
Fillipo membawa kembali Fitri kekamar perawatan. Disana sudah ada Lucas dan Leo yang menunggu.
“ Tuan”. Sapa Leo hormat sambil menundukkan kepala
“ Hmmmm”. Hanya disahuti dengan deheman singkat oleh si Kulkas Berjalan itu.
“ Bagaimana keadaanmu Fit?”. Sapa Leo sambil tersenyum manis.
“ Aku sudah jauh lebih baik Leo”. Sahut Fitri dengan penuh semangat keceriaan wajahnya kembali.
“ Kenapa dia sangat manis”. Batin Fillipo
“ Astaga, Nona Fitri kenapa kau begitu menggemaskan”. Batin Lucas yang tak berkedip melihat gadis itu.
“ Syukurlah”. Ucap Leo sambil tersenyum lebar
“ Hai Nona, apa kau masih mengingatku?”. Sapa Lucas. Si jenius tampak berpikir, sambil mengerutkan bibirnya.
“ Oh tolonglah Nona, jangan bersikap seperti ini aku taku jatuh hati padamu”. Batin Lucas lagi
“ Tuan Lucas?”. Ucap Fitri mengingat setelah sekian detik dia berpikir
“ Benar!! Apa kau masih mengingatku?”. Tanya Lucas menyelidik
“ Tentu Tuan”. Senyum Fitri ceria.
“ Baguslah”. Lucas menarik nafas dalam lalu tersenyum,
Brakkkk
Pintu terbuka. Keempat makhluk dalam ruangan itu terkejut bukan main
“ Maaf’. Ucap Pearce tanpa dosa
“ Kau ini!!!”. Kesal Fillipo
“ Hei, kakak ipar bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?”. Tanya Pearce cerewet, lebih cerewet dari Fitri.
“ Aku baik-baik saja Nona”. Senyum Fitri malu-malu.
“ Aissshh, kakak ini sudah berapa kali kubilang jangan panggill aku Nona. Panggil saja aku Pearce”. Ucap Pearce cemberut.
“ Hehehe, baiklah!!”. Ucap Fitri mengalah.
“ Kau tahu kakak ipar, selama kakak koma Kak Fillipo selalu menjagamu bahkan dia tak mengizinkan aku dan Mommy menemuimu. Dia sangat egois, dia pikir kami tidak mengkhawatirkan keadaanmu apa?’. Ucap Pearce cemberut dengan menaikkan mulutnya sambil melihat kedua tangannya ke dadanya.
“ Pearce”. Panggil Fillipo kesal pada adiknya yang tidak bisa diam itu.
“ Tuan benarkah?”. Tanya Fitri menyelidik melihat wajah Fillipo yang terlihat kesal.
“ Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu saja. Kau terluka kan karena aku!!!”. Sahut Fillipo mengelak. Lucas dan Leo saling melihat, menahan tawa mereka mendengar ucapan Fillipo yang salah tingkah.
“ Hai kak Lucas, kapan kau datang?”. Tanya Pearce menyimpang
“ Sudah dari kemarin”. Sahut Lucas singkat.
“ Iiisssss, kakak ini sama saja seperti Kak Fillipo, dasar Kulkas Berjalan”. Sahut Pearce kesal.
“ Pearce bisakah kau menjaga gadis ini untukku, aku ada urusan”. Ucap Fillipo datar dan jangan lupa ekspresi dinginnya.
“ Tentu kak”. Senyum Pearce.
Brakkkk pintu terbuka dan menampilkan Nyonya Piranda bersama Tuan Besar Philip
“ Mom, Dad”. Seru Fillipo dan Pearce secara bersamaan.
“ Bagaimana keadaanmu Nak?”. Tanya Nyonya Piranda pada Fitri.
“ Aku baik-baik saja Nyonya”. Sahut Fitri canggung
“ Kau lupa, jangan memanggilku Nyonya panggil aku Mommy, oke”. Kata Nyonya Piranda tegas.
“ Hmm, iya Mom”. Sahut Fitri canggung. Nyonya Piranda hanya tersenyum manis.
“ Mom, tolong jaga dia aku ada urusan sebentar”. Ucap Fillipo
“ Kau mau kemana Son?”. Tanya Tuan Philip
“ Fillipo ada urusan penting yang harus diselesaikan sekarang Dad”. Ucap Fillipo lagi. Sementara makhluk yang lainnya dibuat tercenggeng dengan ucapannya, karena sudah lama sekali Fillipo tidak berbicara hangat pada Tuan Philip.
