
SELAMAT MEMBACA.....
Myron, Zehemia, Zehekiel, Johannes, Shawn, Grabielle dan Luke menyusul para orangtua mereka ke wilayah timur. Baru saja mereka dikabari bahwa wilayah tersebut benar diserang.
Sampai disana ketujuh pria tampan itu segera turun dengan tergesa-gesa. Mereka juga melihat mayat yang berserakkan dimana-mana.
“Dad”.
“Son? Bagaimana kalian bisa ada disini?”. Tanya Fillipo heran melihat para anak-anaknya ada disini.
“Bagaimana apa Daddy baik-baik saja?”. Cecar Zehemia bukan menjawab pertanyaan Fillipo dia malah bertanya balik dan takut jika Ayahnya itu terluka
“Daddy baik-baik saja Son”. Senyum Fillipo.
“Ayo masuk”. Ajak Arthur membawa mereka masuk kedalam ruang rahasia.
“Bagaimana kalian bisa tahu, kami ada disini?”. Tanya Zean pada pria-pria muda itu.
“Zevanya yang memberitahu Paman”. Sahut Zehemia mewakili.
Kening Fillipo berkerut ketika putranya menyebut nama putri bungsunya “Bagaimana Zeze tahu jika Daddy ada sini?”. Tanya Fillipo setengah tak percaya pada apa yang diucapkan oleh Zehemia.
“Kata Zeze, dia menempelkan kamera CCTV di tubuh Daddy makanya dia bisa tahu”.
Mereka semua tercenggang mendengar jawaban Zehemia. Bahkan Fillipo langsung memeriksa tubuhnya. Sejak kapan putrinya itu menempelkan alat pelacak ditubuhnya apalagi kamera CCTV.
“Tapi tidak ada apa-apa ditubuh Daddy, Son”. Seru Fillipo memeriksa tubuhnya yang lain ikut melihat kearah Fillipo.
“Coba Kiel bantu Daddy”. Zehekiel ikut membantu namun tetap mereka tak menemukan apa-apa ditubuh Fillipo.
Sejenak mereka semua terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Menelaah masalah yang sekarang sedang mereka hadapi.
“Apa kalian sudah menemukan siapa yang menculik Shawn?”. Tanya Mars pada mereka.
“Black Cobra”. Sahut Myron mewakili.
“Black Cobra?”. Beo mereka semua saling melihat.
“Dave William?”. Shawn menyambung.
“Kau mengenalnya Shawn?”. Tanya Myron pada sepupunya itu
Shawn mengangguk “Dia pemimpin kelompok Mafia Black Cobra, salah satu pemilik dosen tempat aku mengajar. Tapi aku tidak memiliki masalah dengannya. Dia juga tidak tahu aku Mafia”. Sahut Shawn terlihat bingung.
“Coba kau ingat lagi apa kau pernah membuat masalah dengannya atau kau pernah menyakiti hatinya?”. Ujar Zaen memastikan.
Shawn tampak berpikir dan mencoba mengingat “Iya aku baru ingat. Aku pernah menghabiskan malam bersama adiknya. Tapi itu adiknya yang mau”. Celetuk Shawn dia memang cassanova.
Plakkkkkkkkkkkkk
Zaen memukul kepala putranya dengan gemes “Ternyata kau masih bermain perempuan?”. Tatap Zaen pada putranya itu
“Ck, Dad jangan memukulku. Aku ini menuruni kemampuan Daddy”. Celetuk Shawn tanpa dosa sambil mengelus kepalanya yang dipukul oleh sang Ayah
“Kau ini”. Geram Zaen pada putra. Dia lupa bahwa gen cassanovanya menurun pada Shawn.
“Aku tidak tahu. Sejak saat itu dia menghilang”. Jawab Shawn
“Apa kau memperkosanya?”. Tanya Mars menyelidik.
“Tidak, dia yang menggoda ku”. Bantah Shawn.
“Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Aku yakin jika dia akan terus mencari Shawn sampai bisa membalaskan dendamnya”. Ujar Dhanny menimpali dia menghela nafas. Tentu masalah ini bukan masalah mudah pasti munsuh akan terus mengejar dan mencari mereka.
“Apa yang perlu dibalaskan Paman. Aku tidak bersalah, dia yang menggodaku?”. Kilah Shawn tak mau kalah. Dia merasa tidak salah. Anjing mana yang menolak tulang?
