
"J-jangan pergi ..." ucap Nisa dengan suara lirih dan sedikit serak. Dia masih mencoba memegangi tangan Ricky dengan tangannya yang gemetar lemah.
"Kamu sudah bangun?"
"Uhmm ..." Nisa mengangguk pelan, dia melepas genggaman tangannya lalu mencoba untuk bangun.
"T-tunggu! Jangan banyak bergerak dulu!" Ricky langsung menahan Nisa untuk tetap berbaring. Lalu dia segera mengambil sebuah bantal yang ada di sofa untuk menambah sandaran bagi Nisa. "Sudah nyaman?"
Lagi-lagi Nisa mengangguk. Ricky lalu tersenyum kecil dan kembali duduk begitu memastikan posisi Nisa benar-benar nyaman.
"Bagaimana perasaanmu?"
"R-rasanya nyeri, te-tenggorokanku juga sedikit sakit ..."
"Tak apa, itu normal. Biasanya memang seperti itu jika efek obat bius sudah hilang. Nanti akan aku berikan ibuprofen atau acetaminophen untuk meredakan rasa sakitnya. Tapi, jika tak kunjung hilang juga maka cepat bilang padaku, oke?"
Nisa menjawab dengan mengangguk, tiba-tiba dia menunjuk ke arah gelas yang berisi air putih di meja yang berada di sampingnya. Ricky pun mengerti dan segera mengambilkan gelas itu, bahkan dia juga membantu Nisa untuk meminumnya. Namun tiba-tiba dia berhenti sesaat sebelum gelas itu menempel di mulut Nisa.
"...??" Nisa kebingungan, namun Ricky malah meletakkan gelas itu kembali ke atas meja.
"Aku lupa satu hal, apa kamu sudah bisa kentut?"
"K-kentut? Memang apa hubungannya?" tanya Nisa terheran-heran.
"Tentu saja ada hubungannya. Karena setelah operasi, kamu baru boleh makan dan minum setelah sudah berhasil kentut. Nah, ayo kentut dulu!"
"...." Nisa terdiam dan langsung menunduk karena malu.
Apa-apaan ini?! Ini perintah paling konyol yang pernah aku dengar seumur hidupku! Masa aku disuruh kentut? Di depannya lagi? Lalu bagaimana caraku melakukannya? Masa harus dipaksakan?
Keheningan itu berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya Nisa mendadak mendongak, namun dia memalingkan wajahnya dari Ricky.
"S-sudah ..."
"Benarkah? Aku belum mendengar dan mencium bau apa pun. Kamu pasti bohong!"
"S-sungguh, aku benar-benar sudah melakukannya." Nisa lalu menoleh ke arah Ricky dengan wajahnya yang terlihat merah. "Masa harus bunyi seperti ledakan nuklir dulu baru kamu akan percaya?"
"Haha ... iya iya, aku percaya kok. Nah, sekarang ayo minum dulu!"
Ricky kembali mengambil gelas di atas meja lalu membantu Nisa minum. Dan Nisa langsung meneguk air putih itu hingga hampir habis. Setelah selesai minum, Nisa merasa kalau rasa sakit di tenggorokannya sudah berkurang, dan suaranya kini tidak seserak seperti tadi.
Sebenarnya Ricky ingin segera keluar dan memberitahu Keyran bahwa Nisa telah bangun. Namun dia juga merasa ragu untuk meninggalkan Nisa, karena dia melihat wajah Nisa yang begitu jelas terlihat seperti memendam banyak perkataan untuknya.
"Apa setelah minum kamu merasa mual dan ingin muntah?"
Nisa menggelengkan kepalanya.
"Itu bagus, jika air putih bisa ditoleransi, maka minuman lain seperti teh, jus, dan susu bisa dikonsumsi. Lalu jika minuman itu juga bisa ditoleransi, kamu bisa makan makanan lunak seperti bubur atau puding. Makan secara bertahap bisa meminimalisir rasa mual. Jadi untuk sekarang jangan minta makanan yang aneh-aneh!"
