Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bayangkan Aku!


Nisa berjalan tergesa-gesa di trotoar, jalanan di sampingnya begitu berisik karena ramainya kendaraan yang berlalu lalang. Sembari terus berjalan sesekali dia juga menggosok matanya, orang yang melihatnya bisa mengetahui kalau dia jelas-jelas dalam masalah. Sesekali ada juga orang yang peduli menanyakan keadaannya, namun orang itu sama sekali tidak digubris oleh Nisa.


Nisa tanpa merasa lelah terus berjalan menuju ke tempat tujuannya, dan tempat yang dia tuju tidak lain adalah rumah orang tuanya. Butuh waktu sekitar 15 menit lebih baginya untuk sampai, namun dia mendadak mematung ketika sudah di depan pintu rumah. Dia yang biasanya seenaknya langsung masuk tiba-tiba tampak ragu untuk memencet tombol bel pintu.


Sial, aku harus siap-siap kena omelan mak lampir dan komandan. Apa sebaiknya aku menginap di hotel saja?


"Iya, begitu lebih baik." Nisa berbalik dan bersiap ingin pergi.


KLAAK!


Tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu dari dalam, dan orang itu tidak lain adalah Reihan yang terlihat sedang membawa sebuah kantong plastik hitam berukuran besar. Reihan cukup kaget saat melihat ada kakaknya yang berdiri tepat di depannya.


"Kakak?!"


"Iya, ini aku. Ekspresimu jangan begitu, aku bukan setan." ucap Nisa acuh tak acuh.


Terlanjur, sekarang terpaksa aku harus kena omel.


"..."


Ya emang kakak bukan setan, tapi iblis.


Reihan kemudian berjalan melewati Nisa, namun dia mendadak berhenti ketika baru selangkah melewati Nisa.


"Kakak habis main kemana? Sumpah, bau banget! Minum berapa botol sih?"


"Ck, biasalah. Terus kau sendiri mau kemana?"


"Mau buang sampah, apakah kakak mau mewakilkan aku mengerjakan tugas yang mulia ini?" tanya Reihan sambil menenteng lebih tinggi kantong plastik yang dibawanya.


"Ogah, aku mau tidur!" Saat Nisa berjalan 3 langkah, mendadak dia berhenti lalu menengok ke belakang. "Kok nggak sekolah, Rei?"


"Yeee ... kebiasaan bolos sih, makanya sampai lupa hari, hari ini hari Minggu wahai kakakku yang kebanyakan micin~"


"Oh, terserah."


Nisa langsung pergi masuk ke dalam rumah, bahkan dia berlari secepat kilat menuju ke kamarnya untuk menghindari omelan dari ayah dan ibunya. Reihan yang melihat tingkah kakaknya itu hanya bisa diam dan kembali melanjutkan tugasnya membuang sampah.


Hadehh ... pasti berantem sama kakak ipar, tapi tumben jam 8 pagi sudah pulang, padahal biasanya kalau main ke club betah banget sampai nggak ada niat mau pulang.


"Aaahhh nggak tau ah, pasti nanti bakal disidang sama kanjeng mommy. Hehehe, nggak sabar aku pengen lihat!"


***


Di sisi lain Nisa berhasil lolos masuk ke kamarnya. Dia segera membersihkan diri dan kemudian berbaring di ranjangnya yang sangat dia rindukan. Namun sesaat setelah dia memejamkan mata, tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamarnya.


"Nisaaa!! Cepat buka!! Ibu ingin minta penjelasan!!"


"..."


Reihan! Pasti cebong itu yang bilang! Dasar tukang ngadu! Pura-pura mati saja deh ...


Nisa tidak menjawab, dia malah berganti posisi jadi tengkurap dan menaruh bantal di atas kepalanya.


BRAK! BRAK! BRAAK!


"Cepat buka pintu!! Atau ibu coret namamu dari daftar warisan!!"


"Jangan! Jangan coret namaku!" Nisa panik, dia langsung beranjak dari ranjang lalu bergegas membuka pintu kamarnya. Dia hanya bisa meringis saat melihat ibunya berkacak pinggang dan raut wajahnya yang tampak sangat marah.


