Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Rencana Lain


Angin malam yang berhembus mulai terasa dingin menyapu kulit. Pasangan yang sedang berciuman di balkon itu perlahan melepas ciumannya. Keduanya sama-sama tersenyum, dan setelah Keyran mencium kening Nisa.


Nisa melepas rangkulan tangannya, kemudian dia menggenggam kedua tangan Keyran. Genggaman itu begitu erat, Nisa yang menggenggam tangan itu tersenyum sambil berkata, "Marry me, again!"


"Untuk apa? Menikah sekali saja sudah cukup, kenapa memintaku untuk menikahimu lagi?" Keyran terkekeh.


"Yang waktu itu jangan dihitung, waktu itu aku tidak mengucapkan sumpah pernikahan secara sungguh-sungguh karena terpaksa. Jadi, kali ini aku akan bersumpah setulus hati untuk menjadi istrimu."


Keyran tertegun, dan beberapa saat kemudian dia tersenyum. "Baiklah, tadinya aku kira kalau kau akan memintaku untuk mengadakan pesta pernikahan lagi. Silakan, aku tidak akan memaksamu ataupun menuntut sumpah apa pun darimu. Bersumpahlah semaumu dan jangan lupa untuk menyanggupi sumpahmu itu."


"Kepada langit, bumi, bulan, dan bintang yang akan menjadi saksiku, semoga sumpahku akan didengar oleh Tuhan dan direstui oleh-Nya." Nisa lalu mengambil napas panjang dan berkata, "Keyran Kartawijaya, aku Nisa Sania Siwidharma bersumpah, aku akan selalu menghormatimu, menyayangimu, bertahan di sisimu, tak akan pernah meninggalkanmu, kecuali jika kematian menghampiriku terlebih dulu maka selamanya aku akan menjadi istrimu. Hanya kematian yang bisa memisahkanku darimu."


"Hmm ... apa sekarang harus kucium?" tanya Keyran sambil tersenyum.


"Jika aku menolak, apakah kau akan menerimanya?" Nisa juga tersenyum.


"Tentu tidak! Sini, kucium istriku tersayang ini~"


Sekali lagi Keyran sedikit menunduk dan Nisa berjinjit semampunya, ciuman itu terasa lebih nikmat dibanding yang tadi. Dan tiba-tiba saja Nisa mengakhiri ciuman itu secara sepihak, lalu setelahnya dia memeluk erat Keyran dan menyembunyikan wajah yang memerah di dadanya.


"Key ... aku baru sadar kalau tubuhmu dingin, apalagi tanganmu. Sebenarnya sejak kapan kau berdiri di balkon?"


"Sejak masih sore, tidakkah kau merasa iba ataupun bersalah padaku?"


"Aku merasa iba, tapi kalau bersalah itu tidak. Bukan aku yang menyuruhmu berdiri lama-lama di balkon. Aku baru keluar dari rumah sakit loh, jangan sampai giliranmu yang masuk ke rumah sakit, ayo masuk!"


"Hmmm ..."


Ini pertama kalinya Nisa mengkhawatirkan aku, sekarang akhirnya dia perhatian. Senang sekali, akhirnya Nisa sepenuhnya jadi milikku, tubuhnya maupun hatinya.


"Hm apa? Ayo masuk! Aku masih harus menelepon ayahku."


"Untuk apa?"


"Untuk mengabarinya kalau aku tidak akan pulang, aku akan menetap di sini. Nanti ayahku pasti mengerti dengan sendirinya kalau kita sudah berbaikan. Lagi pula ibuku pasti menyisihkan jatah makan malam untukku, dan pasti orang tuaku sekarang sedang diam-diam memakiku karena tak kunjung pulang. Aku hanya tak ingin mereka khawatir."


"Itu bagus, keluargamu sepertinya memang sangat harmonis." ucap Keyran dengan ekspresi sedikit murung.


"Ah i-itu ..." untuk sejenak Nisa terdiam, lalu setelahnya dia tersenyum hangat kepada Keyran. "Kau benar, keluargaku bisa dibilang harmonis. Dan kau itu suamiku jadi kita ini juga keluarga! Sekarang mungkin hanya ada kita berdua, tapi ke depannya kita bisa membuat keluarga kecil kita sendiri! Aku janji akan menjadi istri yang baik dan layak menjadi ibu untuk anak-anak kita nanti. Jadi jangan sedih, oke?"