"Iya, aku paham." untuk sejenak Nisa terdiam. "Apa kamu dokter yang selama ini merawatku?"
"Benar, kamu bertanya seperti ini apakah karena kurang nyaman jika itu aku?"
"Bukan, bukan itu maksudku, aku tak masalah siapa pun itu. Aku hanya ingin bertanya karena kamu yang rutin mengganti perbanku. Jadi, apakah lukaku mengalami pendarahan, infeksi atau semacamnya?"
"Lukamu memang cukup parah, tapi aku merawat lukamu dengan baik, jadi untuk infeksi itu mustahil. Tapi untuk pendarahan ... jika kamu asal bergerak yang berlebihan, maka lukamu bisa terbuka. Jadi jika kamu ada perlu apa-apa, kamu harus minta tolong ke orang lain!"
"Ternyata separah itu, lalu kira-kira kapan aku akan sembuh total?"
"Kalau tak ada infeksi atau komplikasi lain, setidaknya perlu 2 bulan."
"Selama itu?!"
"Tenang saja, lukamu akan semakin cepat sembuh jika dirawat dengan cara yang tepat. Yang merawatmu itu kan aku, jadi kamu pasti akan sembuh lebih cepat!"
"Iya, terima kasih ..."
"Nisa!" Ricky lalu mendekatkan wajahnya.
"Hm?"
"Tolong jawab aku dengan jujur, tadi kamu tepat waktu menahanku, sebenarnya kapan kamu bangun?"
"I-itu," Nisa lalu menunduk. "Sebenarnya sejak tadi malam ..."
"Lalu kenapa harus pura-pura?"
"Aku bukannya pura-pura, hanya saja ..." Nisa lalu menatap Ricky balik. "Akan aku katakan semuanya asalkan kamu bersedia mengabulkan permintaanku."
"Katakan dulu apa permintaanmu!"
"Permintaanku mudah kok, aku hanya memintamu untuk berbohong satu hal. Tapi akan aku katakan nanti."
"Baiklah, jadi dari semalam kamu sudah bangun, sekarang jelaskan kenapa alasanmu pura-pura?"
"Sebenarnya bukan maksudku untuk pura-pura, semalam saat aku bangun ... hanya ada Keyran yang sedang tidur di sebelahku. Dia terlihat sangat kelelahan, mungkin ... itu karena dia selalu berjaga-jaga di sampingku."
"Jadi kamu pura-pura karena tak tega membangunkannya?"
"Bukan, bukan karena itu. Tapi ... karena aku tak tahu harus bagaimana dan berkata apa di depannya. Sebenarnya, sebelum kejadian ini terjadi, kami bertengkar hebat. Itulah mengapa aku bingung harus berbuat apa jika aku membuka mata di depannya. Kamu paham maksudku kan?"
"Iya, aku paham. Sebenarnya aku sendiri juga sudah tahu keseluruhan ceritanya, tapi aku masih belum bisa percaya kalau kamu ingin bercerai darinya, dan anehnya setelah itu kamu malah rela mempertaruhkan nyawamu demi dia."
"S-siapa yang memberitahumu?!"
"Dimas, dia yang memberitahuku. Sebenarnya aku tak pernah ingin tahu ataupun menanyakan perihal masalah ini, tapi dia sendiri yang ingin memberitahuku. Adikmu bilang kalau aku mesti tahu tentang hal ini, dia bahkan juga mengatakan kalau setelah sadar kamu pasti memintaku melakukan sesuatu. Dan ternyata dia benar. Jadi, permintaan yang kamu maksud tadi itu apa?"
"Aku memintamu untuk berbohong ke semua orang, katakan pada mereka kalau aku baru saja sadar, tolong rahasiakan kalau aku dari semalam sudah sadar."
