
SELAMAT MEMBACA.....
Zevanya melangkah dengan tatapan kosong. Dia berjalan menuju pemakaman Ibunya. Air mata sudah luruh dari tadi dipipi cantiknya. Gadis berisik dan ceria itu terlihat sangat rapuh. Beginilah Zevanya setiap kali sedih dan ada masalah dia pasti datang dipemakaman Ibunya. Dia akan meluapkan semua perasaan sakitnya. Mengungkapkan perasaannya diatas pusara sang Ibu.
“Mommy, hikssss”. Zevanya tersungkur dipemakanan Fitri. Dia memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Ibunya.
“Mommy, Mommy, Mommy hikssss. Zeva rindu Mommy. Zeva ingin bertemu Mommy. Zeva ingin peluk Mommy. Zeva ingin menangis sepuasnya dipelukkan Mommy. Mommy”. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk batu nisan itu. Dia meluapkan semua emosi yang mengendap. Masih terbayang dibenak Zevanya, saat Mommy nya pergi dua puluh tahun yang lalu. Saat dia berusia lima tahun. Usia gadis kecil yang masih sangat butuh pelukkan dan kasih sayang seorang Ibu. Namun Zevanya sudah kehilangan itu sejak usia lima tahun.
“Mommy, apa yang harus Zeva lakukan? Gege benci Zeva Mommy. Gege salah paham. Gege tidak mau lagi berteman dengan Zeva. Gege juga menyuruh Zeva berhenti mengurus butik Mommy”. Adu Zevanya bercerita, seakan bercerita pada benda hidup. Dia segugukan seperti anak kecil yang mengadu pada Ibunya.
“Zeva tidak mau cerita sama Daddy, dia pasti sedih. Zeva juga tidak mau buat Kak Hem dan Kak Iel memikirkan Zeva terus. Zeva harus bagaimana Mommy? Zeva sayang Gege, dia saudra Zeva, hikss”.
Zevanya merasa kehilangan yang teramat sangat atas kepergian Ibunya. Tak bisa dipungkiri meski kedua Kakak dan Daddy nya sangat menyanyangi dan memperlakukannya seperti ratu. Zevanya tetap merasa iri saat melihat orang lain masih bisa bersama Ibunya tertawa dan bercerita bersama. Zevanya menutupi segala rasa sakitnya saat dia merasakan rindu pada Ibunya. Saat para sepupunya bercerita tentang bagaimana Ibu mereka membuatkan makanan kesukaan mereka. Zevanya menahan sakit didadanya, dia iri, dia cemburu. Dia juga ingin memakan masakkan Ibunya, seperti yang pernah dia makan waktu masih kecil. Namun bagaimana lagi takdir tak berpihak padanya. Dia kehilangan kasih sayang itu sejak kecil.
Zevanya memeluk batu nisan Fitri. Kerinduan yang teramat sangat pada Ibunya. Fitri adalah Ibu terbaik untuk mereka bertiga. Dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk saling mengasihi dan memaafkan. Dia mengajarkan ketiga anaknya, agar menghormati orang yang lebih tua dari mereka.
Zevanya, menahan sesak didadanya. Hatinya sakit. Ucapan Grace masih melekat dihatinya. Dia tidak pernah merasa sesedih dan sesakit ini. Selama ini tidak ada yang pernah berbicara kasar padanya. Semua orang menyanyanginya dengan tulus. Namun, sekarang Zevanya sadar terkadang orang menutupi rasa benci dengan senyuman diwajahnya.
Sedangkan Grace memasukkan barang-barangnya kedalam koper miliknya.
“Berapa lama kau akan menginap disana Nak? Jangan lama-lama dan jaga diri baik-baik”. Ucap Luna pada putri sulungnya itu.
“Hanya beberapa bulan Mom. Setelah proyekku selesai aku akan kembali ke Mansion”. Jawab Grace tersenyum.
“Apa Zevanya juga ikut?”. Grace terdiam mendengar nama sepupunya itu.
“Zevanya sudah tidak mengelola butik lagi Mom”.
“Kenapa?”. Tanya Luna heran.
“Zevanya ingin focus pada galeri dan menulis buku Mom”. Sahut Grace berbohong.