"Haha, aku tidak sedih. Tapi ... kata-katamu ini akan kuingat. Ayo masuk, aku kedinginan."


"Iya," Nisa menggandeng tangan Keyran lalu berjalan masuk ke dalam.


Mereka terus bergandengan bahkan saat menutup pintu beserta gorden nya. Dan ketika Nisa menelepon ayahnya, Keyran juga masih menempel dan terus memeluk Nisa dari belakang. Ketika panggilan itu berakhir, setelah Nisa meletakkan ponselnya tiba-tiba saja Keyran membopongnya lalu berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Key ... kenapa tiba-tiba menggendongku?" tanya Nisa dengan ekspresi gugup.


"Aku masih kedinginan, jadi kau harus menghangatkanku~ Lagi pula tadi kau baru saja menikahiku lagi, bukannya kita harus melakukan malam pertama lagi?"


"Malam pertama apanya?!" teriak Nisa yang wajahnya memerah.


"Hoho, menurut saja~" Keyran tersenyum licik lalu menjatuhkan Nisa di atas ranjang.


BRUGH ...


Nisa semakin gugup saat Keyran juga naik ke atas ranjang dan mendekat ke arahnya. Dia perlahan bergeser mundur hingga tanpa sadar punggungnya terantuk begitu sampai di ujung. Melihat Nisa yang begitu gugup membuat senyum Keyran semakin lebar. Tiba-tiba Keyran mengambil sebuah bantal lalu meletakkan bantal itu di atas paha Nisa. Dan setelahnya Keyran malah berbaring dan menempatkan kepalanya di atas bantal itu.


"B-bukannya tadi mau ...?" tanya Nisa kebingungan.


"Jadi kau kecewa?" Keyran terkekeh.


"B-bukan begitu, hanya saja ... aku pikir kata-katamu tadi itu sungguhan. Tapi nyatanya sekarang kau berbaring di atas pangkuanku, apa sedari awal memang sengaja ingin mempermainkan aku?"


"Tidak kok, kata-kataku tadi itu sungguhan, tadinya mauku memang ingin begitu. Tapi ... aku ingat kalau kau baru keluar dari rumah sakit, jika kita melakukannya maka aku tidak bisa menjamin tindakanku. Kita sudah lama tidak melakukannya, satu ronde mana mungkin cukup, jadi aku khawatir bila nantinya aku terlalu bersemangat. Pulihkan dulu tubuhmu seperti sedia kala, baru kita bisa bersenang-senang sepuasnya~"


"Cih, sepuasnya apa? Memangnya kau bisa puas?"


"Tentu bisa, aku hanya akan puas ketika kau kalah. Dan ... bukannya selama ini kau selalu kalah?" tanya Keyran sambil tersenyum.


"Hmph! Jangan mengejekku, itu kau saja yang memang sulit dikalahkan. Tapi ... aku suka saat kau pengertian seperti ini. Jujur, aku sekarang memang belum mencintaimu, tapi aku menyukaimu. Dan jika aku kembali jatuh cinta, itu pasti adalah dirimu."


"Terserah kau mau menyebut perasaanmu seperti apa. Yang jelas sekarang kau istriku, dan selamanya akan begitu. Maukah kau berjanji akan selamanya bersamaku dalam keadaan apa pun?"


"Selamanya ...? Selamanya itu sangat lama, tapi aku tak keberatan, karena bersamamu rasanya menyenangkan juga. Tapi aku sedikit heran, kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berjanji begitu?"


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin bilang terima kasih dan meminta maaf. Aku berhutang nyawa padamu, terima kasih karena telah menghadang pisau itu untukku, meskipun sebenarnya aku berharap kalau kau tidak melakukannya. Aku sangat takut kehilanganmu, dan rasa takut itu semakin membesar ketika aku melihat darahmu yang keluar begitu banyak. Maafkan aku yang tak mampu menjagamu, dan ke depannya jangan lagi berkorban untukku. Aku akui, dengan status dan identitas yang aku miliki memang banyak orang yang ingin aku mati, entah itu saingan bisnis ataupun yang punya dendam kepadaku. Bahkan sebenarnya ini bukan yang pertama kali, sejak kecil pun aku pernah mengalaminya beberapa kali. Jadi, mungkin saja di masa depan hal seperti itu akan terulang lagi, apa kau bersedia terus bersamaku jika hal seperti itu menimpaku?"


