Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 40. S2.


SELAMAT MEMBACA......


Myron dan Grabielle masuk. Tampak ketidaksabaran diwajah Myron karena terlihat dari cara dia berjalan. Grabielle diam-diam mengintip.


“Apa dugaanku Johannes benar kalau Kak Myron menyukai Zeva?”. Gumam Grabielle sambil berjalan.


Disana sudah ada Zehemia, Zehekiel, Shawn, Johannes dan Luke. Serta para gadis berisik seperti Myra, Joana, Sherly dan Lucy juga berada disana, kecuali Grace dia beralasan banyak pekerjaan dibutiknya.


“Kak Zeva”. Panggil Grabielle sumringgah saat melihat Zevanya sedang mengatur para pelayan untuk menyusun lukisannya.


Zevanya berbalik senyuman mengembang diwajah cantiknya “Gebe, Kakak pikir kau tidak akan datang?”. Seru Zevanya


“Ck, Kak nama aku G-r-a-b-i-e-l-l-e bukan Gebe”. Protes Grabielle tak terima dia mencibir kesal Kakak sepupunya itu.


“Alah, kepanjangan. Sama saja Grabielle sama Gebe. Beda tipis”. Celetuk Zevanya tak mau kalah. Mereka berdua memang selalu berdebat masalah nama.


“Ze”.


Senyum Zevanya seketika memudar saat mendengar sapaan yang begitu familiar ditelinganya. Zevanya mengigit bibir bawahnya bingung.


Dengan senyum mengembang Myron mendekati Zevanya “Ze, selamat ya. Lukisan kamu jadi incaran lagi?”. Ujar Myron mengulurkan tangan kearah Zevanya yang masih bingung. Mereka menjadi pusat perhatian.


“Terima kasih Kak”. Zevanya tetap menyambut uluran tangan Myron. Meski dia sudah berusaha menghindari pria ini, tetap saja pria ini yang mendekat padanya.


Myron tersenyum senang saat Zevanya mau berbicara dengannya. Hampir satu minggu gadis itu mendiamkannya. Sekarang dia merasa bahagia ketika bisa dekat dengan Zevanya lagi.


“Apa kabar Ze?”. Senyuman tak memudar diwajah tampan pria itu.


“Baik Kak”. Sahut Zevanya “Ayo Kak, kalau mau lihat-lihat dulu”. Ajak Zevanya ramah.


“Ayo”. Myron mengikuti dengan semangat.


Sedangkan yang lain dibuat tercenggang terutama Myra. Dia dikejutkan dengan sikap tak pernah Kakak sulungnya itu. Myra sampai mengucek matanya berulang kali untuk memastikan bahwa itu Kakak nya.


“Kak Myron”. Sapa Zehemia, Zehekiel, Shawn, Luke dan Johannes dan memberi hormat pada pria yang mereka panggil Kakak itu.


“Iya”. Sahut Myron.


“Kak Myron”. Sapa Joana, Lucy, Sherly pada Myron.


“Iya”. Sahut Myron singkat.


Pameran pun dimulai. Banyak pengusaha dari berbagai kalangan yang datang ke galeri Zevanya. Galeri milik Zevanya memang terkenal di Amerika. Bahkan menjadi galeri nomor satu didunia. Tak heran jika galeri lukisannya menjadi nomor satu karena memang lukisan Zevanya memiliki keunikan tersendiri yang mampu membuat orang merasa tertarik.


Myron tersenyum bangga dengan karya tangan Zevanya. Sungguh bakat yang luar biasa. Lukisan-lukisan Zevanya, seperti potretan asli hasil foto. Dengan tiga dimensi yang menjadi ajudan. Indah dan menganggumkan.


“Va”.


Zevanya menoleh saat ada yang memanggilnya. Dia tersenyum girang saat melihat orang yang dia tunggu-tunggu dari tadi datang juga.


“Al”. Pekik Zevanya menghampiri sahabatnya itu.


“Ze, jangan teriak-teriak”. Tegur Zehemia dan Zehekiel. Zevanya hanya menampilkan rentetan gigi ginsulnya membuat gadis itu terlihat begitu menggemaskan.


“Va”. Senyum Zoalva hangat. Dia meluangkan waktu berharganya agar bisa menghadiri pameran gadis ini.


“Terima kasih sudah hadir. Larvaku”. Celetuk Zevanya bergelut manja dilengan pria itu.


Zoalva terkekeh gemes “Tentu saja aku hadir”. Zoalva mengacak rambut Zevanya dengan gemes.


“Al”. renggek Zevanya manja. Dia mengendus kesal saat rambutnya dibuat berantakkan, padahal dia sudah menyewa Joana untuk membantunya merapikan rambut indahnya.


