
Byuurr ...!!
"Haa ... ha .."
Nisa langsung tersadar setelah disiram dengan seember air dingin. Dia terengah-engah, pandangannya masih sedikit kabur, dan tak lama kemudian pandangannya sudah kembali normal. Namun masih tersisa sedikit rasa sakit yang berasal dari dalam tubuhnya. Nisa menemui dirinya sedang diikat di sebuah kursi kayu, kedua kakinya diikat bersamaan dengan tangannya yang diikat di belakang.
Tepat di depan Nisa duduklah seorang pria yang melempar bom asap tadi, pria itu dengan santai membolak-balik halaman sebuah berkas sambil mengisap sebatang rokok di tangan kanannya. Sementara para anak buahnya, ada 5 orang yang berdiri di sekeliling Nisa dan memasang senyum sinis. Salah satu di antara mereka ada yang duduk di depan meja, dia terlihat sedang sibuk memainkan sebuah perangkat yang mirip dengan laptop yang berukuran kecil.
Nisa mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Dia melihat tembok dengan cat yang mulai pudar, lantai keramik yang menguning, serta ada beberapa buah mesin yang sudah tua dan berkarat.
Aku sepertinya dibawa ke pabrik terbengkalai. Lalu kebanyakan pabrik terbengkalai seperti ini terdapat di pinggiran kota, sedangkan di tengah kota setahuku hanya ada 3 atau 4. Semoga saja pabrik ini termasuk salah satunya, jika di pinggiran kota artinya aku sangat jauh dari rumah.
"Hei, ini jam berapa?" tanya Nisa dengan suara yang sedikit serak.
"Fyuuh ..." pria itu melihat arloji di tangan kirinya. "Jam 7 lewat 15. Kau ini aneh sekali, biasanya orang terlebih dulu akan bertanya dimana dia berada, tapi kau malah menanyakan jam." ucapnya dengan senyum remeh.
"Terserah." ucap Nisa acuh tak acuh.
Jam 7 lewat 15. Menghitung waktunya ... perjalanan menuju ke pinggiran kota itu terlalu singkat, ini artinya aku masih di pusat kota. Ini bagus, aku bisa meminta batuan! Sekaligus ... jika memungkinkan, aku bisa sekalian menjalankan rencanaku.
Pria itu sejenak mengabaikan Nisa, saat rokoknya sudah pendek dia mematikan rokok itu. Dan di sisi lain Nisa tampak sangat tenang, sama sekali tidak ada kepanikan ataupun ketakutan yang tergambar di wajahnya. Pria itu menatap Nisa dengan tatapan yang mengintimidasi, namun sebenarnya dia merasa sedikit heran dengan tingkahnya Nisa.
"Hemm ..." gumamnya sambil mengerutkan dahi. "Kau ini orang pertama yang tidak panik saat diculik yang aku temui. Apa kau sudah terbiasa diculik?"
"Heh," Nisa mengibaskan kepala agar rambutnya yang basah tidak menghalangi mata. "Ini pertama kalinya. Apa tujuan kalian menculikku? Apa ingin meminta tebusan pada suamiku? Aku beritahu ya, jangan hanya minta tebusan ke suamiku, mintalah pada ayah mertuaku! Dia lebih kaya dibanding dengan suamiku."
"Ckck ... naif. Kau pikir menculik seseorang hanya sekedar tentang uang? Lagi pula aku tahu semuanya tentangmu~"
Pria itu mengambil napas panjang lalu menunduk.
"Nisa Sania Siwidharma, 19 tahun, mahasiswi dari Universitas Grand SC, jurusan akuntansi semester ke-7, mengambil program fast-track, sering membuat masalah tapi tak kunjung di drop out. Saat masih SD pernah lompat kelas, banyak prestasi hingga ikut Olimpiade sains dan matematika, prestasi di bidang olahraga juga banyak. Ketika SMP, sudah mulai menjadi berandal, tapi prestasi tetap jalan. Terlebih lagi, kau bersekolah di sekolah yang terkenal dengan bibit para kriminal. Bahkan saat itu kau sudah mulai terlibat tawuran. Ketika SMA, tingkahmu semakin menjadi-jadi, sering terlibat pertarungan antara geng motor, tapi saat hampir lulus sedikit ada tanda-tanda mau insaf. Nah, itulah riwayat pendidikanmu."