"Kenapa kau begitu yakin jika hal itu pasti terulang lagi?"


"Mungkin saja pelakunya belum kapok, aku hanya berjaga-jaga dan berusaha mengantisipasi. Jadi kau bersedia atau tidak?"


"Iya, aku bersedia. Entah apa pun yang terjadi ke depannya, aku akan tetap bersamamu. Lagi pula kita ini suami istri, sudah sepantasnya kita saling melindungi. Jadi jangan merasa berhutang nyawa ataupun yang lainnya. Asal kau tahu ya, aku ini tipe orang yang rela mempertaruhkan segalanya demi keinginanku. Bahkan jika sekalipun nyawaku yang jadi taruhannya, jika aku bisa melindungimu maka semua itu sepadan." ucap Nisa dengan senyuman.


"Kau ini aneh, padahal usiamu ini masih terbilang muda. Kenapa kau seperti tidak takut mati? Apa kau tak punya motivasi?"


"Haha, semua orang itu akan mati, bahkan sebenarnya kematianlah yang paling dekat dengan kita. Soal motivasi ... aku mungkin memang tak punya, karena aku menjalani hari-hariku seolah-olah itu hari terakhirku, aku melakukan apa yang aku suka tanpa keraguan, jadi aku tak ingin ada satu pun penyesalan dalam hidup."


"Nisa, cara bicaramu dari dulu tak pernah berubah, masih kurang enak didengar. Tadi katamu kau tak punya motivasi, kalau begitu sekarang aku berikan motivasi untukmu! Pokoknya dalam hidup ini kau harus jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti, bahkan jika kau lebih suka menjadi wanita karier aku juga akan tetap mendukungmu. Tapi mengingat kalau kau itu pemalas, kurasa jadi wanita karier kurang cocok meskipun sebenarnya kau melakukan pekerjaanmu dengan baik. Jadi, lebih baik kau jadi ibu rumah tangga yang sukses saja!"


"Haha ... oke, jadi kita bahas tentang masa depan. Kalau begitu sekalian saja buat rencananya, ngomong-ngomong ... kau mau punya anak berapa?"


"8!"


"A-apa?! Kau pikir aku ini kucing yang sekali beranak bisa langsung 5?! Kenapa kau menginginkan 8 anak?"


"Karena 8 itu kan angka keberuntungan, nanti kita buat 5 anak laki-laki untuk tim basket, lalu 3 anak perempuan untuk tim cheerleader!"


"Astaga, kau pasti mengatakannya tanpa pikir panjang. Punya 8 anak itu pasti akan menyusahkan, apa lagi 5 anak laki-laki, aku disuruh mengurus 2 adikku saja sudah sangat kewalahan. Bagaimana jika nantinya anakmu sulit diatur?"


"Hei hei, anakku juga anakmu. Toh jika nantinya anak kita sulit diatur itu pasti karena sifatmu yang menurun kepadanya. Tapi ... aku rasa itu tidak terlalu buruk, bukankah menyenangkan jika nantinya kita punya anak yang seperti Yuna?"


"Maksudmu kau ingin anak yang berpenyakitan dan tergila-gila pada Jonathan?"


"Bukan begitu maksudku! Bagiku Yuna itu cukup mirip denganmu, aku rasa tidak buruk juga jika orang sepertimu ada 2. Jika kau sibuk maka nantinya masih ada yang akan menghiburku. Masa yang seperti itu saja kau tidak paham?"


"Iyaa ... aku paham, tapi karena kau menyebut Yuna ... Aku jadi teringat satu hal. Pagi ini tadi Yuna mengunjungiku, dan yang membuatku kaget adalah dia datang bersama kedua orang tuanya. Orang tua Yuna sedikit sungkan kepadaku, mungkin karena mereka tahu identitasku sebagai istrimu. Yuna bilang kalau dia ingin mengucapkan salam perpisahan, orang tuanya memutuskan untuk melanjutkan pengobatan Yuna di luar negeri. Yuna bilang kalau dia akan pergi ke negara singa."


"Maksudnya Singapura?"


"Iya, tapi Yuna hanya menyebutkan singa. Yuna juga titip salam untukmu, untuk Ricky, juga untuk Jonathan, tapi aku hanya menyampaikannya kepadamu. Yuna juga bilang kalau dalam waktu dekat dia akan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang. Kita doakan saja semoga operasinya berhasil ..."