“ Iya Son. Kau hati-hati ya”. Senyum Tuan Philip.
Lalu Fillipo beralih pada gadis manis itu dan dia mencongkokkan tubuhnya untuk menyamakan tingginya dengan gadis manis nan jenius itu.
“ Hei, aku pergi sebentar. Kau jaga diri baik-baik, jika perlu sesuatu katakan saja pada gadis cerewet itu”. Ucap Fillipo sambil menunjuk adiknya namun ekspresi dinginnya tetap terlihat
“ Kakak jahat sekali, mengatakan aku cerewet”. Ucap Pearce dengan wajah kesalnya.
“ Hmmmmm”. Sahut Fillipo
“ Tuan hati-hati. Jika kau pergi hanya mencari identitas siapa dibalik pembunuhan ini maka Tuan tidak akan menemukannya, biarkan aku nanti mencarinya”. Ucap Fitri tersenyum. Tentu saja membuat mereka yang ada didalam ruangan tersebut mengangga dengan mulut terbuka lebar.
“ Aku akan meminta bantuanmu jika aku perlu”. Sahut Fillipo dan langsung berdiri dari tempat nya.
Fillipo pun pergi ke Markas bersama Lucas dan juga sang asissten Leo. Tentu untuk mengeksekusi pembunuh bayaran yang mencoba membunuh dirinya.
“ Dia menarik”. Ucap Lucas memecahkan keheningan.
“ Hmmmm”. Deheman Fillipo tanpa ada niat untuk membalas ucapan Lukas. Sementara Leo terdiam, dia mulai membaca jika Lucas pun menyukai gadis itu.
“ Kurasa bukan hanya aku yang menyukainya”. Ucap Lucas lagi namun tetap saja Fillipo terdiam. Tatapannya sulit diartikan, entah itu senang atau malah benci.
Suasana terasa hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Fillipo dan Lucas memang memiliki kepribadian yang sama. Sama-sama dingin dan cuek, tapi Lucas tidak separah itu dia masih mudah tersenyum dibandingkan dengan Fillipo.
Sampai sudah dimarkas besar mereka. Leo segera membuka kan pintu untuk kedua Tuan nya yang bersaudara itu.
“ Silahkan Tuan”. Ucap Leo setelah membukakan pintu. Keduanya tak bersuara hanya keluar dnegan wajah dinginnya.
“ Benar-benar beruang kutub. Sama saja “. Batin Leo sambil menggeleng memperhatikan kedua tuan nya itu
Disebuah ruangan yang tampak seorang pria dewasa dengan tangan dan kaki yang terikat duduk disebuah kursi.
Fillipo datang dengan wajah dinginnya menatap pria itu dengan penuh amarah
“ Leo”. Panggilnya. Leo dan sudah tahu maksud dari Tuannya langsung berjalan menghampiri Tuan nya dengan membawa samurai dengan ukuran besar dan panjang tentunya juga tajam, mungkin mengalahkan silet.
“ Lepaskan ikatannya”. Perintahnya tegas. Anak buahnya langsung melepaskan ikatannya.
“ Jika kau hanya melukaiku mungkin aku bisa memaafkanmu, tapi kau telah melukai orang yang aku sayangi. Kali ini aku bukan hanya memberi hukuman untukmu tapi aku juga akan membawamu ke Neraka paling dalam”. Ucap nya dingin. Fillipo langsung melayangkan samurai itu
Srettttt
Sreeeetttttttt
Samurai itu membelah badan pria itu menjadi dua. Fillipo memotong tubuh pria itu menjadi beberapa bagian, tak ada rasa kasihan atau rasa bersalah diraut wajahnya. Wajah marah dan emosi yang ada begitu jelas, dia bahkan tak mengintrograsi pria itu seperti biasanya dia menghasibisnya tanpa sisa.
Lucas terlihat tenang melihat sepupunya itu, dia menganggap hal itu biasa. Berbeda dengan Leo yang sampai memejamkan mata melihat bagaimana kejam dan sadisnya Tuan Fillipo
“ Leo, bereskan”. Ucapnya setelah selesai dengan pekerjaan nya yang menghabisi pria itu
“ Baik Tuan”. Sahut Leo. Leo segera menyuruh anak buahnya untuk membereskan nya dan membuat potongan-potongan tubuh pria itu tanpa meninggalkan jejak.
“ Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”. Tanya Lucas pada Fillipo saat mereka sudah berada didalam mobil yang dibawa Leo
“ Aku akan mencari siapa pelakunya”. Jawab Fillipo dingin.
