya "Aku kan hanya membuatnya saja. Masalah benarnya aku tidak tahu karena belum mencobanya". Omel Zevanya menatap Dean malas.


Dean mengendus kesal "Jika tidak tahu kenapa kau membuatnya?". Cibir Dean


"Aku saja tidak tahu Dean kenapa aku membuatnya". Kilah Zevanya yang tidak mau menjelaskan.


"Ck, jika kalian terus berdebat kapan selesai nya?". Protes Luke yang juga sebenarnya sudah malas.


Zevanya kembali menatap barang temuannya. Lalu dia mengambil kotak yang cukup besar dibawah mejanya. Dia membuka kotak itu. Disana terdapat empat senjata pusaka yang dia jaga dengan susah payah.


"Ze".


"Nya".


"Kak Zeva".


Keempat orang itu tercengang melihat benda pusaka yang Zevanya keluarkan dalam kotak. Itu adalah senjata api milik Fitri yang pernah dia ciptakan 25 tahun yang lalu. Senjata ini seharusnya di museum kan di wilayah timur. Namun entah dari mana Zevanya mendapatkan benda itu.


"Ck, kondisi kan wajah kalian". Gerutu Zevanya.


"Ze, kapan kau membawa senjata ini? Bukankah harusnya ini dijaga oleh Paman Arthur?". Tanya Myron.


Zevanya tersenyum manis "Triple L yang membawanya Kak. Aku sudah menyogok Paman Arthur untuk meminjamkannya padaku". Sahut Zevanya "Tolong jangan beri tahu ketiga pria itu ya. Mereka bisa melarang ku jika tahu". Pinta Zevanya. Tak lupa jurus andalannya puppy eyes nya. Membuat keempat orang itu diam melonggo dan terpesona.


"Menggemaskan".


"Menggemaskan".


"Menggemaskan".


"Menggemaskan".


Zevanya kesal melihat keempat orang itu menatapnya tak berkedip "Ck, jangan menatapku begitu. Aku tahu aku cantik, tapi jangan juga melihatku begitu takut kecantikan ku luntur karena tatapan damba kalian". Celetuk Zevanya.


Mereka berempat langsung tersandar


"Cih, kau terlalu percaya diri Nya. Kau pikir aku akan terpesona dengan wajah jelekmu itu?". Gerutu Dean memutar bola mata malas. Padahal dia hanya menyangkal.


Zevanya tersenyum menggoda pada Dean. Dia mengedip-ngedipkan matanya menampilkan sisi imutnya didepan Dean.


"Berhenti menggoda ku Nya". Protes Dean.


Zevanya tertawa terbahak-bahak melihat Dean yang salah tingkah. Terlihat lucu apalagi Dean gugup dengan wajah marah.


"Kak Ron, Dean, Luluk. Lihat ini". Mereka melihatnya "Aku sudah memasukkan racun mematikan pada peluru senjata ini. Kalian gunakan dengan baik, dan ingat gunakan saat kalian benar-benar mendesak. Karena senjata ini berbahaya jika digunakan dengan sembarangan". Ketiga pria itu menelan salivanya dengan susah payah "Ingat untuk kalian merahasiakan nya. Kalau sampai Daddy, Kak Hem dan Kak Iel tahu. Maka kalian berempat akan aku jadikan santapan San". Ancam Zevanya.


Keempat orang itu bergidik ngeri melihat tatapan horor Zevanya. Gadis ini seperti bunglon yang bisa berubah warna. Sebentar manja, sebenarnya bertingkah seperti anak kecil dan dalam waktu yang tak diketahui dia juga berubah seperti monster.


"Kak Ron". Zevanya mendekat mengangkat satu senjata untuk Myron "Ini untuk Kakak. Senjata ini pernah digunakan oleh Daddy. Jadi Kakak gunakan dengan baik. Ingat Kak jangan sampai salah, jika salah sedikit saja Mommy ku bisa marah dan menghantui mu". Celoteh Zevanya. Myron yang tadinya tegang menjadi terkekeh pelan.


"Iya Ze". Myron mengambil senjata seperti pistol sangat kecil itu.


"Dean". Zevanya mengambil senjatanya yang satu "Ini untuk mu. Pastikan kau menebak nya tepat mengenai jantung, karena racun yang terdapat dalam peluru ini merontokkan organ dalam tubuh". Dean meneguk salivanya. Lalu menyambut benda itu dari tangan Zevanya


"Baik Nya". Ucap Dean.


Lalu Zevanya mengambil senjata yang satunya lagi.


"Luluk". Zevanya mendekat pada Luke "Pakai ini untukmu. Didalam peluru ini sudah aku lengkapi dengan kamera silinder, jadi kau bisa menggunakan senjata ini untuk mengawasi munsuh dari jarak jauh. Gunakan dengan baik. Kau mengerti Luluk?".


Luke mengangguk paham dan mengambil senjata itu dari tangan Zevanya.


"Lalu yang itu untuk siapa?". Tunjuk Myron pada satu senjata yang masih tersisa.


"Untuk Paman Arthur. Kasihan dia belum pernah memakai senjata secanggih ini". Tungkas Zevanya tersenyum jahil.


Myron tersenyum dengan menggelleng kepala gemesnya.


Drt drt drt drt drt


Ponsel Myron berdering. Dengan cepat pria itu mengambil benda pintar yang berdiam nyaman disaku celananya.


"Shawn". Kening Myron berkerut.


"Hallo Shawn. Apa? Baik aku akan segera kembali. Tolong kalian jaga Markas dengan baik. Hubungi Zehem dan Kiel juga untuk waspada". Myron menutup telponnya.


"Ada apa Kak?". Tanya Lucy, Dean dan Luke serentak. Sementara Zevanya masih fokus dengan senjata ditangannya


"Bielle tertembak. Peluru yang mengenai pergelangan nya mengandung racun berbahaya. Kita harus mencari obat penawar nya". Jelas Myron.


"Bagaimana bisa Kak?". Dean setengah tak percaya.


"Markas di serang. Mereka belum mengetahui siapa dalang dibalik semuanya ini". Jawab Myron "Sebaiknya kita kembali". Ujar Myron "Kita harus bantu mereka". Timpal Myron lagi.


"Kak, masih banyak yang belum aku selesaikan. Sebaiknya Kakak kembali saja bersama Dean dan Luluk. Biar aku dan Cycy menyusul". Ucap Zevanya


"Tapi.......".


"Kembali saja Dean. Ada Cycy yang menemani ku". Potong Zevanya.


"Ze, apa kau tidak apa-apa disini. Atau sebaiknya aku tidak usah kembali dan menemani mu disini". Myron sedikit khawatir. Itu membuat mereka semua mendengar tak percaya.


Zevanya menggeleng "Aku baik-baik saja Kak. Tolong bantu Kak Hem dan Iel". Ucap Zevanya.


Myron menghela nafas "Baiklah". Senyum Myron.


Gleeeeeeppppppppppppp


Pria itu memeluk Zevanya. Membuat Dean, Lucy dan Luke tercenggang. Apa mereka tidak salah lihat?


"Jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa segera hubungi aku". Ucap Myron.


"Iya Kak". Zevanya membalas pelukkan Myron sambil mengusap punggung laki-laki yang menjulang tinggi ini.


"Aku pamit". Myron melepaskan pelukkannya. Lalu mengusap rambut gadis itu dengan sayang.


"Hati-hati Kak". Balas Zevanya.


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️