Sehabis membaca kemudian dia tersenyum kepada Nisa, tapi Nisa hanya diam seribu bahasa.
"Ehem ... sekarang giliran statusmu. Selain mahasiswa, statusmu juga sebagai nyonya muda. Suamimu adalah Keyran Kartawijaya, menikah dengannya karena terpaksa, sekarang umur pernikahanmu baru 2 bulan lebih. Kau terlahir di keluarga yang berkecukupan. Sampai saat ini kau punya catatan kriminal sebanyak nol, tapi tindakan kriminal yang kau lakukan sangat banyak. Hobimu adalah menghajar para preman random tanpa alasan, bahkan tidak sedikit juga ada yang terbunuh. Sampai sekarang polisi masih menyelidiki kasus ini, tapi tetap saja jalan buntu. Jadi sebenarnya kau ini adalah buronan, tapi kau berhasil lolos dan tak ada satu orang pun yang curiga, entah bagaimana caramu menipu para polisi itu."
"...."
Orang ini berbahaya, dia tahu begitu banyak informasi tentangku. Terlebih lagi dia tahu kalau suamiku adalah Keyran tapi masih nekat menculikku, ini artinya dia punya kekuatan. Yang aku tahu, orang yang berani menantang Keyran kebanyakan adalah orang terkenal yang berpengaruh. Tapi ... orang ini kurang terkenal, aku tebak pasti dia punya backingan. Dan orang di belakangnya lah yang sebenarnya ingin berurusan denganku. Dia ini sebenarnya juga hanya pesuruh. Sebaiknya aku pancing emosinya, dengan begitu aku juga bisa mengambil keuntungan.
Krieettt ...
Pria itu bergeser sedikit lebih dekat dengan Nisa. Dia lalu mencengkeram pipi Nisa dan memasang tatapan sinis.
"Bocah sepertimu harus diberi pelajaran! Asal kau tahu, untuk menangkapmu saja sangat susah. Selama berminggu-minggu harus terus memperhatikan rute yang kau lalui, baru akhirnya bisa menyergapmu. Ternyata kemampuanmu dalam bela diri bagus juga, bahkan sampai mematahkan tulang para anak buahku, mereka semua sedang menjalani operasi sekarang. Untuk menangkapmu juga butuh banyak biaya, aku sampai harus menggunakan stok bom pelumpuh saraf, padahal aku hanya punya satu itu."
"Humph! Dahal mishin!!"
(Dasar miskin!!)
PLAAK!!
Satu tamparan keras melayang di pipi mulus Nisa. Pria itu mulai tampak marah, dia lalu berteriak, "Bocah busuk! Jangan kira karena kau wanita maka aku akan menahan diri! Aku tidak keberatan jika harus menyiksamu, jadi mulai sekarang perhatian kata-katamu! Lagi pula ... bukankah tubuhmu merasa sakit?"
"Cih, setelah menamparku sekarang malah menanyakan keadaanku. Penculik macam apa kau ini?"
"Heh! Ternyata sifatmu sesombong ini. Aku beritahu, asap itu bukan sekedar gas pelumpuh saraf, tapi itu racun saraf. Orang yang terkena racun itu bisa mengalami kejang, lemah otot saraf, gagal hati, dan kerusakan organ lain. Bahkan saat mengenai otot pernapasan, orang itu akan kekurangan oksigen, gagal napas, hingga akhirnya mati. Tapi kau tenang saja, aku sudah memberimu antropin sebagai penawar, toh racun di tubuhmu hanya dalam dosis kecil, jadi paling-paling ... kau hanya akan mengalami kerusakan organ. Tapi tetap saja itu tidak ada gunanya, toh sebentar lagi kau akan mati! Jadi ... nanti kau mau mati dengan cara apa?" tanya pria itu dengan senyuman.
"Nanti ya dipikir nanti. Sekarang kau memberiku penawar, itu artinya kau masih ingin aku hidup. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku hah!?"
PLAAKK!!
