Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 116


SELAMAT MEMBACA....


Semua orang tampak sibuk dan beberapa diantara mereka terlihat frustasi. Serangan satu malam membuat perusahaan mereka terancam bangkrut. Para investor mencabut saham mereka dan membatalkan kerja sama begitu saja. Perusahaan diretas dan semua data perusahaan hilang dalam sekejap. Perusahaan mengalami rugi hingga puluhan triliun dolar.


Markas Glorified dan Lion Killer diserang oleh beberapa kelompok Mafia terbesar di New York. Senjata-senjata mereka dibobol begitu saja. Para pengawal dan anggota yang berjaga disekitar Markas tersebut tumbang dan tergeletak tak bernyawa.


Lucas dan Zaen berusaha melacak orang yang meretas data perusahaan, namun sayang keahlian mereka dalam bidang IT tak membuahkan hasil. Hacker tersebut tak bisa dilacak, karena menggunakan akun palsu.


Sean, Zean dan Fillipo menggunakan hal yang sama. Bahkan ketiga pria pengusaha tersebut, mengadakan konferensi pers dan mengadakan pertemuan dengan beberapa pengusaha agar mereka tidak mencabut saham mereka. Namun sayang, usaha tersebut gagal karena para investor tersebut sudah bekerja sama dengan perusahaan lain.


Beberapa kali Fillipo menghela nafas kasar. Philip juga turun tangan, pria paruh baya mantan ketua Mafia itu pun tak mampu menangani masalah yang sedang melanda perusahaan putranya.


Begitu juga dengan Alexander yang ikut turun tangan membantu. Namun sayang ia tak punya kemampuan untuk menarik semua investor.


Diruang IT perusahaan Wilmar, Fillipo, Phillip dan Leo tampak frustasi mereka bahkan menyewa IT hebat untuk mengambil kembali data perusahaan yang hilang namun sayang hacker itu hilang tanpa jejak.


"Arggh, bagaimana ini bisa terjadi?". Bentak Fillipo pada beberapa anak buahnya yang sedang bekerja keras mengembalikan keadaan.


"Leo, cepat cari informasi siapa yang melakukan ini semua. Hancurkan perusahaan mereka dan bunuh semua anggota keluarganya. Jangan biarkan ada yang tersisa sedikitpun". Sentak Fillipo mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ba-baik Tuan". Jawab Leo gugup dengan badan bergetar melihat kemarahan diwajah Tuan-nnya.


"Apa yang harus kita lakukan Dad?". Tanya Fillipo pada Philip.


Philip menatap putranya. Dia menghela nafas pelan "Tidak ada Son. Sepertinya kita benar-benar akan kalah". Lirih Philip.


"Tidak Dad". Bantah Fillipo "Perusahaan ini harus tetap bertahan, apapun yang terjadi Fillipo harus mengembalikan keadaan". Pekik Fillipo dengan wajah frustasinya.


Bagaimana bisa perusahaan yang sudah ia bangun dengan susah payah bisa bangkrut dalam semalam? Fillipo tidak akan membiarkan hal itu terjadi, apapun ia harus merebut dan mempertahankan kembali perusahaan itu. Meskipun perusahaan yang di Amerika bangkrut takkan membuatnya jatuh miskin. Hanya saja Fillipo sangat menyayangkan jika perusahaan itu bangkrut.


Sementara di perusahaan Ranlet Flint, Sam dan Sean tak kalah frustasi. Data-data perusahaan yang mereka lindungi hilang tak bisa ditemukan. Sam yang ahli IT dibantu oleh putra nya Zaen pun tak bisa menemukan jejak dari hacker yang mencuri data perusahaan mereka.


Sam tampak frustasi. Beberapa kali pria paruh baya itu menghela nafas sambil memejamkan matanya.


"Bagaimana Adam?". Tanyanya pada sang assisten.


"Maaf Tuan, semua investor menarik saham mereka dan mereka juga tidak mau bekerja sama dengan kita". Jelas Adam.


Sorot mata emosi tergambar dibola mata Sam. Entah siapa yang melakukan ini padanya? Setahu Sam dirinya tidak punya munsuh tapi kenapa ada orang yang berusaha menjatuhkannya.