“ Kita akan kemana Tuan?”. Tanya Leo yang masih menjalankan mobilnya menelusuri jalan kota Jerman
“ Rumah sakit”. Sahutnya singkat padat dan jelas
Dirumah sakit. Philip, Piranda dan Pearce masih setia menemani gadis itu. Sesekali mereka tertawa kala mendengar lelucon Fitri, ditambah dengan suara cempreng dari Pearce
“ Nak, bagaimana pendapatmu tentang putraku Fillipo?”. Tanya Philip langsung menghentikan tawa mereka. Fitri terdiam, dia bingung harus menjawab apa, sementara mereka bertiga masih menunggu jawabannya.
“ Tuan Fillipo orang nya baik. Cuek, datar, persis seperti Kulkas Berjalan”. Jawab Fitri cemberut sambil membayangkan wajah Fillipo
“ Hahahahhaa”. Tawa mereka bertiga pecah
“ Kau ini ada-ada saja!!!! Bagaimana bisa kau memanggilnya Kulkas Berjalan?”. Tanya Philip yang masih terkekeh.
“ Heheh, aku juga tidak tahu Tuan”. Ucap Fitri tampak wajah imutnya
“ Hahhaha”. Mereka bertiga masih tertawa.
“ Kakak ipar jika Kak Fillipo mendengarmu, pasti dia sudah malu dan ngambek, hahahah”. Celoteh Pearce.
“ Tolong ya, jangan katakan padanya. Aku masih ingin bekerja”. Mohon Fitri sambil dengan wajah memelas dan itu terlihat sangat imut.
“ Hahaha baiklah Nak, kau tidak perlu khawatir kami bisa jaga rahasia, hahah”. Ucap Mommy Piranda tertawa sampai terpingkal-pingkal
“ Pearce, kau tolong jaga kakak iparmu ya. Daddy dan Mommy akan kembali kekantor karena ada urusan. Jangan sesekali kau meninggalkannya”. Tegas Philip
“ Nak, kau disini dulu ya. Daddy sama Mommy akan kembali kekantor. Jika kau butuh apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuan padanya”. Sambil Piranda menunjuk kearah Pearce
“ Baik, mo-mom”. Ucap Fitri yang masih canggung karena belum terbiasa. Piranda tersenyum manis, meskipun wajahnya sudah hampir keriput tapi aurat kecantikkanya tak pernah pudar ditambah lagi dengan perawatannya yang mahal. Piranda mendaratkan kecupan dikening gadis itu.
“ Cepat sembuh ya sayang”. Senyum Piranda. Fitri yang diperlakukan begitu, merasa sangat terharu. Apalagi dia sudah lama merindukan kasih sayang seorang Ibu.
“ Mom, Dad. Kalian hati-hati”. Ucap Fitri masih canggung.
Setelah acara pamitan mereka selesai. Phillip dan Piranda pun berlalu pergi meninggalkan rumah sakit. Ada beberapa urusan yang harus mereka selesaikan.
“ Kak jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan ya. Katakan saja aku dengan senang hati akan membantu kakak”. Ucap Pearce tersenyum
“ Iya Pearce”. Ucap Fitri tersenyum canggung.
“ Pearce boleh aku pinjam laptopmu?”. Pinta Fitri pelan dan malu-malu
“ Heheh, tentu saja kak, tidak perlu malu begitu”. Senang Pearce, karena akhirnya Fitri tidak lagi memanggilnya dengan panggilan Nona.
“ Ini kak”. Serah Pearce sambil memberikan laptopnya yang kebetulan dibawanya selesai pulang dari kampus.
“ Terima kasih”. Senyum Fitri kikuk, masih belum terbiasa. Pearce duduk disamping Fitri, ingin melihat apa yang akan dilakukan calon kakak iparnya itu.
“ Lah, kakak tahu sandinya? Aku baru saja mau mengatakannya?”. Tanya Pearce menggangga melihat tangan mungil Fitri berlari ke arah stut laptop
“ Iya Pearce”. Senyum Fitri sambil melihat kearah Pearce
“ Kau mencari apa kak?”. Tanya Pearce melihat Fitri yang tampak serius menekan tombol-tombol laptop itu. Wajah imut yang selalu menggemaskan itu sekejap hilang, yang ada hanya wajah serius dan tatapan yang tajam
“ Tidak apa-apa Pearce”. Ucap Fitri melirik Pearce sambil tersenyum. Pearce membulatka matanya dengan sempurna, melihat bagaimana ahlinya Fitri memainkan laptopnya entah apa yang dilakukan gadis jenius itu, wajahnya tampak serius tanpa ekspresi tangannya tak pernah berhenti.