Pria itu lagi-lagi menampar Nisa. "Diam kau! Di sini hanya aku yang boleh berteriak. Memang aku masih membutuhkanmu, tapi aku hanya butuh informasi dari mulutmu. Jadi kau jangan bicara yang aneh-aneh!"
"Informasi seperti apa? Aku ini cuma orang biasa loh ... tidak sehebat dirimu."
"Grizzly Cat. Beritahu semua yang kau tahu tentang Grizzly Cat!"
"Hah!?" seketika ekspresi Nisa berubah, dia menunduk dan bola matanya menghadap ke bawah. Dia tampak sedikit kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan itu. Tapi kemudian dia mendongak dan malah tersenyum. "Aku tahu, cari saja di toko hewan."
PLAAK!
Pria itu sekali lagi menampar Nisa. "Jangan pura-pura bodoh! Cepat katakan semua yang kau tahu!"
"Memangnya apa yang harus aku katakan!? Kalian ini segerombolan sampah yang salah tangkap orang! Aku sama sekali tidak tahu apa itu Grizzly Cat! Yang aku tahu cuma kucing abu-abu! Kenapa kau yakin sekali jika aku tahu!?"
"Heh, karena kau bukan gadis biasa. Di usiamu yang terbilang muda, kau sudah jadi kriminal kelas kakap. Dan ... kau berulang kali terlihat di sebuah kasino, tapatnya Grizz Glory Casino. Di kasino itu nama Grizzly Cat sangat dikenal. Seorang gadis yang berusia 19 tahun tapi bermain di kasino, harusnya gadis seusiamu itu mainnya di konser atau jadi penggila K-pop, bukannya malah jadi kriminal dan buronan! Masih kecil tapi sudah ketagihan judi!"
"Cih, malah memberi nasihat. Ini adalah hidupku sendiri, aku mau hidup seperti apa itu terserahku! Toh orang yang datang ke kasino bukan cuma aku, jadi tangkap saja orang lain! Grizzly Cat atau apalah itu, aku tidak tahu!"
Gawat, kasino itu milik ayahnya Marcell, dan mahar 25 miliar itu, selain ke club sebagian aku investasikan ke sana. Tapi soal Grizzly Cat ... mati pun aku enggan beritahu! Bahkan secuil pun aku juga enggan.
"Mustahil jika kau tidak tahu! Cepat beritahu aku siapa saja anggotanya!!"
"Om ini kok ngotot banget sih!! Aku nggak tahu! I don't know!! Om ini sebenarnya siapa!? Kenapa sih sampai segininya, memangnya Grizzly Cat itu musuhnya om ya?"
"Ya, memang musuh! Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan om! Namaku Noan!"
"Noan ... naon atuh?"
PLAAK!!
Lagi-lagi Noan menampar Nisa. "Beraninya kau mengejek namaku!! Aku ini Direktur Eksekutif Humble Dog!"
"Cuih!" Nisa meludah ke arah samping, dan tampak ada sedikit darah di ludahnya. Dia kemudian melotot ke arah Noan. "Wah wah ... Humble Dog katamu? Kau ini sedang bermain permainan anjing memburu kucing ya? Toh kalian ini bukan anjing yang ramah! Aku benci para anjing seperti kalian!!"
"Kau bocah sialan!!"
Noan berdiri dan ingin sekali lagi menampar Nisa sekeras mungkin, tapi tiba-tiba saja salah satu anak buahnya berteriak, "Bos!"
"Ada apa!?"
"Tunggu apa lagi!? Cepat kuatkan lagi!!"
"Baik bos!"
"...."
Sialan, mata mereka tajam juga. Benar-benar mata anjing. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa lepas.
Sementara anak buahnya sedang memperbaiki tali, Noan maju selangkah lagi. Dia menatap Nisa dengan tatapan membunuh, tapi Nisa menatap balik dengan cara yang sama. Dan tanpa ragu tiba-tiba Noan menjambak rambut Nisa dengan kasar.
"Sialan! Kau pikir kau bisa kabur hah!? Tapi aku semakin yakin, dengan keahlianmu ini kau pasti benar-benar punya hubungan dengan Grizzly Cat! Cepat katakan semuanya!!"
