Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 9. S2


SELAMAT MEMBACA........


Zehemia dan Zehekiel baru keluar dari perusahaan mereka. Jika perusahaan milik Zehemia bergerak dibidang senjata api maka perusahaan milik Zehekiel bergerak dibidang IT. Keduanya sukses dibidang masing-masing.


Zehemia tidak terlalu paham dengan dunia IT, dia menguasai rakit merakit senjata api dan memasarkan senjata itu. Sedangkan Zehekiel dia tidak paham dengan senajta api tapi dunia IT adalah keahliannya. Masing-masing keduanya memiliki kemampuan yang berbeda-beda.


“Bagaimana dengan Markas?”. Tanya Zehemia sambil berjalan kelobby dan memasuki mobilnya, disana sudah ada dua asissten setia mereka yang menemani.


“Tidak ada yang mencurigakan Kak. Wilayah timur juga sudah aman, tapi aku heran entah siapa yang membuat system keamanan itu, aku bahkan berusaha meretasnya namun tidak bisa, virusku ditolak”. Jelas Zehekiel dia menyenderkan tubuhnya dijok mobil.


“Apa Luke?”. Tanya Zehemia cukup kaget juga, baru kali ini adiknya ini mengeluh tidak bisa meretas, padahal Zehekiel ahli dalam hal tersebut.


“Bukan Kak, Luke juga berusaha meretasnya namun tidak bisa. Sepertinya ada orang yang mau membantu kita, tapi siapa?”. Ucap Zehekiel pelan


Didepan ada dua asissten yang setia menemani mereka. Math adalah asissten Zehemia dan Tommy assisten Zehekiel.


“Math, bagaimana Zevanya apa dia aman-aman saja?”. Tanya Zehemia pada asistennya. Karena Zehemia selalu memantau keadaan Zevanya melalui sang asissten dari jarak jauh, kesibukannya dalam mengurus perusahaan dan markas membuat dia tidak memiliki waktu banyak untuk menghabiskan waktu bersama adiknya itu.


“Aman Tuan”. Sahut Math sambil menyetir.


“Aku akan menghubunginya Kak”. Zehekiel mengambil ponselnya dan Zehemia hanya mengangguk. Kadang kesibukkan mereka harus membuat mereka saling berjauhan dengan adik bungsunya.


“Hallo Zeze nya Kak Iel”.


“Hai Kakak”.


“Sayang, jangan teriak-teriak”. Tegur Zehemia karena Zehekiel mengaktifkan loudspeaker ponselnya.


“Hehhe iya Kak”. Terdengar suara kekehan didalam telpon.


“Zeze sedang apa?”. Tanya Zehekiel.


“Lagi sama Kak Ron”. Zehemia dan Zehekiel saling melihat.


“ Kak Myron?”. Tanya keduanya kompak.


“Iya Kak”. Zehemia dan Zehekiel bingung, bukankah Myron anti wanita dan alergi jika berdekatan dengan wanita.


“Apa yang Zeze lakukan dengan Kak Myron?”. Tanya Zehemia lembut.


“Tadi antar Paman Mars, Bibi Merry dan Rara ke bandara Kak”.


“Ya sudah, nanti jam makan siang Kakak jemput. Zeze nanti mau dijemput dimana, galeri atau butik?”. Tanya Zehekiel pada adiknya.


“Tidak perlu Kak, nanti Zeva dan Kak Myron saja yang pergi ke perusahaan Kakak”. Sahut Zevanya. Kedua pria itu makin heran, yang benar saja Myron mau diajak ke perusahaan mereka hanya untuk makan siang? Bukan apa karena pria penderita OCD itu tidak suka makan siang diluar, karena dia tidak suka melihat banyak wanita yang menatapnya dengan kagum.


“Iya sayang, ya sudah Kakak tutup telponnya. Byee Zeze”. Zehekiel mengakhiri panggilannya.


“Kak”.


“Kiel”.


Mereka berdua masih bingung dengan apa saja yang baru dikatakan Zevanya dan mengatakan bahwa Myron sedang bersama nya. Memang hari ini Myron izin tidak datang ke markas karena harus mengantar orangtuanya ke bandara.


“Apa Kak Myron sudah sembuh dari OCD nya? Tapi apa secepat itu?”. Tanya Zehekiel masih dengan keterkejutannya.


“Entahlah Kakak juga tidak tahu”. Sahut Zehemia sambil menghela nafas “Apa mungkin Kak Myron menyukai Zeze?”. Timpal Zehemia.


