Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 48. S2


SELAMAT MEMBACA.....


"Zeze”.


“Kak Zeva”.


“Kak Zeva”.


Ketiga orang yang suka lebam dan luka-luka itu tersontak kaget melihat Zevanya yang berdiri dengan santai sedangkan disekelilingnya dikerumini oleh pria-pria berbadan besar dan menyeramkan.


“Jangan menangis Sasan, tenanglah mereka takkan bisa membunuhku”. Celetuk Zevanya.


“Apa kau bilang?”. Sentak salah satu dari mereka.


Shawn mengangga dengan mulut terbuka lebar, dia tak percaya jika yang ada dihadapannya sekarang adalah sepupu menyebalkan sekaligus berisik. Bagaimana Zevanya bisa tahu dan masuk kedalam gedung tua itu?


“Jangan berteriak Paman, kau membuat telingaku sakit saja?”. Cibir Zevanya kesal sambil mengelus telingannya. Mereka semakin dibuat heran.


“Kau………….”.


Dor dor dor dor dor dor dor dor dor


Mereka menembak Zevanya. Dengan sigap gadis itu menghindar, tak satu peluru pun mengenainya. Sedangkan Shawn, Myra dan Sherlly menutup mata ketakutan, mereka pikir Zevanya sudah tertembak.


“Alah, Paman. Kemampuanmu hanya segitu”. Ejek Zevanya sambil tersenyum sinis, dia tetap santai.


“Brengsekkkkkkk”.


Dor dor dor dor dor dor dor dor


Lagi-lagi Zevanya bisa menghindar dengan cepat. Dia tahu sasaran dari munsuhnya. Dengan keahliannya dalam hal bela diri tak membuatnya takut akan peluru itu.


Zevanya tersenyum sinis, ketika tak satu pun peluru yang mengenainya.


“Kau belajar menembak dimana Paman? Kenapa kau bodoh sekali?”. Ledek Zevanya.


Semakin membuat pria-pria bertubuh besar itu memanas. Mereka direndahkan oleh seorang gadis kecil yang hanya memakai kaos oblong itu.


“Serangggggg”.


Dor dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor dor


Zevanya menembak dengan sangat ahli. Dia menembak para munsuhnya dengan cepatan kilat tak memberi ruang untuk mereka menembak dirinya.


Dor dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor dor


Shawn sampai bergetar hebat saat melihat Zevanya. Dia tak tahu harus memberi tanggapan bagaimana. Sepupu manja yang biasanya selalu terlihat polos dan manja itu, kini diluar kendali. Bagaimana mungkin gadis manja itu bisa begitu ahli dalam menembak dan bahkan mengalahkan dirinya?


Zevanya tersenyum puas saat para munsuhnya tumbang tak berdaya. Zevanya tidak menembak mati tapi dia menembak dibagian kaki dan tangan saja.


“Bagaimana Paman?”. Zevanya menatap salah satu dari pria berbadan besar itu yang terkapar dengan keadaan sekarat “Cihhh, sepertinya kau perlu belajar menembak dariku Paman?”. Ejek Zevanya.


“Dimana Tuanmu?”. Tanya Zevanya menatap tajam pria yang sudah terkapar lemah itu. Satu pun tidak ada yang tersisa dari mereka. Mereka tumpang dalam keadaan sekarat.


“Kau tahu Paman? Peluru yang kutembakkan itu sudah mengandung racun mematikan, ahhh iya aku hanya ingin memberitahumu bahwa racun itu tidak membunuh segera, tapi dia akan membunuhmu perlahan”. Ejek Zevanya sambil berdiri.


Zevanya mencibir kesal saat melihat Triple L yang baru datang membantunya “Kemana saja kalian?”. Tanya ketus pada tiga mutan yang sudah berdiri disampingnya.


“Maaf Nona. Kami terlambat”. Ucap Louis menunduk.


“Sudah tahu”. Ketus Zevanya “Apa virus yang dibuat Mommy ku masih ada?”.


“Masih Nona”. Liam menyerahkan sebuah flashdisk berukuran sangat kecil.


“Baik, bereskan semuanya”. Perintah Zevanya.


“Baik Nona”. Sahut ketiga Mutan itu kompak.


Zevanya menyimpan benda kecil itu disaku celananya. Dia memperbaiki rambutnya yang berantakkan akibat pertempuran yang memakan tenaga nya.


Zevanya menekan earphone ditelinganya “Kak masuk lah”. Ucap Zevanya.


Zevanya lalu beralih pada ketiga sepupunya yang ketakutan bukan main. Bahkan Shawn sampai tak berkedip. Sedangkan Myra dan Sherlly berkaca-kaca, seperti tak percaya.


Diluar gedung tua.


Myron melangkah lebar saat melihat Zehemia dan Zehekiel serta kedua assistennya memantau dari luar.


