
“ Ahhh, kenapa aku jadi ingat dengan Tuan Fillipo”. Gumam Fitri sambil mengusap wajahnya kasar membaringkan tubuhnya diatas kasur king size nya.
“ Apa kabar mereka?”. Gumam Fitri lagi sambil memandang langit-langit kamarnya.
“ Dea Pearce, aku merindukan kalian”. Ucap Fitri lagi.
“ Maaf”. Lirihnya dan tidak terasa air mata lolos dipipinya yang mulus.
“ Kak Dhanny, maafkan aku Kak. Jujur aku sangat kecewa pada Kakak, tapi aku juga sangat merindukan Kakak”. Lanjut Fitri lagi.
“ Tuan Fillipo, ahhh Si Kulkas Berjalan itu. Apa kabar dia?”. Monolog Fitri lagi
“ Leo juga apa kabar? Tuan Lucas??”. Gumam Fitri sambil mengingat semua orang yang ia tinggalkan.
“ Apa semua baik-baik saja disana??”. Gumamnya lagi
“ Ahhh sebaiknya aku mencari tahu mereka sekarang”. Fitri mengambil laptop yang baru ia beli. Tangan munggilnya mulai berselancar ditombol-tombol keyboard laptop itu. Tangan nya tak berhenti berlarian distut keyboard tersebut, ia harus mencari tahu bagaimana kabar orang-orang yang menyangi dan disayangi nya. Walaupun masih ada rasa takut dihatinya, tapi ia berusaha menguasai diri dan tidak mau egois apalagi menyimpan dendam pada mereka. Bukankah semua orang pasti punya alasan mengapa melakukan kesalahan .
Matanya terbelalak saat melihat apa rekaman CCTV yang baru saja dia retas. Jantungnya berdetak hebat seperti lari marathon.
“ Tuan Fillipo, Kak Dhanny, Tuan Lukas, Leo, Dea, Pearch, Mommy Piranda, Tuan Phillip”. Fitri menutup mulutnya tak percaya atas apa yang dilihatnya.
“ Apa yang terjadi pada mereka? Siapa yang melakukan ini?”. Lirih Fitri tangannya masih saja berlarian diatas stut keyboard laptop, tak terasa air matanya terjatuh,
“ Maafkan aku!!! Ini semua gara-gara aku, seandainya aku tidak main kabur-kaburan dan mendengar penjelasan kalian, kalian tidak akan menjadi korban seperti ini”. Sesal Fitri.
Didalam rekamanan CCTV itu tampak, keluarga terkaya didunia tengah dikepung dan disekap oleh beberapa kelompok Mafia yang bekerja sama. Keluarga Wilmar, Alexander, Putra dan Barrack semua disekap dan dikepung oleh mereka. Bahkan seluruh dunia tidak ada yang berani melawan mereka. Meskipun keluarga Wilmar orang kaya didunia namun tak ada yang mau ambil resiko untuk membantu dan menyelamatkan mereka.
“ Aku harus melepaskan mereka”. Gumam Fitri.
Ia meletakkan laptopnya dan segera mandi dan membersihkan diri dengan cepat. Menganti bajunya dengan piyama tidur. Tidak lupa gadis itu mengoleskan cream malam diwajahnya, cream kecantikan mahal yang dibeli langsung dari Jepang oleh Sean. Sebenarnya Fitri menolak, karena selama ini ia tak pernah menggunakan alat kosmetik selain bedak tabur dan pelembab bibir, namun karena paksaan dari Sean dan Sam membuat ia tak bisa menolak.
Fitri langsung berlari kekamar Sean, mencari keberadaan Kakak nya.
Brakkkk ia membuka pintu tanpa permisi kepada yang empunya kamar.
“ Astaga, Cece”. Sean sampai memegang dadanya karena terkejut dengan kedatangan adik tercinatnya tersebut.