"Nah, akhirnya kau mau juga buka pintu!"


"Hehe ... i-ini masih pagi, jangan marah ya Bu RT, Bu Rik ..." ucap Nisa sambil garuk-garuk kepala.


"Panggil Bu Rika! Kau berani mengejek ibumu sendiri hah?!"


"S-siapa juga yang mengejek? Orang-orang kan juga panggil ibu dengan sebutan itu ..." Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Kenapa sih pagi-pagi sudah marah?"


"Tentu saja ibu marah! Ibu marah karena melihat kelakuanmu! Kau kembali ke sini pasti gara-gara bertengkar dengan suamimu. Ibu minta sekarang juga pulanglah dan minta maaf kepadanya!"


"Ibu mengusirku?"


"Ibu bukannya mau mengusirmu, tapi kau luruskan dulu masalahmu. Pertengkaran memang wajar, tapi jika sudah melibatkanmu pasti masalahnya lebih dari sekedar wajar. Ibu sudah tahu sifatmu seperti apa, pasti kaulah yang memulai pertengkaran. Jadi ibu minta cepatlah minta maaf sebelum semuanya terlambat!"


"Maaf ..."


"Kenapa malah minta maaf ke ibu? Minta maaf sana ke suamimu!"


"Permintaan maaf yang aku maksud beda dengan apa yang ibu maksud. Aku minta maaf karena aku harus menolak permintaan ibu. Aku akui, aku memang sedang bertengkar, ibu sendiri harusnya juga paham kalau pertengkaran dalam sebuah hubungan memang wajar terjadi. Dan yang aku butuhkan sekarang adalah waktu untuk istirahat, aku ingin sendiri, jadi aku mohon ibu mengertilah ... berhenti memaksaku ibu ... aku lelah ..."


"Hah ... baiklah, ibu akan berhenti memaksamu. Tapi kau harus jujur pada ibu, alasan apa yang membuat kalian bertengkar?"


"Kami bertengkar karena aku gagal move on."


"A-apa kau serius?"


Astaga, kenapa anakku sampai sekarang masih belum bisa move on? Aku penasaran apa yang telah Ricky perbuat pada anakku.


"Yaa ... begitulah, ibu ada benarnya juga kok, intinya aku yang salah. Jika ibu sudah selesai bertanya, maka biarkan aku istirahat."


"...."


Melihat ibunya yang tidak berkata apa pun, Nisa langsung menutup pintu kamarnya. Dia kembali berbaring di kasurnya, dia sangat merasa lelah dan mengantuk. Tak lama setelah itu dia mendengar langkah kaki ibunya yang berjalan pergi.


"Huh ..."


Lagi-lagi aku berbohong, biarkan saja ibu berpikir yang macam-macam, setidaknya untuk sementara waktu dia akan diam. Jika aku jujur alasanku bertengkar karena minta cerai ... bisa-bisa nanti aku kena omel habis-habisan.


Karena sangat lelah, tak butuh waktu lama akhirnya Nisa tertidur. Dia bangun saat matahari sudah terbenam. Dan tentu saja ada rasa lapar yang tak terbantahkan. Namun dia merasa sedikit ragu untuk keluar dari kamarnya.


Ini berbeda dengan ekspektasiku, aku pikir Keyran akan menjemputku. Tapi ... masih ada kemungkinan kalau dia menelepon ayah atau ibu, aku takut kalau nantinya mereka berdua akan mengomel tiada habisnya.


Semoga saja ini hanya dugaanku, toh jika memang ayah dan ibu tahu ... harusnya aku sudah dibangunkan sejak tadi. Jadi kesimpulannya adalah sekarang aku masih aman. Nah, sekarang makan ahh ...


Nisa memutuskan untuk keluar kamar. Dan sesuai dengan dugaannya, semua anggota keluarganya sudah tahu kalau dia sedang bertengkar dengan suaminya. Bahkan ketika berpapasan dengan ayahnya, ayahnya tidak berpendapat apa-apa dan menganggap kalau sebuah pertengkaran memang wajar.


