Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 124


SELAMAT MEMBACA.......


Dimeja makan Mansion mewah keluarga Ranlet Flint, terdengar sendok yang saling bersahutan diiringi dengan gelak serta canda tawa yang menggema.


Fitri, gadis itu menjadi rebutan para Kakak dan kekasihnya. Fitri bahkan harus dihadapkan dengan perdebatan tak masuk akal dari keempatnya. Dimana keempat pria itu saling berebut hanya untuk menyuapinya.


"Ayah saja". Ucap Fitri jenggah, ia hampir tidak makan gara-gara keempat pria itu.


"Tapi Ce...".


"Tapi sayang".


"Dek".


Fitri mengenduskan nafas kasar, dalam hati sudah mengumpat kesal dengan sikap mereka.


"Biar Ayah saja yang suapin". Sanggah Pedrosa mengambil makanan dalam piringnya dan menyuapi sang putri.


Wajah keempat pria itu sama-sama ditekuk, bahkan keempatnya saling melempar tatapan tajam. Sam yang melihat permandangan itu menggelleng kepala dengan sikap para putranya.


Sedangkan para pelayan hanya tersimpul dengan senyum menggembang diwajah mereka. Sudah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka karena setiap kali makan selalu dengan drama yang sama, alhasil gadis kecil itu terkadang makan sendiri dari pada harus mendengar perdebatan para Kakak nya.


Luna dan Pearce ikut tersenyum bahagia dengan permandangan itu, tak bisa dipungkiri mereka merasa terhibur dengan perdebatan aneh mereka. Dikeluarga Wilmar tentu perdebatan seperti itu cukup langka, karena mereka selalu makan dalam keheningan yang terdengar hanya suara sendok dan garpu saling bersahutan.


Sedangkan Dea menggerem kesal. Dea sangat terganggu dengan suara bising tersebut, ingin Dea melabrak meja tapi itu tidak mungkin bisa-bisa dia dicap tamu tak punya rasa hormat terhadap Tuan rumah.


Setelah selesai makan, mereka semua istirahat dikamar masing-masing.


Luna dan Pearce izin pulang karena orangtua mereka khawatir dengan anaknya. Sam pun mengizinkan dan paham terhadap perasaan para orangtua.


Sementara Dea, wanita berusia 26 tahun itu memilih istirahat dikamarnya. Hatinya masih memanas melihat kemesraan Fitri dan Fillipo. Ditambah lagi dengan cara para pria itu memperlakukan dan memperebutkan Fitri hanya untuk sekedar siapa yang menyuapi gadis itu, membuat Dea semakin menggerem karena perasaan irinya. Tentu Dea tidak pernah mendapatkan kasih sayang seperti itu. Dion dan Diandra yang memang notabene seorang pengusaha sukses sibuk dengan urusan bisnis dan perusahaan. Sedangkan Dhanny, dokter tampan itu terlalu dingin untuk Dea bermanja-manja, apalagi sejak kehadiran Fitri membuat posisi Dea semakin tergeser.


"Arghhhh, brengsekkkk. Dasar ******, sebentar lagi aku akan menyingkirkan mu ******". Ucap Dea tangannya terkepal dan rahangnya mengeras, tatapannya penuh kebencian.


"Aku heran pada Kak Dhanny kenapa dia bisa cinta mati pada gadis ****** itu? Apa kelebihan nya?". Geram Dea menatap pantulan dirinya dicermin "Dan Kak Fillipo, kenapa dia tidak terpesona saat melihat wajahku? Bukankah Kak Fillipo menyukai Martha? Dan ini, jangankan terpesona melihatku saja dia seperti jijik!". Seru Dea masih bermonolog sendiri "Apa ada informasi yang dilewatkan Kak Dhanny. Aku harus segera menghubunginya!". Ucap Dea.


Dea meronggoh ponselnya dan mencari nama Kakak nya. Sejak kemarin Kakak nya itu tak pernah menghubunginya. Kadang Dea bertanya-tanya apakah dia saudara Dhanny atau bukan? Karena Dhanny memperlakukan dirinya tidak seperti perlakukan Kakak pada adiknya.


"Hallo Kak".


"Apa rencanamu berhasil Dea?". Tanya Dhanny ketus. Bukannya menanyakan kabar adiknya, malah menanyakan rencananya.


Dea menghela nafas kasar. Entah kenapa semakin hari hubungan Kakak adik ini semakin dingin.


"Aku sudah masuk ke Mansion Ranlet Flint. Tapi sepertinya dugaan Kakak salah, Kak Fillipo sama sekali tidak terpesona padaku malah terkesan jijik". Jelas Dea.