Cekreeekkkkk pintu terbuka
Fitri dan Pearce langung mengarahkan pandangan kearah pintu. Tampaklah tiga pemuda tampan yang berjalan dengan gaya coolnya sambil memasukkan kedua tangan mereka kedalam saku celananya.
“ Tuan”. Ucap Fitri. Dia langsung menutup laptopnya dengan spontan
“ Kak Fillipo, Kak Lucas”. Ucap Pearce juga.
“ Bagaimana keadaanmu Nona?”. Tanya Lucas sambil berjalan menghampiri Fitri. Fillipo hanya terdiam tatapanya tajam dan dingin, sulit diartikan. Apakah dia cemburu?
“ Ba-baik Tuan Lucas”. Senyum Fitri canggung, karena tatapan Lucas yang berbeda
“ Syukurlah”. Sahut Lucas dengan santai.
“ Pearce bagaimana kuliahmu?”. Tanya Lucas melirik kea rah Pearce
“ Baik kak”. Senyum Pearce. Kakak sepupunya itu memang sedikit cuek tapi cukup perhatian padanya.
“ Apa kau sudah makan?”. Tanya Fillipo memecahkan keheningan. Mereka sontak mengarahkan pandangan kearah sumber suara.
“ Sudah Tuan”. Sahut Fitri gugup. Tak bisa dibohongi setiap kali melihat wajah Fillipo jantunga terasa mau lompat dari tempatnya, saking ketakutan dengan tatapannya yang seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
“ Kau istirahatlah”. Senyum Fillipo, sambil membantu Fitri berbaring
“ Sepertinya akan ada cinta segiempat nihhh, hahaha”. Batin Leo
“ Prrrupppt”. Tawa Leo dan Pearce. Langsung ditatap mematikan oleh Fillipo, mereka sontak langsung berhenti dan menundukkan kepala. Lain halnya dengan Lucas ia merasa sangat geram dan marah melihat Fillipo yang begitu mesra dengan Fitri.
” Terima kasih Tuan”. Senyum Fitri
Brakkkkk suara pintu. Semua mata tertuju
“ Fitri”.
“ Kak Dhanny”. Dhanny langsung berlari kearah Fitri dan memeluk gadis itu dengan penuh kerinduan
“ Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Dimana yang sakit?”. Tanya Dhanny dengan mata berkaca-kaca, sambil memperhatikan setiap inci tubuh Fitri. Tangannya yang masih terpasang selang infuse membuat hati Dhanny semakin sakit
“ Aku baik-baik saja kak”. Senyum Fitri
Fillipo, Lucas, Leo dan Pearce hanya melihat saja adegan mereka yang saling berpelukkan
“ Siapa pria ini? Apa hubungannya dengan kakak ipar?”. Gumam Pearce
“ Aku sangat khawatir padamu! Aku tidak bisa melihat dirimu terluka”. Ucap Dhanny lagi lembut sambil mengusap lembut kepala gadis itu.
“ Wahh, sepertinya pesaing Tuan Fillipo ini sangat kuat, heheh”. Batin Leo sambil memperhatian Fillipo dan Lucas yang menatap dengan tatapan kosong.
“ Kakak tidak perlu khawatir. Disini ada Tuan Fillipo, Tuan Lucas, Leo dan Pearce yang menjagaku kak”. Senyum Fitri memberikan senyum terbaiknya supaya tidak membuat Dhanny khawatir akan dirinya. Sementara empat orang yang disebut namanya hanya tersenyum menyeringai. Namun tidak dengan Fillipo dan Lucas
“ Fitri”. Suara datang dari arah pintu
“ Dea”. Sahut Fitri. Dea pun langsung menghampiri Fitri, dengan mata berkaca-kaca
“ Bagaimana kabarmu cinta? Apa kau baik-baik saja sayang? Bagian mana yang sakit? Apa kau sudah minum obat? Apa masih terasa sakit?”. Tanya Dea bertubi-tubi dengan wajah cemasnya
“ Cinta? Sayang? Apa dia lesbian?”. Batin Lucas
“ Jadi ini yang selalu dia panggil cinta itu?”. Gumam Fillipo
“ Apa tidak salah dengar? Dia memanggil Fitri cinta? Sayang? Apa mereka penyuka sesame jenis?”. Batin leo juga sambil menaikkan kedua alisnya.
