Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 37. S2


SELAMAT MEMBACA...


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


Johannes, Shawn, Luke dan Grabielle tengah berperang habis-habisan karena mereka diserang tiba-tiba. Entah siapa yang menyerang mereka, ketika hendak menuju bandara untuk pergi ke Markas Black Glorified dan Lion Killer 2, tiba-tiba saja ada yang menghandang mobil yang mereka kendarai.


Dor dor dor dor dor dor


Shawn menembak dengan ahli tepat terkena sasaran. Shawn selalu bisa menargetkan penembakkan pada munsuhnya, tepat mengenai jantung.


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


Suara peluru masih saling bersahutan satu sama lain. Munsuh-munsuh yang menyerang mereka kalah dan tumbang tak bernyawa. Peluru yang dipakai oleh Johannes, Shawn, Luke dan Grabielle sudah dilengkapi racun mematikan oleh Zehemia, karena senjata-senjata itu diproduksi langsung oleh Zehemia dan Myron. Tentu saja Zehemia memberikan senjata terbaik kepada para sepupunya.


“Bielle, bawa ke Markas”. Tintah Shawn memasukkan pelatuknya kembali kedalam jasnya.


“Baik”. Grabielle menangkap satu dari munsuhnya yang masih tersisa.


“Cepat”. Bentak Grabielle memasung kedua lengan munsuhnya dan dibantu oleh Johannes.


Mereka masuk kedalam jet pribadi yang akan mengantarkan mereka ke Markas. Sedangkan munsuh yang tertangkap sudah diikat dengan tali tangan dan kedua kakinya.


“Siapa yang menyerang kita? Apa kau sudah melacaknya Luke?”. Tanya Shawn pada Luke yang sedang serius dengan laptop yang ada dipangkuannya.


“Aku sedang melacaknya”. Ucap Luke.


“Apa menurutmu ini Cut Silent?”. Sambung Johannes


“Sepertinya bukan. Kau tahu sendiri Cut Silent tidak seceroboh ini jika menyerang”. Timpal Shawn.


“Lalu siapa?”. Sambung Grabielle yang tampak juga berpikir “Sebaiknya hubungi Kak Myron dan Kak Zehemia, mungkin mereka tahu siapa dalang dibalik semuanya”. Saran Grabielle.


“Tidak perlu memberitahu mereka. Kak Myron dan Zehemia sedang focus mengurus masalah penyerangan terhadap Markas Black Shinee dan BTOB King, apalagi Kak Myron sedang menyelidiki para penghianat Black Shinee”. Jelas Shawn.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?”. Tanya Grabielle.


“Kita cari sumber masalahnya”. Jawab Shawn. Luke masih serius dengan laptop didepannya. Dia berusaha mencari siapa yang berani menyerangnya.


“Luke, apa kau sudah menemukan penembakan terhadap Zevanya?”. Johannes mengalihkan pembicaraan. Hingga kini mereka belum menemukan siapa yang menembak Zevanya? Informasi itu sepertinya memang sengaja ditutupi.


Luke menggeleng “Belum. Aku sudah meminta bantuan Daddy dan Paman Zaen”. Sahut Luke tanpa mengalihkan matanya.


Suasana hening yang terdengar hanya suara keyboard laptop Luke yang saling bersahutan satu sama lain. Johannes, Shawn dan Grabielle ikut menatap layar laptop Luke. Meski tak ahli IT namun mereka masih cukup mengerti masalah itu.


Sampai di Markas Black Glorified dan Lion Killer 2. Grabielle dan Shawn langsung menyeret satu anak buah dari munsuhnya yang berhasil tertangkap. Untung saja mereka tidak menghabisi semuanya. Jika tidak mereka takkan mendapat petunjuk tentang siapa dalang dibalik penyerangan ini.


Grabielle melempar pria itu keruang penyiksaan. Keempat pria tampan itu terlihat menyeramkan.


“Apa yang akan kita lakukan padanya?”. Tanya Grabielle.


“Kurung saja. Percuma kita mengintrogasinya sekarang dia takkan mengatakan dengan jujur”. Sahut Shawn.


Lalu Grabielle melempar pria itu kedalam jeruji besi. Mengurungnya disana tanpa makan dan minum. Jika mereka tak segera membunuh maka mereka akan mengurung hingga mati kelaparan dan kehausan.