Aktivitas Nisa pun kembali berjalan seperti sebelum dia menikah. Sekarang dia membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam di dapur. Namun dia termenung saat melihat bahan-bahan makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya. Ibunya menyuruhnya untuk meracik bumbu, namun dia tampak kebingungan.


"I-ini mau masak apa?"


"Telur balado, ayam rica-rica dan capcai kuah. Kau buat saja bumbu rica-rica dulu, ibu masih mau potong ayam."


"Emm ... bumbunya apa?"


"Astaga ... bumbunya bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe rawit, kunyit, jahe, tomat, ketumbar, daun salam, daun jeruk, sereh dan lengkuas. Masa kau lupa? Apa setelah menikah kau jarang masak?"


"Setiap hari aku masak kok, tapi ... cuma masak omelet, makanya aku jadi lupa sama bumbu masakan lain. Toh di sana juga ada pembantu."


"Hei, meskipun ada pembantu, tapi kau setidaknya juga harus memasak makanan untuk suamimu. Katamu kau cuma masak omelet, itu untuk kau makan sendiri kan?"


"Bukan aku, dia kok yang makan. Setiap hari dia cuma mau sarapan omelet buatanku, aku nggak tahu apa sebabnya. Mungkin dia doyan nya cuma itu ... aku saja yang masak merasa enek setiap hari harus kocok telur. Padahal menurutku omelet buatanku rasanya kurang enak."


"Mungkin menurutmu rasanya kurang enak, tapi mungkin saja itu sesuai dengan selera suamimu. Sekarang ibu merasa sedikit tenang, setidaknya kau jadi istri yang bisa masak."


"...." Nisa terdiam dan hanya membalas ibunya dengan senyum terpaksa.


***


5 hari kemudian. Selama berhari-hari Nisa menjalani aktivitasnya dengan normal. Dan satu hal yang pasti, tidak ada tanda-tanda dirinya dicari oleh Keyran. Dan tentu saja selama itu juga dia bolos kuliah.


Nisa mulai merasa bosan. Malam harinya sekitar jam 8 malam, saat semua keluarganya sedang berkumpul menonton televisi, Nisa yang awalnya mengantuk tiba-tiba berkata, "Barbeque an yuk!"


"Hah?!" Seketika semuanya kaget dan memandangi Nisa dengan tatapan seakan tidak percaya.


"Kakak serius?" tanya Reihan.


"Iya, aku sponsornya. Kau temani aku belanja daging, ayah siapkan panggangan, ibu siapkan bumbu saus, lalu Dimas siapkan tempat. Kita bakar-bakar di halaman belakang. Jadi semuanya setuju apa nggak?"


"Ayah setuju!"


"Ibu juga setuju!"


"Aku setuju! Kak Reihan sama Kak Nisa cepat beli sana! Sosisnya jangan lupa!"


"Okeh! Nanti sama cumi ya, kak?"


Mereka semua bergegas melakukan tugasnya masing-masing. Begitu Nisa dan Reihan kembali dengan membawa bermacam-macam daging, halaman belakang yang dipersiapkan sudah sepenuhnya siap.


Semua bahan telah disiapkan, Bu Rika lalu mengambil alih tugas memanggang. Dia dibantu oleh Nisa memanggang ayam, cumi dan sosis yang telah ditusuk. Dan sisanya untuk para lelaki, mereka menunggu hasilnya dengan duduk manis di tanah yang beralaskan tikar.


Tak lama kemudian sudah ada beberapa tusuk sosis yang telah matang. Nisa menyiapkannya lalu ikut bergabung bersama ayah dan adik-adiknya. Suasana piknik dadakan di malam hari itu bertambah asyik saat Reihan memutuskan untuk mengambil gitarnya, dan gitar itu adalah gitar barunya. Namun selain Reihan dan Dimas, tidak ada yang tahu kalau gitar itu adalah pemberian dari Keyran.


Reihan mulai memetik senar gitar, nada-nada yang dia mainkan bisa terbilang cukup bagus. Karena di sekolah dia juga mengikuti ekstra kurikuler band, dan tentu saja tujuan utamanya adalah demi membuat para siswi di sekolahnya semakin tergila-gila kepadanya. Lalu di tengah-tengah itu Reihan pun mulai bernyanyi.


