
Keesokan harinya.
Lie Mei terlihat berjalan munuju ruang kerja nya ia berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sebelumnya tertunda karena kepergiannya.
Lie Hao yang melihat kakaknya segera menyapa nya dan mengikuti dirinya. Lie Hao melihat kaki Lie Mei, ia lega melihat kaki Lie Mei sudah baikan dan bisa kembali berjalan walau masih terpincang-pincang
"Kakak aku pasti akan mendapatkan obat untuk kakimu." Ucap Lie Hao dengan wajah serius.
"Lie Hao aku terima niat baik mu, tetapi biar aku sendiri yang akan melakukan nya." Ucap Lie Mei.
"Lagipula penawar untuk racun hitam ini sangat sulit untuk ditemukan walau begitu aku masih memiliki beberapa cara untuk mendapatkan penawar racun ini." Ucap nya dengan percaya diri.
"Melihatmu begitu percaya diri aku yakin kakak pasti akan mendapatkan penawarnya." Ucap Lie Hao dengan senang.
"Ya tentu saja."
Mendadak Lie Mei terdiam ia kemudian tersenyum setelah mendapat sebuah sinyal yang sangat dinantinya selama ini.
'Setelah sekian lama akhirnya dia sadar juga.' Batin Lie Mei dengan senang.
Segera Lie Mei berteleportasi menuju hutan Kekaisaran Meng, tepatnya di pohon Energi Spiritual yang dulu menjadi tempat latihan para prajurit Kekaisaran Meng.
Lie Hao terbengong bengong melihat kepergian Lie Mei yang tiba-tiba, lalu berucap. "Apa sesuatu yang membuat nya sesenang itu?" Tanya nya heran.
★Di pohon Energi Spiritual★
Lie Mei berdiri di depan pohon Energi Spiritual dan dibawa oleh cahaya terang ke sebuah tempat rahasia yang ada di dalam pohon.
Kini ia berada dihadapan pohon besar yang memiliki energi Spiritual yang lebih kuat dan banyak dibandingkan dengan pohon Energi Spiritual.
Segera Lie Mei berjalan mendekati pohon Energi Spiritual utama dan menuruni tangga yang muncul di bawah pohon itu.
Lie Mei tersenyum memandangi wajah pria tampan yang adalah Putra Mahkota Kekaisaran Yan. Tiba-tiba ia tersenyum jahil, setelah tahu bahwa Putra Mahkota sedang berpura-pura tertidur.
"Putra Mahkota... mau sampai kapan kamu tertidur pulas?"
Lie Zhun tersentak mendengar perkataan Lie Mei tetapi ia tetap melanjutkan aktingnya.
"Sudah puluhan tahun berlalu tetapi kenapa kau tidak bangun juga. Lihatlah wajah mu yang kini sudah menua dan berkeriput itu..." Ucapnya sambil menahan tawa.
"APA!!! Puluhan Tahun!!!" Lie Zhun mendadak bangun dan meraba wajahnya dengan cepat setelah mendengar perkataan Lie Mei.
Lie Mei tidak bisa menahan tawanya lagi, ia tertawa terbahak-bahak ketika melihat reaksi berlebihan Lie Zhun. Lie Zhun pun akhirnya sadar jika ia sedang dipermainkan oleh Lie Mei.
"Adik Lie Mei ternyata kau sudah mengetahui bahwa aku sudah sadar. Lalu kenapa tidak membangunkanku?" Tanya nya sembari tertawa kecil.
"Hahaha, Maaf Putra Mahkota aku tidak bisa tahan melihat mu berpura-pura tertidur." Ucap Lie Mei, lalu menghentikan tawanya.
Lie Zhun melihat sekeliling ia merasa asing dengan tempat yang dilihatnya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri.
Ia melirik Lie Mei seolah-olah bertanya padanya. Lie Mei yang tahu maksud Putra Mahkota langsung memberitahunya bahwa sekarang mereka ada di tempat rahasia pohon Energi Spiritual.
Lie Mei juga memberitahu Lie Zhun tentang penyiksaan yang dilakukan Permaisuri Ying, ibunya terhadap dirinya.
"Hahh.. ternyata ingatanku tidak salah." Ucap Lie Zhun menghela nafas.
"Lalu bagaimana kondisi Kekaisaran Yan sekarang?"
