
Kebahagiaan bukanlah ditentukan dari seberapa kayanya kehidupan seseorang. Tapi lebih ditentukan oleh rasa syukur dalam menerima hidup.
SELAMAT MEMBACA
Satu Minggu telah berlalu setelah kejadian penyerangan dan penyelamatan Keluarga paling berpengaruh didunia, yang sempat menjadi tranding topik diberbagai Negara. Kini berita itu masih hangat diperbincangkan oleh para netizen di sosmed. Banyak yang penasaran siapa sosok yang menyelamatkan dan menghancurkan kelompok Mafia tersebut.
Sam dengan tegas untuk menutup berita yang mengenai putrinya, Sam tak ingin banyak orang yang tahu bahwa putrinya lah yang menyelamatkan mereka. Sam tidak mau hal tersebut justru membahayakan keselamatan putri kesayangannya tersebut
Di Mansion mewah milik Keluarga Wilmar, yang terletak di Jerman. Terdengar canda tawa yang mengema. Ya mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan atas keberhasilan dalam penyelamatan Keluarga besar tersebut. Acara sederhana tentunya sudah diatur sedemikian rupa, hanya makan-makan seperti acara-acara pada biasanya.
Sam dan Philip sengaja tidak membuat acara mewah mengundang rekan bisnis atau media, itu akan sangat berbahaya bagi mereka. Terutama saat ini pasti banyak munsuh diluar sana yang berusaha menghancurkan mereka.
"Jadi kau kembali membuat Markas baru?". Tanya Sam pada Philip.
"Iya". Sahut Philip singkat "Seperti katamu, akan ada serangan lagi yang mengancam kita". Lanjut Philip.
"Tapi Dad, kita butuh banyak senjata baru". Sambung Fillipo "Sepertinya kita harus kembali membeli senjata-senjata itu tentunya atas izin dari Negara". Sambung Fillipo.
"Benar Paman, karena gudang senjata kita sudah dibobol oleh Park dan tidak ada satu pun yang tersisa". Sambung Lucas
"Tenang lah!! Aku bisa merakit senjata baru". Sanggah Sam.
Semua mata menuju kearah Sam "Kau yakin Sam?". Tanya Philip. Philip tahu jika Sam sudah lama meninggalkan dunia persenjataan itu, sejak kejadian 21 tahun yang lalu.
"Tidak ada jalan lain Philip". Ucap Sam "Diruang bawah tanah Markas senjataku, masih banyak senjata yang bisa digunakan. Walaupun sudah berumur senjata itu masih bisa digunakan". Sambung Sam lagi.
"Lalu kapan kita akan mulai merakit senjata itu?". Sambung Dion. Dion juga merupakan anggota Mafia dari Lion Killer yang pada zamannya dipimpin oleh Philip dan sekarang diteruskan oleh putranya.
"Setelah semua aman, kurasa kita bisa mulai semuanya". Sahut Sam.
"Bagaimana dengan Shellena?". Timpal Sean mengingat adiknya "Jika dia tahu, pasti dia akan ambil alih dalam hal ini". Timpal Sean lagi.
"Apa Fitri juga bisa merakit senjata?". Tanya Alexander tak percaya.
"Bukan bisa lagi Xander, bahkan menghancurkan satu Negara saja dia bisa". Kekeh Sam, sementara Alexander menelan salivanya kasar. Alexander belum tahu saja seberapa jenius gadis yang dikejar putranya itu.
"Jangan biarkan ia turun tangan, itu akan sangat berbahaya". Peringatan Dhanny yang sedari tadi diam dan menyimak. Dhanny tahu gadis itu tidak akan tinggal diam jika tahu apa yang akan terjadi lagi.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?". Sambung Lucas.
Kelima pria muda dan tampan itu tampak bingung serta keempat pria paruh baya juga tak kalah bingung.
"Leo, bagaimana persiapan senjatanya?". Tanya Fillipo pada asistennya.
"Seperti perintah Tuan, saya juga mengajukan izin pada Negara. Tapi sepertinya sedikit sulit karena diam-diam Park sudah memblokir semua akses senjata kita Tuan". Jelas Leo.
"Tenanglah Fillipo, kalian boleh pakai senjataku dulu". Tawar Sam "Aku akan merakit senjata baru, namun butuh waktu sedikit lama". Lanjut Sam.