"Oh Tuhan ku cinta Nia


Kusayang Lia, rindu Mia, inginkan Cika


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya, untuk Maya ..."


"Nyanyi yang bener dong!" bentak Nisa sambil menabok bahu Reihan.


"Ya emang bener, kakak saja yang nggak paham. Maya cantik kok, body goals lagi ... kalau nggak percaya, tanya sana sama Dimas!" Reihan lalu menoleh ke samping kiri dan meringis kepada Dimas. "Maya cantik kan?"


"Nggak, dia mirip lonteh!! Sumpah, gincunya merah banget, mirip nyi blorong!"


"Ini nih, nggak paham cewek cantik. Apalagi cewek-cewek yang main tik tik tok, beuuhhh ... kebanyakan cantik-cantik."


"Di tik tik tok banyak juga kok yang jelek, yang kakak maksud cantik itu menurutku alay! Mending aku jomblo seumur hidup daripada pacaran sama cewek alay."


"Hilih ... bilang saja nggak laku. Makanya cari cewek tuh jangan yang aneh-aneh! Masa cari yang paket komplit? Itu mah susah dapatnya, kalau aku sih asal cantik sama nggak norak."


"Hei, bisa diem nggak sih?! Malah bahas soal cewek!" bentak Nisa.


"Kakak lama-lama nggak asik, enakan waktu Kak Nisa nggak ada. Kok tumben banget nggak dicari kakak ipar, memangnya berantem soal apa sih?" tanya Reihan.


"Yaa ... biasalah, gas habis, token listrik habis, minyak goreng habis, beras habis."


"Mustahil! Cari alasan yang masuk akal sedikit lah, mana mungkin seorang CEO nggak mampu beli beras, beli sawah ratusan hektar saja dia mampu! Kakak yang jujur dong!" bantah Dimas.


"Ck," Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Aku minta cerai."


"Hah?!!" Seketika semuanya kaget, terlebih lagi ayah dan ibunya. Bahkan saat itu juga ibunya langsung meninggalkan panggangan dan segera mendekat ke arah Nisa.


"Ibu minta ulangi sekali lagi!!"


"Aku bilang aku minta cerai, toh sampai sekarang dia juga belum mencariku, mungkin saja dia akhirnya setuju."


"Bagaimana bisa kau minta cerai?! Memangnya ada masalah apa? Harusnya bicarakan baik-baik dulu, kau ini masih muda, memangnya kau mau jadi janda?!"


"Benar apa kata ibumu, ayah lihat dia juga memperlakukanmu dengan baik. Tapi kau malah minta cerai, apa saat di rumah dia melakukan KDRT?"


"Ibu ... ayah ... aku mohon kalian tenanglah. Aku akui, dia memang memperlakukan aku dengan baik, sangat baik. Tapi batinku rasanya tersiksa, aku merasa sulit bahagia. Aku minta cerai karena aku sudah menyerah, aku menyerah pada pernikahan terpaksa ini. Dan meskipun kalian menasihatiku, keputusanku tetap akan sama, apa pun yang terjadi aku tetap ingin bercerai darinya!"


"Nisa, ayah mohon hilangkan keras kepalamu! Kau masih muda, masih belum bisa berpikir lebih jauh. Harusnya kau bersyukur punya suami yang sangat sayang padamu, tolong jaga apa yang kau miliki! Orang yang kau miliki sekarang adalah orang yang ingin dimiliki oleh banyak orang. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari!"


"Ibu setuju. Mungkin memang salah kami sebagai orang tuamu yang menyebabkan kau menikah terpaksa. Tapi ibu bisa melihat kalau kehidupan pernikahanmu terbilang lumayan baik. Asal kau tahu, di luar sana masih banyak orang yang mengalami ujian hidup lebih berat dibanding denganmu, tapi mereka berhasil bertahan. Jika masalahmu adalah kau merasa tertekan, lebih baik kau cobalah bicara dengannya, bicara dari hati ke hati. Secara suamimu itu adalah pria yang lebih dewasa dibanding denganmu, ibu yakin dia akan mengerti."


