
Tak semua senyuman menandakan kebahagiaan atau ketulusan.
Ada senyuman yang menjelaskan sebuah ancaman, tentu tak gampang untuk diketahui bagi orang yang terlalu percaya pada orang lain.
SELAMAT MEMBACA...
Fitri didandani secantik mungkin, dengan dandanan natural tak berlebihan. Wajahnya benar-benar terlihat sangat cantik. Gaun mewah itu melekat pas ditubuh munggilnya, rambut panjangnya digerai begitu saja dan sepasang jepit rambut diletakkan pada rambut atasnya.
Dea, Luna dan Pearce sampai dibuat melonggo dengan kecantikan gadis itu. Mereka tak menyangka, gadis kecil berusia 21 tahun itu benar-benar cantik.
"Astaga, kenapa dia cantik sekali?". Batin Dea menatap tak berkedip Fitri.
"Benar-benar cantik". Batin Luna juga yang kagum pada kecantikan gadis itu.
Pearce sudah tak mampu mengungkapkan kekagumannya melihat penampilan Fitri.
"Hei, kenapa kalian bingung?". Fitri melambaikan tangannya kearah tiga orang yang menatapnya tak berkedip itu.
"Ahhh tidak apa-apa". Sahut ketiganya bersamaan.
"Baiklah, ayo sekarang kau harus berangkat Kak Sean sudah menunggumu". Senyum Dea "Nanti, Paman Mun akan mengantarkanmu". Ucap Dea lagi.
"Tapi setelah mengantarmu dia akan kembali, kau pulang saja nanti dengan Kak Sean". Senyum Dea lagi.
"Terima kasih Dea, Luna dan Pearce. Kalian memang sahabat terbaikku". Fitri memeluk ketiga sahabatnya.
Ketiga gadis itu hanya menampilkan senyum manis dan membalas pelukkan Fitri.
Fitri pun berangkat dan diantar oleh Mun, supir pribadi milik Pearce.
"Hallo, Zean dia sudah berangkat. Selamat bersenang-senang". Ucap Luna berbicara pada telpon.
"Hahahaha". Mereka bertiga tertawa penuh kemenangan.
Fitri menatap jalan, gambaran bintang dilangit malam membuatnya tersenyum.
"Kak Sean, memang sangat romantis". Senyum Fitri.
"Nona, bahagia sekali sepertinya". Goda Mun pada Fitri. Dari tadi gadis itu terus saja tersenyum.
"Tentu saja Paman!!! Kau tahu Kakakku itu sangatlah romantis, andai saja dia bukan Kakakku pasti akan kujadikan kekasih, hihi". Celetuk Fitri.
Mun tertawa mendengar ucapan Fitri "Haha bukankah Tuan Fillipo, juga romantis Nona?". Goda Mun. Ya Mun tahu jika Tuan nya itu sangat menyukai gadis ini, sejak pertama kali Tuan nya membawa Fitri ke Mansion keluarga Wilmar.
"Hahha". Fitri berusaha tertawa mendengar ucapan Mun. Ia tak mau terbawa perasaan.
Mobil itu terhenti dihalaman hotel termewah di Jerman. Hotel bertingkat seratus itu terlihat menjulang ke langit.
"Paman, terima kasih. Pulanglah, nanti aku akan pulang bersama Kak Sean". Ucap Fitri sembari turun dari mobil.
"Iya Nona. Selamat bersenang-senang". Ucap Mun tersenyum sambil menjalankan mobilnya.
Fitri masuk kedalam hotel itu, sang resepsionis menyambutnya dengan senyum ramah.
"Selamat malam Nona Fitri". Sapa sang resepsionis
Fitri mengerjitkan dahinya heran "Kau mengenalku?". Tanya Fitri.
Sang resepsionis tersenyum "Ingin bertemu dengan Tuan Sean?". Tanya sang resepsionis
Fitri mengangguk "Iya Kak". Senyum manis Fitri.
"Mari Nona saya antar". Tawar Sang resepsionis.
Fitri pun mengikuti sang resepsionis. Mereka menuju ruang VVIP.
Fitri masuk kedalam ruangan mewah itu. Matanya tak berkedip menatap ruang hotel yang mirip istana itu.
"Silahkan, duduk Nona dan nikmati minuman dan cemilannya. Sembari menunggu Tuan Zean". Ucap sang resepsionis
"Terima kasih Kak". Senyum Fitri sambil duduk disofa yang sudah disediakan.
"Kalau begitu saya permisi Nona. Jika butuh sesuatu panggil saja". Senyum sang resepsionis berpamitan pada Fitri.
Fitri menerawang ruang mewah itu, sembari menyesap minuman dalam gelas dan memakan cemilan yang disediakan.
"Kenapa perasaanku tidak enak". Gumam Fitri. Minumannya sudah habis.
"Kenapa badanku panas". Fitri berusaha mengaruk dan mengipas tubuhnya.
"Ahh, apa yang mereka masukkan kedalam minumanku?". Pekik Fitri sambil berdiri berusaha menghilangkan rasa panas ditubuhnya
"Hai gadis kecil". Ucap seorang pria yang masuk kedalam ruangan itu.
Fitri mengarahkan pandangan pada pria yang baru datang itu. Pria tampan dengan sejuta pesona.
Mata Fitri sudah memerah menahan panas ditubuhnya. Sementara pria itu tersenyum smirk saat melihat reaksi Fitri.
"Kak tolong aku". Lirih Fitri menghampiri pria itu.
"Kak ini panas sekali". Gumam Fitri, air mata berluruhan dipipi manisnya
Pria tersebut membeku saat Fitri memanggilnya Kakak, untuk pertama kalinya seseorang memanggilnya dengan ucapan seakrab itu
Pria tersebut tersandar dari lamunannya.