"Sejak 2 tahun lalu mereka sudah dimusnahkan, kini semua kekaisaran telah bergabung menjadi satu kekaisaran utama yang dipimpin oleh Kekaisaran Meng." Jelas Lie Mei.
"Apa benar begitu?! Hanya dalam 2 tahun saja dunia sudah mengalami perubahan sebesar ini. Aku penasaran orang hebat apa kaisar Kekaisaran Meng itu." Ucap Lie Zhun terkagum-kagum.
Uhuk
"Ada apa Adik Lie Mei apa kau sedang sakit?"
"Ah. Tidak aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu memulihkan dirimu dulu disini, Putra Mahkota." Ucap Lie Mei.
"Kau benar energi di sini sangat cocok untuk memulihkan diri dan juga meningkatkan kultivasi."
Lie Zhun duduk bersila dan melakukan meditasi. Sementara Lie Mei keluar dari ruang rahasia.
'Apa yang akan dipikirkannya nanti jika ia tahu bahwa kaisar Kekaisaran Meng itu adalah aku. Ya sudah pasti ia akan terkejut' Pikir nya.
Lalu bersiap untuk berteleportasi ke Kekaisaran Meng, tetapi saat Lie Mei akan berteleportasi. Tiba-tiba 4 sosok Elf keluar dari ruang dimensi miliknya. 4 Elf tersebut adalah penjaga lantai 11,12,13, dan 14 di pagonda 13 lantai.
Keempat Elf tersebut berlutut untuk menghormati Lie Mei sebagai tuan mereka. "Ehh, apa yang kalian lakukan. Berdirilah." Ucap Lie Mei bingung.
"Yang Mulia, anda sekarang sudah menjadi Raja kami. Karena itu nyawa kami berempat sudah menjadi milik anda." Ucap pria Elf berambut biru muda.
Lie Mei menghela nafas ia akhirnya mengerti maksud tindakan mereka. Segera ia meletakan tangan nya di atas kepala keempat Elf secara bergantian sembari mengucapakan sumpahnya.
"Aku Lie Mei sebagai Raja Elf mengakui dan menerima kalian berempat menjadi nyawa dan darahku sendiri."
"Atas nama langit kami bersumpah menyerahkan jantung dan nyawa kami sebagai simbol setia kami pada Yang Mulia." Ucap mereka serentak kemudian segera kembali berdiri dengan senang.
"Tidak begitu Yang Mulia kami senang karena akhirnya dapat terbebas dari pagoda 13 lantai yang mengikat kami selama ini." Ucap Gadis Elf berambut seputih salju.
"Ya benar. Hidup kami selama ini hanya terkurung di pagoda 13 lantai, karena itu kami sangat menginginkan kebebasan. Tetapi hal itu hanya akan terwujud jika ada seseorang yang berhasil melewati ujian pagoda 13 lantai dan menjadi Raja Elf." Ucap Gadis Elf berambut emas.
"Juga kami harus mendapat pengakuan dari Raja Elf itu sendiri untuk dapat keluar dari pagoda 13 lantai." Lanjut nya.
"Baiklah aku paham, sekarang mari kita per..."
Belum menyelesaikan perkataannya Shang Zuo mendadak keluar dari Ruang dimensi Lie Mei dalam wujud macan putih dengan ekspresi panik dan cemas.
"Tuan!! Ling Hun..." Ucapnya dengan cepat.
"Ada apa dengannya?!!" Buru-buru Lie Mei masuk ke Ruang dimensi diikuti Shang Zuo dan keempat Elf.
★Di dalam Ruang Dimensi Lie Mei★
Setelah memasuki ruang dimensi, Lie Mei terkejut melihat Ling Hun. Lie Mei jatuh berlutut melihat keadaan Ling Hun yang tidak berdaya di hadapan.
"A...pa yang terjadi pada mu Ling Hun... Kenapa tiba-tiba kau bisa seperti ini?!" Ucap nya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan tangannya Lie Mei perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh kecil Ling Hun ke telapak tangan nya.
Tampak Ling Hun membuka mata nya dengan perlahan, ia berbicara dengan suara kecil dan lemah pada Lie Mei.
"...Yang.. Mulia apa itu kau?" Tanya Ling Hun.
"Ya. Ini aku Ling Hun." Jawab Lie Mei berusaha menahan air matanya.