"Iya, semoga saja dia bisa terus hidup. Tadi katamu kau bertemu orang tua Yuna, seperti apa mama nya Yuna?"


"Jadi kau tertarik pada ibu-ibu?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Bukan begitu! Aku cuma tertarik kepadamu. Aku bertanya karena penasaran seperti apa rupa orang yang selalu memberi nasihat yang sedikit menyesatkan."


"Haha, begitu toh. Dia biasa saja kok, seperti ibu-ibu pada umumnya. Hanya saja sepertinya dia fans berat film bollywood, aku melihat tangannya yang pakai henna, mungkin dia mendapat nasihat-nasihat aneh itu dari film."


"Kau ini bisa saja, ternyata orang aneh di dunia ini bukan cuma kau~"


"Humph! Kau yang lebih aneh karena mau menikah denganku!"


"Haha, iya juga ya, berarti kita ini pasangan aneh."


"Ehmm ... Key, ngomong-ngomong bolehkah aku menyentuh kepalamu?"


"Tentu saja boleh, jangankan kepalaku, semua bagian tubuhku boleh-boleh saja kau sentuh. Kenapa mendadak kau bertanya seperti ini?"


"Itu karena kau lebih tua dibanding aku, itu terbilang kurang sopan jika aku menyentuh kepalamu. Lagi pula aku cuma mau menyentuhnya sebentar kok, aku cuma ingin tahu rambutmu selembut apa."


"Ohh ... jika kau tertarik dengan rambutku yang lain juga boleh, sentuh saja tapi jangan dicabut~ aku jamin rambutku pasti lembut~"


"Key!! Berhenti menggodaku!" teriak Nisa yang wajahnya memerah.


"Iya iya, sini cepat sentuh!" Keyran menarik tangan Nisa lalu meletakkannya di kepalanya. "Halus dan lembut kan?"


"Haha, sepertinya kau cocok jadi duta sampo!"


"Aku? Jadi duta sampo? Aku ini CEO dari perusahaan properti, lagi pula mengiklankan sampo harus ada adegan mandi sambil keramas. Memangnya kau rela jika tubuhku dilihat oleh orang lain?"


"Anggap saja sedekah, aku ini bukan orang serakah, toh mereka cuma melihat jadi itu bukan masalah~"


"Nisaaa!!"


"Hahaha, maaf ... aku cuma menggodamu. Aku ini memang bukan orang serakah, tapi orang pelit. Tentu saja tubuhmu cuma aku yang berhak menikmatinya, jadi kalaupun datang ke gym harus tetap tutupi perutmu, aku akan marah jika perempuan lain melihatnya!"


"Nah, harusnya kau begitu, sesekali kau juga harus cemburu. Aku beritahu ya, selama di rumah sakit aku sudah mencoba bersabar sesabar-sabarnya. Apa lagi dua orang yang selalu berkeliaran di sampingmu itu, rasanya aku sangat ingin melempar granat ke arah mereka."


"Iya iya, sekali lagi aku minta maaf. Nisa yang sekarang hanya untukmu, mulai sekarang jika aku ingin bertemu seseorang maka aku akan meminta izin darimu terlebih dulu. Mulai sekarang kita harus saling menjaga perasaan satu sama lain, kau juga ... apa artis kampret itu masih sering tiba-tiba mengunjungimu ke kantor?"


"Maksudmu Amanda?"


"Memangnya kalau bukan dia siapa lagi? Kau bertanya seperti ini jangan-jangan bukan hanya dia yang sering mengunjungimu?!"


"Tidak kok, jangan berprasangka buruk dulu. Dan yaa ... untuk yang paling sering memang Amanda, tapi percayalah kalau aku hanya membicarakan masalah bisnis dengannya, tidak lebih dari itu. Jika dia mulai membahas tentang hal di luar itu maka aku mengabaikannya juga memintanya untuk segera keluar."


"Pokoknya aku tetap tidak suka! Semua orang tahu kalau dia punya perasaan terhadapmu. Jadi untuk selanjutnya jika dia datang ke kantor untuk membahas bisnis, aku mau yang menangani adalah Valen atau orang lain! Dan aku juga tahu masih ada yang lainnya, orang yang sukarela ingin jadi istri keduamu sangat banyak. Dan jika mereka semua tetap bersikeras, maka aku akan kembali jadi sekretarismu dan menjaga pintu ruanganmu dengan ketat. Dan khususnya jika nona artis itu yang bersikeras, maka aku akan melemparnya keluar jendela dari lantai tertinggi!"