"Apa suamimu juga termasuk?"
"Iya, justru dia yang paling utama. Aku melakukan ini juga bukan tanpa alasan, entah kenapa aku merasa selalu ingin menghindar darinya. Mungkin ini aneh, tapi pasti nanti akan sangat canggung seandainya aku berhadapan dengannya. Bahkan menatap matanya saja rasanya sangat enggan, a-aku tak sanggup melakukannya. Kamu bisa kan membantuku?"
"Bisa, aku bisa membantumu. Tapi sebelum itu bolehkah aku berpendapat?"
"Boleh, silakan saja."
"Aku tahu alasanmu merasa seakan-akan tak sanggup berhadapan dengannya, kamu itu sebenarnya cuma merasa bersalah. Jadi saranku, cobalah berbaikan saja dengannya."
"K-kamu ..." Nisa tertegun, namun beberapa saat kemudian dia kembali menunduk. "Apa kamu akan bahagia jika aku terus bersamanya?"
"Itu tergantung," jawab Ricky sambil tersenyum.
"Maksudmu?"
"Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, dan jika bersamanya membuatmu bahagia, maka aku turut bahagia untukmu. Sebenarnya bahagia atau tidaknya itu semua tergantung padamu. Dan pertanyaanku sekarang, apa selama ini kamu bahagia bersamanya?"
"Nah, itulah mengapa aku menyarankan untuk berbaikan. Setelah berbaikan, mungkin saja akhirnya kamu bisa memahami dan memastikan perasaanmu."
"Berbaikan itu mustahil! Aku telah berulang kali menyakitinya secara sengaja. Dan aku tak pernah menyesali hal itu. Kamu sendiri yang selama ini mengenalku pastinya tahu kalau aku ini jahat, dan aku bisa melakukan segala cara untuk membalaskan dendamku. Bahkan di luar semua itu, aku juga sudah terlalu banyak menyakitimu ... Tapi kamu ini aneh, kamu terlalu baik dan lapang dada. Bahkan sekarang pun kamu juga sangat baik kepadaku, kamu ini sebenarnya baik atau bodoh?"
"...."
Sebenarnya kamu yang bodoh! Dari dulu aku seperti ini hanya karena satu alasan, itu karena aku mencintaimu. Tapi sayangnya, yang mencintaimu bukan cuma aku.
"Tinggalkan aku! Aku ingin sendiri!" teriak Nisa sekencang-kencangnya.
"Huft ... oke," Ricky lalu mengambil catatan yang sebelumnya dia letakkan di atas meja, kemudian dia berdiri dan bergegas keluar meninggalkan Nisa seorang diri.
"...."
Sial! Sial! Sial! Kenapa aku masih hidup?! Harusnya aku mati saja! Semuanya pasti akan lebih baik jika aku tak pernah ada. Lagi pula mati demi seseorang juga bukan hal yang buruk.
Padahal aku telah membuat kesalahan ke banyak orang, tapi ternyata aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Aku dengan jahatnya mempermainkan perasaan orang-orang di sekitarku, ini bukan hanya tentang Keyran atau Ricky, bahkan sebenarnya Jonathan juga termasuk. Aku telah membuat kesalahan besar kepada ketiga orang itu.
Aku bersalah karena berpura-pura mencintainya, dan aku membuatnya bahagia lalu aku patahkan. Aku bersalah karena terus membohongi orang yang begitu mempercayaiku. Dan aku juga bersalah karena datang di kehidupannya hanya karena hatiku sedang kosong. Pada akhirnya semuanya adalah salahku. Dan sekarang, di saat keadaan ini menimpaku, aku paham, semesta sedang menghukumku.
***
Ricky yang telah keluar ternyata sudah ditunggu oleh Keyran. Keyran sendiri telah mengetahui bahwa Nisa telah sadar, karena tadi dia juga mendengar teriakan Nisa.
