Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 122


SELAMAT MEMBACA....


Fitri, Luna dan Pearce masuk kedalam mobil mewah milik Fitri yang di kemudikan oleh Rio. Supir pribadi yang selalu setia mengantar Nona Muda-nya kemana saja.


"Hmm, Fit kami takut bertemu dengan ketiga Kakakmu!". Lirih Pearce saat Fitri mengajak mereka menginap di Mansion mewah Fitri.


Fitri melirik kearah Pearce "Tidak perlu takut Pearce, mereka tidak akan memakanmu". Celetuk Fitri.


Pearce kesal "Bukan itu Fitri". Desah Pearce "Kau tahu kan dulu aku pernah menghianatimu, jadi aku takut jika ketiga Kakakmu tidak suka jika aku disana". Ucap Pearce menunduk.


Rio hanya menyimak mendengarkan percakapan ketiga gadis yang ada dibelakang nya.


"Pearce dengarkan aku! Mereka hanya terlalu menyanyangiku, mereka hanya takut aku terluka. Kau pernah lihat kan bagaimana posessif nya mereka padaku, mereka menunjukkan rasa sayangnya dengan cara berbeda-beda. Sejujurnya mereka orang baik Pearce jangan takut. Apalagi kak Sean, dia itu paling posessif diantara mereka, kau tahu kan? Bahkan Kak Popo saja hampir tidak bisa menyentuhku, tapi jangan berpikiran buruk padanya, dia hanya ingin melihat bagaimana Kak Popo memperjuangkan ku. Kalau Kak Zaen, dia memang paling humoris dan hangat, tapi jika marah kau akan tahu bagaimana menyesalnya membangunkan harimau yang sedang tidur. Kalau Kak Zean, dia memang sangat dingin dari antara mereka tapi dia juga yang paling dewasa, hanya sayang dia tidak sejenius aku". Jelas Fitri sambil menjelaskan kepribadian Kakaknya.


Pearce semakin menunduk takut "Sudahlah Pearce jangan takut, jika mereka berani memarahimu aku tidak akan mau disuapin maka sama mereka". Ratu Fitri. Pearce tergelak mendengar Fitri.


"Ck, Kakak Ipar ini". Kekeh Pearce. Luna juga terkekeh.


"Tidak salah banyak yang menyanyangimu Nona. Meskipun sudah disakiti dan dikhianati tapi Nona, tetap mudah memaafkan orang lain. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri Nona". Batin Rio tersimpul sambil menyetir mobilnya.


"Jangan senyam-senyum sendiri Paman. Aku tidak punya rumus untuk mengusir roh halus dalam tubuhmu". Sindir Fitri


Rio terjingkrak mendengar ucapan Fitri "Tidak Nona". Elak Rio.


Sementara Luna dan Pearce hanya menggeleng saja. Fitri selalu saja bisa menghidupkan suasana yang tegang.


Mata Fitri menatap kearah jalan, netranya menangkap seorang wanita yang tengah kelimpungan berjalan.


"Paman, berhenti didepan". Perintah Fitri.


"Baik Nona". Walaupun tak mengerti mengapa disuruh berhenti, Rio tetap menghentikan mobilnya.


"Ada apa Fit?". Tanya Luna heran.


"Itu, sepertinya sedang ada yang terluka Luna". Fitri turun dari mobil dan ikuti oleh Luna, Pearce dan Rio.


"Nona". Panggil Rio saat melihat Fitri hendak menghampiri seorang wanita yang jalannya sempoyongan, sepertinya wanita itu terluka.


"Nona, sebaiknya kita pulang! Tuan Sam sudah menunggu anda di Mansion". Ucap Rio mencegah Fitri untuk tidak mendekat kearah wanita itu, Rio takut jika itu hanya orang jahat yang berpura-pura saja.


"Kita akan pulang setelah kita menolong wanita itu". Bantah Fitri terus berjalan.


Luna dan Pearce juga ingin mencegah tapi sepertinya gadis itu tidak mau dibantah kemauannya.


"Kakak". Fitri memanggil wanita itu, yang sedang memegang kepalanya, beberapa bagian diwajahnya tampak terluka.


Wanita itu mengangkat kepalanya kearah sumber suara yang memanggil nya.


"*Fitri". Batin wanita itu.


"Dea". Batin Fitri tak menyangka*.


Fitri secepat mungkin mengubah mimik wajahnya agar Dea tidak curiga bahwa ia tahu siapa Dea.


"Kakak, kenapa?". Tanya Fitri melembut sambil memegang lengan Dea.