"Yang Mulia maaf... Aku harus pergi sekarang..." Ucap Ling Hun.
Air mata Lie Mei yang terus ditahan nya langsung mengalir deras. Ia tidak bisa menahan nya lagi, ketika Ling Hun mengatakan hal tersebut.
"Tidak... Kumohon jangan pergi Ling Hun..." Dengan berurai air mata Lie Mei terus mengatakan hal tersebut, ia tidak bisa menerima nya.
"Maaf Yang Mulia... Aku tidak bisa..."Ucapnya dengan tersenyum manis.
"Walaupun hanya sebentar saja, tapi aku senang bisa bertemu dan hidup denganmu, Yang Mulia. Apa kau ingat pertemuan pertama kita Yang mulia..."
",Saat itu aku sangat kagum padamu. Dalam sekali lihat saja aku tahu bahwa anda adalah orang yang sangat kuat melampaui kekuatan para Raja Elf sebelumnya."
"Aku percaya padamu, bahwa kau akan menyelamatkan dunia ini seperti Ramalan itu. Terima kasih Yang Mulia sudah mendampingi ku selama ini...." Ucap Ling Hun semakin lemah.
"Huhuhu....Ling Hun!!" Lie Mei terus menerus menangis ia tidak menginginkan kepergian Ling Hun.
Ling Hun menggenggam jari Lie Mei dengan tangan kecil nya itu dengan erat. ia menatap Lie Mei air mata mulai mengalir dimatanya ketika melihat wajah Lie Mei yang sudah memerah karena menangis.
"Yang Mulia jadilah kuat, hiduplah untuk melindungi yang lemah, terakhir lindungi semua orang yang kau sayangi dan juga dunia ini. Apa bisa anda mengabulkan permintaan egoisku untuk terakhir kalinya ini?"
"Em... Aku pasti akan mengabulkan nya..."
"Jangan menangis, walaupun aku pergi tetapi aku akan selalu ada dalam dirimu,"
"Tersenyumlah aku ingin melihat wajah senyuman indah Yang Mulia untuk terakhir kali." Pinta Ling Hun.
Tubuh Ling Hun perlahan mulai menghilang, Lie Mei mengusap air mata nya ia tersenyum sembari mengelus kepala Ling Hun.
"Terim..a...kasi..h." Ucap Ling Hun dengan senyum yang menghiasi wajah. Lalu menghilang dari tangan Lie Mei untuk selamanya.
"Tidak... Ling Hun!!!" Teriaknya dengan menangis tersedu-sedu.
Shang Cai, Shang Zuo, Shang Zhi, Shang Xie, Zhe Lin dan keempat Elf hanya juga ikut bersedih melihat kepergian Ling Hun. Mereka semua tidak pernah melihat Tuan mereka bersedih sedalam itu.
Zhe Lin berubah ke bentuk manusia nya. ia menghampiri Lie Mei. " Yang Mulia, maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Tapi peri Elf hanya hidup untuk memandu calon Raja selanjutnya. Jika mereka sudah memenuhi tugas tersebut, mereka akan menghilang dan meninggalkan benih jiwa mereka." Ucap Zhe Lin.
Lie Mei memutar kepalanya menghadap Zhe Lin. "Kau tahu sepenting apa informasi yang kau katakan tadi, tetapi mengapa kau bisa tidak memberitahuku!!" Teriak Lie Mei dengan sangat marah.
"Mohon ampun Yang Mulia. Saya pantas dihukum mati atas kesalahan saya ini." Zhe Lin bersujud dengan ketakutan karena kemarahan Tuannya.
Lie Mei menggenggam erat sebuah permata hijau yang ditinggalkan Ling Hun. Hanya permata hijau itu yang tersisa darinya sekarang.
Tanpa sepatah kata pun Lie Mei pergi dengan sihir teleportasinya ke sebuah tempat, meninggalkan Zhe Lin yang masih bersujud.
"Sebaiknya kita meninggalkan Tuan sendiri dulu, ia pasti sangat terguncang karena kematian Ling Hun." Ucap Shang Zuo. Shang Cai dan yang lainnya mengangguk menyetujui perkataan Shang Zuo.
------××ו•{∆∆^\=^}••×××------
Terima kasih sudah membaca 🥀🥀
Jangan lupa untuk like, vote, dan komentar jika kalian suka dengan novel ini.
Nantikan kelanjutan ya..