“Heheh. Habis nya kau ini menggemaskan sekali”. Celetuk Zoalva dengan kekehan. Dia membantu Zevanya merapikan rambutnya. Dia tersenyum hangat pada gadis yang selalu dia rindukan


“Ehem”. Sherly memecahkan gurauan kedua orang itu.


“Hai Kak Zo”. Sapa Sherly


“Iya”. Sahut Zoalva padat singkat dan jelas.


Tangan Myron terkepal saat Zoalva begitu mesra dengan Zevanya. Ada hal yang mengelajar dihatinya, hatinya kian memanas ada denyut yang terasa menekan. Kenapa? Apa dia cemburu? Entahlah yang pasti Myron tidak suka jika gadis itu terlalu dekat dengan pria lain.


Acara pun selesai. Para tamu undangan juga sudah meninggalkan galeri Zevanya. Acara pameran yang diadakan lumayan meriah itu tentu dengan penjagaan dan keamanan yang ketat dari keempat kelompok Mafia yang banyak disegani dalam dunia hitam.


“Hai Zeze, selamat. Lukisanmu sungguh bagus sekali”. Puji Johannes menghampiri Zevanya bersama Shawn, Luke dan Grabielle.


“Terima kasih Nenes”. Senyum Zevanya.


“Johannes bukan Nenes”. Ralat Johannes memutas bola mata malas. Nama bagus-bagus diubah menjadi nama yang aneh oleh sepupu berisiknya itu.


Zevanya hanya menampilkan rentetan gigi susulannya dan terkekeh melihat wajah cemberut sepupunya. Ahh sungguh Zevanya suka sekali membuat para sepupu prianya kesal.


“Kak Zeva, ini diletakkan dimana?”. Tanya Myra.


“Disamping itu saja Rara”. Tunjuk Zevanya.


“Kak, Myra bukan Rara”. Renggek Myra yang tak suka namanya diubah-ubah.


“Sudah jangan protes. Cepat susun sana”. Celoteh Zevanya menahan tawa.


“Ini kemana Nya?”. Tanya Luke juga


“Didekat yang kiri Luluk”. Jawab Zevanya. Luke mengendus kesal. Sudah tak ingin protes karena percuma jika protes juga namanya sudah diubah.


Zehemia dan Zehekiel menghampiri Zevanya yang masih asyik menyusun lukisannya dibantu oleh Zoalva disampingnya.


“Sayang”. Kedua pria itu menghampiri Zevanya.


“Iya Kak”. Zevanya meletakkan lukisannya.


“Minum dulu”. Zehekiel membantu Zevanya minum, dari tadi adiknya itu tidak istirahat.


“Capek tidak?”. Tanya Zehemia penuh perhatian. Zevanya menggeleng sambil tersenyum.


“Ya sudah, Zeze istirahat ya. Biar Kakak yang selesaikan”. Ucap Zehemia.


“Iya Kak”.


Zevanya duduk, karena memang sejujurnya dia merasakan capek sekali. Akhir-akhir ini dia memang mudah lelah.


“Ze”


“Va”.


Myron dan Zoalva memanggil Zevanya secara bersamaan dengan panggilan yang berbeda pula.


“Kak Ron”.


“Al”.


Zevanya membalas dengan senyum kedua pria yang berjalan kearahnya itu. Myron dan Zoalva saling membuang muka. Mereka berdua seperti sedang perang dingin.


Tanpa ada yang menyadari jika dari tadi ada tamu yang datang tak diundang. Tak ada satu pun yang sadar, karena dia menyamar sebagai salah satu dari para pengawal.


“Jadi dia gadis yang bernama Zevanya Anggela. Menarik, dia sengaja menghilangkan nama Wilmar agar identitas aslinya tidak diketahui. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku sayang. Aku akan membuat tua Bangka itu merasa kehilangan?”. Batinnya tersenyum licik saat melihat Zevanya dan Myron serta Zoalva sedang mengobrol.


“Gadis yang dimaksud Zoalva itu adalah dia. Pantas saja Zoalva tergila-gila. Aku akan merebutnya darimu Zo”. Batinnya lagi.


Zevanya terdiam sejenak. Dia merasakan ada yang mengawasinya dari tadi. Zevanya bisa rasakan jika orang itu saat ini menatap dirinya.


“Apa ada penyusup?”. Batin Zevanya terlihat tenang. Dia berusaha mengawasi dengan ekor matanya “Dia? Siapa?”. Batin Zevanya saat melihat salah satu pengawal yang mengenakan kacamata dan topi warna hitam dengan berdiri tanpa ekspresi disamping pintu keluar.


“Ze kenapa?”. Tanya Myron


“Tidak Kak”. Zevanya memaksakan senyum.


Sebenarnya Zevanya ingin menghindari Myron karena dia tidak mau jika Grace salah paham lagi. Namun pria itu seperti sedang mengejar dirinya.


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️