Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 84


**Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagia nya sebuah pertemuan setelah sekian lama perpisahan.


SELAMAT MEMBACA**..


Fitri dan Pedrosa saling berpelukkan dengan erat Isak tangis menggema di ruangan itu.


"Ayah". Fitri masih tidak percaya, pria yang ia tunggu selama lima tahun ini berada didepannya.


"Fitri". Pedrosa tak kalah haru, ia sampai berulang kali menyakinkan dirinya bahwa gadis yang didepannya ini adalah gadis yang sudah menolongnya. Gadis yang ia cari selama lima tahun belakangan ini. Gadis yang berhasil membuka matanya melihat dunia.


Yang lain masih terdiam membisu, terutama Zean. Pria yang satu ini masih mematung ditempatnya. Ia ingin berlari memeluk gadis itu.


"Kak, apa yang kau lakukan kenapa kau memeluk ****** itu dan memanggilnya anak?". Sentak Park sedari tadi ia sudah dibuat bingung dengan sikap Kakak nya ini.


Pedrosa melepaskan pelukkannya pada Fitri. Tangannya terkepal saat Park mengatakan putrinya gadis ******.


"Iya Paman, apa yang kau lakukan? Dia milikku jangan berani-berani kau menyentuhnya". Michael menarik Fitri dengan kasar.


Pedrosa mengeraskan rahangnya, ia menatap tajam kearah Park dan Michael dengan sorotan membunuh.


Sean dan Fillipo melepaskan ikatan talinya. Mereka berdua berdiri dan menghampiri Park dan Michael.


Brughhhhhhhhhh


Sean memukul wajah Park dengan keras.


Brughhhhhhhhhh


Fillipo melayangkan pukulan ke wajah Michael. Fillipo menarik Fitri, membawa gadis mendekat kepada Pedrosa. Karena ia tahu bahwa Pedrosa tidak akan menyakiti Fitri.


"Brengsekkkk". Teriak Michael mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Fillipo menghajar Michael membabi buta.


"Brengsekkkk, berani-beraninya kau menyakiti gadis ku". Teriak Fillipo. Fillipo benar-benar menghajar Michael tanpa ampun. Tidak, Fillipo tidak akan mengampuni pria jahat tersebut. Fillipo melihat sendiri bagaimana ia menyiksa dan menampar Fitri.


Michael tersungkur dengan wajah lebam. Fillipo mengambil belati yang terletak dilantai milik Michael.


Fillipo mendekati Michael dengan tersenyum sinis. Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan pria itu.


"Hmm, kau pikir dirimu sehebat Mike? Kau tidak tahu saja jika gadis ku itu jenius!! Jangan sekali-kali berpikir membawanya pergi dari sini". Ucap Fillipo mengejek. Dia memainkan belati itu diwajah Michael.


Sretttttttt


"Arggghhhhh". Teriak Michael menggema dan histeris menahan sakit diwajahnya.


Fillipo mengambil tangan Michael. Ia menarik paksa jari-jari Michael.


Sretttttttt


"Arggrrrhhh". Teriak Michael saat jari-jarinya dipotong oleh Fillipo.


"Brengsekkkk, bunuh saja aku". Teriak Michael tidak mampu menahan sakit.


"Hmm, membunuhmu terlalu mudah. Tangan jelekmu ini telah melukai gadis ku". Tatap Fillipo dengan sinis.


Sretttttttttt


"Arggrrrhhh". Fillipo kembali menyayat lengan tangan Michael hingga darah bercipratan ke wajahnya.


"Mata ini, mata yang kau gunakan untuk melihat wajah cantik gadis ku". Fillipo mencongkel mata Michael


"Arggrrrhhh, hentikan bajingan". Teriak Michael begitu mengerikan rasa sakit dimata dan tangannya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Hahah hentikan katamu". Tawa Fillipo mengejek Michael.


Srettttttttt


"Arggghhhhh". Fillipo juga memotong lidah Michael dengan sadis dan tanpa belas kasihan.


"Ini akibat, kau berani bermain-main denganku. Apalagi menyentuh milikku!". Ucap Fillipo "Kau tidak tahu, sedang berhadapan dengan siapa. Jangan kau pikir aku diam saja selama kau mempermainkan ku, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membalasmu". Bentak Fillipo ditelinga Michael.


Dor dor dor dor dor.


Fillipo menembak Michael sebanyak lima kali


Brukkkkkkk


"Itulah akibat kau telah mengusik putraku". Batin Philip yang hanya jadi penonton


Michael ambruk dan meninggal dalam keadaan mengerikan. Kedua jari tangannya dipotong, matanya dicongkel dan lidahnya pun terlepas dari tangannya. Sementara peluru itu bersarang dijantung dan otaknya.


Sementara yang lain sampai menutup mata melihat siaran langsung pembunuhan kema itu.