"Haha, itu pujian atau hinaan?"


"Tentu saja pujian, mana mungkin aku menghina istri yang susah payah aku dapatkan hatinya. Dan ada satu hal yang harus aku akui, ternyata nyaman juga saat tanganmu mengusap kepalaku."


Nisa tersenyum dan terus mengusap kepala Keyran dengan lembut. Baginya itu terasa sangat nyaman, dia sangat suka rambut yang lembut itu, bahkan di dalam hatinya dia merasa sedang mengusap bulu kucing yang lembut.


Dan beberapa saat kemudian Nisa mendadak berhenti, bahkan senyuman yang dia perlihatkan juga hilang.


"Ada apa? Kenapa berhenti? Padahal nyaman sekali sampai membuatku mengantuk, ayo teruskan!"


"Emm ... aku ingin tanya satu hal, di kepalamu ada bekas luka, kau pernah operasi?"


"Tadi kan aku sudah bilang kalau aku mengalami percobaan pembunuhan bukan hanya sekali. Luka di kepalaku itu aku dapatkan setahun lebih yang lalu. Aku mengalami kecelakaan sampai mobilku rusak, dan kepalaku yang mengalami cedera paling parah. Sebenarnya merupakan keajaiban aku bisa selamat, dan aku ingat ayahku pernah bilang kalau dokter bedah yang menanganiku adalah mantanmu. Sekarang kalau aku pikir-pikir rasanya aneh, rasanya kita semua seperti dipermainkan oleh takdir. Bukankah kau juga merasa begitu?"


"Iya juga, takdir memang selalu mempermainkan orang."


OMG! Sekarang aku ingat kalau Ivan pernah memberitahuku soal ini, bahkan saat itu aku berharap lebih baik Keyran mati saja. Tapi aku tak pernah menyangka kalau Ricky juga terlibat, andai saja Ricky bisa tahu masa depan maka dia pasti enggan menyelamatkan Keyran. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya kan memang menyelamatkan orang.


"Nisa, ada satu hal yang membuatku penasaran. Ini tentang teman-temanmu, dan tidak sedikit juga dari mereka yang berpengaruh serta mampu. Kau awalnya mati-matian menghindari pernikahan denganku, dan hanya kurang 2 miliar untuk mewujudkannya. Tapi kenapa kau tidak minta bantuan temanmu saja tapi malah dengan bodohnya berhutang kepadaku?"


"Karena Ricky dan untuk Ricky."


"Apa maksudmu? Kenapa semuanya berhubungan dengan dia?"


"Maksudku adalah mustahil bagiku meminta bantuan teman-temanku, karena mereka semua membenci Ricky. Sedangkan tujuanku menghindari pernikahan adalah untuk tetap bersama Ricky, mana mungkin mereka mau membantuku. Dan aku bisa berhutang kepadamu itu karena kecerobohanku yang lupa bertanya kepada siapa ayahku berhutang. Tapi pada akhirnya ayahmu bersikeras memilihku, bahkan alasannya sangat konyol. Itu semua gara-gara aku kena prank, ayahmu pura-pura buta dan aku dengan polosnya membantunya menyeberang jalan. Bahkan itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, tapi ajaibnya ayahmu masih bisa mengingatku."


"Hahaha, tapi menurutku sebenarnya kau yang bodoh. Bagaimana bisa kau berpikir kalau ayahku adalah orang buta?"


"Itu karena dia memakai kacamata hitam, juga membawa tongkat kayu bersamanya."


"Tapi tongkat yang selalu dibawa ayahku tidak seperti tongkat yang dipakai orang buta. Bahkan tongkatnya tidak panjang, dia hobi membawa tongkat karena untuk memukul orang yang kerjanya tidak becus. Tapi aneh, apa ayahku sama sekali tidak marah karena kau menganggapnya orang buta?"


"Nyatanya tidak kok, bahkan dia biasa saja saat aku memanggilnya kakek."


"Memangnya ayahku setua itu?"