“Iya juga, tapi kan kita tidak tahu”. Sahut Zehemia yang masih penasaran.


“Segera ke Markas Tom”. Perintah Zehekiel.


“Baik Tuan”. Sahut Tommy


Mereka menuju Bandara keluarga Wilmar. Letak Markas ditengah hutan tentu tidak bisa diakses dengan jalan darat dan bisa pun pastinya harus melewati beberapa rintangan.


Sampai di Markas, kedua pria itu langsung turun, pesonanya tak bisa dielakkan dan benar-benar tampan.


“Bagaimana Luke?”. Tanya Zehemia


Luke menghela nafas berat “Sangat sulit melacak dan mencari identitas Cut Silent. Sepertinya tidak ada cara lain, selain menanyakannya pada orangtua kita. Karena ini bersangkutan dengan dendam masa lalu”. Jelas Luke.


Terdengar helaan nafas dari ketiga pria itu. Luke memang bertugas mengontrol perusahaannya. Sedangkan Johannes dan Shawn mengontrol dari jauh, karena mereka sedang menyelidiki para munsuh yang menyusup dan mencari celah untuk menyerang mereka.


Ditempat lain.


Grace sedang duduk dengan wajah cemberutnya, dia mengumpat dengan kesal.


“Kenapa wajahmu Kak?”. Tanya Grabielle heran, dari tadi Kakaknya itu kesal tidak jelas.


Grace memutar bola mata malas “Itu sih Zevanya bisa-bisanya dia jalan-jalan bersama Kak Myron”. Celetuk Grace kesal.


Grabielle memincingkan matanya “Memangnya kenapa, itu kan urusan mereka?”. Sahut Grabielle.


“Kau tidak akan mengerti perasaan Kakak mu ini Beile”. Sindir Grace lagi, percuma curhat pada adiknya itu dia takkan mengerti.


Grabielle terkekeh mendengar omelan Kakak nya, kedua saudara ini memang sangat suka berdebat. Jika Zean dingin, maka Grabielle kebalikkannya. Dia pria yang humble dan juga humoris, namun kadang juga konyo apalagi jika dia dipertemukan dengan Zevanya yang berisik luar biasa ini.


“Apa kau hanya akan mengaduk makananmu saja Kak? Apa perlu adikmu yang tampan ini menyuapimu?”. Sindir Grabielle, dari tadi Kakak nya ingin mengerutu sambil mengaduk-aduk makanan dalam piringnya. Padahal Grace sendiri yang memintanya untuk makan siang bersama, sehingga mengangguk kesenangan Grabielle dengan senjata api koleksinya


“Ck, kau pikir Kakak anak kecil apa?”. Gerutu Grace memasukkan makanannya dengan paksa.


Grabielle geleng-geleng kepala “Aku heran pada Kakak, apa sih yang disukai dari Kak Myron? Tampan sih oke, tapi sifat nya yang dingin dan malah alergi wanita. Menarik dari mana nya Kak?”. Celoteh Grabielle, mereka makan sambil berdebat. Kebiasaan menyaksian Triple Z makan sambil bicara akhirnya menular pada mereka.


“Anak kecil sepertimu tidak akan paham”. Cibir Grace.


“Eitsss jangan salah Kak, kecil-kecil begini aku sudah bisa menghasilkan Grabielle junior”. Ucap Grabielle dengan bangga. Grace mendelik menatap adiknya dengan jijik, sungguh sifat Grabielle luar biasa bagi Grace, dia seorang cassanova kakap yang tidak tertulung lagi saking parahnya.


Plakkkkkkkkkk


“Awwww, Kak sakit”. Rintih Grabielle saat Grace memukul kepalanya dengan sendok “Kau suka sekali KDRT Kak”. Omel Grabielle.


“Makanya bicara itu di saring. Kau mau Kakak mengadukanmu pada Daddy, biar dipotong sekalian burungmu itu”. Ancam Grace gemes pada adiknya ini.


“Heheheh jangan Kak”. Grabielle cenggesan. Grabielle sangat takut pada Daddy nya Zean, sebab Daddy nya itu jika sudah mengomel maka tidak akan cukup satu atau dua jam, bisa berhari-hari dan membahas hal yang sama. Zean juga tak segan-segan menghukum putra bungsunya jika ketahuan bermain perempuan lagi.


Grabielle berusia 24 tahun, dia hanya beda satu tahun dengan Kakak nya. Namun, sifatnya manja dan juga konyol. Namun, tetap saja didunia Mafia dia sangat ditakuti oleh para munsuhnya.


Bersambung......


LoveUsomuch ❤️