Sean tak kalah kejam, ia menyerang Park dengan membabi buta. Memukul wajah pria itu tanpa belas kasihan.


"Kak tolong aku". Teriak Park meminta tolong pada Pedrosa. Tapi Pedrosa, pria itu diam tak bergeming sambil memeluk Fitri dengan erat.


*Sretttttttt


"Arggghhhhh".


*Sretttttttt


Sretttttt*


Sean mencincang tubuh Park dengan sadis. Sehingga tubuh itu, tidak berbentuk. Tubunya terpisah-pisah, bahkan kepalanya pun sudah mengeluarkan otak.


Sean lebih kejam dari Fillipo, bahkan ia sama sekali tidak merasa takut saat menghabisi Park tanpa perikemanusiaan.


"Itu akibat kau berani menyakiti orang yang paling kusayangi. Maka takkan ada kata ampun yang kuberikan". Tatap Sean sambil membuang pedang yang ia gunakan untuk membunuh park.


Fillipo masih belum puas. Ia menatap James yang didalam jeruji besi. Lalu ia mendekati James dengan sorotan membunuh.


"Apa kau ingat saat memfitnahku James?". Sorot tajam matanya terlihat sangat jelas.


"Hahah, tentu". Tawa James sinis.


Dor dor dor dor dor dor.


Fillipo menembak James beberapa kali. Hingga pria itu tersungkur tak bernyawa.


Sementara Fitri. Gadis itu semakin gemetaran saat melihat Sean dan Fillipo membunuh begitu kejam. Ia sampai memejamkan matanya tidak mau melihat adengan kejam itu. Adengan itu mengingatkannya pada pembunuhan kedua orang tua angkatnya yang dibunuh oleh Dhanny


"Cece".


"Fitri".


Setelah sadar kedua pria itu langsung menghampiri Fitri yang masih setia dipelukkan Pedrosa.


"Kakak".


"Tuan Fillipo".


Fitri berhambur memeluk kedua pria itu.


"Maafkan Kakak sayang". Tangis Sean "Harusnya Kakak melindungi mu". Timpal Sean.


"Hiks hiks". Fitri hanya menangis memeluk kedua pria itu.


"Kau baik-baik saja sayang?". Tanya Fillipo untuk pertama kalinya ia berani memanggil Fitri dengan panggilan sayang, saat Fitri mengatakan bahwa Fitri mencintai dirinya.


Fitri tak menjawab hanya menangis saja.


Fitri melepaskan pelukannya. Ia tak dapat berkata apa-apa lidahnya terasa kelu dan kaku.


"Cepat, suntikkan obat penawar pada mereka semua". Perintah Pedrosa pada semua anak buahnya.


"Baik Tuan". Sahut mereka.


"Kuburkan mayat Park, Michael dan James segera mungkin. Jangan tinggalkan jejak". Tegas nya lagi.


"Baik Tuan". Sahut mereka.


"Fitri". Panggil suara yang sangat Fitri kenal.


Fitri menoleh kearah suara itu "Kak Zean". Ucap Fitri berkaca-kaca. Zean menghampiri Fitri dan memeluk gadis kecil itu.


"Kau baik-baik saja Girl? Apa yang sakit?". Tanya Zean khawatir sambil melihat luka ditangan Fitri.


Fitri hanya menggeleng menandakan bahwa dia baik-baik saja. Padahal seluruh tubuhnya serasa hancur.


"Sayang". Sam juga menghampiri putrinya. Fitri berhambur ke pelukkan Sam.


"Daddy". Tangis Fitri pecah.


"Maafkan Daddy sayang". Sam mengusap kepala Fitri dengan sayang, mencium pucuk kepala putri kesayangannya itu.


Sepekian detik tak terdengar Isak.


"Sayang". Panggil Sam.


"Sayang". Sam melepaskan pelukkannya dan ternyata Fitri sudah tak sadarkan diri.


"Fitri". Teriak Fillipo, Pedrosa dan Zean. Sementara Zaen dari tadi pria itu terdiam. Gadis yang ia temui di Minimarket itu adalah gadis yang sama yang selama ini dicari oleh Daddy nya dan disukai oleh Kakaknya.


"Cece". Panggil Sean.


"Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit. Kondisi nya cukup kritis". Saran Yoshua entah darimana datangnya pria itu. Dari tadi dia ingin berlari memeluk Fitri namun melihat begitu banyak pria yang berada disamping gadis itu, ia mengurungkan niatnya.


"Cepat siapkan jet pribadi". Teriak Pedrosa.


Fillipo mengendong tubuh Fitri ala bridal style. Tanpa peduli dengan teriakkan Sean yang ingin menggendong adiknya. Fillipo peduli. Ia ingin segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Ia takut, Fitri akan pergi meninggalkan nya lagi.


Bersambung...