“ Astaga, siapa lagi wanita ini? Apa kakak ipar lesbian? Lalu bagaimana dengan Kak Fillipo? Katanya Fitri calonnya?”. Gumam Pearce dalam hati sambil menatap tidak percaya
“ Aissshhh, kau ini bisa tidak tanya satu-satu. Aku bahkan sampai lupa dengan pertanyaanmu!!!”. Cemberut Fitri yang terlihat lucu dan mengemaskan.
“ Habisnya, kau jahat sekali! Kau bahkan tidak memberitahuku bahwa kau akan berangkat kesini. Sahabat macam apa dirimu, hah?”. Tandas Dea dengan wajah kesalnya. Sementara Dhanny hanya terkekeh saja melihat kedua gadis itu
“ Sahabat?”. Batin Fillipo
“ Sahabat?”. Batin Lucas
“ Sahabat?”. Batin Leo
“ Sahabat?”. Batin Pearce
Mereka berempat sepertinya hanya bisa bertelempati dalam hati karena jika bertanya satu sama lain tentu jawabannya mereka tidak akan tahu.
“ Oh iya maaf. Ini kenalin Kak Dhanny dan Dea, mereka berdua saudara angkatku”. Senyum Fitri sambil memperkenalkan Dhanny dan Dea
Mereka pun saling berkenalan satu sama lain, tentu Fillipo sudah tahu Dhanny tapi tidak dengan Lucas terlihat sangat jelas bahwa dia tidak menyukai Dhanny.
“ Ya sudah kau istirahat ya”. Tandas Dhanny sambil membantu Fitri kembali duduk
“ Ahkkkk”. Fitri menahan sakitnya
“ Ada apa mana yang sakit?”. Tanya Dhanny, Fillipo dan Lucas secara bersamaan. Tentu saja membuat mereka yang lainnya terheran atas kekompakkan tiga pria tampan itu.
“ Aku baik-baik saja”. Sahut Fitri sambil kembali berbaring dan dibantu oleh Dhanny.
“ Fit, kau istirahat saja ya”. Ucap Dea. Fitri hanya menggangguk dengan wajahnya yang sangat menggemaskan.
“ Kau begitu mengemaskan Fit. Bagaimana tidak ketiga pria ini jatuh hati padamu. Aduhh tolonglah, jangan sampai aku juga jatuh hati”. Batin Leo sambil menggelengkan kepalanya
“ Kau istirahat ya. Aku ada urusan sebentar, biar Dea yang menjagamu”. Senyum Dhanny. Sementara Pearce tampak kesal. Fitri hanya mengangguk dan tanda mengerti.
“ Siapa sih dia sok perhatian?”. Kesal Pearce dalam hati dengan bibir yang mencerut.
“ Aku ingin bicara dengan kalian!”. Ucap Dhanny dingin sambil keluar dari ruangan itu. Ketiga pria itu pun mengekor Dhanny dari belakang. Sementara ketiga gadis yang didalam ruangan itu hanya melihat saja dan tak mau berkomentar dengan urusan laki-laki.
“ Hai, Kak Dea”. Ucap Pearce memecahkan keheningan
“ Hai”. Sahut Dea canggung
“ Kak Dea, sudah lama kenal sama kakak ipar?”. Tanya Pearce penasaran. Dea terdiam sejenak, ketika Pearce memanggil Fitri dengan panggilan kakak ipar. Fitri yang mengerti dengan kebingungan Dea langsung menjawab
“ Nanti aku jelaskan De”. Senyum Fitri diwajah pucatnya. Dea hanya mengangguk
“ Sudah lama, dari kecil malah”. Ucap Dea dengan tersenyum.
“ Usia kakak berapa? Apa sama dengan kakak ipar?”. Tanya Pearce lagi. Karena dia sangat penasaran dengan orang-orang yang berada didekat Fitri. Sebab hanya Fitri yang mampu membuka hati kakaknya itu.
“ Usiaku 26 tahun Pearce. Beda lima tahun dari Fitri”. Senyum Dea lagi yang seakan tahu bahwa gadis yang didepannya ini sengaja mengorek informasi tentang kehidupan Fitri
“ Memangnya usia kakak ipar berapa?”. Tanya Pearce kini kembali penasaran
“ 21 tahun”. Senyum Fitri menyambung
“ Hah?”. Ucap Pearce seperti tak percaya.
“ Kalau begitu kakak ipar lebih muda dariku”. Lanjut Pearce lagi sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
“ Memangnya usiamu berapa Pearce?”. Tanya Fitri
“ 22 tahun kak”. Sahut Pearce
“ Cuma beda satu tahun saja”. Senyum Fitri menyeringai.