"Haha, siapa suruh rambutnya sudah beruban banyak. Tapi yaa ... orang dari kalangan konglomerat juga mempunyai banyak pikiran, mungkin itulah penyebab uban nya banyak. Ayahmu itu licik, dia bisa mempermainkanku saat di kampus, bahkan bisa mengaturku untuk jadi sekretarismu, padahal sebenarnya aku melamar jadi staf departemen keuangan supaya mempermudah prosesku berhutang. Tapi yaa ... kau tahu sendiri kelanjutannya."


"Hmm ... rasanya sudah lama kita tidak bicara sebanyak ini, tapi masih ada yang mengganggu pikiranku."


"Soal apa?"


Tiba-tiba saja Keyran menarik tangan Nisa yang sedari tadi mengusap kepalanya, bahkan dia menatap tangan itu dengan tatapan curiga. "Dari mana kau mendapat gelang ini?"


"Eh?! I-itu ..."


"Dari mana? Ayo darling, cepat jawab!"


"I-iya aku jawab, gelang ini dari Jonathan, tapi aku sangat suka dengan modelnya jadi sayang jika dilepas. K-kau tidak keberatan, kan?"


"Cih, memang apa bagusnya gelang murahan itu?" tanya Keyran dengan nada malas.


"Hei, selera tiap orang berbeda, aku suka karena ada hiasan kucingnya ... Aku suka kucing, dan Jonathan mengetahuinya maka dia memberiku gelang ini."


"Itu yang membuatku keberatan! Jonathan saja tahu apa yang kau suka dan tidak, sedangkan aku, apa yang aku tahu? Padahal aku yang terlebih dulu bertemu denganmu, tapi dia yang lebih mengenalmu. Sebenarnya kau anggap suamimu itu aku atau dia?!"


"Jika aku menganggap Jonathan maka aku pasti sudah kabur ke Italia bersamanya. Jonathan bisa lebih mengenalku karena kami berbagi cerita, tapi ketika denganmu ... memangnya kau mau mendengar ceritaku yang membosankan?"


"Tak masalah, aku bersedia mendengarnya apa pun ceritamu. Aku sangat tidak terima jika Jonathan lebih mengenalmu, kalau mantanmu yang lebih mengenalmu dibanding aku itu wajar-wajar saja. Bahkan dia juga memberimu gelang, sedangkan aku memberimu cincin pernikahan, lalu apakah mantanmu juga memberimu kalung?!"


"Ehmm ..." Nisa mengalihkan pandangannya.


Ya ampun, tebakannya tepat. Tapi kalung dari Ricky sudah kubuang ke danau waktu itu, aku membuangnya karena masalah Natasha. Tapi anehnya ... saat masih di rumah sakit aku pernah secara sengaja menyebut nama Natasha di depan Ricky, tapi reaksinya Ricky biasa saja. Apa mungkin Natasha benar-benar hamil tapi anaknya bukan anak Ricky, lalu anak siapa? Secara kan Natasha itu bukan cewek nakal, bahkan sebenarnya aku lebih nakal. Aahh bodo amat, dia cuma orang lain yang tak punya kontribusi dalam hidupku!


"Hei, apa yang kau pikirkan?!"


"B-bukan apa-apa! Tapi katamu kau iri, jadi mulai sekarang aku akan lebih terbuka padamu. Mari kita habiskan malam ini dengan bercerita! Nah, sekarang apa yang ingin kau ketahui tentangku?"


"Semuanya, aku ingin kau bercerita semua hal tentang apa yang kau suka dan tidak, aku ingin tahu itu!"


"Anjing."


"Hei, kenapa malah memakiku?!"


"Aku bukan memakimu, tapi yang aku tidak suka adalah anjing. Katanya tadi ingin tahu, tapi sekarang malah marah."


"Huft ... baiklah, tapi kita kesampingkan hal remeh seperti itu dulu. Aku ingin tahu yang penting-penting tentangmu, yang berkaitan dengan hubungan kita, kita utamakan yang itu saja. Kalau begitu ... biar aku kasih pertanyaan, lalu kau tinggal menjawabnya. Aku ingin tahu, apakah mantanmu cuma satu?"


"Iya, cuma Ricky."


"Aku tidak percaya, biasanya orang barbar sepertimu punya bermacam-macam kenangan saat SMA, masa yang menaksirmu tidak ada?"


"Aku mengenal Ricky saat masih SMA, dan kenangan lain saat SMA ... aku sering mendapat surat cinta."


