Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 43. S2


SELAMAT MEMBACA....


Sampai diruangan dokter itu. Sang dokter segera membantu Zevanya untuk duduk dikursi depannya.


“Apa sakitnya akan lama dok?”. Tanya Zevanya. Bukan apa jika dia kesakitan begitu, akan membuat semua orang curiga terutama Daddy dan kedua Kakak nya.


“Tidak. Aku akan memberimu obat nyeri supaya sakitnya hilang. Minumlah”. Sang dokter memberikan sebutir obat dan segelas air putih pada Zevanya.


“Terima kasih Dok”. Zevanya mengambilnya dan meminumnya hingga air dalam gelas itu tandas, akhir-akhir ini dia sering merasakan dehigrasi dan haus yang berlebihan.


"Seperti iklan dok, baru diminum langsung hilang". Celetuk Zevanya. Sang dokter terkekeh.


Sang dokter terseyum manis menatap wajah cantik Zevanya. Dia sampai menahan dan berusaha menyembunyikan wajah ronanya takut jika Zevanya tahu bahwa dia sedang salah tingkah.


“Apakah hasilnya keluar hari ini dok?”. Tanya Zevanya meletakkan gelas itu.


“Tunggu sebentar lagi hasilnya akan keluar”. Sahut sang dokter “Boleh aku minta nomor ponselmu?”. Pinta sang dokter “Maksudku biar aku bisa memberitahumu kapan saja kau bisa cek kesehatan”. Dia mencari alasan supaya Zevanya mau memberikan nomor ponselnya.


“Tentu saja dok”. Zevanya menyambut ponsel sang dokter lalu menuliskan nomornya disana. Dia juga langsung memanggil nomornya.


“Masuk Dok”. Zevanya menunjukkan layar ponselnya.


Tok tok tok


“Masuk”.


Orlando masuk dengan membawa amplop berwarna putih ditangannya.


“Permisi Dok. Ini hasil test Nona Zevanya”. Orlando menyerahkan amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit Mendes Hospital’s.


“Terima kasih”. Sahutnya sambil mengambil amplop itu.


Zevanya tampak tak sabar melihat isi amlop putih itu. Dia bahkan seakan ingin membantu sang dokter untuk membukannya. Diam-diam dokter itu tersenyum ketika melihat wajah tak sabar Zevanya yang justru terlihat menggemaskan.


“Bagiamana Dok?”. Tanya Zevanya tak sabar saat dokter itu sudah membuka amplop berwarna putih yang didalamnya terdapat satu kertas.


Dokter itu malah terdiam membeku. Dugaannya benar. Dia tidak tahu harus berbicara apa pada gadis yang ada didepannya ini. Apakah senyum gadis ini akan memudar saat tahu penyakitnya?


“Dok”.


Namun sang dokter masih tak bergeming. Zevanya merebut kertas itu ditangan sang dokter.


“Nona”.


Zevanya membeku ketika membaca hasil pemeriksaannya. Dia yang memiliki otak jenius tentu saja paham apa yang tertera didalam kertas itu.


Zevanya berusaha tenang dia tak boleh menangis apalagi panic. Dia yakin setiap penyakit pasti ada obatnya.


“Nona”.


Zevanya melipat hasil testnya. Lalu dia meletakkan diatas meja. Zevanya tersenyum kearah dokter yang malah masih terdiam menatapnya dengan sendu.


“Dok”. Zevanya melambaikan tangan kearah sang dokter.


“Iya Nona”. Dia tersadar.


“Bisa jelaskan dok Sarkoma Jaringan Lunak itu apa?”. Tanya Zevanya “Otakku tidak sampai disana untuk paham nama penyakit itu, hehe”. Seru Zevanya cenggesan.


Dokter itu malah terlihat menghela nafas berat “Sarkoma Jaringan Lunak adalah tumor ganas atau kanker yang bermula di jaringan lunak. Tumor ini dapat tumbuh pada jaringan lunak dibagian tubuh mana pun, tetapi umumnya muncul di area perut, lengan dan tungkai”.


“Jaringan lunak adalah jaringan yang menunjang dan menghubungkan struktur di sekeliling tubuh. Jaringan yang termasuk kedalam jaringan lunak antara lain, lemak, otot, pembuluh darah, saraf, tendon, tulang dan sendi”.


“Berdasarkan lokasi kemunculan sel kanker, sarcoma jaringan lunak terbagi ke dalam beberapa jenis”


“Ada Angionasarcoma, yang dapat terbentuk di pembuluh getah bening atau dipembuluh darah”.


“Chondrosarcoma yang berbentuk jaringan tulang rawan”.


“Gastroinestinal stromal tumor, yang terbentuk disaluran pencernaan”.