"Kenapa tadi Nisa sampai berteriak?"
"Dia hanya ingin sendiri, dan kebetulan dia sadar saat aku baru saja selesai melakukan pemeriksaan. Apa masih ada hal lain yang ingin ditanyakan?"
"Tidak ada, kau bisa pergi."
Ricky lalu melangkah pergi, namun dia mendadak berhenti ketika baru 2 langkah. "Oh iya, aku lupa memberitahumu satu hal. Lain kali jangan sampai terulang lagi, kau jagalah Nisa sebaik-baiknya! Jika tidak, maka aku akan menggunakan cara nekat untuk merebutnya kembali. Camkan itu!"
"Jadi kau sekarang terang-terangan, memangnya cara nekat apa yang kau maksud?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Percayalah, kau akan menyesal begitu mendengarnya. Sampai nanti," Ricky tersenyum dan langsung bergegas meninggalkan Keyran.
"Ck," Keyran bersungut kesal sambil terus memandangi punggung Ricky.
Jangan-jangan cara nekat yang dimaksud adalah hipnoterapi, jika begitu maka artinya dia ingin Nisa melupakan aku. Harusnya kau yang dilupakan dasar sialan! Bukan aku! Jika saja rumah sakit ini bisa dibeli, maka sudah pasti sejak kemarin aku sudah membelinya. Tapi masalahnya sekarang ...
Keyran lalu berjalan mendekat ke arah pintu, dia perlahan membuka pintu tapi tak begitu lebar. Diam-diam dia mengintip keadaan Nisa, tapi Nisa sama sekali tidak menyadari bahwa ada yang sedang mengintipnya. Keyran mengamati seluruhnya, termasuk benda-benda di sekeliling Nisa.
"Nisa ..." Keyran mengerutkan dahi, namun kemudian dia menutup pintu itu. Ekspresinya tampak kacau saat mengetahui bahwa Nisa telah sadar, dia gembira sekaligus bingung harus bersikap bagaimana.
Bahkan setelah bangun, orang yang pertama kali kau lihat bukanlah aku, orang yang membantumu minum juga bukan aku, dan orang yang pertama kali kau ajak bicara juga bukan aku. Aku sebenarnya cemburu, aku juga sangat ingin memelukmu, tapi apa aku berhak? Karena aku yang telah membuatmu jadi seperti ini, aku belum punya cukup keberanian untuk berhadapan langsung denganmu.
"Sudahlah, aku masih harus memberi kabar kalau Nisa telah bangun." Keyran lalu mengambil ponselnya, dia menelepon untuk mengabari keluarga Nisa maupun keluarganya bahwa Nisa telah bangun.
***
Butuh waktu yang terbilang cukup lama hingga pada akhirnya keluarga Nisa datang, dan Keyran yang sedari tadi mondar-mandir pun menyambut kedatangan mereka. Semua orang datang, namun ada seseorang lagi yang ikut hadir bersama mereka, orang itu tidak lain adalah Tia.
Mereka semua tak sabar lagi untuk bertemu Nisa, dan yang paling kelihatan bersemangat adalah Reihan. Semua orang langsung bergegas untuk masuk, kecuali Keyran. Keyran hanya tersenyum pahit dan memutuskan untuk tetap menunggu di luar.
Begitu masuk, Reihan tanpa ragu berteriak, "Kakak!"
"Hah?!" Nisa terkejut, dia hanya bisa ternganga melihat keluarga yang segera mengerumuninya. Dia tak menyangka kalau akan bertemu dengan keluarganya secepat itu, terlebih lagi Tia. Bagi Nisa ini merupakan sebuah kejutan.
"Huh! Dasar bocah nakal! Sejak kecil kau selalu saja membuat ayah khawatir!"
"Wah ... ternyata yang pertama ayah lakukan adalah memarahiku, beruntungnya aku jadi anak ayah ..." ucap Nisa dengan senyum kurang ikhlas.