"Apa? Siapa yang memberimu surat cinta? Dia sekarang tidak mengejarmu lagi, kan?"


"Haha, jangan kaget begitu, surat cinta yang aku maksud adalah surat dari guru BK. Sekarang dia sudah punya cucu, mana mungkin dia mengejarku. Kau takut punya saingan lain, ya?"


"Ck, ternyata kau memang biangnya masalah. Kita ganti topik lain, kenapa ... kau bisa tega membuat rencana mempermainkan perasaanku untuk menghancurkanku?"


"Oh itu, sebenarnya itu cuma salah satu rencanaku. Aku masih punya rencana lain untuk menghancurkanmu~ Sebaiknya siapkan mentalmu jika ingin mendengarnya~"


"A-apa?" Keyran ternganga.


"Baiklah, rencana pertama yang aku pikirkan adalah membuat gaya pernikahan baru. Tapi melihat keadaan yang kurang mendukung jadi tidak bisa aku jalankan, karena saat itu saja kau menolak untuk pisah ranjang."


"Tunggu dulu, gaya pernikahan macam apa yang kau maksud?"


"Kita buat kesepakatan, setelah kita berdua menikah, kau boleh selama satu tahun tak pulang ke rumah. Jika kau tidak ada masalah jangan datang mengusikku, tentu saja jika ada masalah juga jangan datang. Setiap bulan ingat tepat waktu memberiku uang bulanan saja sudah boleh. Kau bisa sesuka hati memelihara beberapa wanita di luar sana, sesuka hati meminta mereka melahirkan anak untuk meneruskan keturunanmu ... Enak kan buat kesepakatan denganku?"


"I-itu baru rencana pertama?"


"Nah, rencana kedua ... Aku akan memecat Bibi Rinn, lalu setelahnya aku mencari beberapa asisten rumah tangga yang baru. Tapi harus yang masih muda, cantik dan aduhai~ Aku ingin mereka nantinya menggodamu, dan aku sepenuhnya akan kau abaikan, alias aku sepenuhnya mendapat kebebasan! Tapi ternyata Bibi Rinn seorang janda beranak satu, makanya aku kasihan jika dia dipecat."


"A-apa masih ada yang lain?"


"Tentu saja masih! Ingat saat kau mengira kalau aku hamil, sebenarnya aku terpikirkan rencana gila saat itu. Saat itu aku ingin mengiyakan bahkan aku hamil, tapi nantinya aku buat seolah-olah bukan kau ayah dari anak yang aku kandung. Sebenarnya aku terpikirkan satu orang, yaitu Jonathan. Tapi ... saat itu aku belum tahu perasaan Jonathan, makanya aku mengurungkan rencanaku itu. Apa kau masih mau mendengar yang lain lagi?"


"T-tidak, cukup, jangan cerita tentang rencana gilamu lagi."


Nisa sungguh gila, padahal orang pada umumnya akan menjaga pasangan sebaik mungkin, tapi dia justru sebaliknya.


"Huft ... mungkin rencana-rencanaku memang gila. Dan sebenarnya ... aku ingin bilang sesuatu yang sudah kupendam selama ini, aku takut jika aku cerita maka kau nanti tidak sudi menerimaku. Dan ini soal masalah mentalku ... Tapi sebelumnya, harusnya sebelum pernikahan ayahku sudah menjelaskan padamu, bukankah begitu?"


"Oh, soal itu ayahmu memang sudah pernah memberitahuku, dia bilang emosimu sulit dikendalikan dan terkadang naik turun sewaktu-waktu. Makanya saat di awal pernikahan aku bertanya apa kau mengidap gangguan bipolar, dan jawabanmu tidak. Sejak saat itu aku tak berniat mengungkitnya lagi."


"Memang bukan bipolar ataupun kepribadian ganda. Tapi aku mengidap ... gangguan kecemasan umum, dan untuk kasusku lebih tepatnya disebut anxiety feeling. Aku merasa cemas berlebihan, suka overthinking, cepat lelah, kadang sakit kepala, dan yang paling sering insomnia."


"Tunggu sebentar, apa kau pernah mengalami pengalaman traumatis?"


