
SELAMAT MEMBACA.....
Zevanya membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat dan juga sakit. Dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi padanya. Dan apa yang dia lihat. Rasanya bermimpi.
Pandangan Zevanya masih kabur dan tidak jelas.
“Sayang”. Fillipo langsung mengangkat tubuh putrinya dan membantu gadis itu duduk dikasur king sizenya.
“Daddy”. Lirih Zevanya memegang kepalanya.
“Dimana yang sakit sayang?”. Tanya Fillipo panic karena Zevanya memegang kepalanya seperti orang yang kesakitan.
Dean masuk kedalam kamar Zevanya, setelah mendapat kabar bahwa gadis itu sudah sadar. Dia juga panic bukan main, meskipun dia dokter tetap dia seorang pria biasa.
“Nya”. Dean menghampiri gadis itu. Dia tersenyum manis pada Zevanya.
“Iya Dean”. Sahut Zevanya memaksakan senyum diwajah pucatnya.
“Aku periksa dulu ya”. Zevanya mengangguk. Dean mengambil steleskopnya lalu mulai memeriksa Zevanya. Dalam benak Dean bertanya, ada apa sebenarnya didalam tubuh Zevanya. Kenapa dia merasa jika sepupunya ini memiliki hal lain dalam tubuhnya.
“Bagaimana Dean?”. Tanya Fillipo seperti tak sabar mendengar kabar dari Dean.
Dean menghela nafas “Zeva, baik-baik saja Paman”. Sahut Dean, lalu dia beralih pada Zevanya “Hei gadis kecil. Jangan membuatku panic lagi ya”. Dean mengacak rambut Zevanya yang memang sudah berantakkan.
“Dean”. Pekik Zevanya kesal “Kau suka sekali merusak rambutku”. Gerutu gadis itu.
“Hehee. Sini sini, biar Kakakmu yang tampan ini rapikan”. Seru Dean.
“Ck, kita seusia Dean. Hanya beda beberapa menit saja”. Protes Zevanya.
“Tetap saja aku yang tua”. Dean tak mau kalah, padahal dia hanya berusaha menghibur gadis itu dia tahu jika gadis ini masih merasa ketakutan.
Fillipo tersenyum simpul mendengar perdebatan antara putrinya dan keponakkannya. Dia heran, Dean ini adalah pria dingin seperti Ayah nya Dhanny, tapi setiap kali bersama Zevanya sikap dinginnya akan hilang dan berubah menjadi pria yang hangat.
“Sayang”.
Dari arah pintu masuk terlihat Zehemia dan Zehekiel masuk dengan tak sabarnya. Kedua pria kembar itu sampai mendesak pilot agar melajukan pesawat dengan cepat. Bahkan jet yang biasanya landing di Bandara, dipaksa harus mendarat dihalaman Mansionnya.
“Kakak”.
Myron dan yang lainnya juga ikut masuk bersama para adik mereka.
“Dimana yang sakit katakan pada Kakak?”. Cecar Zehekiel memeriksa tubuh adiknya.
“Zeva baik-baik saja Kak”. Sahut Zevanya tersenyum.
“Ze”. Myron berjalan maju mendekati gadis itu. Matanya berkaca-kaca saat Zevanya hampir tertembak, untung saja dia keluar Mansion dan perasaan tidak tenangnya itu ternyata menandakan akan terjadi sesuatu.
“Kak Ron”. Balas Zevanya.
“Zeva”. Luke, Shawn dan Johannes ikut masuk.
“Kak Zeva”. Grabielle, Sherly, Lucy dan Joanna juga masuk kedalam kamar Zevanya yang luas dan besar seperti aula hotel itu.
“Dimana yang sakit?”. Tanya Myron lembut. Tentu saja menjadi pusat perhatian mereka semua, terutama pada gadis yang cukup kenal Myron dan bahkan menjadi fans pria tampan itu
Zevanya menggeleng dengan senyum “Tidak ada Kak”. Balas Zevanya berusaha berdamai dengan hatinya. Meski dia tahu ada banyak hal yang seharusnya dia katakan.
“Ya sudah kau istirahat saja ya”. Senyum Myron mengelus kepala Zevanya dengan lembut. Lagi-lagi semua orang yang ada dalam ruangan itu terkager-kaget bukan main. Terutama Johannes, Shawn, Luke dan Grabielle. Sekarang Grabielle paham kenapa Grace cemburu, ternyata Myron memang perhatian pada Zevanya.