Sedangkan Luna dan Pearce ikut mendekat. Mereka tidak berniat membantu Dea, mereka hanya ingin memastikan bahwa wanita itu bukan orang jahat yang mencoba melukai Fitri.


"A-aku terluka". Jawab Dea terbata tentu dengan acting yang buat-buat.


"Apa Kakak tahu rumah Kakak dimana? Atau Kakak ikut aku saja ke Mansion, biar diobati disana". Tawar Fitri yang tentu saja membuat Luna dan Pearce melonggo.


"Fit....".


"Paman Rio cepat bantu". Perintah Fitri pada Rio.


"Baik Nona". Rio pun membantu Dea masuk kedalam mobil.


Rio memasukkan Dea kedalam mobil, Fitri, Luna dan Pearce juga ikut masuk. Dea tampak kesakitan sambil memegang wajahnya yang terluka.


"Kakak tenang ya". Fitri memegang luka Dea.


"Awwww". Rintih Dea.


"Pearce bisa kau obati Kakak cantik ini?". Tanya Fitri pada Pearce.


"Ck, Kakak Ipar aku ini model, bukan Dokter bagaimana mungkin aku bisa mengobatinya". Celetuk Pearce kesal.


"Kau Luna...?". Tanya Fitri pada Luna.


"Apalagi aku Fitri! Pekerjaanku mendesain baju, bukan mendesain organ manusia!". Jawab Luna ketus.


"Luna, Pearce. Kenapa kalian berbalik pada gadis ****** ini! Apa kalian lupa jika dia merebut kebahagiaan kita?". Batin Dea berusaha menahan emosinya dengan pura-pura menahan sakit.


"Kakak, tenang ya kita tidak jauh lagi dari Mansion". Senyum Fitri.


"Tidak, apa-apa Nona. Aku baik-baik saja". Balas dengan dengan senyum seramah mungkin. Padahal hatinya sudah ingin menenggelamkan gadis itu ke dasar laut.


"Panggil aku Fitri saja Kakak". Fitri mengulurkan tangannya Dea menyambut dengan senyum pura-pura "Ini Luna, sahabat baikku. Dan ini Pearce calon adik Ipar ku. Kakaknya yang tampan itu adalah kekasihku". Jelaz Fitri yang sengaja mengatakan tentang hal itu.


Dalam sekejap wajah Dea berubah, bahkan tanpa Luna dan Pearce tangan Dea mengepal dengan kuat.


"Nama Kakak siapa?". Tanya Fitri.


"Maria". Sahut Dea membalas.


"Kak Maria kenapa bisa terluka begini?". Tanya Fitri penasaran dan tentunya Fitri tahu jika itu pura-pura.


"Hiks, tadi aku hampir diperkosa dan aku melawan lalu mereka menamparku, hiks". Ucap Dea sambil berpura-pura menangis.


"Cih, kau sedang tidak berpura-pura menipu kami kan Nona Maria?". Tanya Pearce curiga. Tentu saja Pearce bisa membaca dari raut wajah Dea bahwa wanita ini bukan wanita baik terlihat jelas saat Dea menatap Fitri.


"Apa yang kau katakan itu?". Lirih Dea memasang wajah sendunya.


"Dasar kau Pearce, tunggu membalasanku". Batin Dea melanjutkan kata-katanya dalam hati.


"Benar kata Pearce kau tidak ada niat jahat kan?". Tanya Luna menyelidik wajah Dea.


"Luna, sudahlah". Sanggah Fitri beracting tentunya.


"Sepertinya ada yang mengawasi ku diam-diam. Bagaimana Dea bisa tahu jika aku akan lewat jalan ini? Hmm, ini tidak bisa dibiarkan aku harus segera menghubungi Kak Fillipo untuk memperketat penjagaan pengawal bayangan untukku". Batin Fitri.


Sesekali dia melirik kearah Fitri, tatapan gadis itu seperti tak sabar ingin menerkam Fitri membalas kan segala sakit hatinya. Apalgi saat Fitri menyebut nama Fillipo.


"Lihat saja nanti gadis kecil, kau akan kusingkirkan". Batin Dea tersenyum licik.


Tentu saja pergerakkan Dea tak lepas dari pengawasan Fitri. Gadis itu berpura-pura tenang dan terus berceloteh dengan segala gurauan untuk menutupi kecurugaan Luna dan Pearce. Ternyata kedua wanita itu mempunyai insting yang sangat kuat, bahkan mereka bisa merasakan jika Dea bukan orang baik.


**Bersambung......


Ikuti kisah mereka....


GBU...


LoveUall**...