
SELAMAT MEMBACA....
Tok tok tok tok tok
"Ce". Panggil Sean.
"Iya Kak, sebentar". Fitri berjalan kearah pintu kamarnya dan membuka pintu kamar.
"Wah, cantik sekali adiknya Kak Sean ini". Goda Sean tersenyum manis sambil merangkul Fitri "Ayo sarapan, mereka semua sudah menunggu". Timpal Sean.
"Ayo Kak". Fitri merangkul pinggal Sean dan Sean merangkul bahu Fitri.
"Mau Kakak gendong, kalau Fitri capek". Tawar Sean dan Fitri hanya menggeleng. Yang benar saja dia harus digendong hanya untuk berjalan kearah meja makan, sungguh posessif diluar nalar.
Mereka sampai dimeja makan. Semua sudah menunggu disana.
"Selamat pagi epribadehhhh". Sapa Fitri sambil tersenyum dan sedikit berteriak.
"Sayang, jangan teriak-teriak, nanti tenggorokan sakit". Tandas Fillipo khawatir langsung berdiri menyambut kekasihnya dengan membawa segelas air.
"Minum dulu". Fillipo menarik Fitri dari pelukkan Sean. Wajah Sean langsung kesal, sedangkan Fillipo tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo duduk". Fillipo menarik kursi untuk Fitri. Fitri duduk dan tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
"Selamat pagi Ayah, Daddy, Kak Zean, Kak Zaen, Kak Dhanny, Kak Lucas, Kak Mars, Kak Arthur, Paman Xander dan Paman Philp". Sapa Fitri pada semua orang yang menatapnya dengan kagum
"Pagi sayang".
"Pagi Fitri".
"Pagi juga Nak".
"Pagi juga kesayangan Kakak".
"Sini, Kakak suapin". Zean langsung ambil alih untuk menyuapi Fitri dan mendahului Fillipo.
"Ck". Kesal Fillipo.
"Kak Mars, Ibu mana?". Tanya Fitri setelah selesai menguyah makanan yang disedorkan Zean padanya.
"Ibu tidak mau sarapan jika buat Fitri yang jemput dikamar". Sahut Mars sendu. Dari semalam Ibu nya terus saja mencari Fitri dan ingin tidur dengan gadis itu. Tapi Mars tidak enak untuk menganggu dan membangunkan Fitri apalagi Mars tahu jika ketiga Kakak nya tidur dikamar Fitri.
"Ya sudah biar Fitri bangunin. Ayo Kak". Fitri bangun dari duduknya.
"Sayang, kau belum selesai makan". Tegur Zean dan ikut juga berdiri.
"Nanti dilanjutkan Kak, kita tunggu Ibu". Sahut Fitri "Ayo Kak Mars". Ajak Fitri melangkah.
"Sayang, aku ikut". Fillipo langsung berdiri disamping Fitri dan meraih pinggang Fitri untuk mendekat padanya. Fillipo tidak mau jika Mars ambil kesempatan untuk dekat dengan kekasihnya itu.
Sean, Zean dan Zaen mencibir sifat Fillipo. Tanpa mereka bertiga sadar diri bahwa mereka juga sama. Sama-sama posessif dan pencemburu akut.
Mars mengumpat Fillipo dalam hati, niat hati ingin berdua bersama Fitri menjemput Catty dikamar namun gagal karena mantan rival nya itu.
"Ibu". Panggil Mars dan Fitri bersamaan saat masuk kekamar Catty.
"Fitri". Catty langsung memeluk Fitri "Ibu pikir, kau pergi meninggalkan Ibu". Isak Catty memeluk tubuh munggil Fitri.
Fitri membalas lalu melepaskan pelukkan Catty dan menyeka air mata wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti Ibu sendiri.
"Fitri tidak akan meninggalkan Ibu". Balas Fitri "Ayo kita sarapan". Ajak Fitri sambil membantu Catty berdiri "Dimeja makan banyak pria tampan lho Bu. Kalau Ibu mau pilih saja salah satunya, tapi hanya dua orang saja yang boleh Ibu pilih. Yang lainnya sudah ada yang punya". Celetuk Fitri sambil terkekeh. Fillipo dan Mars hanya menahan tawa, Fillipo tahu pasti yang dipromosikan Fitri adalah Ayah dan Daddynya.
Sedangkan Catty hanya menganggap dengan senyum manis "Ayo sayang". Catty berjalan dibantu oleh Mars dan Fitri. Sedangkan Fillipo malah dengan asyik merangkul bahu Fitri.
Tingkah Fillipo tak lepas dari tatapan Mars yang terlihat begitu kesal. Entah kenapa Mars semakin tertarik dengan Fitri, ketika melihat betapa sayangnya Ayah dan ketiga Kakak kembarnya membuat Mars semakin penasaran sosok Fitri yang sesungguhnya.