Zehekiel berjalan dengan tergesa-gesa saat mendapat kabar bahwa para sepupunya diserang membuat pria ahli IT itu segera meninggalkan perusahaanya. Dia juga sudah menghubungi Zehemia dan Myron, namun kedua pria itu tak bisa ikut dengannya ke Markas karena ada beberapa masalah dengan perusahaan yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditinggalkan.


Zehekiel segera menuju bandara, disana dia sudah dijemput oleh para anggotanya. Langkah nya terlihat tak sabar. Dia ingin tahu siapa yang menyerang mereka dengan terang-terangan.


Zehekiel langsung turun dari pesawat dan melangkah masuk kedalam Markas. Dia disambut dengan hormat oleh semua anggota.


“Shawn”. Zehekiel melangkah kearah para sepupunya. Dia melihat Shawn yang tampak menatap tajam pria yang sekarat didalam jeruji besi.


“Kiel”. Sahut keempatnya kompak.


Zehekiel maju dan menghampiri keempat sepupunya “Apa yang terjadi?”. Tanya Zehekiel dia ikut menatap munsuh yang ditangkap oleh para sepupunya itu.


“Kami diserang tiba-tiba”. Sahut Grabielle “Apa kau mencurigai jika ini ulah Cut Silent Kak?”. Tanya Grabielle


Zehekiel mengelleng “Kurasa bukan”. Sahutnya “Keluarkan dia”. Tintah Zehekiel.


Shawn dan Grabielle segera mengeluarkan pria itu dengan paksa. Mereka tak peduli dengan kondisi pria itu.


Zehekiel menatap tajam, meski tak sekejam Kakak nya namu aura kemafiaan-nya tak perlu diragukan. Dia bisa terlihat menyeramkan disaat yang bersamaan.


“Siapa kau?”. Tanya Zehekiel.


Pria itu tak menjawab, lidahnya terasa kelu untuk sekedar memberi tahu siapa dia karena rasa takutnya membuat dia tidak bisa berbicara.


“Jawab brengsekkkkkkk”. Zehekiel mencengkram dagu pria itu “Cepat katakan”. Bentak Zehekiel ditelinga pria itu.


“M-maafkan saya Tuan”.


“Cepat katakan”.


“S-saya anggota Cut Silent”.


Zehekiel menghempaskan dagu pria itu dengan kasar. Emosinya masih belum mereda. Dia tahu pria itu bohong. Cut Silent adalah kelompok Mafia yang melakukan cara licik, tidak mungkin menyerangnya dengan sembarangan.


“Shawn, Bielle. Masukkan dia kedalam kandang San. Pastikan San mencabik-cabik tubuhnya”.


“Baik”.


Shawn dan Grabielle langsung menyeret pria itu dan melemparkan kedalam kandang ular yang sudah haus akan daging manusia. Sudah beberapa hari ini San tidak memakan daging manusia karena para Tuan-nya tidak mendapat tangkapan.


Ular Sanca yang sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun itu langsung menerkam mangsanya. Dia mencabik-cabik tubuh yang dilemparkan kedalam kandangnya. Bahkan pria yang dilempar tadi tak sempat berteriak atau sekedar mengaduh kesakitan. Tubuhnya dicabik dengan sadis tak memberi ruang untuknya memberontak.


Zehekiel tersenyum puas. Sebenarnya dia tidak terlalu suka membunuh seperti Kakak nya tapi jika ada yang mencari masalah dengannya, kenapa tidak?


“Apa benar ini ulah Cut Silent?”. Tanya Johannes


“Bukan”. Sahut Zehekiel “Ada munsuh yang mencoba mengelabui kita dengan mengadu domba Cut Silent. Aku yakin jika munsuh kali ini bukan orang sembarangan. Kita harus lebih memperketat penjagaan”. Tintah Zehekiel.


“Jika bukan Cut Silent lalu siapa?”. Tanya Grabielle tampak juga berpikir.


“Entahlah, yang pasti ada munsuh baru yang harus kita lawan”. Jawab Zehekiel.


Munsuh tak henti-hentinya mencari masalah. Zehekiel memang belum menemukan siapa saja munsuhnya. Tapi dia yakin jika para munsuhnya sudah berkeliaran dan siap menyerang. Maka yang perlu dia lakukan menyiapkan diri dan menyerang balik


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️