
SELAMAT MEMBACA.........
Di sebuah ruangan operasi. Tampak seorang gadis tengah terbaring lemah dengan mata terpejam lelap.
ada sekitar lima dokter ahli bedah dan kanker, sepuluh perawat farmasi yang ikut serta bekerja dengan keras untuk mengeluarkan penyakit mematikan dalam tubuh gadis itu.
"Gunting".
"Kasa".
"Jarum".
Sang perawat saling bergantian memberikan benda yang diminta oleh dokter itu.
Bunyi alat pendeteksi jantung menggema dengan nyaring didalam ruangan operasi. Pertanda bahwa operasi masih berjalan dengan lancar.
"Dok, jantung pasien melemah".
"Percepat tekanan nya".
"Baik Dok".
Sedangkan diluar ruangan. Seorang pria tampan tengah duduk mondar-mandir sambil menatap pintu operasi.
Ada juga wanita yang tengah hamil besar disana ikut menunggu. Serta seorang wanita paruh baya yang terlihat tak tenang.
"Dave duduklah". Tegur Elena.
"Iya Bi". Namun Dave masih mondar-mandir tidak jelas.
Pikiran Dave tidak tenang. Sudah lebih dari lima jam. Namun Dokter belum juga keluar dari sana. Dave takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
Tidak lama kemudian Ricardo keluar dari ruang operasi beberapa dokter lainnya.
"Bagaimana Ricard?". Tanya Dave tak sabar. Elena dan Deva juga menghampiri Ricardo.
"Operasi nya berjalan lancar Tuan. Hanya saja, Nona Zevanya mengalami koma. Karena beberapa sel yang menyebar dalam tubuhnya mengalami pembengkakan sehingga membuat otaknya tidak bisa bekerja dalam waktu singkat". Jelas Richard.
"Baik. Berikan perawatan terbaik untuk nya dan pastikan dia tenang dan aman". Tintah Dave.
"Baik Tuan. Sebentar lagi Nona Zevanya akan kami pindahkan keruang ICU". Sahut Ricardo.
"Baik".
Dave meminta izin agar bisa melihat Zevanya sebelum dipindahkan keruang ICU.
Dave menatap wajah pucat gadis itu. Dave meringgis membayangkan betapa kejamnya jarum-jarum suntik menyiksa tubuh Zevanya. Mungkin Dave sudah biasa menyiksa orang tapi saat melihat Zevanya, dia tidak mampu membayangkan sakit yang diderita oleh gadis itu.
"Hei".
Tangan Dave terulur mengelus kepala Zevanya. Oksigen dan selang lainnya mengalir dibagian tubuh Zevanya.
"Cepat sembuh". Lirih Dave "Aku berjanji akan membawamu pergi sejauh mungkin. Tidak akan ada orang yang menemukan kita. Aku akan menjagamu. Aku mencintaimu".
Akhirnya Dave kalah dengan perasaannya sendiri. Dia tidak bisa berbohong bahwa dia mencintai gadis ini. Entah kapan perasaan itu muncul yang jelas Dave takkan membiarkan siapapun merebut Zevanya darinya. Dave akan berjuang dan bertarung melawan Kenzie dan Myron. Zevanya sudah jatuh ke tangannya dan Zevanya adalah miliknya.
Mungkin Dave salah karena jatuh cinta pada tawanannya sendiri. Namun Dave tak bisa menyalahkan dirinya. Karena yang namanya perasaan tidak bisa memilih harus jatuh pada siapa. Ini tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta secara diam-diam pada seorang gadis. Salahkan Dave mencintai Zevanya? Kehadiran gadis itu dalam hidupnya mampu menerangi kegelapan hidup Dave.
.
.
.
Sebenarnya para pria paruh baya itu tidak diizinkan untuk pergi kesana. Namun Fillipo tak mau kalah dia harus mencari putri nya. Fillipo tahu betapa kejamnya Yakuza apalagi mereka bersatu dengan Black Cobra.
"Apa semua sudah siap?".
"Sudah".
"Ayo berangkat".
Para pria paruh baya itu menaiki jet pribadi milik Fillipo. Mereka sudah mengatur strategi untuk melawan Yakuza dan Black Cobra.
"Zaen, Lucas. Apa kalian sudah melacak dimana keberadaan Dave?". Tanya Fillipo pada dua pria paruh baya yang sedang asyik dengan laptop didepan mereka.
"Dia berada disalah satu rumah sakit di Jepang. Tapi sepertinya kita tidak akan bisa masuk". Jelas Zaen.
"Yakuza dan Black Cobra. Sudah mengatur tempat pertemuan. Sepertinya mereka sudah menyusun rencana untuk melawan kita". Sambung Lucas.
"Lalu apakah Myron dan yang lainnya sudah menemukan tempat Dave?". Sambung Mars.
"Sudah". Jawab Lucas "Mereka sedang menuju Markas Yakuza. Seperti yang kita duga bahwa Yakuza dan Black Cobra sudah tahu kedatangan kita". Timpal Lucas lagi
"Bagiamana dengan triple L, apakah mereka bisa membantu untuk membuka sistem keamanan disana?". Sean ikut menimpali.
"Aku akan menghubungi Zehemia".
Fillipo meronggoh ponselnya dan mengubungi putra sulungnya itu. Tidak lama kemudian, Zehemia mengirimkan alamat yang akan dideteksi oleh Ayahnya.
Sementara Zean tak merespon apa-apa. Kejadian yang menimpa kedua anaknya membuat pria paruh baya itu merasa gagal menjadi seorang Ayah. Sebenarnya Zean dilarang ikut namun dia bersikeras untuk mencari keberadaan Zevanya. Demi menghilangkan pikiran nya yang kacau.
.
.
.
.
Zevanya dipindahkan keruang ICU. Dave ikut mendorong brangkar gadis itu. Dia harus memastikan bahwa Zevanya baik-baik saja.
Diruang ICU VVIP. Yang dilengkapi dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Bahkan ranjang tidur Zevanya saja sangat besar dilengkapi dengan bedcover mewah.
Elena dan Deva ikut masuk kedalam ruangan itu. Menjaga Zevanya. Sebenarnya tidak boleh banyak orang yang masuk karena bisa menganggu istrirahat pasien. Namun Dave meminta izin tentunya dengan berbagai ancaman.
"Kak Zeva". Deva menggenggam tangan Zevanya "Cepat bangun Kak. Sebentar lagi aku lahiran. Apa Kakak tidak ingin melihat bayi tampanku?". Celetuk Deva sambil mengenggam tangan lembut Zevanya.
Elena juga ikut menimpali "Iya Nak. Ayo bangun. Kami merindukanmu". Sambung Elena.
Dave tersenyum hangat mendengar ucapan Deva dan Elena. Dave bersyukur karena Deva dan Elena tidak menanyakan banyak tentang Zevanya dan bahkan kedua wanita itu menyambut kedatangan Zevanya dengan tangan terbuka....
**Bersambung..
LoveUsomuch ❤️
Sekian dulu guyssss....
Maaf kemarin tidak up.. Karena sibuk dan lain hal**...