
BRAK! BRAK! BRAAK!!
Nisa menggedor pintu sekuat tenaga, tak lama kemudian ada seseorang yang berteriak dari luar kamar. "Diamlah!! Kalau masih berisik jatah makan malam mu hari ini kosong!!"
"Buka pintunya! Aku mau ke toilet!" teriak Nisa sekeras mungkin.
"Kamar mandi ada di dalam!"
"Airnya mati! Cepat buka!"
Belum sempat Nisa menggedor pintu lagi, mendadak pintu tersebut dibuka dari luar. Sontak saja pria yang membuka pintu itu disambut oleh tendangan keras dari Nisa di bagian perutnya.
BUAGH!
Pria itu terjatuh, punggungnya membentur tembok dengan keras. Belum sempat dia bangkit, tetapi Nisa sudah melangkah keluar dari kamar dan memukulinya.
Suara pukulan dan teriakan kesakitan pria itu terdengar keras, tiba-tiba muncul empat pria lain lagi saat pria yang dipukuli oleh Nisa sudah tak sadarkan diri.
Empat pria itu langsung maju untuk menyerang Nisa bersama. Nisa menyeringai di balik wajahnya yang tertutup oleh masker, dia lalu mengeluarkan belati yang dia sembunyikan.
Perkelahian kali ini selesai lebih cepat dibanding sebelumnya. Nisa lalu mendekat ke arah kamar tadi, sebelum masuk dia menyembunyikan belati miliknya di belakang.
Nisa menatap tajam ke arah ketiga gadis itu. Sinta, Vivi dan Chaca tampak tubuhnya yang gemetar ketakutan. Apalagi saat mereka menatap tangan Nisa yang satunya lagi, tangan itu membawa gantungan kunci dengan sedikit noda merah di tangannya yang berlapis sarung tangan.
Nisa lalu melempar gantungan kunci ke arah ketiga gadis yang ketakutan itu. "Itu kunci kamar yang lain. Bebaskan yang lain juga, setelah ini kalian bebas mau ke mana. Tapi tunggu sekitar kurang lebih 10 menit! Aku akan bereskan orang-orang yang tersisa!"
Tanpa berkata apa pun lagi Nisa langsung berlari keluar, dia menuju ke tempat lain untuk membereskan preman-preman yang tersisa.
Menyadari Nisa telah pergi, Vivi lalu memungut kunci yang ada di lantai. Dia yang masih ketakutan lalu menatap Sinta dan Chaca. "I-ini beneran?"
"A-aku nggak tahu, ini sulit dipercaya." ucap Chaca.
Sinta lalu membalikkan badannya dan mendekat ke arah pintu. Perlahan dia memberanikan diri untuk mengintip keadaan di luar. "Kyaaa!!"
Sinta berteriak histeris dan langsung kembali masuk serta memeluk Vivi dengan erat. "Vi, a-ada darah, ada banyak ... A-aku mau muntah ..."
"Muntah di kamar mandi sana!" Vivi mendorong Sinta untuk menjauh darinya. Dia lalu berjalan mendekat ke arah pintu diikuti oleh Chaca di belakangnya yang juga penasaran.
Wajah keduanya seketika pucat. Mereka melihat 5 orang pria sudah terkapar yang bersimbah darah, ada yang terluka di kepala, leher, perut, bahkan ada jari yang terlepas dari tangan. Keadaan itu sangat kacau dan berantakan, apalagi bau amis darah yang menyengat di indra penciuman mereka.
BRAKK!
Vivi menutup pintu dengan keras, perutnya juga ikut mual akibat pemandangan yang dilihatnya tadi. "I-ini nggak mungkin ..." gumamnya.
"Apa kalian juga berpikir kalau kakak yang tadi itu polisi yang menyamar?" tanya Chaca.
"Nggak mungkin kalau polisi! Polisi nggak ada yang sekejam ini, dalam keadaan terpaksa pasti cuma menembak 1 kali saat korbannya sudah menyerah. Tapi ini caranya lebih sadis, aku pernah baca novel tentang mafia, t-tapi aku nggak sangka kalau kenyataannya lebih mengerikan." ucap Sinta.
