Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 82


Hubungan yang bahagia bukanlah hubungan yang berlandaskan harta atau tahta, tapi berpusat pada saling percaya satu sama lain dan komitmen yang kuat


SELAMAT MEMBACA.


*Tap


Tap


Tap*


Suara langkah kaki terdengar begitu keras menuju ruang tersebut.


Michael tertawa sinis, saat mengetahui siapa yang datang.


"Tamatlah riwayat mu, Philip Sam". Sentak Michael sambil tertawa penuh kemenangan.


"Selamat tinggal kawan lama". Ejek Park.


Sementara Fitri, gadis itu sudah tersungkur dilantai dengan tubuh yang dipenuhi luka. Tangan dan benar-benar terasa sakit. Sepertinya panah yang mengenai lenggannya mengandung racun.


"Jika ini akhir dari hidupku. Jaga mereka yang kusayangi Tuhan". Batin Fitri sambil menyeka darah yang mengalir dihidungnya.


Datanglah lima orang pria berjas dengan tampilan bak model terkenal. Tubuh yang atletis, dan wajah yang tampan. Meskipun diantara salah satunya sudah terlihat berumur, namun tak mengurangi kadar ketampanan dari pria tua ini.


"Terima kasih Kak, kau sudah menangkap mereka untukku". Park memeluk pria paruh baya itu dengan bahagia.


"Asal kau bahagia, apapun akan kulakukan untukku". Balas pria paruh baya itu.


Mata Zean dan Zaen bertemu dengan Sean. Ketiga pria itu saling menatap dengan intes. Zean sampai tak berkedip menatap Sean dan begitu dengan Zaen. Zaen menyelidik wajah Sean, seperti tidak asing.


Zaen menyenggol lengan Zean dan berbisik "Apa kau merasa dia mirip kita?". Tanya Zean


"Iya". Sahut Zean singkat matanya masih menatap pada Sean "Apa mungkin dia saudara kembar kita?". Bisik Zean juga. Mereka berdua saling berbisik.


Pedrosa melihat kedua putranya dan mengalihkan pandangan pada Sean. Lalu Pedrosa tersenyum smirk. Tentu saja Pedrosa tahu mereka menyadari bahwa wajah mereka mirip karena mereka memang saudara kembar


Sean terpaku menatap kedua pria yang mirip dengannya. Sean menatap dengan penuh tanda tanya "Siapa mereka? Kenapa mirip sekali dengan ku?". Batin Sean.


"Kenapa sangat mirip sekali dengan Sean? Apa benar putraku kembar tiga? Lalu siapa yang membawa keduanya pergi?". Mata dan berkaca-kaca. Mereka berempat saling menatap satu sama lain. Sedangkan Pedrosa hanya menampilkan senyum smirk. Pedrosa tahu jika Sam menyadari bahwa putranya kembar yang terpisah 32 tahun yang lalu.


Fitri mencoba berdiri, mengumpulkan sejuta keberanian. Ia menyeka dengan kasar air mata yang mengalir di pipinya.


Seketika pandangan Zean, Zaen dan Pedrosa bertemu dengan Fitri.


*Deg


Deg


Deg*


Pedrosa diam mematung "Fitri". Lirih Pedrosa membeku ditempatnya.


Fitri menatap Pedrosa. Gadis itu berusaha mengingat pria paruh baya yang sedang menatapnya itu


"Ayah". Kalimat itu lolos dimulutnya.


Deg


Sementara Zean matanya berkaca-kaca menatap gadis itu. Gadis yang merasuki pikirannya akhir-akhir ini.


"Fitri". Teriak Pedrosa berlari kearah gadis itu. Air mata membendung dimata tuanya


Sementara yang lain dibuat tercengang dengan teriakkan Pedrosa dan panggilan Fitri yang memanggil Pedrosa Ayah.


"Ayah". Tangis Fitri.


