Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 55


Next...


Sam dan Sean kembali dibuat terkejut, sejak kapan Fitri membuat obat penawar itu.


“ Sayang kapan kau membuat obat penawar itu?”. Tanya Sam yang tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi, sejak tadi ia selalu dibuat terkejut oleh perkataan putrinya.


“ Aku meminta bantuan Paman David, Dad”. Sahut Fitri, tanpa mengalihkan pandangannya. Tangannya masih sibuk mengotak-ngatik keyboard laptop.


Sam dan Sean hanya saling melihat bingung. Setahu Sam Fitri baru sekali bertemu David, itu pun ketika ia baru sadar dari koma. Lalu bagaimana dia bisa meminta bantuan David membuat obat penawar itu.


Banyak pertanyaan dikepala Sam, ia semakin penasaran mengapa kemampuan putrinya diatas kemampuannya. Ingin sekali ia tanyakan, tapi melihat wajah serius yang terlihat menggemaskan itu membuat niatnya mundur, ia tidak mau mengacaukan kosentrasi putrinya. Ia tahu putrinya ini sangat keras kepala, jika sudah menginginkan sesuatu maka takkan ada tambahan. Selama Fitri dan Sean berada didekatnya, maka apapun yang ingin mereka lakukan maka ia harus mendukung selagi itu baik untuk mereka.


“ Ce, istirahatlah jika sudah selesai. Kita butuh tenaga untuk melawan mereka”. Nasehat Sean sedari tadi adiknya itu tak lepas dari laptopnya.


“ Benar kata Kakakmu sayang”. Timpal Sam, sambil mengelus lembut kepala Fitri.


Fitri hanya tersenyum dan mengangguk, kebetulan retas meretasnya sudah selesai. Remote kontrolnya juga sudah siap dipakai dan berfungsi. Fitri langsung mematikan laptopnya.


Ia duduk ditengah-tengah kedua pria hebat itu. Dengan manja ia meletakkan kepalanya dibahu Sean, sambil tanganya melingkar dipergelangan tangan Sean.


“ Capek?”. Tanya Sean, dan hanya diangguki oleh gadis itu. Terlihat sekali wajah Fitri sangat lelah.


Sementara Sam tersenyum melihat kedua buah hatinya, rasanya tidak ada sesuatu pun yang berharga didunia ini selain kedua malaikatnya itu.


Sebenarnya Fitri, menahan sesak didadanya, kepalanya juga terasa sangat pusing sepertinya penyakitnya akan kambuh. Tapi sebisa mungkin ia menahan dan menguatkan dirinya.


“ Kak, Fitri ke toilet, mau buang air kecil”. Ucap Fitri bangkit dari bahu Sean.


“ Perlu Kakak temanin?”. Tawar Sean, jujur ia khawatir dengan sang adik, terlihat Fitri tak seceria biasanya.


“ Tidak perlu Kak”. Tolak Fitri


Fitri berjalan menuju toilet. Sebelumnya ia mengambil segelas air minum, dengan langkah cepat ia langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia menarik nafas dalam saat melihat pantulan dirinya didalam cermin. Hidungnya sedikit mengeluarkan darah, nafasnya juga mulai memburu. Dengan cepat Fitri membersihkan hidungnya, ia tidak mau jika Sam dan Sean melihatnya dalam kondisi seperti itu. Dia juga meminum obat yang diam-diam ia beli untuk jaga-jaga kala kesehatannya memburuk.


" Kau harus kuat Fit, ingat tugasmu belum selesai". Ucapnya menyemangati dirinya.


Segera Fitri menaburkan bedak diwajahnya, diberi sedikit lipstik. Ia juga mengenai rambut panjangnya yang menjuntai sampai kepunggung.


Tok tok tok pintu kamar mandi diketuk


" Ce, kamu baik-baik saja kan?". Tanya suara khawatir dibalik pintu.


Fitri menghela nafas berat, ia tahu itu pasti sang Kakak.


Cekrekkkkk Fitri membuka pintu dan menampilkan wajah senyum dibibirnya.


" Ce, kamu baik-baik saja?". Tanya Sean khawatir pada sang adik. Sebab gelagat Fitri sangat jauh berbeda dari biasanya. Gadis itu tak seceria seperti saat mereka bersama.