"Hei, apa kau menderita cacat otak!? Aku bilang kalau aku sama sekali tidak tahu! Kau ini paham bahasa manusia atau tidak!? Dan berhentilah menyentuh rambutku, kau bahkan tidak akan mampu membeli sampo yang aku gunakan untuk keramas! Dasar bujang lapuk miskin!"
"Kau bocah jal*ng!!" Noan melepaskan jambakannya dengan kasar hingga membuat kepala Nisa kesakitan. Tanpa peringatan apa pun Noan mengeluarkan pistol lalu menodongkannya tepat di depan kepala Nisa. "Kau tenang saja, aku pasti membelikanmu sampo untuk memandikan mayatmu! Aku beri kesempatan terakhir, katakan semua yang kau tahu tentang Grizzly Cat! Dengan begitu kematianmu akan cepat dan tidak menyakitkan!"
"Huft ..." diancam akan ditembak, Nisa lalu merubah ekspresinya menjadi lebih tenang. Pandangan matanya terkesan dingin, bahkan dia juga tersenyum kecil. "Silakan, ayo cepat tarik pelatuknya."
"Emm ... bos, sepertinya racun itu mempengaruhi saraf di otaknya." ucap salah satu anak buah yang berdiri di samping kiri Nisa.
"Cih, diamlah! Gadis busuk ini memang sengaja, dia pura-pura tidak takut mati. Padahal sebenarnya dia sudah ingin mengompol." Noan lalu menempelkan pistol itu di jidatnya Nisa. "Benar kan tebakanku? Saranku berhentilah pura-pura, atau kau akan merasakan siksaan yang lebih sakit."
"..." Nisa diam seribu bahasa, tatapan matanya berubah jadi sayu, tapi dia masih tersenyum.
"Berhenti tersenyum dasar bocah berandal! Apa kau sungguh tidak takut dengan pistol ini!?"
"Hehe ... aku tersenyum bukan karena berpura-pura, tapi karena memang inilah yang aku harapkan. Asal kau tahu, kau sedang menodongkan senjata ke orang yang sudah bosan hidup. Bagiku kematian adalah suatu pembebasan. Tapi jika aku mati, bukannya kau akan kehilangan narasumber?"
"Tsk! Pintar juga kau, sekarang aku memang belum bisa membunuhmu, tapi aku masih bisa menyiksamu!"
Noan menyimpan kembali pistol miliknya. Dia kemudian memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk mendekat. Anak buahnya itu memberikan sebuah pisau cutter yang baru kepada Noan.
"Hehe ..." Noan tersenyum jahat, dia menunjukkan mata pisau stainlees yang tajam itu kepada Nisa. Bahkan dia mulai memainkannya di pipi mulus Nisa. "La la la~ bagaimana jadinya jika di wajahmu yang cantik ini terdapat goresan, pasti wajahmu jadi jelek~ saking jeleknya sampai suamimu pasti enggan mengakui bahwa kau adalah istrinya~ Upss ... salah, jika wajahmu tergores pasti mayatmu tidak akan cantik, aku mana tega ... kita coba di area lain ya?"
Noan perlahan menurunkan mata pisau itu, hingga pada akhirnya berhenti di leher. Dia perlahan memberikan sayatan kecil yang tidak sampai melukai urat nadi. Meskipun hanya sayatan kecil, tapi tetap saja ada darah yang mengalir. Darah itu perlahan mengalir turun hingga menodai kerah baju Nisa.
"Ughh ..." Nisa menggigit bibirnya sendiri agar tidak berteriak, sekuat tenaga dia menahan rasa sakit yang timbul dari sayatan itu.
"Haha ... sakit ya? Makanya cepat katakan! Aku masih punya cara lain loh untuk menyiksamu~"
"Ssstt ... ini kurang adil, aku punya syarat!"
Sialan, luka ini lumayan perih juga.
"Hei!!" seketika Noan kembali mencengkeram pipi Nisa. "Apa kau pikir posisimu ini memungkinkan untuk mengajukan syarat!? Di sini kau tidak punya hak menuntut apa pun!" Noan lalu melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar.
"Ya sudah, kalau begitu silakan siksa saja aku sampai mati. Jadi hantu pun aku jijik menakuti anjing seperti kalian." ucap Nisa dengan enteng.