"Kakak itu mafia?" tanya Chaca lagi.
"Belum tentu, soalnya tadi dia mencari orang. Kemungkinan dia itu agen rahasia yang dibayar seperti itulah. Iya kan, Vi?" tanya Sinta meminta pendapat.
"Ck, sudahlah. Aku nggak mau tahu identitas kakak itu, tapi yang pasti dia itu berbahaya. Kita lakukan saja seperti yang dia minta. Kita tunggu 10 menit, nanti saat kita semua bebas, kita bisa diskusi sama anak-anak lain soal bagaimana kita selanjutnya." ucap Vivi.
Chaca menghela napas. "Niat kakak itu sebenarnya baik ya, tapi caranya terlalu sadis."
"Iya, akhirnya kita bebas nggak melayani Om-Om mesum lagi." sahut Sinta.
Di sisi lain dari bangunan kost-kost an itu. Nisa dengan cepat berlari menuju ke lantai 2, dia berteriak-teriak memanggil nama Jenny, namun tidak ada yang menjawab. Malahan yang menyahut adalah gadis-gadis yang terkurung di kamar berteriak meminta tolong, namun yang pasti tidak ada Jenny di antara mereka.
Suara teriakan yang berisik itu menarik perhatian preman yang berjaga. Muncul empat orang dari sisi kanan dan tiga orang dari sisi kiri, mereka mengepung Nisa di koridor itu. "Tangkap orang sialan itu!" teriak salah satu di antara mereka.
"Tsk, cari mati!" ucap Nisa sambil mengeluarkan belati tajam miliknya.
Sekelompok orang itu langsung maju tanpa ragu, perkelahian kali ini lebih sengit dibanding dengan yang tadi. Jumlah orang lebih banyak, area terbatas, bahkan mereka juga menyerang dengan perabot seperti rak sepatu yang terbuat dari baja.
Nisa dengan mudah menghindar setiap serangan dari mereka, dia lebih dominan dan hanya butuh waktu kurang dari 2 menit untuk melumpuhkan ketujuh orang itu.
Nisa berdiri di tengah-tengah dan menggenggam erat belati miliknya, napasnya terasa berat lalu dia mengusap keringat yang ada di dahinya. "Huft ... ini baru yang namanya olahraga."
Ini sedikit aneh, padahal biasanya yang seperti ini cuma aku anggap sebagai pemanasan. Aku kelelahan lebih cepat dibanding sewajarnya, apa ini tandanya kemampuanku berkurang?
"Haha, itu konyol! Pasti karena belakangan aku cuma olahraga ranjang." Nisa terdiam, kemudian dia melangkah mendekat ke arah pojok.
Nisa melangkah lagi dan langsung menodongkan belati miliknya. Dia menemukan seorang lelaki muda yang tampak seumuran dengan adiknya, lelaki itu ketakutan dan sekarang sedang menempel di dinding. Sial bagi pria itu karena gagal bersembunyi, wajahnya jadi pucat karena jika dia bergerak sedikit saja maka lehernya akan terkena belati milik Nisa.
"Siapa kau?" tanya Nisa dengan sorot mata yang tajam.
"A-aku tukang bersih-bersih toilet ... B-biarkan aku pe-pergi ..." ucapnya dengan tangan dan kaki yang gemetaran.
"Bohong sama dengan mati!" bentak Nisa.
"Aku so-sopir! Aku cuma sopir! Huhu ... mama yang ada di surga, bantu anakmu ini ... Aku belum siap bertemu mama ..." lelaki itu menangis, bahkan dia tidak berani untuk mengusap ingusnya sendiri.
"Sopir? Kau mengantar apa dan ke mana?"
"J-jika aku menjawab ... aku tetap hidup kan?"
"Jawab saja! Kau tidak dalam posisi bisa menawar!"
"Aku mengantar para RAFF yang sudah di pesan oleh pelanggan ke hotel." jawabnya dengan suara lirih.
"Plaza Lux Hotel?"
"I-iya! Hotel itu! S-sekarang aku boleh pergi?"
"Belum! Apa di bawah ada mobil? Jika ada berikan kuncinya!"