Fitri tersenyum " Fitri baik-baik saja Kak". Senyum manis gadis itu sambil melingkarkan tangannya di lengan Sean. Ia tak ingin Kakaknya khawatir apalagi sampai tahu tentang kondisinya.


Sean mengacak rambut adiknya dengan gemes " Kamu ini". Gemes Sean sambil terkekeh dengan tingkah manja adiknya.


Fitri, Sam dan Sean sudah bersiap-siap untuk berperang. Entah kapan datangnya Adam dan Boy juga berada disana. Adam adalah supir pribadi sekaligus asisten Sam, sementara Boy memang assissten Sean.


" Sebelum kita berangkat, ayo kita berdoa dulu. Biar kita berhasil menyelamatkan mereka". Ucap Fitri.


Sam dan Sean mengangguk tanda mengerti dan dikuti oleh Adam dan Boy.


Mereka saling bergandengan tangan mengucapkan segala doa sebelum pergi berperang.


" Tuhan, lindungilah aku dan mereka. Berikan aku kesempatan terakhir untuk menyelamatkan mereka. Ampuni aku. Kuatkan juga rasa sakit yang ada di tubuhku ini, aku bisa karena Engkau bersamaku". Batin Fitri tak terasa air mata jatuh dipelupuk matanya, dengan segera ia menyeka nya sebelum Sam dan Sean menyadarinya.


Mereka pun mengatur posisi masing-masing. Sam, Sean, Adam dan Boy menggunakan pistol atau senjata api yang dibuat oleh Sam


Sementara Fitri, dengan santai ia memegang remote control tampak tenang tanpa rasa takut sekalipun. Robot yang dipersiapkan dengan matang, sudah siap untuk ikut berperang.


" Daddy, Kakak, Paman Adam, dan Kak Boy, kalian habisi semua yang mengawal diluar Markas, aku akan masuk kedalam dan pakai ini". Ucap Fitri sambil memberikan satu-satu alat komunikasi seperti handset berukuran kecil.


" Jangan masuk, sebelum aba-aba dariku". Perintah nya lagi.


" Ce, Kakak ikut dengan mu saja. Biar Daddy dengan mereka". Pinta Sean dia khawatir jika adiknya sendirian.


Fitri mengulas senyum ia mengerti perasaan Kakaknya " Tidak perlu Kak, Fitri bisa sendiri. Kakak bantu Daddy, percaya pada Fitri Kak, ketiga robot ini akan membantu Fitri". Senyum manis gadis itu.


Sean menghela nafas kasar. Walaupun ia tahu adiknya jenius tetap saja ia sangatlah khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada adiknya.


" Baiklah". Ucap Sean mengalah.


Mereka pun masuk dan langsung dihadang oleh semua anggota Winner King.


Dor dor dor dor dor suara peluru saling bersahutan satu sama lain, penyerangan itu membabi buta. Fitri yang sudah dikuasi oleh emosi membuat ia kalap mata, robot yang ia ciptakan benar-benar bekerja dengan baik sehingga dengan mudah melumpuhkan lawannya.


" Kak aku akan masuk kedalam, Kak Sean dan yang lainnya tetap mengalihkan perlawanan. Aku akan menyelinap masuk kedalam". Ucap Fitri melalui earphone yang ada di telinganya.


" Baik Ce". Sahut Sean


" Iya sayang". Sahut Sam


" Baik Nona Muda". Sahut Adam dan Boy bersamaan.


Mereka saling menyerang satu sama lain. Sementara Fitri, gadis itu masuk begitu saja saat semua anggota Winner King sibuk menyerang Sam dan yang lainnya.


Sementara didalam Markas, Park dan Michael masih asyik menyiksa Fillipo. Target mereka adalah Fillipo. Entah dendam apa yang mereka balas pada Tuan dingin itu??


" Hahhaah Fillipo, Fillipo wajahmu terlihat sangat menyeramkan". Ucap Michael sambil menatap sinis kearah Fillipo yang sudah tergeletak tak berdaya sambil tangan dan kakinya diikat.


Fillipo yang mendengar hal itu hanya tersenyum sinis. Ia tidak takut sama sekali dengan perlakukan Michael. Suatu saat ia akan membalas semua siksaan ini


***Bersambung.....


sekali lagi terima kasih udah ikutin cerita ini. masih banyak revisi lagi maaf sebagai penulis pemula memang sedikit susah mencari alur cerita, hehhe***.