"Hmmm, apa kau mau aku memuaskanmu Girl?". Senyum licik diwajah pria itu sambil menyelipkan anak rambut.
"Tolong bantu aku Kak, ini sangat panas". Lirih Fitri, dia sudah tak mampu menahan panas ditubuhnya.
Pria yang tadi dipenuhi dengan hasrat itu, tiba-tiba merasa sakit melihat air mata yang jatuh dipelupuk mata Fitri. Entah mengapa hatinya berdenyut mendengar ucapan minta tolong gadis yang sudah dia beli itu.
"Kak". Tangis Fitri pecah, tangannya sudah merobak gaun yang meletakkan ditubuhnya.
Tanpa menunggu lama, pria itu langsung mengendong tubuh munggil Fitri. Membawanya ke kamar mandi. Segera pria itu menghidupkan shower, dan berusaha menghindar dari serangan Fitri yang sedari tadi gadis itu sudah dipenuhi dengan hasrat.
Setelah lama berdiri dibawah shower akhirnya gadis itu pun tak lagi memberontak. Sepertinya obat perangsang dalam tubuhnya sudah mereda dan menghilang.
Pria itu menatap wajah cantik Fitri, keduanya sudah basah kuyup. Gaun putih itu menampilkan lengkuk tubuh yang indah, pria itu menelan salivanya kasar saat melihat pemandangan indah didepannya.
Namun dengan segera ia menepis semua perasaannya. Hasrat kian menggebu kini perlahan memudar, saat mendengar dengkuran halus dari mulut Fitri.
Pria itu adalah Zean, sang Cassanova yang memiliki banyak wanita. Zean yang awalnya benar-benar ingin merasakan perawan dengan menyentuh Fitri dan menjadikan gadis itu miliknya, kini berubah menjadi rasa yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan dalam hati Zean saat Fitri memanggilnya Kakak. Entah sadar atau tidak gadis ini memang berbeda.
Zean mengendong Fitri, dan membawa lalu meletakkannya diatas kasur king size hotel yang sudah ia pesan. Gadis itu terlelap setelah meronta dengan hebat.
"Willy, cepat siapkan sepasang baju untukku dan untuk gadis ini, panggil pelayan wanita untuk menganti bajunya". Perintah Zean menelpon asisten pribadinya
"Baik Tuan". Sahut Willy.
Zean menatap wajah damai gadis itu, badan Fitri bergetar karena kedinginan. Zean mengeratkan selimut dan membelut tubuh basah Fitri.
"Entah siapa dirimu? Kenapa aku merasa sedamai ini saat melihat wajah tenangmu". Tanpa sadar sudut bibir Zean tertarik. Ia membelai wajah cantik Fitri.
"Benar-benar cantik". Gumamnya.
"Entah, motif apa yang membuat Luna menjualmu?". Ucap Zean "Tapi aku takkan merusakmu, aku akan melindungi dan menjagamu. Aku akan menikahimu". Ucap Zean lagi.
Tok tok tok.
Pintu diketuk.
"Ini Tuan". Willy menyerahkan dua paper bag pada Zean.
"Terima kasih Wil". Senyum Zean.
Willy terpaku mendengar ucapan terima kasih Zean. Selama sepuluh tahun bersama ketua Mafia tersebut tidak pernah Zean mengucapkan kata terima kasih apalagi diiringi dengan senyum manis.
Setelah pelayan wanita itu Menganti baju Fitri. Zean duduk disamping gadis itu, ia meraba kening gadis itu dengan lembut.
"Astaga, panas apa dia demam?". Zean terlihat panik
Lalu Zean mengambil ponselnya "Wil, cepat panggilkan dokter. Jika dalam waktu sepuluh menit tidak datang, maka tubuhmu akan jadi santapan San". Teriak Zean dengan nada ancaman.
Willy menelan salivanya "Baik Tuan". Sahut Willy.
Zean mengenggam tangan Fitri dengan erat. Tangan Fitri sangat dingin, mungkin terlalu lama dibawah shower. Kepanikkan sangat terlihat diwajah Zean.
Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Fitri. Dokter tersebut sangat terkejut dengan kondisi Fitri.
"Apa dia kekasihmu?". Tanya dokter tersebut pada Zean.
"Aku tidak butuh pertanyaanmu Evan, cepat kau periksa dia". Sentak Zean.
Evan mengendus kesal. Dia sudah bersusah payah datang ke hotel itu dalam waktu sepuluh menit. Benar-benar pria kejam, batin Evan.
"Bagaimana kondisi nya?". Tanya Zean tak sabar
Evan menghembuskan nafasnya kasar. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana pada pria didepannya ini.
"Sepertinya penyakit gadis ini cukup serius". Ucap Evan.
"Tidak perlu basa-basi Van. Cepat katakan padaku, apa yang terjadi padanya? Bagaimana kondisinya?". Cecar Zean.
"Dia menderita kanker otak stadiun lanjut. Kondisinya saat ini tidak terlalu parah, dia hanya butuh istirahat. Hanya saja jangan biarkan dia kelelahan dan banyak berpikir". Jelas Evan.
Deg
Jantung Zean serasa berhenti berdetak saat mendengar penjelasan Evan .
"Apa bisa sembuh?". Tanya Zean terbata
"Berdoa saja, semoga bisa sembuh dengan kemoterapi". Evan menepuk pundak Zean.
"Aku permisi!!! Berikan obat ini padanya, jika dia sudah sadar". Evan memberikan beberapa obat pada Zean. Lalu pergi dari ruangan itu.
Bersambung....
Apa yang terjadi pada Zean????
Kenapa Zean tidak jadi menyentuh Fitri???
Yuk ikuti kisahnya.