Sedangkan Sherly, Lucy dan Joanna mengangga tak percaya. Bukankah Myron penderita Gynopobia dan OCD akut? Bahkan pada adiknya sendiri saja dia jijik dan tak mau disentuh.
“Iya Kak”. Zevanya kembali berbaring dibantu oleh Myron dan Zehemia.
“Ayo, kita keluar. Biarlah Zeze istirahat”. Ucap Myron.
Meski Zehemia dan Zehekiel sempat protes karena mereka berdua ingin menemai Zevanya. Namun Fillipo memberi pengertian pada kedua putranya itu. Akhirnya dengan berat hati mereka mengikuti perkataan Fillipo.
Zevanya melihat kamarnya yang sudah sepi. Segera gadis itu bangun dan mencari laptopnya. Dengan cepat dia berselancar diatas stut keyboard. Jari-jari lentik itu menari dengan lihai, seakan tak ada kesulitan sama sekali.
“Memang sudah direncanakan. Pantas saja rekaman CCTV ini diretas”. Gumamnya berbicara sendiri "Apa Kak Iel dan Luluk sudah menemukannnya?”. Gumamnya lagi “Sepertinya tidak, dia sangat pandai bersembunyi. Baiklah aku akan menemukannya”. Dia tersenyum smirk.
Zevanay membuat virus baru dilaptopnya. Keahlian yang tidak diketahui oleh siapa pun membuatnya santai saja. Padahal otaknya sudah mencari tahu.
“Grace”. Zevanya menutup mulutnya tak percaya “Apa sebegitu bencinya Gege padaku sehingga ingin membunuhku?”. Gumam Zevanya, tanpa permisi lagi-lagi air matanya luruh begitu saja.
“Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau jika Kak Hem dan Kak Iel membalaskan dendamku padanya”. Lirih Zevanya sambil menyeka air matanya. Tanganya masih asyik berselancar distut keyboard.
“Kenny juga terlibat. Apa salah ku pada Kenny?”. Zevanya bermonolog sendiri. Dia terus bertanya, kenapa dua gadis yang sudah dianggapnya saudara itu tega ingin membunuhnya.
“Apa yang harus aku lakukan?”. Zevanya meletakkan laptopnya. Dia bisa saja mengatakan siapa pelakunya pada Kakak-kakaknya. Tapi dia tidak mau keluarganya pecah, karena Zehemia dan Zehekiel takkan tinggal diam.
“Jika aku mengatakan pada Kak Ron, apa dia akan percaya?”. Gumam Zevanya tampak berpikir keras.
“Tidak, tidak. Ini bisa membuat Gege semakin membenciku”. Zevanya menghela nafas kasar. Sekarang munsuhnya adalah saudaranya sendiri.
Zevanya menutup hidungnya, saat dia merasakan sesuatu yang hangat keluar dari hidungnya. Segera gadis itu berlari kekamar mandi.
“Darah?”. Gumam Zevanya menatap pantulan dirinya didepan cermin kamar mandi miliknya. Segera dia menghidupkan keran air dan membilas darah yang mengalir dihidungnya.
“Ini pasti karena aku kelelahan saja”. Dia berusaha menepis pikirannya negatifnya. Zevanya membersihkan kembali darah yang sialnya masih mengalir dihidungnya. Darah segar berwarna merah cerah yang mengalir cukup membuat Zevanya terkejut.
Setelah membersihkan darah dihidungnya. Zevanya segera keluar dari kamar mandi. Dia mentralisir rasa sakitnya yang beralih pada kepala, kenapa dengan tubuhnya? Tiba-tiba Zevanya merasakan haus yang luar biasa, dengan segera dia mengambil air putih yang terletak diatas nakas lalu meminumnya hingga tandas.
Zevanya bersandar didinding kasurnya. Nafasnya memburu dan tersengal-sengal. Dia terus bertanya dengan keanehan tubuhnya. Tak pernah dia mimisan meskipun kelelahan.
“Huffffhhhhhhhhh”. Zevanya menarik nafas dalam. Dia kembali meraba laptopnya. Dia masih terus mencari informasi mengenai Grace dan juga Kenny.
“Aron Smith”. Gumam Zevanya membaca data yang didapat dari laptopnya “Siapa dia?”.
Ya Zevanya tahu jika Grace yang mencoba membunuhnya. Karena dia melihat Grace didalam mobil yang ditumpangi pria yang menebaknya. Zevanya pikir dia akan mati, ternyata ada malaikat pelindung yang menolongnya
Bersambung.......
LoveUsomuch ❤️