"Kita tidak bisa diam saja Dad". Sanggah Sean yang juga tampak frustasi. Beberapa kali pria itu mengacek laptopnya.


"Iya Son". Sahut Sam "Kita harus cari jalan keluar. Daddy yakin yang melakukan ini bukan orang sembarangan". Timpal Sam.


"Zaen apa kau sudah melacak hacker itu?". Tanya Sam pada Zaen.


Ketiga pria itu tampak lesu dan lelah. Bayangkan mereka tak tidur semalaman hanya untuk menyelidiki siapa yang sudah mengambil data perusahaan dan berusaha menarik kembali para investor agar mau bekerja sama dengan perusahaan mereka. Namun sayang usaha tersebut gagal dan perusahan mereka terancam bangkrut hanya dalam satu malam. Kerugian yang tidak sedikit itu tentu saja membuat mereka harus mencari jalan keluar agar perusahaan itu tetap bertahan.


Tak kalah, Pedrosa dan Zean pun mengalami hal yang sama. Perusahaan yang bergerak di bidang persenjataan dan perkapalan itu juga terancam. Data-data penting perusahaan hilang begitu saja. Bahkan tak bisa dideteksi oleh ahli IT sekalipun.


"Tuan, Markas kita diserang oleh Black Shinee dan BTOB King". Lapor Willy yang langsung mendapat tatapan tajam dari Pedrosa dan Zean.


"Bagaimana bisa Wil?? Apa para anggota tidak bisa melawan mereka?". Sentak Zean dengan tangan yang sudah terkepal menahan emosi


"Maaf Tuan, anggota kita tidak cukup kuat melawan mereka. Karena mereka menggunakan senjata keluaran Rusia terbaru yang memiliki tingkat kekuatan seribu kali lebih cepat dari senjata kita". Jelas Willy "Mereka bekerja sama dengan Tuan Mars, anggota Mafia dari Black Shinee yang banyak ditakuti oleh anggota Mafia lainnya". Lanjut Willy lagi.


"Bagaimana dengan wilayah timur Will?". Sambung Pedrosa juga.


"Maaf Tuan, wilayah timur sudah jatuh ke tangan mereka". Sahut Willy sambil menunduk, ketakutan melihat tatapan Zean yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.


"Hubungi Sean, Fillipo, dan Zaen Will. Kita segera ke Markas". Ucap Zean melangkah pergi.


"Apa kau akan menyerang mereka Boy?". Tanya Pedrosa mengikuti langkah kaki Zean.


"Iya Ayah". Sahut Zean masuk kedalam mobil diikuti oleh Pedrosa dan Willy.


"Baik, Ayah akan bantu". Sahut Pedrosa "Bagaimana dengan Fitri?". Tanya Pedrosa.


Sejenak Zean terdiam karena masalah yang melanda perusahaan sehingga mereka melupakan gadis kecil itu.


"Nona Fitri, sedang berada di Butik Nona Luna, Tuan. Sesuai permintaan Tuan Sean, agar Nona Fitri bersembunyi bersama Nona Luna dan Nyonya Mouth". Jelas Willy mewakili


"Baik Will. Perketat penjagaan, jangan sampai Fitri tahu semua masalah ini". Pesan Zean pada Willy.


"Baik Tuan". Sahut Willy menjalankan kembali mobil mereka. Tujuan mereka sekarang adalah Markas yang terletak ditengah hutan.


Mereka sampai di Bandara karena mereka akan menaiki jet pribadi milik Pedrosa.


Disana sudah ada Sean, Zaen, Fillipo, Philip dan Alexander serta para Assisten setia mereka untuk ikut terbang ke Markas Black Glorified dan Lion Killer.


Fillipo tampak geram dengan apa yang menimpa perusahaan nya. Fillipo yakin dibalik semuanya ada campur tangan Dhanny. Karen hanya Dhanny yang sekarang menjadi munsuh besar Fillipo. Bahkan Dhanny tak pernah lagi menampakkan wajahnya didepan Fillipo. Keluarga besar Dhanny pun meninggalkan Amerika dengan alasan ingin melanjutkan usaha mereka yang ada di Jerman dan juga Indonesia.


**Bersambung........


Yuk ikuti terus kisah mereka.....


GBU.


LoveUall**...