"Kau masih bisa berkata seperti ini?! Apa kau ingin ibumu ini tersiksa melihatmu begini?! Untung saja kau selamat, bagaimana jadinya jika kau tiada?!"
"Ibu jangan cemas, kalau aku mati tinggal dikubur saja, masalah beres. Toh biaya pemakaman juga terhitung murah."
"Kak Nisa ini keterlaluan! Kami semua mengkhawatirkan kakak tahu! Tapi kakak ternyata malah begini! Kalau kakak mati, nanti yang akan menyiksa Kak Rei siapa?!"
"Hei hei, kenapa bawa-bawa aku?! Memangnya siapa juga yang suka rela mau disiksa?!"
"Haha ... sudah, sudah. Kasihan Nisa yang terlihat tertekan." Tia terkekeh.
"Huuaaa ... memang cuma Kak Tia yang paling pengertian! Padahal aku sedang sakit, tapi malah dicaci maki seperti diserang haters."
"Oh iya!" sahut Reihan yang tiba-tiba menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Nisa. "Kak, btw ... rasanya ditusuk itu gimana sih?"
"Rasanya kek mau meninggoy, ya sakit lah! Kenapa sih main tarik-tarik selimut?!"
"Aku kan cuma pengen lihat separah apa, memangnya nggak boleh ya?"
"Jangan aneh-aneh! Perbanku baru diganti, nanti lukaku malah terbuka lagi!"
"Ck, paling juga Kak Ricky yang ganti. Kalau kenapa-kenapa, panggil dia saja. Pasti dia akan datang secepat kilat." ucap Dimas dengan enteng.
"Hei, kalaupun dia bisa menanganinya, tetap saja itu akan sakit! Pokoknya jangan yang aneh-aneh!"
"Iya iya, paham. Kakak cepat sembuh dong! Kurang asik kalau kakak sakit begini ..." keluh Reihan dengan wajah cemberut.
"Aku maunya juga begitu. Sekarang cepat betulkan selimutku kembali!"
"Daulat yang mulia ratu ..."
Mereka semua terus melanjutkan perbincangan dan candaan mereka. Namun ada satu orang yang kurang bisa mengikuti candaan tersebut, dan orang itu adalah Tia.
Tia akhirnya meminta izin untuk keluar terlebih dulu, dan setelah di luar ternyata dia bertemu dengan Keyran. Tia merasa canggung, karena dia masih mengingat dengan jelas peristiwa yang pernah terjadi di restoran kala itu. Namun Keyran sebaliknya, dia sama sekali tak bereaksi apa-apa.
"...."
Uuhh ... canggung sekali, aku menyesal karena keluar duluan. Sekarang bagaimana? Apa aku harus menyapanya? Tapi mengingat status, harusnya aku memanggilnya adik ipar. Tapi rasanya aneh, dia kan lebih tua dibanding aku. Lalu ... kenapa dari tadi aku deg-degan?!
Ya ampun, sadarlah Tia! Buang jauh-jauh perasaanmu! Sekarang dia adalah suami adikmu! Pokoknya sebisa mungkin aku harus belajar melupakan perasaan ini, meskipun sulit tapi aku harus.
"Kenapa keluar? Bukankah kakak ipar sangat dekat dengan Nisa?"
"Ah?! I-itu ..."
Kaget aku, dia bahkan juga memanggilku kakak ipar! Tapi tadi dia bertanya soal apa? Karena kaget jadinya aku sampai kurang memperhatikan.
"Lupakan, aku akan pergi cari angin." Keyran lalu berjalan pergi meninggalkan Tia seorang diri.
"...." Tia diam seribu bahasa, dia menggenggam erat kepalan tangannya di depan dada.
Ini aneh, kenapa rasanya aku ingin berlama-lama dengannya? Rasanya ingin sekali berbincang lebih banyak.