Pedrosa langsung memeluk gadis kecil itu. Memeluknya dengan erat dan seerat mungkin. Mereka saling bertangisan.


Yang lainnya masih dibuat tercenggang. Terutama Sam dan Sean, menatap dengan penuh tanda tanya. Darimana Fitri mengenal Pedrosa dan Pedrosa mengenal Fitri


"Nak". Tangis Pedrosa pecah.


"Ayah". Balas Fitri juga. Ia menangis dengan hebat melepaskan semua kerinduan pada pria tua ini. Pria tua yang sempat memberikkanya kasih sayang seorang Ayah.


Flashback on.


5 lima tahun lalu di kota New York, Amerika Serikat. Salju berterbangan kian liar memenuhi pinggiran jalan, bahkan baju tebal pun terasa tembus mengenai kulit.


Pedrosa berlagi terengah-engah, peluru sudah bersarang dibagian perut kanannya. Sementara beberapa pria berbadan kekar mengejarnya. Pedrosa berusaha berlari dan berlari entah kemana. Hawa salju yang sejuk membuat langkahnya lambat..


Brukkkkkkk


Pedrosa terjatuh dan tak sadarkan diri. Wajahnya memucat tanpa darah. Para pria berbadan kekar itu segera meninggalkan Pedrosa yang terletak dipinggir jalan.


Fitri baru keluar dari restorant itu. Ia memakai pakaian tebal ditubuhnya. Fitri bekerja paruh waktu, disalah satu restourant besar di New York. Pekerjaan sampingan sembari kuliah. Ya Fitri berkuliah disalah satu Universitas ternama, yaitu Harvard University, melanjutkan S2. Namun ia harus menunggu beberapa tahun lagi sampai usianya ke 20 tahun, usianya baru menginjak 16 tahun. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Fitri mengasingkan diri dan tinggal di negeri Paman Sam tersebut.


Hingga ia melihat seseorang terbaring ditepi jalan. Fitri berlari menghampiri orang itu.


"Tuan". Panggilnya menepuk lengan pria itu berusaha membangunkan. Namun tak ada pergerakkan.


"Astaga, darah". Pekik Fitri saat melihat baju pria itu sudah dilumuri darah.


Fitri mengacak pergelangan tangan pria itu untuk memastikan apakah pria itu masih hidup "Sepertinya dia masih hidup". Gumam Fitri "Tapi bagaimana cara aku membawanya?". Fitri tampak berpikir.


Fitri memanggil taksi yang kebetulan lewat.


"Tuan, bisakah membantuku mengangkatnya?". Pintanya pada supir taksi.


"Tentu saja Nona". Sahut supir taksi itu membantu Fitri memapah pria itu.


Fitri pun membawa pria itu ke Apartement sederhananya. Apartement yang ia sewa untuk menjadi tempat tinggal sementara nya.


Sampai Apartment, sang supir taksi membantu Fitri memapah pria itu untuk masuk kedalam Apartementnya.


"Ini ongkosnya Tuan, terima kasih". Fitri menyedorkan selembar uang dolar Amerika kepada sang supir.


"Terima kasih Nona". Sahut supir tersebut "Apa Nona tidak membawa Ayah Nona ke rumah sakit?". Tanya sang supir khawatir melihat pria itu sudah pucat.


Fitri tertegun saat sang supir mengatakan pria itu Ayah nya "Ahh, tidak aku akan merawatnya Tuan". Senyum Fitri.


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi". Sang supir pun berlalu meninggalkan Apartement Fitri.


Fitri langsung membuka jaket tebal pria paruh baya itu. Bisa Fitri lihat bekas tembakkan dan peluru yang bersarang diperutnya.


Dengan kepandaian dan otaknya yang jenius, Fitri membuat racikkan obat dan dengan berani mengeluarkan peluru itu dari dalam perut pria paruh baya yang ia tolong tadi. Fitri menarik keluar peluru itu dengan gunting yang memang ia sediakan di Apartementnya.