"Ada! Di halaman bawah ada mobil Van, k-kuncinya ada di laci dasbor."
"Oh," Nisa menarik belati dari leher lelaki itu.
Menyadari bahwa Nisa telah melepaskannya, lelaki itu langsung melangkah pergi. Tetapi sialnya Nisa tak membiarkannya pergi begitu saja, mendadak dia mendorong lelaki itu dari belakang.
Lelaki itu terdorong melewati pagar pembatas dan jatuh ke bawah dari ketinggian lantai 2. Nisa lalu mendekat ke arah pagar, dia menatap dingin lelaki yang tak sadarkan diri itu.
"Nasibmu baik karena halamannya masih tanah, jika paving atau semen lukamu akan parah. Paling jika hidup kau cuma terluka patah tulang. Ngomong-ngomong jika kau mati mama mu juga tidak akan sudi bertemu denganmu. Kau jadi perantara hancurnya hidup para gadis. Mama mu tidak akan bangga."
Nisa lalu bergegas turun ke bawah, begitu dia menemukan sebuah mobil Van berwarna biru tua, dia langsung masuk ke dalam. Benar seperti yang dibilang lelaki tadi, kuncinya masih ada di laci dasbor.
Nisa segera menyalakan mobil dan menginjak gas. Dia sudah yakin tak meninggalkan jejak apa pun di kost-kost an itu. Dia juga tak mau tahu bagaimana kelanjutan dari para anak-anak di bawah umur dan para gadis yang dikurung.
Sesampainya Nisa di sebuah pertigaan jalan, mendadak dia memberhentikan mobilnya. Dia lalu mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi peta. Nisa memasukkan nama lokasi Plaza Lux Hotel, namun tidak tampak di hasil pencarian.
"Sialan! Sebenarnya hotel macam apa itu? Lokasinya tidak terdaftar. Besar kemungkinan kalau tempat itu juga tidak punya izin pendirian. Bangunan besar seperti hotel harusnya menarik perhatian orang-orang sekitar. Tapi sampai saat ini tidak ada berita tentang hotel ilegal, kemungkinan petugas setempat pasti juga disuap. Sialan, orang-orang brengsek semakin hari semakin banyak."
Nisa kemudian beralih untuk menelepon seseorang, yaitu Ivan. Tak butuh waktu lama akhirnya panggilan itu tersambung.
"Apa, bos?" tanya Ivan yang suaranya terdengar seperti sedang mengunyah makanan.
"Carikan lokasi Plaza Lux Hotel!"
"Plaza Lux? Aku baru dengar nama hotel itu. Tapi tunggu sebentar, kalau sudah ketemu akan langsung aku kirim lokasinya lewat pesan."
"Oke, cari yang cepat!"
TUT TUT ...
Panggilan telepon berakhir. Tetapi selang beberapa detik kemudian Nisa menerima panggilan telepon lagi, bukan dari Ivan, melainkan dari suaminya tersayang.
"K-Keyran?!" Nisa terkejut, dia gugup dan sangat ketakutan untuk menjawab panggilan telepon itu.
Apa Keyran sudah pulang? Tapi tadi katanya lembur. Jika itu terjadi habis sudah aku.
"Hallo darling~ ada apa meneleponku? Apa kau merindukan aku?" tanya Nisa dengan nada manja.
"Aku meneleponmu untuk yang kedua kalinya. Tadi kau sedang dalam panggilan lain, kau habis teleponan dengan siapa malam-malam begini?"
"O-ohh itu! Aku teleponan sama temanku, kami membahas tugas kuliah, karena besok ada presentasi!"
Aku mohon percayalah pada kebohonganku.
"Hmm ... begitu ya. Hari ini pekerjaanku selesai lebih cepat dari dugaan, artinya aku tidak jadi lembur. Sekarang aku sedang bersiap pulang, kau mau aku bawakan apa?"
"Emm tidak, tidak usah bawa apa-apa! Aku sudah kenyang! Hati-hati di jalan ya darling~ Aku menunggumu, muachh~"
"Haha, sampai bertemu di rumah."
TUT TUT ...