"...." Nisa lalu menunduk. "Jadi dalam hal ini pun ibu masih membandingkan aku dengan orang lain?"


"Ibu bukannya membandingkanmu, tapi cobalah ambil pelajaran dari mereka. Kau jangan mudah menyerah, sesulit apa pun keadaan sebisa mungkin kau harus berjuang! Kau jangan anggap pernikahan hanya sebuah permainan, yang jika kau gagal kau bisa dengan mudah mengulangnya. Intinya kami semua prihatin denganmu, hanya ini yang bisa ibu katakan, ibu harap kau mendengar semua omongan ibu ..."


"...." Nisa membisu, suasana yang tadinya harmonis langsung berubah menjadi sunyi.


Beberapa saat kemudian situasinya masih sama, masih tidak ada satu orang pun yang bicara. Namun di tengah keheningan itu tiba-tiba Reihan bergeser sedikit lebih dekat dengan Dimas.


Heemm ... kakak memang keterlaluan, kalau aku di posisi kakak ipar, aku pasti bakalan sakit hati. Tapi dinasihati bagaimanapun kakak tetap keras kepala. Gimana ya biar kakak sadar kalau dia salah?


Pandangan bola mata Reihan bergerak ke kanan kiri, dia sibuk memikirkan cara bagaimana untuk menyadarkan kakaknya. Namun beberapa saat kemudian dia menyeringai, dia lalu membisikkan banyak hal ke Dimas.


"Hah? Gila! Nanti kalau aku digampar gimana?" bisik Dimas yang terdengar ragu.


"Nggak ... please lah, cuma 4 kok. Toh pasti ayah sama ibu bakal dukung, jadi nurut yaa ... adikku yang unyu~"


"Kakak berani jamin nggak?"


"Itu tergantung bagaimana aksimu, kalau bagus pasti bakalan berhasil!"


"Oke, pasti bakal bagus!"


Kedua bersaudara itu sama-sama tersenyum jahat dan melirik ke arah Nisa. Reihan pun bersiap untuk memetik senar gitarnya, sedangkan Dimas, tiba-tiba saja dia berkata, "Kak Nisa!"


"Apa?" tanya Nisa dengan sorot mata yang dingin.


"Bayangkan aku adalah Keyran Kartawijaya, suamimu!"


"???"


Dimas mengangguk memberikan isyarat, lalu Reihan mulai memainkan alunan intro dari sebuah lagu dengan gitarnya. Dan saat waktunya tiba, Dimas pun mulai bernyanyi.


"Jujurlah sayang aku tak mengapa


Biar semua jelas tak berbeda


Jika nanti aku yang harus pergi


Kuterima walau sakit hati ..."


"Lanjut!" sahut Reihan.


"Tak pernahkah kau sadari


Akulah yang kau sakiti


Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari


Oh Tuhan tolonglah aku


Hapuskan rasa cintaku


Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia ..."


"Lanjut lagi!"


"Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini ... membunuhku ...!"


"Sekali lagi!"


"Apa kurangnya aku di dalam hidupmu


Hingga kau curangi aku ...


Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia


Aku punya ragamu tapi tidak hatimu ..


Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkannya


Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia ..."


Prok prok prok ...


"Wah ... suaramu sangat merdu, ibu bangga padamu!"


"Ayah juga bangga, caramu bermain gitar semakin bagus!"


"...."


Nisa hanya bisa diam membisu, dia sadar kalau dirinya telah dipojokkan oleh semua orang. Terlebih lagi saat Dimas menyanyikan lagu berjudul Sandiwara Cinta, Aku Yang Tersakiti, Cinta Ini Membunuhku, dan terakhir Asal Kau Bahagia. Mendengar lagu-lagu itu dinyanyikan membuat Nisa merasa aneh.


Semua orang hanya diam namun tersenyum kecil sambil melirik ke arah Nisa. Tentu saja saat ini Nisa merasa semakin aneh, dia merasa ada perasaan aneh yang sulit diungkapkan. Lama-kelamaan dia mulai tidak tahan, dia tiba-tiba berdiri lalu bergegas pergi masuk ke dalam rumah, meninggalkan keluarganya yang masih berada di halaman belakang.