"Apa kau tidak berusaha menarik perhatiannya?". Tanya Dhanny.


"Percuma Kak, dia terus saja menempel pada gadis ****** itu".


"Jangan berani-berani menyebutnya ****** Dea". Bentak Dhanny "Kau jauh lebih ****** dari dirinya". Sentak Dhanny lagi rahangnya sudah mengeras menahan emosi.


"Tidak mungkin". Sergah Dhanny "Kau harus bisa menggodanya dan membuat Fitri cemburu padanya". Perintah Dhanny.


"Kau tidak perlu menyuruhku Kak. Tujuanku bekerja sama dengan Kakak memang untuk merebutnya dari si ****** itu". Tegas Dea dengan berani.


"Sekali lagi kau menyebutnya ****** Dea, aku akan membunuhmu".


Tut Tut Tut Tut Tut


Dea mematikan ponselnya dari pada mendengar ocehan gila kakaknya.


Dea melempar ponselnya ke kasur king size miliknya. Ia ikut merebahkan tubuhnya. Entah kenapa hatinya sakit sekali saat mendengar ucapan Dhanny.


"Apa salahku Kak Dhanny? Sejak kehadiran Fitri Kakak selalu saja dingin padaku. Bahkan Kakak akan membunuhku hanya karena aku menyebut Fitri ******". Lirih Dea air mata terjatuh dipelupuk matanya. Rasa sakit itu menjalar di seluruh tubuhnya. Orangtuanya tidak peduli, ditambah sang Kakak hanya memanfaatkannya saja. Tanpa Dhanny memikirkan konsekuensi nya jika sampai ketahuan dia menyamar sudah dipastikan Dea akan dibunuh oleh mereka.


Ditempat lain, tepatnya disebuah ruang kerja tampak lima orang tengah serius menatap layar laptopnya. Satu diantara mereka seorang gadis, yang tengah memangku laptopnya dengan santai tanpa beban. Tangan munggilnya berselancar dengan cepat di stut keyboard laptop.


"Jadi apa rencana kita selanjutnya?". Tanya Zean setelah melihat rekaman CCTV yang menghubungkan langsung dengan kamar Dea.


Sebenarnya kamar adalah tempat privasi yang tidak pernah di pasang CCTV oleh Sam, karena menurut Sam itu adalah tempat dimana tidak boleh diketahui orang lain kecuali sang pemilik kamar.


Tapi Fitri, gadis jenius itu sudah merancang dengan baik. Setelah ia menemukan Dea dipinggir jalan, dia langsung menghubungi Zaen untuk memasang CCTV dikamar tamu yang tidak lain adalah kamera yang dibuat oleh Fitri sendiri, kamera itu berbentuk kecil bahkan sangat kecil sehingga Dea tidak akan bisa melihatnya bahwa dikamar itu ada CCTV.


"Ikuti alur cerita mereka". Sahut Fillipo mewakili. Kekasih Fitri itu diminta untuk menginap di Mansion oleh Sean karena sesuai perintah Fitri akan ada rencana yang mereka susun.


"Kak bagaimana kabar senjata itu?". Tanya Fitri tangannya masih serius menekan tombol keyboard laptop.


"Mungkin Minggu depan sudah sampai pelabuhan". Sahut Zaen menjawab pertanyaan Fitri.


"Ehem!! Baiklah, sepertinya kalian harus tetap turun tangan untuk menjemput senjata itu. Entah asli atau palsu, kalian akan tetap bermain drama bersama mereka". Jelas Fitri. Keempat pria itu mengangguk paham.


"Lalu bagaimana dengan Dea? Apa keberadaannya di Mansion ini tidak akan bahaya?". Tanya Fillipo. Jujur saja Fillipo jenggah melihat gadis itu, ada rasa marah saat melihat wajah Dea. Apalagi saat mengingat Dea yang menjerumuskan Pearce ke jalan yang salah dan bahkan menjebak Fitri, membuat Fillipo semakin memanas.


"Biarkan saja! Dia tidak tahu jika kita tahu siapa dia. Kita lihat sampai dimana dia mampu bermain drama". Jawab Fitri.


Sean merangkul bahu adiknya "Cece-nya Kakak memang paling terbaik". Ucap Sean mengacak rambut Fitri dengan gemesnya.


"Kakak". Cemberut Fitri.


Fillipo merapikan rambut Fitri dengan perlakukan lembut dan sayang. Jika saja Fillipo bukan pria yang pantanh menyerah, sudah dipastikan ia akan menyerah menghadapi ketiga Kakak Fitri yang overprotektif itu padanya.


**Bersambung.........


Ikuti terus kisah mereka....


GBU..


LoveUall**...