“Leiomyosarcoma, yang terbentuk di jaringan otot polos”.


“Liposarcoma, yang terbentuk dijaringan lemak”.


“Neutrofibrosarcoma, yang terbentuk di selubung saraf tepi”.


“Rhabdomyosarcoma, yang terbentuk dijaringan otot rangka”.


Zevanya manggut-manggut mendengar penjelasan sang dokter. Wajah gadis itu justru terlihat biasa saja.


“Setidaknya bukan leukemia ‘kan dok?”. Seru Zevanya tanpa beban.


Dokter itu malah tercenggang mendengar pertanyaan gadis didepannya ini. Wajahnya biasa saja tanpa terkejut apalagi takut.


“Bukankah kanker bisa dioperasi atau di potong dok, jadi aku masih bisa sembuh”. Ujar Zevanya dengan senyum mengembang.


“Iya”. Sahut dokter itu singkat “Kapan Nona siap untuk melakukan kemoterapi?”. Tanya dokter itu lembut.


Zevanya mengetuk-ngetuk jarinya dimeja seakan berpikir keras. Hal itu tak luput dari tatapan sang dokter didepan nya


“Aha”. Pekik Zevanya.


Dokter itu sampai mengelus dada saking terkejutnya. Andai saja yang didepannya ini bukan seorang gadis sudah dipastikan dia meledakkan kepalanya.


“Hehhe, maaf. Aku membuat dokter terkejutnya?”. Zevanya menampilkan rentetan gigi susulannya dengan wajah menggemaskan “Setelah aku berpikir sangat keras, maka aku memutuskan bulan depan saja”. Ucap Zevanya mengerjab-ngerjabkan matanya. Dokter didepannya malah memalingkan wajahnya takut terpesona dengan gadis yang ada didepannya ini.


“Bagaimana dokter?”. Tanya Zevanya heran melihat dokter itu menghindari tatapannya.


“Apa itu tidak terlalu lama? Bagaimana jika nanti kau drop?”. Cecar sang dokter.


Zevanya malah melonggos “Tenang saja dokter. Aku gadis kuat, jadi tidak akan drop”. Senyum Zevanya mengambil tas munggilnya “Kertas ini aku titip saja padamu dokter. Aku pamit ya, byee”. Zevanya mellenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari sang dokter yang masih menatapnya tak percaya.


Dokter itu adalah Kenzie Deventer, pemimpin kelompok Mafia Cut Silent. Dia sudah menyelidiki latar belakang Zevanya dan tahu siapa gadis yang baru saja keluar dari ruangannya itu.


Kenzie menghela nafas berat, beberap kali pria itu mengusap wajahnya kasar.


“Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti gadis itu?”. Gumamnya “Saat melihat wajah menggemaskannya saja aku bisa lupa diri”. Dia menyenderkan punggungnya.


“Apa aku culik saja dia dan bawa pergi jauh? Tidak, tidak. Dia bukan gadis yang bisa aku bodohi”. Dia tampak frustasi memikirkan Zevanya.


“Tapi dia menderita penyakit serius namun wajahnya seakan tanpa beban. Sungguh gadis yang unik”. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik. Sudah lama Kenzie tidak tersenyum seperti itu “Pantas saja Zoalva sangat menyukai gadis itu”. Gumamnya masih dengan senyum yang mengembang.


“Apa aku gunakan saja alasan ini untuk membawanya pergi?. Sepertinya sangat menarik. Aku akan melihat wajah tua Bangka itu kehilangan putri kesayangannya”. Kenzie tersenyum licik “Zevanya Anggela Wilmar”. Ucap Kenzie mengingat nama gadis itu.


“Ryan, tolong carikan dokter spesialis kanker terbaik. Pastikan dia bisa menyembuhkan berbagai kanker termasuk kanker jaringan lunak”. Tintahnya melalui gawai yang dia tempelkan ditelingannya.


“Baik Tuan”.


Kenzie meletakkan kembali ponselnya. Dia tersenyum saat mengingat wajah cantik Zevanya. Gadis itu sungguh lugu dan juga polos. Kenzie semakin tak sabar untuk membalaskan dendamnya pada Fillipo, Myron dan Zehemia.


Namun sekilas senyum diwajah Kenzie berubah saat mengingat penyakit Zevanya. Dia menghembuskan nafas pelan “Kenapa aku jadi gelisah begini mengingat penyakitnya? Bukankah harusnya aku senang jika dia mati dan artinya dendamku bisa terbalas?”. Desah Kenzie yang tak mengerti dengan perasaannya sendiri.


“Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis itu. Aku hanya terobsesi untuk menghancurkan Ayahnya saja bukan jatuh cinta”. Sergahnya menyankgkal perasaannya sendiri.


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️