"Tidak bisa Sam, sepertinya Pedrosa sudah bergerak satu langkah. Jika kita terlambat maka kita akan diserang tanpa persiapan. Sebaiknya kita cari akses senjata yang lain. Dan bagaimana pun caranya kita harus bisa mendapat izin Negara untuk mendapatkan senjata itu". Jelas Philip.
Sam menghela nafas kasar saat mendengar penjelasan Philip. Sam sangat mengenal bagaimana liciknya Pedrosa bahkan lebih licik dari adiknya Park. Pria paruh baya itu takkan menyerah sebelum membalaskan dendam dan rasa sakitnya.
Sementara didapur, kaum gadis sedang asyik berperang dengan peralatan dapur dan diikuti oleh wanita-wanita paruh baya yang tidak lain adalah Piranda, Mouth dan Diandra. Yang menjadi juru masaknya adalah Fitri.
"Masukkan saja sayurannya Pearce". Jawab Fitri, dia juga sibuk mengaduk makanan dalam wajannya.
"Arghhhh". Teriak Luna saat menyentuh wajan yang masih panas itu.
Fitri langsung meletakkan spatula nya dan berjalan menghampiri Luna dengan wajah khawatir "Apa kau baik-baik saja Luna?". Tanya Fitri panik ia langsung mengindap tangan Luna yang sedikit memerah.
Luna tersentuh dengan perhatian Fitri "Aku baik-baik saja Fit". Senyum Luna.
Lalu Dea berjalan menghampiri kedua sahabatnya itu "Biar ku obati Luna!!!". Tawar Dea yang kebetulan seorang dokter.
"Baiklah". Sahut Luna mengikuti Dea duduk dikursi meja makan.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?". Tanya Mouth khawatir dengan putrinya dari tadi dia memperhatikan putrinya dan menghentikan masaknya.
"Luna, baik-baik saja Mom". Senyum Luna yang tidak mau membuat Mommy nya khawatir.
Setelah mengobati Luna, mereka kembali melanjutkan masak-memasak mereka. Canda dan tawa terdengar didapur tersebut.
"Fit, ini apa yang ditambahkan lagi?". Tanya Piranda lembut pada gadis itu.
"Tambahkan sedikit garam dan gula Nyonya". Senyum Fitri.
"Call me Mom, okey". Ralat Piranda. Membuat Fitri terkekeh.
"Sayang, sebaiknya kau istirahat saja biar kami yang lanjutkan". Suruh Mouth. Mouth khawatir dengan putrinya tersebut.
"Tidak Mom, Luna akan membantu. Luna ingin belajar memasak". Tolak Luna.
Ya mereka adalah Nyonya besar yang tidak pernah memasak. Mereka biasa menggunakan jasa pelayan jika urusan perut. Luna, Dea dan Pearce bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya dapur. Berbeda dengan gadis bernama Fitri, ia sudah biasa hidup sebatang kara susah senang menjadi jalan cerita hidupnya. Sejak kedua orangtua angkatnya meninggal Fitri memang mandiri dalam hal apapun, meskipun Dhanny selalu saja menawarkan bantuan padanya dan lagi-lagi gadis jenius itu menolak.
"Apakah begini Nak?". Tanya Diandra pada Fitri sembari melihat wajan yang sudah berisi sayuran yang ia tumis.
Fitri tertawa melihat isi wajan itu, bagaimana tidak bawang yang digoreng sudah hitam dan hangus "Mom, Ini sudah gosong!". Kekeh Fitri.
Diandra mengerutkan bibirnya "Lalu bagaimana?". Desah Diandra.
"Tenanglah, Fitri akan mengajarkan Mommy". Senyum Fitri.
Ya Fitri memang sudah menganggap orangtua Dhanny dan Dea seperti orangtua kandungnya sendiri. Keluarga Dhanny memang sangat menyayangi Fitri, bahkan keluarga tersebut mengangkat Fitri menjadi anak mereka. Tapi Fitri tetaplah gadis yang rendah hati, ia menolak permintaan tersebut dan dia tidak keberatan jika harus memanggil Dion dan Diandra dengan panggilan seorang anak pada orangtuanya.
Bersambung...
**Kira-kira siapa nih yang bakal jadi mertuanya Fitri? Hehhe.
Yuk ikuti terus ya guys.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
LoveUall💞**