Luna menghela nafas tak seperti biasanya Zevanya tidak mau mengurus butik. Karena gadis itu sangat suka mendesain gaun-gaun.
“Baiklah”. Senyum Luna. Dia ikut membantu memasukkan beberapa pakaian putrinya.
Grace memilih pergi dari Mansion dengan alasan akan mengurus beberapa proyek pesanan gaun dibutiknya. Grace mengatakan jika dia harus tinggal dibutik karena dia harus menyelesaikan dengan cepat. Padahal dia hanya mengindari Zevanya. Dia muak melihat gadis itu. Walaupun dia tak ingin jauh dari Myron. Tapi dia akan berusaha mendapatkan pria pujaan nya itu.
“Grace, kau mau kemana?”. Tanya Zean pada putrinya yang membawa koper besar.
“Aku ada proyek pemesanan gaun pengantin Dad. Jadi harus menginap dibutik biar cepat selesai”. Ucap Grace mencari alasan.
Zean menyelidiki wajah putrinya “Baiklah. Berapa lama?”. Tanya Zean menatap putrinya
“Sekitar dua bulan Dad”. Jawab Grace.
“Jaga diri baik-baik”. Ucap Zean.
Grabielle memincing mata curiga pada Kakak nya “Apa kau butuh aku temani Kak?”. Tanya Grabielle, dia hari ini tidak masuk kantor karena menyelesiakan masalah markas.
Grace memutuskan untuk tinggal dibutiknya. Dia tidak mau bertemu Zevanya. Dia kesal dan jengkel pada sepupunya itu. Zevanya selalu menang dalam segala hal. Dia cantik alami, dia juga jenius sehingga banyak disukai banyak pria. Grace iri karena dia tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh sepupunya Zevanya.
Ditempat lain….
Myron masih menatap tajam kearah beberapa anak buah yang ternyata berkhianat padanya. Pantas saja dengan mudah Markasnya diserang, ternyata orang-orang kepercayaannya berkhianat padanya.
“Kalian tahu kan bahwa aku tidak suka penghianat?”. Myron tersenyum smirk saat kelima pria itu menunduk dengan keringat mengukur dan badannya yang bergetar takut.
Tak ada yang menjawab mereka sibuk dengan ketakutan mereka. Bahkan ada yang sampai kencing dicelana saking takutnya.
“Kalian tahu kan bahwa aku tidak akan memberi maaf pada orang yang berkhianat padaku?”. Myron berjalan mengelilingi pria-pria itu.
“Homer”.
“Iya Tuan”. Homer langsung memberikan pistol kecil kesayangan Myron.
Myron memegang pelatuk itu memain-mainkannya seakan menunjukkan bahwa dia siap menembakkan pelatuk itu pada kelima pria yang sedang berdiri dengan ketakutan.
Tatapan Myron seketika tajam. Dia mengepalkan tangannya. Mata nya mampu menembus indra penglihatan mereka.
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Myron menembak kelima pria itu sampai tergelatak tak bernyawa. Bahkan Myron tak kesulitan sama sekali menghabisi nyawa merea. Bagi Myron membunuh adalah hobby yang membuatnya tak pernah bosan. Apalagi membunuh orang-orang yang berkhianat padanya. Takkan ada ampun bagi siapa saja yang mengajaknya bermunsuhan. Apalagi jika orang itu berani menyentuh orang-orang yang dia sayangi, maka Myron takkan segan-segan memenggal kepala mereka.
“Homer, bakar mayat mereka sampai menjadi abu. Jangan biarkan tersisa sedikit pun”. Perintah Myron
“Baik Tuan”.
Lalu Myron beralih pada semua anggota nya. Saat ini dia sudah membuat kembali Markas yang baru dengan bantuan Zehemia dan yang lainnya.
“Aku peringatkan kalian. Jangan pernah mencoba berkhianat padaku. Aku memiiki banyak mata dan banyak telinga. Masih ingin bernafas dengan baik, maka setialah padaku”. Ucap Myron menatap tajam para anak buahnya.
“Baik Tuan”. Sahut mereka semua serentak
**Bersambung.....
LoveUsomuch ❤️**