Fitri menjahit luka itu dengan telaten seakan sudah terbiasa, padahal baru pertama kalinya. Dia juga membalutnya dengan perban dan obat yang ia racik sendiri.


Setelah semuanya selesai, Fitri membersihkan tubuh pria itu. Layak seorang anak merawat Ayahnya. Tak terlihat wajah lelah padanya. Dia sangat telaten mengurus pria itu.


Esok paginya, pria itu mengerjab-ngerjabkan matanya. Pantulan sinar mata hari membuat matanya terasa silau. Ia perlahan membuka matanya serasa ada beban berat dikepala dan perutnya. Kepalanya serasa sakit, dan perutnya serasa diikat. Ia mengedarkan pandangan, dan matanya membulat sempurna saat melihat seorang gadis tidur duduk dengan kepala ditelungkupkan di sofa.


"Siapa dia?". Lirih pria itu "Aku dimana?". Dia berusaha duduk dan mengumpulkan sejuta kekuatan dalam tubuhnya.


Fitri perlahan membuka matanya, ia merenggangkan otot-otot tulangnya.


Matanya langsung teralih pada pria yang sedari tadi menatapnya "Paman sudah sadar?". Tanyanya dengan senyum manis mendekati pria itu.


Pria paruh baya itu menatap Fitri dengan penuh tanda tanya "Tenanglah Paman, jangan takut. Apa masih sakit?". Tanya Fitri dengan penuh perhatian.


"Siapa kau?". Tanya pria itu dingin dengan wajah datarnya sambil memijat kepalanya yang terasa berdenyut dan berat.


"Perkenalkan aku Fitri". Fitri mengulurkan tangannya "Aku menemukan Paman didekat restourant tempat aku bekerja, karena aku tidak tahu rumah Paman dimana, jadi aku membawa Paman kesini". Jelas Fitri menanti pria itu menerima uluran tangannya


Pria itu pun menyambut uluran tangan Fitri "Pedrosa". Sambut pria itu dengan wajah dinginnya.


"Paman, apa memang wajahmu selalu dingin begitu?". Celetuk Fitri tanpa rasa takut.


Pedrosa langsung terkesiap mendengar ucapan Fitri lalu terkekeh "Apa wajahku sedingin itu?". Tanya Pedrosa dengan tawa kecil.


"Nah begitu donk Paman, kan terlihat tampan dirimu". Goda Fitri.


"Kau ini". Pedrosa mengacak rambut Fitri dengan gemesnya.


"Paman". Kesal Fitri memperbaiki rambutnya yang berantakan. Sudah bangun tidur dan muka bantal ditambah rambut acak-acakkan membuat gadis itu semakin kesal.


"Hahhahha". Pedrosa tertawa lepas.


"Paman, istirahatlah. Aku akan membuatkan sarapan untukmu". Ujar Fitri "Apa Paman, mau mencuci muka dulu, biar Fitri bantu?". Tawar Fitri


Pedrosa tersenyum "Boleh". Ucap Pedrosa.


Lalu Fitri membantu Pedrosa menuju kamar mandi di Apartementnya.


"Paman, bisa cuci wajah sendiri. Atau aku yang cuci?". Goda Fitri sambil terkekeh.


Pedrosa kembali tertawa "Paman, bisa sendiri". Ucap Pedrosa.


"Baiklah, aku keluar. Jika Paman sudah selesai, panggil saja aku. Aku ingin membuat sarapan untuk kita". Kata Fitri dan Pedrosa hanya mengangguk saja. Lalu Fitri meninggalkan kamar mandi dan menuju dapur.


**Bersambung.......


Jadi sudah tahu siapa gadis yang ditunggu dan dicari Pedrosa selama ini? Gadis yang berhasil membuatnya trauma terhadap wanita dan gadis yang menyelimuti kesepiannya..


Yuk ikuti terus ya guys....


Love U all


GBU** .....