"Kau!! Syarat apa yang kau mau!?" tanya Noan dengan tidak sabar.
"Syaratku mudah, aku hanya akan bicara jika lawanku bicara adalah bosmu! Yaitu ketua Humble Dog!"
"Kau jangan lancang!!" teriak Noan seakan tidak terima.
"Memangnya dimana letak kelancanganku? Informasi yang aku punya sangat penting, jadi bosmu harus mendengarnya secara langsung dariku. Toh yang ingin berurusan denganku adalah bosmu, bukan kau. Tapi terserah, semuanya tergantung padamu. Aku sih oke-oke saja, hidup oke, mati oke, disiksa juga oke."
"Tsk! Baiklah, syaratmu aku terima. Tapi awas saja nanti, kematianmu akan sangat menyakitkan!"
Noan lalu menyuruh anak buahnya yang memegang kendali atas laptop untuk menyambungkan panggilan dengan bos mereka. Sembari menunggu tersambung, Noan kembali duduk namun terus mengawasi Nisa.
Seumur hidup aku baru menemui orang seperti ini, dia berbakat di semua bidang tapi pola pikirnya kacau. Entah apa yang dia rencanakan, semoga saja dia sungguh akan mengatakan segalanya kepada bos. Tapi dari tadi aku merasa ada yang aneh, bocah ini sama sekali tidak ketakutan. Menurutku ... orang seperti ini biasanya pernah melalui hal yang lebih buruk, tapi tetap saja dia itu masih sangat muda. Memangnya hal buruk seperti apa yang pernah dia lalui?
Tak lama kemudian panggilan itu telah tersambung. Orang itu membalikkan layar laptop untuk menghadap ke arah Nisa. Tapi yang dilihat Nisa hanya gambar hitam kosong. Panggilan itu adalah panggilan video, tapi orang yang disebut sebagai ketua dari geng Humble Dog itu mematikan kameranya.
"Hei, aku harus pakai bahasa apa untuk bicara denganmu!? Indonesia, Jepang, Arab, Inggris, Cina, atau bahasa binatang!? Secara kan kau itu adalah induk para anjing!" teriak Nisa.
"Perhatikan kata-katamu! Itu adalah bos-ku!" bentak Noan.
"Cukup, tenanglah Noan. Aku sudah cukup mengenal gadis ini, cara bicaranya memang seperti itu. Lalu ... informasi penting apa yang kau punya perempuan jal*ng?"
"...."
Suara ini menurutku sedikit aneh, kemungkinan besar dia menggunakan alat pengubah suara! Cih, benar-benar teliti sekali. Tapi ... dia sampai seperti ini, dia khawatir kalau aku mengenali suaranya, ini artinya kemungkinan besar sebelumnya aku pernah bicara dengannya. Tapi siapa?
"Hei, cepat katakan! Supaya ini cepat selesai dan supaya aku bisa cepat-cepat membunuhmu!" gertak Noan.
"Baiklah, yang kalian inginkan adalah semua informasi tentang Grizzly Cat, maka kalian akan mendapatkannya. Hanya saja ... setelah mengatakannya kematianku bisa dipastikan. Sebelum mengatakannya, aku ingin meminta kalian memenuhi permintaan terakhirku ..." ucap Nisa dengan nada putus asa.
"Cih, jangan dengarkan dia bos! Dia pasti punya rencana busuk!" ucap Noan penuh keyakinan.
"Apa aku menyuruhmu bicara!?"
"Maaf ... aku lancang, silakan lanjutkan."
"Nah, sadar diri juga kau!"
"...."
Cih, menjijikkan! Bergerak sesuai keinginan orang lain itu rasanya menjijikkan! Dia sangat patuh kepada bosnya, padahal jika aku perhatikan ... dia ini terlihat sangat terpaksa. Sepertinya bos dari para anjing ini cukup berpengaruh.
"Baiklah, katakan saja permintaan terakhirmu. Aku hanya tidak ingin kau jadi hantu gentayangan. Tapi jika permintaanmu adalah membebaskanmu, maka akan ku tolak!"
"Permintaanku mudah, sebelum mati aku ingin makan."
"Makan apa?"
"Roti."