“Bagaimana?”. Tanya Myron tak sabar takut jika adiknya baik-baik saja.


“Ayo, Zeze sudah menunggu kita”. Ucap Zehekiel.


“Zevanya?”. Beo mereka berempat.


“Iya, dia masuk duluan untuk melihat kondisi markas”. Sahut Zehemia.


Myron, Grabielle, Johannes dan Luke mendengar tak percaya. Yang benar saja Zehemia dan Zehekiel membiarkan adik mereka masuk ke sarang harimau.


“Kenapa kalian membiarkannya masuk? Apa tidak bahaya?”. Cecar Myron tampak panic.


“Kam…………”.


“Kak, cepatlah masuk. Kenapa kalian lama sekali? Shawn terluka, kalian mau dia mati sebelum menikah?”. Gerutu Zevanya melalui earphone yang terpasang ditelinga Zehekiel. Namun karena earphone itu di loudspeaker sehingga yang lain bisa mendengar ucapan Zevanya.


Mereka bereenam saling melihat. Apalagi para asissten yang dibuat mengangga dengan ucapan Zevanya. Apa gadis itu berhasil masuk?


“Ayo”.


Zehemia melangkah tak sabar. Dia harus memastikan bahwa adiknya baik-baik saja. Begitu juga dengan yang lain nya.


Mereka masuk dengan langkah lebar dan tak sabar. Lagi-lagi mereka mengangga melihat betapa kacaunya markas tersebut. Bangunan tua itu dipenuhi dengan lautan manusia yang terkapar lemah dengan nyawa yang sekarang.


Mata mereka terarah pada Zevanya yang tengah mengobati luka Shawn dengar sabar.


“Sayang”.


Zehemia dan Zehekiel sedikit berlari kearah adiknya


“Kakak”. Zevanya langsung berdiri menyambut kedua saudara kembarnya.


“Sayang”. Kedua pria itu langsung memeluk adiknya dengan perasaan cemas luar biasa. Bagaimana tak khawatir adiknya masuk hanya dengan pistol kecil tanpa alat apapun atau anti peluru?


“Apa ada yang luka? Apa baik-baik saja?”. Cecar Zehemia melepaskan pelukkan adiknya.


Zevanya menggeleng “Zeva baik-baik saja Kak”. Senyum gadis itu.


Lalu mereka beralih pada Shawn, Sherlly dan Myra.


“Shawn”. Johannes, Grabielle dan Luke mendekat.


“My”. Myron mendekati adiknya. Tak lupa dia menutup hidungnya “Apa kau baik-baik saja?”. Tanya Myron tampak khawatir tapi dia menjaga jarak dengan menutup hidung.


Myra bergendus kesal “Ck, Kak kau ini keterlaluan sekali. Apa phobia mu itu berlaku untuk adik mu tercantik ini?”. Cibir Myra kesal.


Myron malah menampilkan wajah datarnya “Apa kau terluka?”. Cecar Myron. Dia juga heran ada apa dengannya? Kenapa dengan adiknya sendiri saja dia bisa phobia dan alergi begitu.


“Myra baik-baik saja”. Sahut Myra ketus.


“Kau bagaimana Shawn?”. Myron beralih pada Shawn.


Shawn hanya mengangguk. Dia masih belum tersadar dari syok nya ketiga mengingat adengan Zevanya tadi. Andai saja ada rekaman ulang, sudah pasti Shawn ingin memutarnya kembali.


“Sherlly apa kau terluka?”. Tanya Luke juga pada Sherlly.


Sherlly menggeleng dengan isak tangisnya “Tidak Kak. Aku masih takut”. Seru Sherlly wajahnya memang terlihat pucat.


Zehekiel menatap adiknya yang melanjutkan mengobati luka Shawn. Dia heran, apa yang adiknya lakukan bagaimana mungkin dia bisa menghabisi mereka semua?


“Awwwwwww”.


“Cihhh, ini tidak sakit Sasan. Jangan lebay begitu”. Sindir Zevanya sambil memasang perban ditangan Shawn “Aku sudah mengeluarkan peluru ditanganmu. Untung saja hanya terkena tangan, coba jika terkena jantung, aku takut kau mati muda dan mayatmu gentayangan karena penasaran belum menikah”. Celetuk Zevanya. Yang lain tercenggang mendengar celetukkan gadis itu. Astaga benar-benar gadis bermulut racun.


“Ckkk, bukan peluru itu yang membunuhku. Tapi kau”. Sontak Zevanya menutup mulut sepupunya itu “Umfffffffftttttt”. Shawn memberontak.


“Heheh, jangan berbicara suka jujur Shawn”. Zevanya melepaskan tangannya dari mulut Shawn sambil menatap tajam pria itu.


Shawn langsung kikuk, tatapan Zevanya seperti pedang bermata dua. Sangat tajam dan mampu menusuk sampai kedalam.


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️