“Cihhh, kau merasa tidak bersalah Kak. Sungguh terlalu”. Sindir Grabielle jenggah. Padahal sama bahwa dia juga cassanova.
“Jangan lupa Bielle. Gen Ayah kita sama, jadi kita satu produk”. Celetuk Shawn. Dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zean dan Zaen, kedua pria kembar yang jenggah melihat tingkah putranya. Padahal gen merekalah yang menurun pada anak-anaknya.
“Shawn, sebaiknya kau harus jaga diri. Kau tahu kan bukan hanya kau yang menjadi target. Lebih baik kau perketat penjagaan Sherlly juga”. Ucap Sean ikut nimbrung. Meski bukan Mafia, tapi dia juga paham jika berhubungan dengan masalah itu.
“Baik Paman”. Sahut Shawn memaksakan senyum kikuk. Aib nya sebagai cassanova diketahui oleh keluarganya.
“Sebaiknya kita kembali”. Ucap Fillipo “Arthur, jika ada apa-apa segera hubungi kami”. Pesan Fillipo.
“Baik”. Sahut Arthur.
Mereka pun meninggalkan wilayah timur dan kembali ke New York. Keadaan tidak akan selalu aman, apalagi banyak munsuh yang berkeliaran mencari mereka.
Sedangkan ditempat lain, seorang pria tengah tertawa setelah melihat rekaman CCTV yang berhasil diretas oleh anak buahnya.
“Hahha, jadi gadis kecil ini yang menyelamatkan Shawn?”. Tawanya ketika menonton layar laptopnya “Menarik, tak kusangka dia keturunan dari keluarga Wilmar. Pantas saja dia sangat cantik seperti Ibunya”. Ucapnya lagi
“Kita akan bertemu lagi gadis kecil. Kau yang sudah membuat gara-gara denganku. Maka bersiap-siaplah menerima akibatnya. Akibatnya sangat nikmat, karena aku akan membuatmu mendesah dibawahku. Aku akan membuatmu tak melupakan barang bersedikit pun bagaimana aku memasukimu, hahhaha”. Dia tertawa seperti orang gila “Kau hanya milikku. Setelah aku membalaskan dendam ku pada Shawn, aku akan membawamu pergi. Dia harus merasakan bagaimana rasanya hancur ketika orang disayangi disakiti oleh orang lain”. Tanganya seketika terkepa dan rahangnya mengeras.
Dia berdiri dari duduknya. Lalu melangkah keluar. Kaki nya menuntunnya masuk kedalam sebuah kamar. Dia membuka pintu kamar itu, lagi-lagi hatinya bagai teriris ribuan pisau saat melihat betapa menyedihkannya kondisi adiknya.
“Deva”. Gumamnya melangkah masuk.
Gadis yang dia panggil tak menjawab dia hanya menatap kearah jendela dengan kosong sambil memeluk kedua lututnya yang dia tekuk.
Pria itu mendekat, sudah berbulan-bulan adiknya mengurung diri dalam kamar dan tidak mau bertemu orang lain. Apalagi ketika mengetahui dirinya berbadan dua dengan seorang laki-laki yang sudah mengambil mahkotanya.
“Deva”.
“Bukan salah dia Kak. Jadi kumohon jangan terus mengincarnya. Malam itu aku diberi obat perasang oleh temanku. Aku tidak sadar sehingga menyerangnya”. Ucap gadis itu tanpa menatap sang kakak.
“Dia tetap salah. Karena dia sudah merebut hal paling berharga dalam hidupmu”. Ujarnya tak mau kalah.
Gadis itu tak lagi bergeming. Tatapannya tetap kosong, didalam perutnya ada nyawa yang tengah berjuang untuk hidup. Kembali air mata luruh dipipi gadis itu. Dia tak berani untuk mengungkapkan perasaan. Hatinya hancur dan masa depan nya juga hancur.
Pria itu duduk mendekati sang adik. Dia juga terluka melihat kondisi adiknya yang tak terurus. Dia merasa gagal menjadi seorang kakak yang tak bisa menjaga adiknya. Harusnya dia menjadi pelindung yang baik dan memastikan bahwa adiknya selalu baik-baik saja.
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️