Panggilan telepon dengan Keyran berakhir, Nisa langsung menghela napas lega.
"Huft ... untung belum di rumah. Aku harus buat Keyran sibuk! Situasi sekarang sangat mendesak, Jenny dalam bahaya."
Nisa lalu kembali menelepon Ivan, dan selang beberapa detik kemudian Ivan mengangkatnya.
"Apa lagiii? Lokasinya baru saja aku kirim! Aku mau tidur boss!" ucap Ivan seakan tidak sabar.
"Kau dilarang tidur malam ini! Aku punya tugas khusus untukmu!"
"Tugas apa?"
"Serang perusahaan suamiku!"
"What?! Boss masih sehat, kan?! Apa pernikahanmu lagi-lagi ada masalah?"
"Kau salah paham, sekarang aku sedang ada di luar rumah, aku baru akan pulang setelah urusanku selesai. Sedangkan suamiku sedang dalam perjalanan pulang, aku bakal habis jika ketahuan tidak di rumah. Jadi aku minta kau ulur waktu dengan cara serang perusahaan suamiku, ingat cuma ulur waktu! Jangan curi data apa pun!"
"Iyaaa ... bossku tercintah!"
TUT TUT ...
Panggilan telepon dengan Ivan berakhir. Lalu Nisa beralih menelepon Keyran, butuh percobaan sebanyak 3 kali baru akhirnya diangkat.
"Darling~ Kau belum sampai rumah, kan? Aku berubah pikiran, aku mau martabak keju! Bawakan untukku ya!"
"Ah, soal itu ... Maaf Nisa, aku sepertinya tidak jadi pulang." ucap Keyran dengan nada menyesal.
"Kenapa?" (seseorang yang pura-pura tidak tahu)
"Perusahaan tiba-tiba diserang oleh hacker, dia menerobos sistem keamanan dan berusaha mencuri data. Para tenaga ahli IT sedang berusaha untuk mencegahnya, sekarang perang cyber sedang berlangsung. Awas saja nanti jika aku tahu siapa orang sialan yang berani macam-macam dengan perusahaanku!"
"O-oh ... begitu ya." (orang sialan yang sebenarnya)
"Intinya begitu. Kau cepatlah tidur, jangan main game tengah malam mentang-mentang tidak ada aku! Lain kali akan aku bawakan martabak untukmu. Sudah ya darling, aku sangat sibuk sekarang."
"Iya, lakukan yang terbaik darling!"
Panggilan telepon dengan Keyran kembali berakhir, Nisa saat ini tersenyum puas karena semuanya berjalan seperti keinginannya.
"Hehe, jika Ivan benar-benar berniat mencuri data, dia bisa melakukannya tanpa ketahuan. Dan sekarang ... ayo lanjutkan mencari Jenny!"
Nisa membuka isi pesan dari Ivan, dia mencermati lokasi Plaza Lux Hotel yang telah dikirimkan. Tepat sesaat sebelum Nisa menginjak gas, lagi-lagi dia mendapatkan kendala.
"Ughh ... perutku," Nisa mengerang sambil memegang perutnya dengan sebelah tangan.
Sialan, lagi-lagi perutku sakit. Apa mungkin sakit mag-ku semakin parah? Tapi aku harus tahan, semakin aku membuang waktu, semakin bahaya pula keadaan Jenny.
Nisa nekat menahan rasa sakit di perutnya, dia mengendarai mobil dengan kecepatan rendah. Setelah beberapa saat rasa sakit di perutnya berkurang, kemudian dia menambah kecepatan mobil.
Kurang dari setengah jam akhirnya Nisa sampai di tempat tujuan. Dari kejauhan dia melihat sebuah papan nama lampu LED bertuliskan "Plaza Lux Hotel"
Dia memberhentikan mobilnya agak jauh, lalu dia menurunkan kaca mobil untuk memperhatikan keadaan sekeliling. Dia melihat banyak mobil-mobil mewah, pria baik tua atau muda yang memasuki hotel, serta ada petugas berjas rapi berbadan kekar yang berjaga di luar.
"Hmm ... lebih ramai ya, tapi itu bukan masalah. Tunggu aku Jenny!"