"Tidak, ini berbeda dengan PTSD, aku tak pernah mengalami trauma. Anxiety feeling yang aku rasakan itu ... rasanya seperti terjebak di dalam pikiranku sendiri, hatiku rapuh sementara pikiranku membatu yang membuat semakin hampa. Terkadang dalam keramaian sekalipun aku merasa kesepian, aku merasa cuma aku yang bisa mengerti tentang apa yang aku rasakan, rasanya seperti terjebak. Aku harus bisa melepaskan emosiku karena jika tidak maka aku bisa sampai depresi. Jadi aku butuh ketenangan tapi tak ingin sendirian, setidaknya aku perlu satu orang di sampingku yang bisa mengertiku, tak perlu mengerti sepenuhnya, hanya memaklumi saja sudah cukup. Makanya Jonathan itu bagiku termasuk teman yang penting, aku butuh teman untuk bertukar pikiran atau curhat. Nah, dari segi mental saja aku bukan orang yang sempurna. Apa kau masih mau menerimaku yang seperti ini?"


Keyran membisu, tapi mendadak dia bangkit. Dia menatap mata Nisa lekat-lekat, lalu dia membelai wajah Nisa dan tiba-tiba mencium bibirnya. Dan ketika ciuman itu lepas, dia pun tersenyum.


"Tak apa, itu bukan masalah. Lagi pula aku tahu caranya mengatasi rasa cemas mu, aku hanya tinggal membuatmu selalu merasa bahagia. Jika kau menginginkan sesuatu maka bilang saja padaku, selama itu masuk akal dan bukan hal aneh maka aku pasti akan mengabulkannya. Kau itu istriku, jika kau merasa sedih maka ceritakan saja masalahmu padaku, jika kau merasa kesepian maka cari saja aku, bahkan jika kau bosan denganku, aku selalu mengizinkanmu bertemu keluargamu."


Nisa tersenyum, dia mendekat ke arah Keyran lalu memeluknya. Di satu sisi Keyran juga membalas pelukan itu.


"Terima kasih, aku sangat beruntung mendapatkanmu sebagai suamiku. Tapi, tiba-tiba aku teringat satu hal penting lainnya." Nisa melepas pelukannya, namun setelah itu dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "A-anu ... tolong lepas bajumu!"


"Hah?!" Keyran tertegun, namun kemudian dia memegang dagu Nisa dan menghadapkan wajah Nisa ke arahnya. Lalu dia tersenyum sambil berkata, "Darling~ aku sudah bilang kalau sekarang aku kesulitan mengontrol tindakanku, kapan-kapan saja oke?"


"J-jangan salah paham dulu! A-aku cuma ... cuma mau bilang saat aku menangis di balkon tadi, tanpa sengaja ingusku menempel di bajumu ... T-tapi cuma sedikit kok, jadi jangan marah yaa ... darling?"


"Haha, begitu ..." Keyran menarik kedua tangan Nisa lalu meletakkannya di depan dadanya. "Ingusmu menodai bajuku yang dibuat khusus dengan harga 750 juta. Ganti rugi!"


"Emm ... aku tahu, kau sebenarnya ingin berkata kasar. Gapapa kok, katakan saja, aku janji akan mencuci bajumu, bila perlu dengan pewangi satu botol. Hehe ..." Nisa tersenyum canggung.


"Haha hehe apanya? Pokoknya lain kali jika ingin menangis juga harus bersih. Sekarang kau tetap harus tanggung jawab, bantu aku lepas bajuku!"


"Baik ..." Nisa menelan ludah, mungkin melepaskan kancing baju adalah hal mudah, namun yang membuatnya gugup adalah Keyran yang terus menatapnya dengan senyuman yang mematikan, seakan-akan seperti serigala yang bisa kapan saja memangsa seekor kelinci kecil di depannya.


Dan setelah baju itu terlepas dari tubuh Keyran, tiba-tiba saja Keyran memeluk Nisa dan mengajaknya berbaring bersama.


"Eh?! Kau tidak pakai baju dulu? Bukannya cuaca sedang dingin?"


"Sekarang ada kau, memelukmu seperti ini rasanya sudah cukup hangat. Ayo tidur, ini sudah malam."


"Ehmm ... Key, tolong lepaskan aku sebentar, masih ada satu hal yang harus aku lakukan sebelum tidur."


"Hal apa?"


"I-itu ... melepas bra," jawab Nisa dengan suara lirih.


"Oohhh ... biar aku bantu!"


"A-apa?!"