Fitri dan Mars memapah Catty untuk duduk dikursi samping Mars. Membuat semua yang berada dimeja makan kompak menatap mereka berdua yang terlihat seperti Kakak dan adik saling menyanyangi Ibu mereka.
"Terima kasih sayang". Ucap Catty sambil tersenyum yang belum menyadari orang-orang dimeja makan.
Deg
Deg
Deg
Deg
Seketika pandangan Catty dan Pedrosa bertemu. Keduanya saling tatap dan mematung ditempat. Bahkan Pedrosa terlihat syok saat melihat wanita yang duduk disamping Mars. Wajah wanita itu tidak berubah sama sekali, sama seperti 34 tahun silam.
Kedua nya masih membisu dan tak berucap membuat mereka yang tengah berada diruang makan terheran-heran.
"Ibu". Panggil Mars mengusap tangan Catty dengan lembut. Melihat Catty yang hanya diam mematung sambil melihat kearah Pedrosa membuat Mars khawatir.
"Ayah". Zean juga bingung melihat Ayahnya terdiam membisu.
"Ayah". Zaen dan Sean ikut memanggil Pedrosa yang tidak merespon panggilan Zean.
"Eh i-iya". Sahut Pedrosa gegelapan dan baru tersadar dari keterkejutannya.
"Ayah kenapa?". Tanya Zaen heran menatao Pedrosa
"Ah tidak apa-apa, silahkan lanjut makan". Kilah Pedrosa mengalihkan pertanyaan anak-anaknya.
Catty juga melanjutkan makannya dalam diam, semakin membuat Arthur dan Mars terheran-heran.
"Apa Ibu baik-baik saja?". Tanya Arthur lembut.
Catty tampak gugup "Ibu baik-baik saja". Sahut Catty sambil menyuap makanan nya.
Fitri yang peka dengan situasi berusaha menganalisa wajah kedua paruh baya itu. Sambil menikmati suapan demi suapan yang diberikan Zean.
"Apa Ayah dan Ibu saling kenal dimasa lalu? Apa Ayah dan Ibu punya hubungan di masa lalu? Terlihat sekali wajah keduanya gugup, jika Ayah terlihay syok maka Ibu terlihat bersalah. Hmm, sepertinya aku tahu masalahnya". Batin Fitri sambil menatap kedua orang itu dengan ekor matanya sehingga tidak ada yang menyadari
Mereka pun melanjutkan makan. Mars, Arthur dan Catty dibuat tercenggang dengan suasana makan yang berbeda. Dimana Sam, Pedrosa, Sean, Zean, Zaen dan Fillipo terus saja berceloteh dengan Fitri yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Heran dan terheran-heran begitulah yang ada dibenak mereka. Bukankah sangat pantang makan sambil berbicara? Apalagi disertai canda dan tawa dari mereka.
Sedangkan Phillip dan yang lainnya sudah biasa melihat permandangan seperti itu jadi sudah tak asing dan tak heran, justru mereka juga hampir tertular dengan keanehan keluarga Ranlet Flint dan Black Glorified.
Ditempat lain..
Merry dan Dea sama-sama dikurung dijeruji besi. Kedua wanita seusia itu meratapi nasib mereka. Bagaimana tidak mereka selalu saja dihantui oleh ular saja yang terus saja menatap mereka dengan lapar. Berkali-kali Dea menangis histeris. Sementara para pengawal yang bertugas mentertawakan mereka dengan puas.
"Sudah Dea berhenti menangis". Tegur Merry yang mulai lelah karena dari tadi terus saja menghibur Dea yang menangis dan berteriak ketakutan.
"Hiks, Merry aku takut". Dea mengeratkan pelukkannya pada Merry.
"Percaya padaku, dia tidak akan memakan kita jika dia masih berada dikandangnya. Sudah sebaiknya makan lah, dari kemarin kau tidak makan". Ucap Merry melepaskan pelukkan Dea sambil menyerahkan sepiring makanan pada Dea.
"Tapi.....".
"Makanlah Dea. Jika kau sakit aku tidak bisa mengurusmu. Kau tahu kan aku sedang berbadan dua". Jelas Merry dengan memohon agar Dea mengerti.
Melihat sorot mata Merry membuat Dea terenyuh "Baiklah". Dea mengambil makanan itu dan memakannya dengan lahap.
Merry meminum susu Ibu hamil yang memang sengaja disediakan untuknya. Ya walaupun mereka dikurung tapi makanan mereka tetap terjamin. Apalagi Merry yang sedang mengandung tentu butuh makanan yang bernutrisi.
**Bersambung.......
Cukup dua bab dulu ya guys hari ini, Author akan kembali kedunia nyata dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
Besok-besok author janji akan up lebih dari dua bab...
See u next episode.....
GBU..
LoveUall**......