“ Hehhee”. Fitri cenggesan sambil mengaruk tengguk nya yang tidak gatal. Saking panic nya ia sampai lupa mengetok pintu.
Sean yang tadi tengah asyik memainkan laptopnya, sambil mengacek berkas-berkas dan dokumen kantornya, segera meletakkan laptopnya disamping duduknya. Jika masalah Fitri apapun itu selalu menjadi bagian penting dalam hidup Sean, menurutnya tidak ada hal penting didunia ini selain sang Adik tercinta.
“ Ada apa sayang?”. Tanya Sean lembut. Fitri berjalan kearah Kakak nya dan langsung menyambut pelukkan hangat sang Kakak. Jika terlihat sekilas mereka seperti pasangan suami istri yang tengah dimabuk asmara cinta.
“ Kakak janji akan menuruti apa yang Fitri mau?”. Ucap Fitri sambil mendongrakkan kepala nya menatap sang Kakak yang begitu tampan itu.
“ Hmmm, iya sayang. Asal itu tidak membuatmu celaka, Kakak janji akan mengabulkan apapun yang Cece mau”. Sahut Sean sambil tersenyum hangat menatap adiknya yang masih betah dalam pelukkan hangat Sean
“ Janji”. Fitri mengaitkan jarinya dengan jari manis Sean
“ Janji”. Sambut Sean dengan tersenyum menatap wajah cantik Adik nya. Andai saja mereka bukan saudara sudah pasti Sean adalah laki-laki pertama yang akan menikahi Fitri.
“ Boleh pinjam laptop Kakak?”. Pinta Fitri. Walau pun Sean adalah Kakak kandungnya Fitri masih saja canggung dengan Sean, terlebih ia dari kecil diajarkan untuk sopan santun.
“ Sini sayang”. Sean memberi ruang untuk Fitri duduk dikasur king size miliknya.
“ Bentar ya. Kakak save dulu datanya”. Ujar Sean sambil menyimpan file yang baru saja dia ketik dilaptop mahal yang harganya setara dengan satu buah pulau tersebut.
Sean memberikan laptopnya pada Fitri. Dia sampai melonggo tidak percaya melihat tangan munggil itu yang sangat ahli tanpa ada kesalahan sedikitpun dari tombol yang ditekan. Bahkan Fitri sama sekali tidak menanyakan kata sandi nya. Sean sampai mengelleng tidak percaya dengan kemampuan adiknya
“ Kak lihat ini”. Fitri menunjuk layar laptop, dimana disana sudah terdapat beberapa rekaman CCTV yang dia retas
“ Bukannya ini Fillipo?”. Tanya Sean sambil memperhatikan rekaman CCTV itu
“ Kakak kenal sama Tuan Fillipo?”. Tanya Fitri menyelidik wajah Kakaknya
“ Iya Ce, dia teman kecil Kakak. Sudah lama Kakak tidak bertemu dengannya sejak dia memutuskan untuk tinggal di Indonesia”. Sahut Sean menjelaskan pada Fitri
“ Serius??”. Tanya Fitri menatap Sean. Sean mengangguk dan tersenyum, sambil mengelus kepala Fitri dengan sayang. Sean mengangguk dan mengiyakan pertanyaan sang Adik.
Fitri kembali meretas rekaman CCTV yang lainnya untuk menunjukkan buktinya.
“ Lihat Kak ini”. Tunjuk Fitri lagi pada layar laptop.
Kembali Sean dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya pada layar laptop yang harganya Milyaran rupiah tersebut.
“ Ce, bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terjadi pada mereka?”. Tanya Sean panic.
“ Kak sebenarnya ini gara-gara Fitri”. Ucap Fitri sambil mengangguk
“ Maksudmu apa sayang?”. Tanya Sean lembut, ia tak mau adiknya itu bersedih. Apapun alasannya Sean takkan membiarkan air mata jatuh dipipi manis itu.
Bersambung.......